Sekar jagat di ujung senja
Senja marun yang sangat damai dihati dengan suasana sejuk nan asri, hijau lentik sawah berseri-seri, bersanding dengan kebun kopi, sehingga membuat rumah terasa setiap hari diparfumi aroma wangi kopi, tak lupa pula suara tradisional gamelan yang selalu beriringan, membuat suasana rumah bernuansa klasikal. Aku sekar putri rajabiah seorang putri yang terlahir dari keluarga religius yang masih kental dengan budaya lokal lebih khususnya budaya gamelan osing, orangtua ku adalah pendiri sanggar Tari Gandrung di desan Kemiren Banyuwangi, jadi tidak jauh dari itu aku adalah pewaris dari semua yang sudah dilestarikan.

Diteras belakang rumah menghadap senja aku sering melamun tentang masa depan yang membuat kepalaku selalu berisik setiap hari, usiaku sudah mencapai hampir menjadi remaja dewasa, lebih tepatnya sudah masuk awal semseter kelas dua belas SLTA, orangtua ku mulai memberiku arahan tentang mau jadi apa aku besok, dan harus dimanakah aku melanjutkan. Orangtua ku sudah sepuh, aku dua bersaudara, si bungsu keluarga kami adalah aku, mereka menekankan pada ku bahwa harus melanjutkan mengelola sanggar Tari Gamdrung yang sudah lama didirikan, sehingga aku harus melanjutkan kuliah di universitas dekat-dekat rumah saja dan mengambil jurusan seni, tapi keinginanku berbalik dengan semua keinginan orang tuaku, aku ingin menjadi seorang aktivis di kota lain, di Universitas Brawijaya Malang, aku ingin membangun peradaban politik yang lebih baik di era sekarang, impianku sangat lah tinggi untuk bangsa ini.
“ nduk sekar” suara hangat yang sering menyapaku setiap hari “ ngih bu, pripun” seketika lamunanku terpecahkan “ ini ada tamu, kamu jagongin dulu ngeh, bapak masih disawah” jawabku “ ngeh bu” aku langsung bergegas menuju ruang tamu menuruti perintah ibu, yang ku temui adalah seorang lelaki dewasa, berparas tampan, berkulit putih, mempunyai perawakan tubuh yang tinggi, dan senyum yang manis aku hampir salting setelah melihatnya hingga akupun sadar langsung menundukkan wajah “ bapak masih kesawah, silahkan duduk” aku mempersilahkan dengan nada gugup, ia pun masuk kedalam kemudian duduk, aku mengikutinya dari belakang dan ikut duduk di kursi yang bersebrangan. Ia langsung membuka percakapan dan aku masih tetap dalam ghodul bashorku “ perkenalkan nama saya jagat maheswari, kedangan saya kesini untuk menempuh tuga semester akhir menjadi sarjana, saya ingin meneliti tentang tradisi music gamelan, saya dari Universitas Brawijaya Malang” seketika itu hatiku tertegun mendengar universitas yang aku impikan disebut sampai tak terasa saya belum menanggapi apapun apa yang ia utarakan “apakah saya diterima disini untuk melakukan penelitian? “ ucapnya lagi untuk memecah keheningan. Tanpa memeperkenalkan diri aku langsung bertanya “ kira-kira berapa hari pelaksanaan penelitian itu dilakukan” jawabku, “ kiranya satu bulan lebih sepuluh hari” timpalnya, “untuk persetujuan yang memutuskan bapak saya, saya hanya wakil dari bapak saya, sebentar lagi bapak udah pulang sampean tunggu dulu” dia mengangguk dengan akrab.
