Lompat ke isi

SANG PENGACARA RAKYAT/Bab 1 - Sumpah Yang Tak Tertulis

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Bab 1 - Sumpah Yang Tak Tertulis

[sunting]

Hujan turun deras sore itu, seolah langit pun ikut menangis atas keputusannya. Muhammad Ari Pratomo berdiri mematung di depan gedung Mahkamah Agung. Wajahnya basah bukan hanya karena hujan, tapi juga karena kecewa yang mengendap bertahun-tahun.

Di tangan kirinya, ada map coklat tebal yang berisi bukti korupsi kelas kakap. Di tangan kanannya, ada surat pengunduran diri dari firma hukum paling elite di ibu kota.

Hari ini, ia memilih untuk berhenti jadi pengacara elite yang hidup dari membela para penguasa.

"Aku tidak bisa lagi membela orang-orang yang aku tahu seharusnya dipenjara," bisiknya pada dirinya sendiri, lirih namun pasti.

Ia teringat kembali bagaimana ia duduk di ruang rapat mewah, dikelilingi oleh jaksa, hakim, dan pengacara kondang—semua tersenyum membahas "strategi" untuk memenangkan kasus koruptor berjubah jabatan. Semuanya sah di atas kertas. Tapi ia tahu, itu semua permainan kotor.

Itulah titik baliknya. Bukan karena dia suci. Tapi karena nuraninya sudah tidak bisa diajak kompromi.

Tiga bulan kemudian, sebuah kantor kecil bernama *Keadilan Untuk Semua* berdiri di ujung gang sempit Jakarta Timur. Di sanalah ia memulai kembali—tanpa klien kaya, tanpa fasilitas, dan tentu saja, tanpa perlindungan dari siapa pun.

Namun di sana jugalah, untuk pertama kali dalam hidupnya, Muhammad Ari Pratomo merasa hidup. Hidup... dan bebas.

Hari itu, seorang perempuan tua datang ke kantornya. Anak laki-lakinya dipenjara karena dituduh mencuri kabel PLN. Ia menangis, bukan karena kehilangan anaknya, tapi karena tahu: "Yang sebenarnya mencuri, Pak... itu pejabat kelurahan. Tapi yang ditangkap malah anak saya."

Ari mendengarkan dengan tenang. Ia tahu kasus seperti ini bukan satu-dua. Tapi ia juga tahu, ini bukan sekadar kasus. Ini adalah pembuka.

Dan di sanalah, ia menuliskan ulang sumpahnya—bukan di atas Alkitab atau Quran, bukan di ruang sidang, tapi di hatinya sendiri:

"Selama hukum hanya berpihak pada penguasa, aku akan berdiri untuk mereka yang tak punya kuasa."

Saat ia berdiri di depan ruang sidang keesokan harinya, semua mata memandang sinis. Jaksa mencibir. Hakim menguap. Wartawan tak tertarik.

Tapi ada satu pasang mata—mata perempuan tua itu—yang penuh harap. Dan itu cukup.

Karena bagi Ari, perjuangan ini bukan soal menang atau kalah. Ini soal bertahan. Soal melawan. Soal menjadi hukum terakhir... saat semua hukum lain sudah mati.


← Kembali ke Daftar IsiLanjut ke Bab 2 →