Lompat ke isi

Sekar Ayu dan Rahasia Alas Purwo

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Tanaman hijau di hutan

Di sebuah desa di ujung timur Pulau Jawa, hiduplah seorang anak perempuan bernama Sekar Ayu. Ia tinggal bersama ayah, ibu, dan neneknya yang bijak, Nenek Suri. Setiap sore, Sekar duduk di beranda sambil mendengarkan dongeng-dongeng lama tentang Alas Purwo, hutan purba yang diyakini sebagai tempat paling tua di tanah Jawa.

“Alas Purwo bukan sembarang hutan, nduk,” kata Nenek Suri sambil mengelus rambutnya yang lebat. “Hutan itu bisa menyembunyikan orang yang tak sopan, tapi juga bisa menolong anak berhati bersih.” Sekar Ayu mengangguk, meski dalam hatinya rasa penasaran tumbuh semakin besar.

Suatu pagi, saat bermain di tepi hutan, Sekar melihat seekor kupu-kupu hitam kebiruan yang berkilau tertimpa cahaya matahari. “Kupu-kupu ini cantik sekali,” gumamnya. Tanpa sadar, ia mengikuti kupu-kupu itu masuk semakin jauh ke dalam Alas Purwo. Pepohonan tampak makin tinggi dan rapat, cahaya mulai meredup, dan suara burung tak lagi terdengar. Sekar Ayu berhenti. Ia baru sadar bahwa ia telah tersesat. “Bapak...? Ibu...?” panggilnya panik. Namun hanya suara angin yang menjawab.

Tiba-tiba, seekor elang putih turun dari langit dan hinggap di dahan pohon besar. “Namamu Sekar Ayu, ya?” tanya elang itu. “Aku Si Luhur, penjaga Alas Purwo. Hanya anak berhati tulus yang bisa melihatku.” Sekar menatap kagum. “Aku ingin pulang, tapi aku tak tahu jalannya,” katanya lirih. “Kalau begitu, kau harus melewati tiga ujian dari hutan. Tapi jangan takut. Selama kau jujur dan berani, hutan akan membantumu,” jawab Si Luhur.

Hutan

Ujian pertama datang dari pohon beringin tua yang menjulang tinggi. Suara berat muncul dari batangnya, “Apa yang memberi terang tapi tak pernah meminta kembali?” Sekar berpikir sejenak, lalu menjawab, “Matahari!” Pohon itu tersenyum, dan rantingnya membuka jalan.

Di ujian kedua, Sekar menemukan seekor rusa emas yang terperangkap di semak berduri. Kakinya berdarah dan gemetar. Tanpa ragu, Sekar merobek ujung bajunya dan membalut luka rusa itu dengan hati-hati. “Terima kasih, anak baik,” ucap rusa itu sebelum menghilang menjadi cahaya hangat.

Ujian terakhir datang saat malam tiba. Sekar dikelilingi suara-suara aneh dan bayangan hitam yang berputar-putar di sekelilingnya. Ia memeluk dirinya dan berbisik pelan, “Aku tidak akan takut. Aku percaya aku bisa pulang.” Saat itu juga, bayangan menghilang, digantikan bintang-bintang yang bersinar terang di langit Alas Purwo.

Si Luhur datang kembali dengan wajah tenang. “Kau telah lulus, Sekar Ayu. Hutan ini sekarang menjadi sahabatmu.” Elang itu mengepakkan sayap dan terbang tinggi membawa angin harum dan hangat. Tiba-tiba, Sekar Ayu sudah berada di tepi desa. Orang-orang mencarinya, dan Nenek Suri langsung memeluknya erat sambil menangis haru.

Sejak hari itu, Sekar Ayu dikenal sebagai penjaga kecil Alas Purwo. Ia mengajak teman-temannya menanam pohon, membersihkan sungai, dan membuat dongeng sendiri tentang petualangannya. Di lehernya tergantung sehelai daun berbentuk hati dari pohon beringin, tanda bahwa hutan percaya padanya.