“ saya kebelakang buatkan teh dulu”. Semabari aku membuatkan teh bapakku sudah pulang “assalamualaikum” kedatangan bapakku disambut hangat dengan jagat de ruang tamu depan “ waalaikum salam” jagat berjabat tangan serta menyalimi sebagai bentuk tawaduk terhadap orang tua “sinten ngeh, kok gak kenal bapak” bapak bertanya dengan tenang sehingga jagat tak merasa takut untuk menanggapi beliau “ saya jagat pak” ia menjelaskan maksud kedangannya kembali setelah bapak duduk “ oalah nak, nak, tak kira mau dateng jadi calon mantun to iki ternaya mau penelitian kampus ngeh” bapak guyon receh sehingga tidak ada kata ketengan suasana diantaranya “ mboten pak” dengan wajah malum malu jagat menjawab “ ia nak permintaan kamu diterima, untuk tempat tinggal kamu bisa menempat rumah yang ada disebrang rumah ini ya, itu rumah saya sediakan khusus tamu, soale dulur-dulur ku kalau sekali dateng pasti gerudukan, gak tau dewe-dewe” timpal bapak bersemangat, jagat mengintip arah yang dituju bapak “ oh, ngeh pak terimakasih banyak”
Jagat maheswari adalah seorang mahasiswa yang mengambil jurusan seni rupa murni, ia dari keluarga terpandang yang sangat dekat dengan budaya ukir mengukir seperti halnya membuat ukiran untuk kostum BEC (Bangnyuwangi Ethno Carnaval), ukiran dari kayu, ukiran dari kaca, sehingga keluarganya memiliki toko Sangawangi Art Galery yang sudah terkenal hingga luar kota Malang, tapi dibalik semua yang sudah diajarkan orangtuanya tentang seni ukir ia lebih penasaran dengan budaya music tradisional sehingga ia lebih memilih riset tentang itu. Orang tua jagat sangat mendukung apa yang ingin ia lakukan untuk impiannya.
Selama jagat berada disana ia sering membantu perawatan alat musik dan melihat saat ada pelatihan tari sambil memperhatikan dengan teliti tempo, irama, dan nada yang dimainkan saat tari dimulai. Diminggu pertama jagat masih fokus memperhatikan sendiri tanpa bertanya hingga menemukan titik dimana ia harus bertanya. Minggu ke dua baru ia melakukan wawancara mendalam kepada pak darma, saat pak darma berada di sanggar saya menghampiri beliau “ ngapunten pak, saya izin wawancara ngeh” seperti biasa bapak selalu antusias menjawab apapun itu dari jagat “boleh-boleh nak” jagat memulai wawancara dengan mengeluarkan alat lapangan seperti perekam suara, buku catatan lapangan “ kemaren saya sudah memperhatika irama,nada, dan temponya pak tapi saya sedikit membandingkan dengan gamelan di daerah lain, sebenernya struktur dan komposisi gamelan khusus yang digunakan dalam mengiringi tari Gandrung dibandingkan dengan bentuk gamelan daerah lain di Jawa Timur “ jawab pak darma dengan segala pengetahuannya “ Gamelan Gandrung Banyuwangi umumnya menggunakan laras pelog dengan susunan instrumen seperti kendang, gong, kempul, kenong, saron, dan biola (yang menjadi ciri khas). Berbeda dengan gamelan Jawa Timur pada umumnya, gamelan Gandrung memiliki tempo yang lebih hidup, dinamis, dan sering dikombinasikan dengan cengkok khas Osing”. Dilanjut oleh jagat “ Kemudian filosofi di balik pemilihan nada dan laras (pelog/slendro) dalam gamelan Gandrung, dan bagaimana makna tersebut berkaitan dengan pesan tarian? “ timpal pak darma “ kalau hal itu sekar yang paling tau, bapak hanya tau sekilas, kalau nak jagat mau bertanya dia ada dirumah” jagat hanya mengangguk iya.
