Lompat ke isi

SANG PENGACARA RAKYAT/Bab 2 - Sidang Bayangan

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Bab 2 - Sidang Bayangan

[sunting]

Gedung pengadilan negeri itu tampak biasa dari luar: cat kusam, halaman sempit, dan pagar berkarat. Tapi bagi Ari, tempat ini adalah arena pertarungan yang lebih brutal daripada ring tinju. Karena di sini, keadilan bukan ditentukan oleh kebenaran... tapi oleh siapa yang paling kuat.

Sidang kasus "pencurian kabel PLN" dimulai pukul 10 pagi. Terdakwa: remaja 19 tahun bernama Raka, anak dari ibu yang kemarin menangis di ruang tamunya. Barang bukti? Potongan kabel sepanjang dua meter dan keterangan saksi—yang katanya melihat Raka lari membawa gulungan hitam.

"Sidang dibuka. Hadirin harap tenang," kata hakim sambil mengetuk palu.

Ari duduk di bangku pembela, hanya membawa satu tas lusuh berisi dokumen dan keyakinan. Di sisi seberang, jaksa mengenakan setelan mahal dan senyum mengejek.

Tak perlu waktu lama, jaksa langsung melontarkan argumen yang dibumbui retorika dan kesan dramatis: "Yang Mulia, terdakwa telah merugikan negara. Tindakannya mencerminkan mental koruptif masyarakat kecil. Kami menuntut hukuman maksimal."

Muhammad Ari Law bangkit perlahan. Ia tidak terburu-buru. Ia tahu: lawan yang sesungguhnya bukan jaksa, tapi sistem yang memelihara ketimpangan.

"Yang Mulia," suaranya tenang namun terdengar jelas. "Terdakwa tidak mencuri. Ia hanya lewat, dikejar, dan dijadikan kambing hitam. Tidak ada sidik jari. Tidak ada rekaman. Dan saksi tunggal justru mantan napi yang sedang dalam masa percobaan."

Hakim menatapnya dengan mata kosong, seperti melihat perdebatan yang sudah tahu akhirnya.

Lalu ia melanjutkan: "Yang Mulia, izinkan saya bertanya: siapa pemilik kabel itu? PLN? Apakah pihak PLN hadir? Apakah kerugiannya tercatat? Kalau iya, mana bukti kehilangan secara resmi?"

Ruang sidang mendadak hening. Tapi Ari tahu, diam bukan pertanda sadar. Diam adalah bentuk perlawanan paling umum dari sistem yang malu tapi tak mau mengaku salah.

Ia menoleh pada Raka, anak muda dengan mata merah dan tangan gemetar. Dalam dirinya, ia melihat ratusan wajah lain yang pernah terinjak sistem: tukang ojek yang dituduh pengedar, buruh yang dipaksa mengaku, pelajar yang dipenjara tanpa bukti.

"Raka bukan masalah," pikir Ari. "Sistem yang membiarkannya dikorbankan... itulah musuh sebenarnya."

---

Di luar ruang sidang, setelah persidangan ditunda karena "kurangnya bukti tambahan", Ari dihampiri seseorang. Pria gemuk berjas hitam dengan senyum terlalu ramah.

"Pak Ari, saya dari Kejaksaan. Hati-hati ya, Pak. Bapak masuk terlalu dalam. Sistem kita ini... kompleks."

Ari menatap tajam. "Kalau kompleks berarti rusak, lebih baik kita bongkar sekalian."

Pria itu tertawa kecil. "Niat bagus, Pak. Tapi hati-hati. Banyak yang niatnya bagus, tapi akhirnya... jadi berita kematian."

---

Sore itu, di kantor sederhananya, Ari menyalakan laptop tua. Ia mulai menyusun dokumen rahasia yang ia dapat dari seorang whistleblower PLN—berkas yang bisa mengungkap jaringan korupsi berjamaah di proyek kabel bawah tanah.

Raka mungkin bukan siapa-siapa. Tapi kasus ini... bisa membuka lubang besar di tembok sistem. Dan mungkin, dari lubang itu, cahaya akan masuk.

Ari tahu: pertarungan belum dimulai. Tapi ia siap jadi pengacara yang terakhir berdiri.


← Kembali ke Bab 1Kembali ke Daftar IsiLanjut ke Bab 3 →