Lompat ke isi

Sejarah Desa Sukojati

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Pendahuluan

[sunting]

Di Ujung Timur Jawa terdapat sebuah desa yang memiliki ciri khas tersendiri karena masyarakatnya membuka lahan pertama oleh Etnis Bugis – Mandar dari Sulawesi Selatan. Dengan karakter yang sangat terkenal yaitu Pelaut dan Pedagang yang Ulung (Mahir dan Berpengalaman) memberikan sebuah penyesuaian kehidupan dengan kondisi geografis yang ditempatinya. Dalam hal ini, pengaruh atas penamaan di wilayah ini sangat memberikan kesan baik bagi masyarakat yang pertama kali menempatinya. Sehingga wilayah ini di beri nama ‘‘Sukojati‘‘.

Toponimi (Kajian Penamaan)

[sunting]
Kantor di Desa Sukojati

Berbicara soal penamaan, maka kajian yang digunakan adalah Kajian Toponimi yang merupakan kajian dari penamaan suatu wilayah atau tempat yang melalui penyebutannya diambil dari berbagai aspek di lingkungan tersebut, sehingga menjadi sebuah nama tempat. Dalam buku yang berjudul “Toponimi Kecamatan Banyuwangi” karya Mursidi, A., & Soetopo, D. (2021) menjelaskan bahwa Toponimi dalam bahasa Inggris disebut toponym atau secara harfiah artinya nama tempat di muka bumi (topos adalah “tempat” atau “permukaan” seperti “topografi” adalah gambaran tentang permukaan atau tempat-tempat di muka bumi, dan nym dari onyma adalah “nama”), dan dalam bahasa Inggris kadang-kadang disebut geographical names (nama geografis) atau place names. Dari beberapa definisi diatas, bahwa penamaan suatu tempat tak terlepas dari gambaran tentang permukaan atau lingkungan yang berada di wilayah tersebut.

Sejarah Desa Sukojati

[sunting]

Sukojati merupakan nama dari sebuah Desa di Kabupaten Banyuwangi yang terletak di pesisir timur pulau jawa. Menurut Khairiyah (90) salah satu tetua masyarakat di dusun krajan bahwa nama Sukojati berasal dari 2 kata  yaitu “Suko” atau dalam bahasa jawa soko‘ yang berarti sebuah tiang (Penyangga)  bangunan dan “Jati” yang berarti pohon Jati yang di wilayah tersebut banyak pepohonan jenis Jati, sehingga jika disimpulkan bahwa wilayah ini memiliki asal – usul penamaan dari istilah pohon jati yang tumbuh di sekitar lingkungan tersebut serta digunakan untuk penyangga atau tiang bangunan dalam pembangunan rumah (tempat hunian) masyarakat setempat. Mengingat bahwa pohon jati memiliki kegunaan dan fungsi yang sangat banyak, mulai dari bahan bangunan, untuk keperluan dapur, daunnya digunakan untuk pembungkus makanan sebelum akhirnya beralih dengan daun pisang, dan berbagai kebutuhan yang memerlukan bahan dasar kayu yang sangat awet serta kuat.

Desa ini mengalami pemekaran administrasi, yang sebelumnya masuk dalam administrasi kecamatan Kabat menjadi kecamatan Blimbingsari yang ketika pemekaran Kecamatan Baru ini (Blimbingsari) membutuhkan beberapa wilayah yang akan dimasukkan dalam administrasinya. Dalam berita yang ditulis oleh Sigit Hariyadi (2025) dalam Radar Banyuwangi bahwa Delapan desa merupakan pecahan dari Kecamatan Rogojampi, yaitu Desa Blimbingsari, Desa Watukebo, Desa Patoman, Desa Bomo, Desa Kaotan, Desa Gintangan, Desa Kaligung dan Desa Karangrejo. Sementara itu dengan damai tanpa konflik, dua desa yakni Badean dan Sukojati yang sebelumnya masuk Kecamatan Kabat, kini bergabung ke wilayah Blimbingsari. Secara resmi ditetapkan pada 9 Januari 2017. Desa ini secara spesifik berada di pesisir pantai sisi timur Banyuwangi sehingga masyarakatnya memiliki kedekatan aktivitas dengan laut maupun kebun yang berada disana.