Senja Kembali menyapa, jagat memutuskan untuk menemui sekar saat itu juga “assalamualaikum” ibu menghampiri “ waalaikum salam, nak jagat mau ketemu bapak ?” timpal ibu ramah “ mboten bu ajengen kepanggeh sekar, kata bapak suruh tanya sekar bu”, “sekar teras belakang nak, kamu langsung aja kesana lewat samping rumah” jagat hanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih kemudian langsung ke teras belakang rumah, sampainya dia disana didapati seorang gadis cantik berhijab diam menatap langit senja yang mengharukan bagi sekar, jagat berniat mengurungkan diri tapi niatnya untuk menyelesaikan tugasnya kuat akhirnya ia memberanikan diri menyapa dan bertanya “ ehem, assalamualaikum“ sekar kaget dan menoleh kearah suara itu berasal, ia sadar kalau itu jagat sekar langsung menunduk, menjawab salam dan bertanya apa maksud menghampirinya “ada perlu apa sampean menemui saya? “ jawab jagat “maafkan saya sebelumnya yang membuat kamu tidak nyaman dengan kedatangan saya secara tiba-tiba, aku hanya disuruh bapak untuk bertanya tentang pertanyaan ku selanjutnya, kata bapak kamu yang paling tau” sekar senyum tipis dan berkata “ ada-ada saja bapak, memang hal apa yang ingin kamu ketahui?” jagat agak mendekat duduk dikursi yang berada disamping teras belakang rumah “aku ingin tau filosofi di balik pemilihan nada dan laras (pelog/slendro) dalam gamelan Gandrung, dan bagaimana makna tersebut berkaitan dengan pesan tarian?” sekar menjawab dengan penuh wawasan “Pemilihan laras pelog memberi kesan manis, megah, dan syahdu, sejalan dengan tujuan tari Gandrung sebagai ungkapan rasa syukur atas panen. Filosofi ini mengandung pesan kebersamaan, keramahan, dan penghormatan pada tamu, yang tercermin dari suasana musik yang mengundang penonton ikut larut. Itu adalah nilai moral yang paling mulia seperti halnya menhargai pendapat serta keinginan bersama” sekar menjelaskan dengan penuh penghayatan sehingga kesan yang didapat oleh jagat tidak hanya pengetahuan tapi perasaan yang terpendam.
Minggu ketiga ada pagelaran yang akan diadakan oleh keluarga pak darma, akan tetapi beliau bingung mencari seniman yang bisa untuk mengukir dekorasi panggung yang diinginkan pak darma karena ukiran yang diinginkan yaitu kolaborasi ukiran wayang disertai dengan gajah oleng, mendengar hal itu jagat dengan sigap bilang kepada pak darma “biar saya saja pak yang garap, insyaallah saya mampu” mendengar tawaran Jagat untuk mengukir panggung, pak darma awalnya tertawa ringan. “Sampeyan yakin, Nak? Ini bukan sekedar ukiran biasa. Ini simbol kebanggaan keluarga kami, dan kalau salah sedikit, maknanya bisa hilang.”Jagat menatap mantap. “Saya tidak hanya ingin meneliti, Pak. Saya ingin meninggalkan sesuatu yang berarti di sini. Biar ukiran ini jadi wujud rasa hormat saya.”
Hari-hari berikutnya, Jagat menghabiskan waktu di bengkel kecil di belakang rumah tamu. Suara pahat bertemu kayu terdengar bersahutan, bercampur dengan alunan gamelan dari sanggar. Sekar sesekali datang membawa teh atau makanan ringan, tapi setiap kali ia berdiri terlalu lama, Jagat hanya mengangkat kepala sebentar, tersenyum tipis, lalu kembali fokus. Ada kesungguhan yang membuat sekar sulit mengalihkan pandangan, karena sebenarnya sekar mempunyai perasaan yang tak biasa setiap melihatnya, namun rasa itu cepat dihilangkan agar tidak berlarut-larut karena bisa bersama adalah sesuatu yang tidak mungkin.
Hal yang di hindari sekar itu nihil hasilnya, adat sekar menemui jagat setiap hari untuk membawakan makan dan minuman serta menemaninya membuat diantara mereka terjalin kenyamanan namun, kehangatan itu mulai retak. Suatu malam, ibunya memanggil Sekar ke dapur. “Nduk, Ibu lihat kamu sering menemani Nak Jagat. Ingat, dia itu orang kota. Bisa saja besok, setelah tugasnya selesai, dia pergi dan tidak kembali. Jangan biarkan hatimu ikut terbawa.” Sekar hanya menggenggam ujung lengan bajunya, tak mampu menjawab. Ia tahu ibunya tidak sepenuhnya salah. Apalagi impiannya sendiri belum ia capai kuliah di Malang masih sebatas angan tak pernah ada dukungan selain harus melanjutkan warisan yang sudah dilestarikan.
