Lompat ke isi

SANG PENGACARA RAKYAT/Bab 18 - Langkah Berani di Tengah Badai

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

BAB 18 LANGKAH BERANI DI TENGAH BADAI Undangan yang Mengundang Risiko

Beberapa pekan setelah Ari pulih dan resmi bergabung sebagai penasihat khusus di firma hukum Rafael, sebuah undangan elektronik masuk ke email mereka berdua.

Pengirimnya: Kementerian Hukum dan HAM. Acara: Dialog Nasional Reformasi Profesi Advokat Tema: “Meninjau Ulang RUU Multibar dan Masa Depan Etika Hukum Indonesia” Lokasi: Auditorium Nusantara, disiarkan langsung nasional.

Di antara narasumber tertera nama Muhammad Ari Pratomo dan Rafael A. Putra.

“Gue gak yakin ini sekadar undangan diskusi,” kata Ari, sambil menyipitkan mata membaca isi lampiran. “Ini... uji nyali. Uji keberanian.” Rafael mengangguk. “Dan lo tahu kan, mereka undang kita bukan karena suka. Tapi karena gak bisa lagi abaikan suara lo.”

Hari yang Dinanti—Dan Dikhawatirkan

Hari itu datang. Auditorium penuh. Wartawan berdesakan. Di panggung, duduk perwakilan partai, tokoh senior organisasi advokat, perwakilan Mahkamah Agung... dan dua sosok yang dianggap “tak mewakili sistem”, tapi justru mencerminkan nurani hukum: Ari dan Rafael.

Sesi berlangsung panas. Beberapa panelis menyindir Ari secara halus. Ada yang mempertanyakan otoritas moralnya. Ada yang menyebut bahwa “konsistensi etika” terlalu ideal untuk praktik hukum modern.

Ari diam, mendengarkan semua. Lalu saat gilirannya bicara, ia berdiri tanpa teks.

Pidato Ari: Kata-Kata yang Meninggalkan Jejak

“Saudara-saudara, kita bicara tentang reformasi profesi. Tapi bagaimana bisa ada reformasi jika keberanian untuk mengakui kesalahan pun tidak ada? Kita bicara tentang multibar, tentang kebebasan organisasi. Tapi pertanyaannya: apakah kita memberi kebebasan… atau membebaskan diri dari tanggung jawab bersama?”

“Saya pernah hampir mati karena bicara terlalu keras. Tapi saya lebih takut mati sebagai pengacara yang memilih aman, daripada hidup sebagai pengacara yang kehilangan hati.”

“Saya berdiri di sini bukan sebagai pembicara terdaftar. Saya berdiri karena saya masih percaya—bahwa hukum bukan tempat untuk berlindung dari kenyataan, tapi tempat kita berdiri menghadapi kenyataan itu bersama.”

Seluruh ruangan terdiam. Bahkan moderator tak langsung menanggapi.

Rafael tersenyum kecil. Ia tahu—Ari baru saja membuka pintu perubahan, atau... membuka gelombang serangan yang lebih besar.

Badai Setelah Panggung

Hari-hari berikutnya, komentar mulai berdatangan. Sebagian mendukung. Sebagian menyerang. Bahkan beberapa klien firma Rafael mulai mempertanyakan posisi politik hukum mereka.

Salah satu partner firma berkata pada Rafael, “Kalau kalian terus bersuara seperti ini, kita kehilangan pangsa pasar elit.” Tapi Rafael menjawab tegas, “Kalau kita harus diam demi pasar, lebih baik kita tutup kantor. Karena kami buka firma hukum, bukan pabrik pembenaran.”

Dan Ari... tetap bekerja di kantor kecilnya setiap pagi, dan di ruang strategi firma setiap siang. Ia tak berubah.

Momen Diam yang Paling Jujur

Suatu malam, Rafael dan Ari duduk di balkon kantor pusat. Jakarta berkelap-kelip seperti biasa. “Lo tahu gak, Ri...” kata Rafael, “Langkah kita tadi siang mungkin langkah paling berisiko.” Ari menyesap kopinya. “Tapi juga langkah yang paling benar.” “Dan lo gak takut?” Ari menatap langit. “Takut. Tapi keberanian bukan lawan dari takut. Keberanian itu... melangkah meski takut.”

Mereka terdiam. Di kejauhan, suara sirene samar terdengar. Seolah mengingatkan mereka: dunia hukum tidak pernah benar-benar tenang. Tapi langkah telah diambil. Dan sejarah selalu dimulai oleh mereka yang berani berjalan saat badai masih menggulung.

“Badai tidak selalu datang untuk menghancurkan. Kadang, ia datang untuk menguji siapa yang tetap berdiri. Dan jika ada satu orang saja yang berani melangkah di tengahnya—maka hukum belum sepenuhnya kehilangan harapan.”