Makam Keramat Desa

[sunting]

Di wilayah ini terdapat 2 makam keramat dan 1 makam Ulama yang berperan aktif dalam pendidikan agama islam di Sukojati. Makam pertama adalah masyarakat menyebutnya ialah Makam Wong Agung Wilis yang merupakan salah satu pahlawan pada masa kerajaan Blambangan yang meninggal di tahun 1768. Makam kedua yaitu Makam Mbah Jumadin atau Buyut Jumadin. Mbah Jumadin merupakan sosok misterius yang masih belum ada cerita tutur darimana beliau berasal. Namun masyarakat mempercayai bahwa Mbah Jumadin merupakan sosok yang sakti dan jauh sebelum adanya pemukiman di wilayah ini, Mbah Jumadin sudah menjadi Makam ketika proses pembukaan lahan oleh masyarakat etnis Bugis – Mandar yang akhirnya bertempat tinggal disini. Makam ketiga adalah Makam seorang Ulama yang bernama Kh. Halimi bin Nur Salim yang wafat pada hari Sabtu Wage tanggal 14 November 1992 / 18 Jumadil Awal 1413 Hijriyah. Beliau merupakan tokoh masyarakat yang berperan penting dalam pendidikan islam di Sukojati. Dari 3 makam diatas, masyarakat masih memiliki tradisi yang melekat dalam setiap kegiatan Desa, jika ada kegiatan hajatan, maka masyarakat akan nyekar atau ziarah di makam tersebut.

Dusun di Desa Sukojati

[sunting]

Sukojati memiliki 4 dusun diantara-nya, dusun krajan, dusun sengon, dusun kampung tengah dan dusun kampung lor. Dari letak geografisnya, desa Sukojati berbatasan desa badean disebelah selatan, desa pakistaji atau sumber kepuh di sebelah barat, desa pondoknongko di sebelah utara yang dibatasi dengan jembatan tambong (aliran sungai tambong) dan di sebelah timur berbatasan dengan pesisir pantai dengan hamparan laut selat bali.  Penamaan 4 dusun ini juga memiliki arti dalam penyebutannya, seperti dusun sengon yang berarti banyaknya pohon sengon yang berada di sekitar wilayah dusun tersebut, dusun kampung tengah dan kampung lor berarti letak geografis kampung yang posisinya di tengah dan utara (lor). Sedangkan dusun krajan berarti pusat dari pemerintahan desa, bahkan dusun krajan memiliki nama lama (kuno) yaitu mandaran, mandaran selatan dan mandarjo. Nama tersebut diambil dari kependudukan suku Bugis - Mandar yang  berasal dari Sulawesi Selatan yang bermigrasi ke wilayah ini. Dalam perjalanannya, mereka adalah kelompok yang membuka lahan pertama kali di Desa Sukojati, kemudian penyebutan dari masyarakat pada tempat tertentu menamainya sebagai nama lama (kuno) yaitu Mandaran, Mandaran Selatan atau bagian Selatan dan Mandarjo atau Mandaran Rejo yang baru dipadati penduduk di Abad 20 awal hingga sekarang. Tak terlepas oleh administrasi pemerintah Desa maupun daerah, penyebutan ini tetap berlaku dan terjaga. Sehingga sampai sekarang masih melekat di masyarakat Desa Sukojati khususnya bagi keturunannya. Beberapa bangunan lama sudah tidak banyak ditemukan karena termodernisasi oleh zaman. Beberapa rumah penduduk ternyata masih bisa kita jumpai bangunan yang ber-arsitektur Belanda meski sudah pernah di renovasi atapnya namun secara keasliannya terjaga.

