Lompat ke isi

Sang Dewi Fortuna di Stadion Manahan Surakarta

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Sports drawing-Association football (Soccer)-01

Matahari sore di Kota Surakarta menyapu lembut rumput Stadion Manahan. Tribun perlahan mulai penuh, bendera klub berkibar di setiap sudut, dan suara genderang terdengar berirama dari tribun utara. Hari itu adalah final Liga Tarkam Nusantara, mempertemukan Persis Muda Surakarta melawan Bajul Timur Surabaya.

Di ruang ganti, Redwan, kapten muda Persis Muda, duduk terdiam menatap sepatunya. Bukan sepatu baru, melainkan sepasang sepatu lusuh yang dulu diberikan almarhum ayahnya. “Kalau kamu main dengan hati, Redwan, sepatu ini akan membawamu ke tempat yang tinggi,” kata ayahnya dulu.

Peluit awal dibunyikan. Babak pertama berjalan panas. Bajul Timur unggul lebih dulu lewat sundulan striker andalannya. Skor 0-1. Supporter tuan rumah mulai cemas, tapi nyanyian mereka tak berhenti.

Babak kedua, Redwan seperti menemukan tenaga baru. Ia mengatur serangan, memberi umpan-umpan tajam, dan di menit 75 berhasil mencetak gol penyeimbang. Stadion bergemuruh, genderang bertalu-talu.

Menit 89, skor masih imbang. Wasit sudah siap meniup peluit akhir, tapi Redwan melihat celah. Ia menggiring bola melewati dua bek lawan, berhadapan dengan kiper. Di kepalanya, suara ayahnya kembali terngiang. “Mainlah dengan hati.”

Tendangan Redwan meluncur deras ke sudut kiri gawang. Gol! Stadion Manahan meledak dalam sorak-sorai. Persis Muda menjadi juara.

Di tengah euforia, Redwan menatap langit senja. Sepatu lusuhnya kini penuh noda lumpur, tapi ia tahu, itu adalah saksi perjalanan terpenting dalam hidupnya.