Dua minggu sebelum pagelaran diselenggarakan. Jagat menerima telepon dari ayahnya. Suaranya terdengar tegas di seberang sana. “Nak, galeri di Surabaya butuh seniman magang segera. Kalau kamu ambil ini, peluangmu ke tingkat nasional terbuka. Kamu harus berangkat minggu depan.” Berita itu membuat dada Jagat sesak. Malamnya ia menemui Sekar di teras belakang tempat mereka sering berbicara. “Sekar... aku harus bilang sesuatu. Ada tawaran magang di Surabaya, tapi kalau aku ambil, aku tidak bisa menyelesaikan ukiran panggung.” Sekar menatapnya tajam. “Lalu bagaimana dengan janji kamu ke bapak? dan pagelaran ini? Kau pikir semua ini hanya tugas kuliah?” ucap sekar penuh rasa kecewa “Aku... tidak tahu harus bagaimana.” Jagat menundukkan kepala dengan penuh rasa bersalah tak tau harus berbuat apa, karena menurut jagat dua perkara yang dihadapinya sama-sama penting, memenuhi perintah ayahnya penting untuk keberlangsungan masa depan, tetap disini melanjutkan ukiran juga penting untuk peninggalan budaya serta rasa cintanya pada sekar, jagat tak ingin mengecewakannya. Sekar berdiri, suaranya bergetar. “Kalau begitu, jangan bilang kamu peduli pada budaya ini. Jangan bilang semua ini penting, kalau akhirnya kamu meninggalkan sebelum tuntas.” Perkataan itu seperti pisau bagi Jagat. Ia ingin membela diri, tapi tatapan kecewa Sekar membuatnya memilih diam. Malam itu, Jagat hampir memutuskan untuk pergi. Namun, sebelum fajar, ia mendengar suara langkah di bengkel. Saat ia mengintip, Sekar duduk di bangku kerja, mengamati pola ukiran yang belum selesai. Tangannya memegang pahat, gemetar tapi bertekad. “Aku tidak mau semua ini gagal,” ucapnya lirih. “Kalau kamu harus pergi, setidaknya ajari aku caranya.” Jagat terdiam lama, seketika itu jagat mempunyai ide untuk dapat menggapai keduanya tanpa ada yang harus dikorbankan, jagat lalu mendekat. “Kalau kita kerjakan bersama, kita bisa selesai sebelum aku pergi.”. Mulai saat itu, mereka bekerja bahu membahu, siang malam, mengorbankan tidur dan waktu istirahat. Sekar mempelajari teknik ukir dari Jagat, sementara Jagat mendengarkan penjelasan Sekar tentang makna tiap motif: wayang yang melambangkan kebijaksanaan, gajah oleng yang menjadi simbol kesetiaan dan kekuatan.Sehari sebelum pagelaran, ukiran itu akhirnya berdiri megah. Ketika lampu panggung menyorotnya malam itu, semua orang terpukau. Pak Darma menepuk bahu Jagat dan Sekar bergantian, matanya berkaca-kaca.“Kalian berdua bukan cuma menyelamatkan panggung ini, tapi juga menyatukan dua dunia.” Setelah acara usai, Jagat menghampiri Sekar di balik panggung. “Sekar... aku tetap harus pergi. Tapi aku janji, ini bukan akhir. Aku akan kembali, dan mungkin... suatu hari nanti kita bisa memperjuangkan mimpi kita bersama.” Tegas jagat dengan penuh keyakinan. Sekar tersenyum tipis, meski matanya berkaca. “Pergilah, Jagat. Bawalah semua yang kau pelajari di sini. Karena kalau cinta itu benar, ia tahu jalan pulang.” Senja marun kembali hadir esoknya, namun kali ini tanpa perpisahan yang getir hanya dua hati yang sama-sama percaya, bahwa jarak hanyalah jeda dalam cerita mereka. Sekar pun telah menemukan jawaban dari semua angannya yang kiranya memang mustahil untuk digapai, tapi tidak apa-apa dari jagat aku belajar bertahan dari sesuatu yang tidak diinginkan itu memang menyebalkan akan tetapi jika sudah diusahakan pasti aka nada jalan keluar yang memuaskan, dan aku telah memutuskan pada diriku, untuk orangtuaku, dan cita-cita serta cinta ku, aku akan bertahan disini dan mulai merintis cita-cita sebagai seorang aktivis tanpa harus terkikis dari tempat yang penuh agraris ini.