SANG PENGACARA RAKYAT/Bab 9 - Lelah Melihat Rakyat Kalah
BAB 9 – BAYANG-BAYANG BALAS DENDAM
[sunting]Kemenangan di ruang publik bukan berarti akhir dari pertempuran. Justru setelah nama Ari melejit sebagai simbol keberanian, bayang-bayang balas dendam mulai menghampirinya.
Suatu malam, ketika pulang ke rumah kontrakannya di Depok, Ari menemukan pintu pagar disiram cat merah. Di dinding tertera tulisan besar dengan semprot cat hitam:
“BERHENTI, ATAU KELUARGAMU YANG JADI TARUHAN.”
Sari yang saat itu menginap untuk rapat strategi langsung pucat. Gita mengambil foto, lalu menyimpannya sebagai bukti. Tapi Ari hanya terdiam lama di depan coretan itu, sebelum berkata pelan: “Kalau mereka sudah main ancaman keluarga, berarti mereka benar-benar ketakutan.”
Keesokan harinya, ibunya di kampung mendapat kunjungan orang tak dikenal. Mereka berpura-pura sebagai petugas survei, tapi pertanyaan-pertanyaannya jelas bernada intimidasi: di mana Ari, siapa saja yang dekat dengannya, apa kebiasaannya. Sang ibu menelpon dengan suara gemetar. “Ari, berhentilah. Ibu tidak apa-apa jadi sasaran. Tapi kamu… kamu jangan nekat.”
Ari menggenggam ponselnya erat. Untuk pertama kali, suaranya pecah. “Ibu, maafkan aku. Tapi kalau aku berhenti sekarang, semua orang akan tahu kebenaran bisa dibungkam dengan ancaman.”
Tekanan tidak hanya datang secara fisik. Media-media besar mulai memutar balikkan narasi. Sebagian headline berbunyi: “Pengacara Kontroversial Diduga Manipulasi Data”, atau “Gerakan Pengadilan Rakyat Ditunggangi Asing”. Wartawan yang dulu mendukung kini berjarak, takut kehilangan lisensi atau diintimidasi.
Namun, di balik semua itu, justru dukungan rakyat makin meluas. Donasi anonim berdatangan. Mahasiswa menggelar aksi solidaritas di depan gedung DPR. Sebuah mural bergambar wajah Ari dengan tulisan “Kebenaran Tidak Bisa Dibunuh” muncul di tembok kota-kota besar.
Di ruang kecil yang dijadikan markas, Reno, mantan penyidik, memberi peringatan keras: “Ari, setiap langkah kita sekarang sudah dipantau. Kau harus siap, entah itu penangkapan mendadak, entah itu kriminalisasi. Mereka tidak akan berhenti sebelum kau hancur.”
Ari menatap mereka semua—Sari, Fikri, Gita, Reno. Wajah-wajah lelah, tapi menyala. “Kalau begitu, kita siapkan fase berikutnya. Kalau mereka serang aku pribadi, maka kita ubah strategi. Jangan hanya Ari yang bicara. Biar rakyat yang bicara.”
Malam itu, lahirlah rencana baru: membangun jaringan Pengadilan Rakyat yang tersebar di berbagai kota, dengan ratusan relawan hukum dan jurnalis independen.
Ancaman bisa menghantui keluarga Ari. Fitnah bisa menodai namanya. Tapi gerakan yang sudah terlanjur hidup… tak lagi bisa dimatikan dengan bayang-bayang balas dendam.