Lompat ke isi

SANG PENGACARA RAKYAT/Bab 4 - Pengkhianat Di Antara Kita

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Bab 4 - Pengkhianat di Antara Kita

[sunting]

Kantor kecil itu kembali terang keesokan paginya. Listrik menyala, sinyal kembali, dan suasana tampak seperti biasa. Tapi bagi Ari, semuanya sudah berubah. Ia tahu: seseorang sedang mengawasinya. Atau lebih parah, menyusup ke dalam lingkarannya.

"Lo yakin tasnya aman, Bang?" tanya Fikri, asisten mudanya, sambil membawa dua bungkus nasi uduk.

"Warung Bu Rahmah memang tempat paling aman. Gak ada yang curiga. Lagi pula, dia yang dulu bantu simpan dokumen kita waktu kasus pungli Koperasi Tani," jawab Ari sambil menatap layar laptop.

Dia baru saja membuka ulang file berjudul:

    • KABEL_BAWAH_TANAH_PJPK_KORUP_2021**

Tapi ada sesuatu yang aneh. Beberapa folder hilang. Dokumen penting seperti *"Memo Internal"* dan *"Kontrak Siluman"* raib. Hanya tersisa jejak file yang pernah ada.

Seseorang sudah mengaksesnya.

Ari menatap Fikri tajam. "Kamu ada buka file ini semalam?"

Fikri menggeleng. "Nggak, Bang. Saya langsung pulang, tidur. Laptop juga nggak saya pegang."

Ari terdiam. Ada dua kemungkinan: orang luar berhasil menyusup ke warung itu... atau—kemungkinan yang lebih pahit—pengkhianat ada di antara orang-orang kepercayaannya.

---

Sore harinya, Ari mengunjungi sahabat lamanya: **Sari**, seorang jurnalis investigatif yang kini bekerja untuk media online independen.

"Ari, gue baru dapet kabar. Lo jadi bahan obrolan di ruang jaksa. Katanya lo 'kelewat berani'," kata Sari sambil menyeruput kopi dingin. "Lo yakin ini worth it?"

Ari mengangguk. "Kalau bukan kita, siapa lagi? Gue udah lihat anak-anak kecil di penjara karena sistem korup. Kalau semua orang tutup mata, kita ini apa?"

Sari menghela napas. "Kalau gitu, gue bantu lo. Tapi satu syarat: lo harus tahu, kadang musuh itu bukan yang lo lawan di pengadilan. Tapi yang duduk di sebelah lo."

---

Malamnya, Ari duduk sendiri di kantor. Ia membuka CCTV backup dari ruangan itu. Butuh waktu beberapa jam, tapi akhirnya dia melihatnya—rekaman buram seseorang membuka laptopnya... dan itu terjadi sebelum listrik mati.

Dan wajah yang terlihat... **Fikri.**

---

Ari mendatangi Fikri malam itu juga. Mereka bertemu di parkiran kosong dekat lapangan bulutangkis tua.

Tanpa banyak basa-basi, Ari bertanya: "Kamu buka file itu, Fik?"

Fikri gelisah. "Bang... maaf. Saya gak ada niat jahat. Saya disuruh orang. Mereka cuma minta saya copy sebagian file dan kasih flashdisk-nya."

"Siapa 'mereka'?"

Fikri menunduk. "Saya gak tahu namanya. Cuma dikasih uang. Katanya buat jaga-jaga aja biar 'kasus kabel' ini gak bikin repot orang besar."

Ari menutup matanya sejenak. Rasanya seperti ditusuk dari belakang oleh adik sendiri.

Tapi ia tahu—Fikri bukan jahat. Ia hanya anak muda biasa, dimanfaatkan sistem yang lebih tua dan licik.

"Kamu masih simpan flashdisk-nya?"

Fikri mengangguk. "Saya belum kasih ke mereka. Saya takut, Bang."

Ari menghela napas panjang. "Kamu baru aja selamatin nyawa kamu sendiri."

---

Malam itu, Ari menyimpan flashdisk dalam kotak besi, mengunci pintu kantor, dan menuliskan satu kalimat di buku catatannya:

    • "Kalau pengkhianat bisa ada di tim sendiri, maka kepercayaan adalah kemewahan."**

Dan malam itu pula, ia mulai menyusun strategi baru. Karena ia tahu: perang ini lebih besar dari sekadar kasus kabel. Perang ini... melawan akar negara yang telah tumbuh di tanah busuk.


← Kembali ke Bab 3Kembali ke Daftar IsiLanjut ke Bab 5 →