Saat Waktu Tak Lagi Memihak
Pengantar
[sunting]Hai semua! Cerita ini terinspirasi dari salah satu murid di sekolah di Bandung, tentu saja cerita ini sudah mendapakan modif dan penyesuaian-penyesuaian lainnya. Selamat membaca.
Di kursi goyang yang berdecit pelan, Raden Wiratama menatap jendela senja dengan mata kosong. Tangannya yang renta menggenggam bingkai foto keluarganya. Wajah-wajah yang dulu begitu dekat, kini hanya tinggal kenangan yang menyakitkan. Di ruangan sepi itu, kejayaan masa lalunya terasa seperti ejekan.
Dulu, nama Raden Wiratama dielu-elukan. Ia membangun kerajaan bisnis dari nol, menaklukkan lawan, membeli kekuasaan, bahkan memengaruhi keputusan politik. Semua tunduk padanya. Tapi di balik semua gemerlap itu, ada rumah yang sunyi dan keluarga yang perlahan menjauh.
“Ayah janji datang ke pentas tari Aila, kan?” suara putrinya dulu penuh harap.
“Tunda dulu, Nak. Ayah harus rapat penting,” jawabnya tanpa menoleh.
Janji itu terulang berkali-kali dan selalu diingkari. Hingga suatu malam, istrinya berdiri di ambang pintu kamar kerja.
“Apakah kau masih ingat rasanya makan malam bersama keluarga?” tanyanya lirih.
“Aku melakukan semua ini demi kalian,” sahut Wiratama ketus.
“Demi kami? Atau demi egomu?” suara istrinya bergetar, lalu ia pergi meninggalkannya malam itu—bukan hanya dari kamar, tapi dari hidupnya selamanya.
Beberapa tahun kemudian, kabar duka datang: istrinya meninggal karena penyakit yang tak pernah ia sempat jenguk. Ia tiba di rumah sakit beberapa menit setelah semuanya berakhir. Di samping tubuh yang tak lagi bernyawa itu, ia hanya bisa berlutut dan menangis. “Maafkan aku…” suaranya pecah, tapi maaf itu datang terlambat.
Putrinya, Aila, tak berkata sepatah kata pun. Ia mengemasi barang-barangnya dan pergi. Hanya satu kalimat yang tertinggal di meja kerja:
Aku lebih baik tak punya ayah daripada punya ayah yang tak pernah ada.
Sejak saat itu, rumah besar Raden Wiratama berubah jadi penjara sunyi. Ia dikelilingi kemewahan, tapi setiap sudut rumah memantulkan kesalahan. Ia mencoba mencari Aila bertahun-tahun, namun tak pernah berhasil. Dunia yang dulu ia kuasai kini mengecil menjadi kamar sepi berbau obat dan luka batin yang tak sembuh.
Sampai suatu sore, perawat datang membawa sepucuk surat. “Dari Nyonya Aila.”
Tangan Wiratama gemetar membukanya.
Ayah,
Aku tidak membencimu. Aku hanya tidak mengenalmu. Seluruh masa kecilku berlalu tanpa hadirmu. Aku tak tahu apakah aku siap bertemu. Tapi jika waktu masih mengizinkan, mungkin kita bisa berbicara sebelum semuanya terlambat.
Air matanya jatuh membasahi tulisan itu. Ia menulis balasan berulang kali, tapi selalu merobeknya. Apa arti “maaf” setelah puluhan tahun? Apa arti cinta setelah ia sia-siakan?
Lalu, di suatu pagi yang dingin, pintu rumahnya diketuk. Seorang wanita berdiri—matanya teduh namun menyimpan luka yang dalam.
“Ayah…” suaranya bergetar.
Wiratama berdiri tertatih, lalu memeluknya erat. “Maafkan aku, Aila. Maafkan ayah yang bodoh.”
Air mata mereka menyatu dalam keheningan panjang.
Aila menarik napas berat. “Ibu dulu sering berkata, orang yang paling kuat pun akan hancur oleh penyesalan. Dan sekarang aku mengerti maksudnya.”
Raden Wiratama terisak. “Beri aku satu kesempatan… untuk memperbaiki yang tersisa.”
“Waktu kita mungkin tak panjang, Ayah. Tapi aku di sini sekarang. Itu sudah cukup.”
Saat matahari pagi menyelinap ke dalam ruangan, tubuh renta itu perlahan kehilangan kekuatannya. Nafasnya menjadi pelan, senyumnya tenang. Di ujung waktu, Raden Wiratama akhirnya menemukan hal yang selama ini ia cari: bukan kekuasaan, bukan kekayaan, tapi pelukan yang dulu ia abaikan.
Ia menutup mata dengan damai, dikelilingi cinta yang hampir ia buang selamanya.