Lompat ke isi

Sate Pusut atau Sate Rembige

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Ilustrasi sate pusut dan sate rembige

Kiok adalah seorang anak yang tinggal di pulau Lombok. Tubuhnya padat berisi karena memang hobinya adalah makan-makan. Ia paling suka diajak begibung oleh siapa saja, terutama teman-teman terdekatnya. Mereka hampir setiap hari berayan, pergi nakil ke sawah.

Dan beruntungnya hobinya didukung oleh budaya di pulau Lombok. Pada setiap acara perayaan apapun pasti ada sesi begibung, yaitu makan-makan. Lauk yang disediakan pun berbahan dasar tanaman di sekitar desa. Warga terbiasa bergotong-royong mengeluarkan bahan masakan untuk dimasak, terutama kelapa. Sebab, masakan bersantan adalah yang harus ada pada hidangan begibung. Lalu isiannya bisa bermacam-macam. Kalau yang banyak didapat adalah pepaya muda , maka jadilah kelak gedang. Kalau yang banyak didapat adalah pucuk kelapa, maka jadilah kelak empol. Kalau yang banyak didapat adalah nangka muda, maka jadilah kelak nangke. Kalau yang banyak didapat adalah gedebong, maka jadilah ares. Begitu seterusnya.

Namun, walau semua lauk bersantan sudah dibuat, kelapa seringkali banyak tersisa. Maka agar tak tersisa, kelapa pun dibuat menjadi campuran pada sate. Hingga muncullah Salah satu makanan khas Lombok yaitu sate pusut. Alasan lainnya adalah agar sate bisa dibagikan kepada lebih banyak orang. Bagi Kiok, sate pusut sudah biasa. Rasanya tidak seistimewa sate rembige.

Suatu hari, harga kelapa di pulau Lombok naik. Banyak kelapa sudah dijual kepada pengepul. Konon untuk dijual lagi ke luar negeri. Sate pusut yang biasa dihidangkan menjadi hidangan yang jarang. Jadi, mau bikin sate pusut yang adalah daging giling dicampur kelapa atau mau bikin sate rembige yang adalah full daging, sama-sama mahal.

Kini, sate pusut atau sate rembige tak ada bedanya lagi bagi Kiok. Keduanya adalah hidangan yang dinanti-nanti dan istimewa.