SANG PENGACARA RAKYAT/Bab 17 - Di Ambang Dua Dunia
BAB 17 DI AMBANG DUA DUNIA Kopi Terakhir di Pagi yang Biasa
Hari itu, langit Jakarta mendung tipis. Ari memulai harinya seperti biasa—sendiri, di kantor kecilnya, ditemani secangkir kopi hitam pahit dan tumpukan berkas. Ia baru saja selesai mengisi podcast singkat bertajuk “Etika Bukan Sekadar Formalitas”, dan bersiap menghadiri pertemuan komunitas hukum pro bono.
Seorang tamu datang, mengaku sebagai mahasiswa magang dari kampus hukum daerah. Ia membawa kopi, senyum, dan alasan yang cukup masuk akal. Ari menyambut ramah, bahkan mengajaknya duduk sebentar.
Tak lama setelah tamu itu pergi, Ari merasa perutnya mual. Kepalanya berdenyut hebat. Dunia berputar. Ia sempat meraih ponsel untuk menelepon seseorang—tapi jatuh seketika.
Rumah Sakit dan Tubuh yang Tak Lagi Merespons
Ari dilarikan ke rumah sakit oleh tetangga kantor yang menemukan tubuhnya tak sadarkan diri. Diagnosa awal: keracunan senyawa kimia yang disengaja. Pihak RS menduga zat tersebut dicampur ke dalam minuman.
Ia koma selama tiga hari. Tak bisa bicara. Tak bisa membuka mata. Hanya detak jantung dan layar monitor yang menunjukkan bahwa ia belum pergi.
Berita itu sampai ke Rafael dalam waktu satu jam. Tanpa pikir panjang, Rafael membatalkan semua rapat firma hukumnya dan bergegas ke RS. “Berapa pun biayanya, saya yang tanggung,” katanya pada dokter. “Asal dia selamat.”
Rafael: Menemani di Kursi Samping Kamar ICU
Hari-hari berikutnya, Rafael hampir tidak pulang. Ia duduk di kursi plastik keras samping ranjang Ari, memegang tangannya sambil membaca ulang catatan kasus yang pernah mereka tangani bersama.
Kadang ia tertawa sendiri, mengenang perdebatan mereka tentang idealisme. Kadang matanya merah—takut kehilangan satu-satunya teman yang benar-benar mendorongnya jadi manusia, bukan sekadar pengacara sukses. “Lo gak boleh pergi gini, Ri...” bisiknya malam keempat. “Kita belum selesai.”
Ari Terbangun: Antara Nyawa dan Panggilan yang Belum Tuntas
Pagi hari kelima, monitor jantung Ari mulai bergerak stabil. Tangannya bergerak pelan. Matanya terbuka. Perawat segera memanggil dokter.
Dan di tengah ruangan ICU yang dingin, Rafael adalah orang pertama yang melihat Ari tersenyum lemah sambil berkata pelan, “…gue belum sempat nyicil mesin fotokopi kantor kecil gue, masa udah mati…”
Rafael tertawa, lalu menangis pelan.
Terima Kasih yang Tak Sekadar Kata
Beberapa hari setelah sadar, Ari dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Tubuhnya masih lemah, tapi pikirannya tajam seperti biasa. “Lo nolong gue... lebih dari yang bisa gue bayar, Raf,” ucap Ari suatu pagi, saat Rafael datang membawakan bubur ayam dan buku bacaan hukum.
Rafael duduk di kursi dekat jendela. “Lo gak perlu bayar. Kita sahabat. Dan... lo lebih dari itu buat gue. Lo nyelametin lebih banyak jiwa lewat prinsip lo daripada yang bisa gue capai lewat gelar.”
Hening sebentar. Lalu Ari berkata, “Kalau begitu... gue terima tawaran lo. Gabung ke firma lo. Tapi syaratnya jelas: gue gak mau terikat penuh. Gue masih jalanin kantor kecil gue. Gue tetap terima kasus-kasus rakyat kecil. Gue cuma bantu di perkara besar, strategis, atau ketika lo butuh suara nurani.”
Rafael menatap Ari, lama. “Gue gak butuh lo jadi partner yang tunduk. Gue butuh lo jadi partner yang jujur. Dan satu hal yang gue tahu, Ri—lo gak bisa dibeli. Tapi lo bisa diajak jalan bareng.”
Mereka berjabat tangan. Hangat. Tulus. Penuh makna.
Di Luar Jendela, Dunia Masih Bising... Tapi Harapan Masih Ada
Hari itu, Jakarta tetap bising seperti biasa. Tapi bagi dua pengacara yang pernah berselisih jalan, kini arah mereka bertemu di tengah: satu membawa strategi, satu membawa suara hati.
Dan keduanya tahu—mereka tidak bisa menyelamatkan dunia. Tapi mereka bisa menjaga agar hukum tidak kehilangan jiwanya.
“Antara hidup dan mati, hanya satu hal yang tetap tak bisa diracuni: nurani. Dan selama nurani itu bertahan, keadilan tidak akan pernah benar-benar mati.”