Saat Sendok dan Garpu Tak Lagi Berguna
Penulis
[sunting]Hasan adalah seorang laki-laki yang suka membaca dan menyukai hal-hal baru. Tulisan ini terinspirasi dari acara HUT Desa Pengenjek yang penulis alami saat KKP (Kuliah Kerja Partisipatif), salah satu kegiatan dalam HUT Desa Pengenjek yaitu Begibung.

Harun mematikan mesin motornya di halaman sebuah rumah yang ramai. Suara gelak tawa, alunan musik tradisional Sasak yang lirih, dan aroma bumbu rempah yang kuat langsung menyambutnya. Asap dari dapur umum di samping rumah mengepul, membawa wangi santan dan daging panggang yang membuat perutnya seketika keroncongan. Ini adalah Desa Pengenjek, kampung halaman sahabatnya, Arif, dan hari ini adalah hari besar: begawe syukuran khitanan adik bungsu Arif.
"Harun! Akhirnya sampai juga kau!" sapa Arif sambil menepuk punggungnya. Wajahnya berseri-seri, dibalut pakaian adat Sasak yang gagah.
"Maaf telat, Rif. Jalanan lumayan ramai," jawab Harun, matanya tak henti mengagumi suasana yang begitu hidup dan hangat. Sebagai anak kota yang terbiasa dengan kesunyian apartemen, pemandangan ini adalah sebuah dunia baru. Orang-orang duduk berkelompok di atas tikar pandan yang terhampar di bawah berugak (gazebo khas Sasak), saling bercengkrama dengan akrab.
Setelah bersalaman dengan orang tua Arif, Amaq dan Inaq-nya yang begitu ramah, Harun diajak bergabung dengan teman-teman sebaya mereka. Obrolan mengalir ringan, diselingi candaan yang membuat Harun merasa cepat diterima. Ia beribincang dengan Arif tentang kehidupan mereka hingga waktunya makan. Namun, kebingungan pertamanya dimulai saat waktu makan tiba.
Seorang ibu datang membawa sebuah nampan besar dari anyaman bambu. Di atasnya, nasi putih mengepul membentuk gunungan yang dikelilingi oleh berbagai macam lauk-pauk: ada sayur ares dari batang pisang, ayam bumbu pedas yang merah menyala, urap sayuran, dan beberapa lauk lain yang belum pernah Harun lihat sebelumnya. Tidak ada piring-piring kecil, apalagi sendok dan garpu. Nampan itu diletakkan di tengah-tengah mereka. Arif dan teman-temannya segera merapat, membentuk lingkaran yang lebih rapat.
"Ayo, Run, jangan malu-malu. Silakan," ajak Arif.
Harun termangu. Ia menelan ludah, matanya melirik ke kiri dan ke kanan, mencari petunjuk. Semua orang mulai membasuh tangan kanan mereka di sebuah mangkuk kecil berisi air yang disebut kobokan. Lalu, dengan santai, mereka mulai mengambil nasi dan lauk dengan tangan mereka.
Bagi Harun yang berusia 20 tahun dan seumur hidupnya makan dengan piring dan sendok, pemandangan ini adalah sebuah pengalaman baru baginya. Otaknya berputar cepat dan berbagai pertanyaan mulai membanjiri kepalanya. Bagaimana caranya? Apakah aku harus mengambil lauk yang di seberang sana? Berapa banyak nasi yang boleh kuambil? Apakah tanganku cukup bersih?
Tangannya terasa kaku. Ia hanya duduk diam, tersenyum canggung saat teman-temannya sudah mulai lahap menyantap hidangan.
Seorang bapak paruh baya yang duduk di sebelahnya, yang dipanggil Papuq Lim, sepertinya menyadari kebingungan Harun. Beliau tersenyum bijak, giginya yang sudah tak lengkap terlihat ramah.
"Pertama kali begibung, Nak?" tanyanya dengan suara lembut.
Harun mengangguk malu. "Iya, Papuq."
Papuq Lim terkekeh pelan. "Tidak usah bingung. Anggap saja nampan ini adalah simbol kebersamaan kita. Lihat," katanya sambil mencontohkan. "Ambil nasi secukupnya dari sisi yang paling dekat denganmu. Lalu ambil sedikit lauk. Begini caranya."
Dengan jemarinya yang sudah keriput namun cekatan, Papuq Lim menunjukkan cara menyatukan nasi dan lauk menjadi sebuah suapan kecil yang rapi. Tanpa kesan menggurui, ia membagikan sebuah kebijaksanaan.
Arif menimpali dari seberang lingkaran, "Benar kata Papuq Lim, Run. Di sini, di atas nampan ini, kita semua sama. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Kita berbagi rezeki yang sama, dari wadah yang sama. Inilah makna begibung."
Mendengar penjelasan itu, sesuatu dalam diri Harun terasa hangat. Ini bukan sekadar cara makan yang berbeda, melainkan sebuah filosofi yang mendalam. Dengan sedikit ragu, ia meniru gerakan Papuq Lim. Ia membasuh tangannya, mengambil sedikit nasi, lalu mencampurnya dengan sayur ares yang gurih.
Suapan pertama terasa aneh di lidahnya, bukan karena rasanya, tapi karena sensasinya. Namun, suapan kedua dan ketiga mulai terasa nikmat. Rasa masakan yang lezat berpadu dengan kehangatan obrolan dan tawa di sekelilingnya. Ia tidak lagi merasa canggung. Ia menjadi bagian dari lingkaran itu. Ia belajar untuk tidak meraih lauk yang jauh, sebagai tanda menghormati bagian orang lain, dan ia belajar menyantap makanannya dengan lebih perlahan, menikmati setiap detiknya.
Selesai makan, perasaan Harun luar biasa lega dan bahagia. Perutnya kenyang, tetapi hatinya jauh lebih kenyang. Ia sadar bahwa ia baru saja mendapatkan pelajaran yang tidak akan pernah ia temukan di ruang kuliah atau buku-buku tebal.
Saat hari beranjak sore dan ia hendak pamit pulang, Harun menjabat tangan Arif dengan erat.
"Rif, terima kasih banyak untuk hari ini. Aku tidak akan pernah lupa pengalaman begibung ini," ucapnya tulus.
Arif tersenyum lebar. "Kapan pun kau mau, pintu rumahku selalu terbuka. Nampan kami selalu siap menyambutmu."
Dalam perjalanan pulangnya, Harun terus tersenyum. Ia datang ke Desa Pengenjek dengan rasa penasaran, dan pulang membawa pemahaman baru. Ia belajar bahwa budaya bukan hanya tentang tarian atau pakaian adat yang megah, tetapi juga tentang cara berbagi makanan di atas sebuah nampan sederhana. Sebuah nampan yang mengajarkannya tentang kesetaraan, kebersamaan, dan makna menjadi bagian dari sebuah keluarga besar. Perjalanan untuk memahami budaya baru telah dimulai dari satu suapan nasi yang penuh makna.