Lompat ke isi

SANG PENGACARA RAKYAT/Bab 21 - Melawan Sistem

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

BAB 21 MELAWAN SISTEM Pagi yang Tidak Biasa

Mentari menyentuh kaca gedung di pusat kota Jakarta. Udara masih berembun, tapi ada sesuatu yang berbeda pagi itu. Berita utama di semua portal hukum nasional menyoroti satu nama: Muhammad Ari Pratomo.

“Pengacara Ari Ungkap Skandal Pengadilan, Ajukan Gugatan Etik terhadap Hakim yang Berkomplot dengan Korporasi Tambang.”

Bukan kali pertama Ari menjadi pusat sorotan. Tapi kali ini, yang ia lawan bukan mafia kecil, bukan pasal bermasalah, bukan jaksa lalai. Ia sedang melawan sistem itu sendiri.

Pidato Terakhir di Gedung Dewan

Hari itu, Ari diminta bicara dalam forum hukum nasional yang diselenggarakan Komisi Yudisial. Undangan itu muncul setelah penyelidikan terhadap putusan kasus Granterra dibuka resmi. Banyak berharap Ari akan berbicara dengan hati-hati.

Tapi seperti biasa, ia memilih jujur.

“Hukum yang tidak bisa dikritik akan berubah menjadi berhala. Dan berhala hukum... hanya bisa dipuja, tidak bisa digunakan. Hari ini saya ingin bicara sebagai pengacara, sebagai warga negara, dan sebagai saksi dari sistem yang sedang sakit, tapi masih bisa disembuhkan.”

“Saya tidak menolak sistem. Tapi saya menolak sistem yang kebal kritik. Saya menolak diam di tengah ketidakadilan yang dibungkus formalitas. Dan jika harga dari melawan sistem adalah kehilangan jabatan, kehilangan klien, kehilangan panggung... saya bayar dengan rela.”

Ruangan hening. Bahkan mereka yang ingin mencibir pun tak lagi punya kata.

Serangan Terakhir: Audit Firma Rafael

Beberapa hari setelah pidato itu, firma Rafael mendapat audit mendadak dari lembaga pajak. Tiga sponsor menarik dukungan. Dua mitra senior mengundurkan diri.

Namun yang mengejutkan, klien kecil-kecilan—kelompok tani, komunitas mahasiswa, aktivis desa—berbondong-bondong menawarkan bantuan. Beberapa pengacara muda mendaftar jadi volunteer.

Rafael tertawa saat melihat kantor mereka lebih ramai dari biasanya. “Lo tahu, Ri... sistem bisa rusak. Tapi rakyat? Mereka masih tahu siapa yang benar.”

Satu Kasus Terakhir

Sebelum Ari benar-benar menutup buku kisahnya, satu kasus datang lagi. Seorang anak korban salah tangkap, dituduh mencuri motor karena hanya berdiri di dekat lokasi.

Ari mendatangi tahanan, mendengar ceritanya langsung, dan memutuskan: “Kalau gue harus tua dengan satu alasan, gue mau tua karena tetap bela orang seperti kamu.”

Dalam persidangan yang cepat, ia membuktikan lagi—bahwa hukum bukan milik orang berjas, tapi milik mereka yang punya keberanian.

Pagi di Kantor Kecil

Suatu pagi, Ari duduk sendiri di kantornya yang masih beratap seng. Tak megah, tak ber-AC, tapi selalu penuh orang yang datang dengan harapan.

Rafael datang membawa kopi. “Ada undangan jadi staf ahli di kementerian,” kata Rafael. “Gaji besar. Akses luas.”

Ari tertawa. “Dan sistem akan coba jinakkan suara kita dari dalam?”

Rafael mengangkat bahu. “Mungkin. Tapi kita bisa tetap keras kepala.”

Ari menatap langit. “Gue gak akan berhenti. Tapi gue tahu sekarang, melawan sistem bukan soal menang... tapi soal membuat sistem sadar, bahwa dia dilihat. Dia dipantau. Dan selama masih ada orang seperti kita—dia gak bisa seenaknya.”

Surat dari Seorang Mahasiswa

Hari itu, Ari menerima surat dari mahasiswa hukum yang pernah menonton pidatonya secara daring:

“Bang Ari, saya masuk fakultas hukum karena saya pikir hukum itu soal pintar bicara. Tapi setelah saya lihat abang, saya sadar: hukum itu soal siapa yang berani tetap bicara saat semua orang memilih diam.”

Ari memeluk surat itu. Tak pernah tahu siapa penulisnya. Tapi ia tahu, ia tidak sendirian.

“Sistem bisa rusak. Tapi selama ada yang tetap bicara, tetap berdiri, dan tetap berani menyebut yang salah meski berisiko—hukum belum mati. Dan kita... belum kalah.”