SANG PENGACARA RAKYAT/Bab 5 - Orang Dalam
Bab 5 - Orang Dalam
[sunting]Pagi itu, Jakarta basah oleh hujan. Tapi kantor **Keadilan Untuk Semua** justru memanas.
Ari duduk di ruang rapat kecil, ditemani Sari dan Fikri. Di hadapan mereka, flashdisk yang jadi rebutan itu tergeletak seperti benda suci. Di dalamnya, bukan cuma data. Tapi nyawa. Kebenaran. Bahaya.
"Ini bukan cuma soal proyek kabel. Ini tentang siapa yang bisa bikin hukum jadi senjata dan siapa yang jadi korbannya," ucap Ari pelan. "Dan kita sekarang... bukan sekadar pengacara. Kita udah masuk medan perang informasi."
Sari membuka isi flashdisk. Di dalamnya ada satu folder tersembunyi: **CONFIDENTIAL-VIP**.
Sandi masuk. Folder terbuka. Ada sebuah video rekaman pembicaraan antar pejabat tinggi.
Suaranya jelas: "Kalau dia terus ganggu proyek, kasih dia peringatan. Kalau perlu, kita buka kasus lamanya. Dia pasti punya celah."
"Kalau gak ada, kita buat. Semua orang bisa dijatuhkan."
Ari menggertakkan giginya. "Jadi... mereka memang main kotor."
---
Malam itu Ari menghubungi seorang tokoh misterius, mantan pegawai KPK yang kini hidup dalam bayang-bayang. Namanya: **Reno**.
Reno datang dengan motor tua, memakai helm full face dan jaket hujan. Ia duduk di bangku kayu rusak di samping kantor Ari.
"Apa yang kamu punya cukup untuk guncangkan media. Tapi belum cukup buat robohkan sistem," katanya.
Ari menatapnya. "Lalu, apa yang cukup?"
Reno tersenyum pahit. "Orang dalam."
---
Beberapa hari kemudian, Ari mendapat pesan dari nomor tak dikenal. Isinya singkat:
- "Aku siap bantu. Tapi kita harus bicara di tempat aman. Jangan bawa siapa-siapa. – G"**
Ari segera mengenali inisial itu.
- G** adalah seseorang yang dulu bekerja di kementerian, pernah jadi whistleblower, tapi menghilang setelah kasusnya dibungkam.
Kini, ia muncul lagi.
Tempat pertemuan mereka adalah sebuah rumah makan di pinggiran Depok. Sepi. Lampunya redup.
Ari duduk di pojokan, memesan kopi, dan menunggu. Lima menit, sepuluh menit...
Lalu seseorang duduk di depannya. Perempuan. Berkerudung abu, raut wajah lelah tapi tajam.
"Masih ingat aku?" katanya.
Ari mengangguk. "Gita."
---
Gita menatapnya tajam. "Aku punya akses ke sistem internal kementerian. Aku tahu siapa yang main di proyek kabel. Siapa yang kasih lampu hijau. Bahkan siapa yang tanda tangan final."
"Bisa dibuktikan?"
Gita mengeluarkan flashdisk kedua. "Aku udah siap mati buat ini. Tapi kalau kamu juga serius, kita harus mulai dari dalam. Bukan hanya di pengadilan. Tapi juga di opini publik. Di medsos. Di ruang-ruang yang gak bisa disensor."
Ari menerima flashdisk itu dengan tangan gemetar. Bukan karena takut—tapi karena tahu: **Inilah titik baliknya.**
Bukan lagi tentang kasus. Bukan lagi tentang membela satu klien. Tapi tentang **mengembalikan arti hukum itu sendiri.**
← Kembali ke Bab 4 • Kembali ke Daftar Isi • Lanjut ke Bab 6 →