Dalam gambar diatas, Sebelah kiri adalah gambar utama peta, dan sebelah kanan gambar peta yang di zoom untuk memperjelas tulisan ‘‘Soekadjati‘‘. Terlihat di peta tersebut letak geografis Desa Sukojati sangat jelas, yang dulunya masih sedikit pemukiman warga serta batas wilayahnya di Batasi oleh kondisi alam seperti Sungai Tambong dan aliran Sumber Mata Air. Dalam gambar tersebut juga terdapat penamaan penyebutan lama sebelum disebut Sukojati yaitu masih bernama Soekadjati dari peta topografi tahun 1915 ini merupakan bukti kuat dan sumber primer dari penamaan sebuah wilayah dari Desa yang Bernama Sukojati. Jika kita lihat lebih dalam atau secara rinci, bahwa Sukojati memiliki karakteristik yang wilayahnya pesisir (maritim) dan Kebun yang lebat tersebut sehingga membentuk komoditi mayoritas disana seperti seorang Nelayan, Petani Persawahan dan Petani Perkebunan karena banyaknya pepohonan yang tumbuh di wilayah ini. Dari wilayah ini, ternyata ada keunikan yang mengejutkan bahwa sumber Mata Air melimpah dan berdekatan dengan pesisir pantai. Jarak pesisir pantai dengan Mata Air hanya berkisar 1km jika kita ambil titik kordinat langsung. Beberapa pohon – pohon penjaga Mata Air masih terjaga meski terkadang ada beberapa pemilik tanah tidak memahami konsep Mata Air yang menghidupi masyarakat, sehingga menyebabkan penebangan Pohon terjadi.

Salah satu bukti kuat lainnya ialah beberapa bangunan lama yang masih ada yaitu berarsitektur Belanda yang masih berdiri kokoh di dusun Krajan hingga sekarang. Bangunan ini merupakan Rumah dari salah satu masyarakat keturunan Bugis - Mandar yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa yaitu H. Arifin anak ke 2 dari Tokoh Pembuka lahan pertama di wilayah ini. Menurut Fahmi Aulia, salah satu keturunan pemilik bangunan ini serta yang menempatinya bahwa Bangunan ini selesai dibangun pada tahun 1936 dan mulai di tempati ditahun tersebut. Sehingga dapat kita ambil Kesimpulan dalam kurun waktu Abad 19 akhir, pengaruh kolonialisasi Belanda di Sukojati menjadi penting dan menjadi salah satu penyebab banyaknya dokumen – dokumen serta arsip lainnya banyak yang hilang dan masih belum ditemukan.

Dalam penelitian Ninik Mariana (2020) menyebutkan bahwa wilayah Sukojati mengalami akulturasi Bahasa dan Budaya antara suku Mandar dan Osing yang akhirnya menciptakan keunikan dalam berkomunikasi sesama masyarakat. Dari Kebudayaan yang masih melekat di masyarakat Sukojati yaitu terdapat Tradisi Sapar – Saparan. Tradisi yang dilaksanakan pada hari rabu terakhir bulan sapar  atau masyarakat jawa menyebutnya Rabu Pungkasan yang dilaksanakan di pinggir Pantai dengan mengadakan selametan jenang sapar dan makan Bersama di pesisir Pantai. Tradisi ini rutin dilaksanakan setiap 1 tahun sekali sebagai ungkapan rasa Syukur atas limpahnya hasil laut dan selametan sebagai tolak bala karena dipercaya pada hari rabu pungkasan tersebut hari dimana bala atau musibah itu diturunkan. Sukojati menjadi wilayah yang masyarakatnya memiliki aktivitas selain dari pesisir Pantai atau laut juga memiliki aktivitas di kebun maupun sawah, yang awalnya wilayah tersebut banyak ditanami pepohonan, Seperti Pohon Jati, Pohon Sengon dan Pohon Kelapa. Dari berbagai pohon yang dominan atau mayoritas di wilayah ini menjadi sebab penamaan wilayah, pohon jati menjadi penamaan desa (Desa Sukojati) dan pohon sengon menjadi penamaan dusun (Dusun Sengon) serta pohon kelapa memiliki nilai lebih dalam kualitas dari kelapa itu sendiri. Menurut Rohim, salah satu pemilik kebun di Sukojati memberi penjelasan tentang Kelapa di wilayah ini kualitasnya lebih Tinggi daripada kualitas kelapa – kelapa lainnya, karena letak geografis yang sangat mendukung seperti banyak nya sumber Mata Air di sekitar Kebun maupun dekat dengan pesisir pantai. Dan jika dikategorikan kelapa di Sukojati ini bisa disebut Grade A dalam penilaian pada kualitas hasil dari pohon kelapa di desa Sukojati.

Penulis

[sunting]

Muhammad Lucky Sahid