SANG PENGACARA RAKYAT/Bab 3 - Nama Di Daftar Hitam
Bab 3 - Nama di Daftar Hitam
[sunting]Malam itu, kantor kecil *Keadilan Untuk Semua* masih terang, meski jalanan di luar sudah sepi. MuhammadAriLaw duduk sendiri di depan layar laptop, menatap dokumen-dokumen digital yang baru saja ia terima dari narasumber rahasia.
File-nya bertuliskan:
- KABEL_BAWAH_TANAH_PJPK_KORUP_2021**.
Berkas-berkas itu bukan hanya bukti. Mereka adalah peluru. Dan seperti semua peluru, bisa menembus target... atau berbalik ke penembaknya.
Sambil menyeruput kopi hitam yang sudah hambar, Ari membuka satu folder berjudul:
- "DAFTAR PENGAMAN"**
Nama-nama mulai bermunculan. Anggota DPR. Jaksa. Hakim senior. Direktur PLN. Dan satu nama yang membuat Ari mengangkat alis: **Hakim ketua sidang kasus Raka.**
"Ini bukan sidang biasa," gumamnya pelan. "Ini sandiwara untuk menutupi korupsi besar. Raka cuma pengalih perhatian."
---
Tiba-tiba lampu kantor mati. Layar laptopnya ikut padam. Gelap.
Ia berdiri cepat dan meraba senter kecil di laci.
- BRUK.**
Suara keras terdengar dari luar pintu. Langkah kaki.
Ari meraih ponsel, tapi tak ada sinyal. Saat ia mendekat ke jendela, ia melihat sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gang. Dua pria turun. Wajah mereka tidak asing.
Salah satunya... adalah orang yang kemarin menemuinya di pengadilan. **Jaksa.** Yang satu lagi... entah siapa, tapi badannya dua kali lipat Ari.
---
Ari tidak panik. Ia menutup laptopnya rapat, menyelipkannya ke dalam tas, dan membuka pintu belakang. Langkahnya cepat, menyusuri lorong gelap menuju warung di ujung gang.
Ia masuk dan menyapa: "Bu, boleh saya titip ini sebentar?" katanya sambil menyodorkan tas.
Pemilik warung, seorang ibu tua yang biasa meminjamkan listrik, mengangguk pelan. "Ada yang nyari kamu, ya?"
Ari hanya tersenyum. "Kalau mereka tanya, bilang saya sedang ke kantor polisi. Mau serahkan bukti baru."
---
Di tempat lain, di ruang rapat ber-AC di lantai 14 sebuah hotel bintang lima, lima pria bersetelan duduk melingkar.
"Nama dia sudah masuk daftar," kata salah satu dari mereka. "Kita kasih peringatan dulu. Kalau masih nekat... kita kasih pelajaran."
"Kalau sampai dokumen itu keluar, kita semua kena," ucap pria lainnya sambil memukul meja. "Dan saya gak mau nama saya masuk berita sebagai 'tersangka proyek bodoh ini'."
---
Di warung, Ari menyalakan radio tua. Berita malam memutar kabar tentang sidang kasus kabel PLN—kasus Raka.
"Jaksa menolak bukti pembela dengan alasan tidak relevan. Hakim memutuskan sidang akan dilanjutkan minggu depan. Terdakwa masih ditahan..."
Ari menatap langit malam yang mendung. Ia tahu kini bukan hanya melawan sistem. Ia sedang berdiri di antara dua dunia—kebenaran dan kekuasaan.
Dan kekuasaan, seperti malam, kadang datang tanpa suara.
← Kembali ke Bab 2 • Kembali ke Daftar Isi • Lanjut ke Bab 4 →