SANG PENGACARA RAKYAT/Bab 16 - Anak Sang Sistem
BAB 16 ANAK SANG SISTEM Telepon yang Tak Pernah Ari Harapkan
Suatu sore, saat langit Jakarta menggantung mendung dan hujan turun perlahan, telepon Ari berdering. Nomor yang muncul bukan nomor biasa—terdapat kode instansi peradilan di awal angkanya. Suara berat dan tenang terdengar dari seberang.
“Ini saya, Hakim Agung Pramana. Saya ingin Anda bantu anak saya.”
Ari langsung duduk tegak. Nama itu tak asing. Pramana adalah salah satu hakim senior, dikenal sebagai sosok dingin dan disegani.
“Anak saya, Davin, baru saja dilaporkan oleh pacarnya atas tuduhan penganiayaan. Tapi ini hanya kesalahpahaman remaja. Anak saya tak punya niat buruk.”
Ari diam, menunggu kalimat berikutnya—dan benar saja, ia tahu akan datang.
“Saya sudah bicarakan ini dengan beberapa hakim. Kita bisa atur agar vonisnya bebas. Saya ingin Anda menjadi kuasa hukumnya. Jalankan sesuai alur. Tidak usah terlalu banyak bertanya.”
Dilema Ari: Ketika Nurani Diuji Diam-diam
Malam itu, Ari termenung di ruang kerjanya. Bayangan wajahnya sendiri di kaca seolah menatap balik dengan sinis. Banyak yang akan memberi hormat jika tahu ia membela anak hakim agung. Itu bisa membuka pintu ke puncak karier. Tapi hatinya memberontak.
Akhirnya, ia setuju. Bukan karena takut, tapi karena ingin tahu siapa sebenarnya Davin—sang “anak sistem” yang hidup dalam bayang-bayang kekuasaan ayahnya.
Pertemuan Pertama: Anak yang Tersesat, Bukan Jahat
Davin, 21 tahun, duduk di kursi konsultasi dengan wajah keras. Matanya kosong, tapi di dalamnya ada kemarahan sekaligus ketakutan.
“Gue tahu lo pengacara bokap gue. Semua ini settingan. Gue cuma harus diem, main korban, dan bebas. Udah.”
Ari menatapnya tenang. “Lo mau bebas... atau mau jujur?”
Davin tertawa sinis. “Jujur? Di sistem ini? Yang jujur biasanya jadi korban.”
Ari tak menjawab dengan kata-kata. Ia mengeluarkan satu foto: wajah pacar Davin, dengan memar di pelipis dan luka gores di lengan.
“Lo tahu apa yang lebih menyakitkan dari luka ini? Diam. Lo tahu siapa yang bikin keadilan mati? Bukan koruptor. Tapi anak baik-baik yang pilih diam saat bisa bicara.”
Hari itu menjadi titik balik. Ari tidak mengajarkan Davin cara bebas. Ia mengajarkan tanggung jawab. Keberanian. Bahwa hukum selalu jadi cermin—dan cermin tak pernah berbohong.
Di Ruang Sidang: Semua Sudah Diatur, Tapi Hati Tak Bisa Dibohongi
Sidang berlangsung singkat. Jaksa tampak lemah, saksi diatur, dokumen pengakuan ditarik. Hakim ragu, tapi sudah terikat kesepakatan.
Majelis hakim mulai membacakan putusan:
“Terdakwa dinyatakan tidak bersalah. Oleh karena itu, diputus bebas dari semua dakwaan...”
Namun sebelum palu diketuk, Davin berdiri.
“Yang Mulia... saya ingin bicara.”
Ruang sidang membeku. Semua menatapnya.
“Saya memang bersalah. Saya menampar, mendorong, dan melempar benda ke pacar saya saat kami bertengkar. Saya hilang kendali. Saya tidak ingin bebas karena nama ayah saya. Saya ingin menghadapi ini sebagai lelaki. Bukan anak pejabat. Saya mohon, jaksa... ajukan kasasi.”
Seorang pria dari kursi belakang berteriak, “Davin! Diam!” Tapi Davin tidak berhenti. Jaksa bingung, hakim pucat, publik terdiam.
Di Luar Sidang: Terima Kasih yang Tulus
Beberapa hari kemudian, Ari berjalan di lorong gedung pengadilan. Davin menyusul dari belakang.
“Pak Ari,” panggilnya pelan.
Wajahnya kini tak sekeras dulu. Ia menyerahkan sepucuk surat.
“Ini surat permintaan maafku ke mantan pacarku. Aku tahu dia belum tentu maafkan aku. Tapi aku harus mulai dari kejujuran.”
Ari mengangguk, menepuk bahunya. “Lo baru aja lulus... bukan dari hukum, tapi dari nurani.”
Davin tersenyum kecil. “Aku harap, suatu hari anak-anak pejabat lain bisa belajar yang sama.”
Penutup Bab
Bukan siapa ayahmu yang menentukan siapa kamu. Tapi keputusanmu—di saat tidak ada yang menonton—itulah yang membuatmu jadi manusia. Hukum bisa diatur. Tapi nurani? Ia hanya tunduk pada kejujuran.