Lompat ke isi

Selamat, Hari

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Selamat Pagi,

[sunting]

Brrr Brrr Alarmnya tak berhenti berhenti berbunyi sejak 5 menit yang lalu, menunjuk jam 10:35 pagi. Biasanya, dalam dua-tiga getaran pertama alarmnya, dia sudah tersadar dan mematikannya. Namun, semenjak kuliah sudah selesai dua minggu yang lalu, bangun pagi sudah bukan lagi bagian dari rutinitasnya.

“Arghh,” gumamnya selagi ia mematikan alarmnya. Ia beranjak dari kasurnya lalu menepis hordeng untuk membuka kamar jendelanya membiarkan sinar mentari pagi masuk. Lima menit selanjutnya ia habiskan untuk menatap langit-langit kamarnya. Selagi ia mengumpulkan nyawa untuk mengambil handuk dan mandi, dalam benaknya ia juga mendaftarkan hal-hal apa saja yang bisa dilakukannya sepanjang hari ini. Ternyata tak banyak ide kegiatan yang bisa ia pikirkan. Wajarlah sebagai seorang pengangguran di tengah libur semester ini, rutinitasnya selama dua minggu terakhir hanya makan, tidur, mandi, ulangi. Makan, tidur, mandi, ulangi. Ditambah lagi sebagian besar teman-temannya juga sudah ada yang pulang ke rumah mereka masing-masing.

Ting! Bunyi suara teleponnya. Ia melihat bahwa salah seorang temannya telah mengirimnya foto selfie di dalam pesawat. Otw pulang, nih! Tulis temannya. Ia jadi rindu temannya. Awalnya bisa bebas menghabiskan waktu sendirian setelah UAS selesai melegakkan. Bisa tidur kapan saja dan selama yang dia mau, tapi sekarang ia sendiri…dan kosong. Ditariknya beberapa daftar percakapan lainnya di aplikasi chat-nya. Lalu muncul satu pesan yang belum ia balas dari dua hari lalu. Kapan mau pulang, Nak?

Selamat Siang,

[sunting]

Biasanya di siang hari ini jalanan kampus sudah ramai dengan lalu lalang kendaraan, trotoar dipenuhi dengan beragam mahasiswa yang membawa laptop atau tumpukan kertas entah untuk tugas apa, dan lorong-lorong gedung dipenuhi dengan perbincangan maupun tawa dari mahasiswa-mahasiswa. Namun, kali ini sunyi rasanya. Dalam dua minggu, keadaan jalan sudah menjadi hampir kosong dan hanya segelintir orang-orang yang berjalan di trotoar maupun yang duduk di gazebo-gazebo yang tersedia. Jarang ia duduk dan menghabiskan waktu di sini karena ia lebih suka membawa pulang makanan, tetapi melihat kesempatan ini, tak apalah pikirnya untuk sesekali makan siang di sini.

Selagi dikunyahnya nasi uduk favoritnya yang dijual di dekat kampus, ia berpikir. Kapan akan membalas pesan tersebut dan apa yang akan disebutnya. Ia merasa bersalah karena tak membalas, tetapi enggan juga untuk membalas. Ia melakukan ini juga untuk masa depannya, masa depan yang tak mereka mengerti. Daripada pulang kepada mereka yang tak memahaminya, lebih baik ia tinggal di sini daripada harus menghadapi sanggahan mereka. Tetap saja, rasa bersalah itu terus hinggap di pojokan kecil hatinya. Kata rasa itu, pulanglah, nanti kau menyesal. Namun, tak dihiraukannya suara itu. Ia meremas-remas bekas plastik makanannya, membuangnya ke tong sampah anorganik, dan memutuskan untuk pergi memutari jalan perumahan.

Selamat Sore,

[sunting]

Sore hari selalu menjadi waktu kesukaannya. Langit sore yang selalu berwarna rasanya ikut mewarnai hatinya. Rasanya tenang dan tentram sekali setiap kali ini melihat langit bergradasi merah keoranye-oranyean. Waktu yang pas untuk bersantai sebelum kembali mengakhiri hari di malam nanti. Seraya ia berjalan tanpa arah mengikuti arah trotoar, tak sengaja ia bertemu teman dekatnya yang sekelas di semester ini dan memang tinggal di kota itu.

“Loh! Kamu kok belum pulang?” tanya temannya itu padanya.

“Eh…” ia bingung bagaimana menjawabnya, ia tidak pernah menyangka akan bertemu temannya itu di sini, bingung pula bagaimana menjelaskan kepadanya.

“Eh, iya..” hanya itu yang bisa ia katakan.

“Kamu memangnya ga kangen dengan keluarga di rumah? Mereka pasti juga rindu bertemu dengan kamu.”

“Aku…” dia menahan untuk menjawab, “gak mau muleh.”

“Loh, kenapa?” tanya temannya dengan nada sedikit terkejut

Awalnya ia ragu untuk menjawab, tetapi mungkin rasa ini sudah lama ia pendam dan tak pernah diceritakannya pada siapapun, akhirnya meluap dan ia menjawab dengan lebih jujur. “Aku…lagi ga mau bertemu dengan keluargaku. Aku punya mimpi di sini dan mereka tidak paham. Bahkan untuk memilih jurusanku ini aku harus membela mati-matian agar mereka mengizinkan. Rasanya aku…tidak mau bertemu mereka kalau mereka tidak mau memahamiku.”

Untuk beberapa saat temannya hanya diam setelah mendengarnya berbicara, lalu akhirnya ia membuka mulutnya. “Mangan ora mangan, sing penting kumpul.”

“Hah? Maksudnya apa?” jawabnya dengan ekspresi bingung.

“Artinya, makan tidak makan, yang penting kumpul,” jawab temannya.

“Apa hubungannya makan gak makan dengan pulang?” tanyanya lagi makin terbingung-bingung

“Mau sesibuk apapun kamu membuktikan mimpi kamu itu, mau baik tidak baiknya hubungan kamu dengan keluargamu, mau datang untuk makan atau sekadar bertemu, jangan lupa untuk menyediakan waktu untuk kumpul dengan mereka,” ia membuang napas dan menepuk bahu teman dekatnya itu, “kamu tidak semakin muda dan waktu orang tuamu juga tak makin bertambah. Masalahmu mungkin tak selesai, tapi pulanglah menemui mereka sekalipun hanya untuk kumpul.”

Sekarang ia yang terdiam untuk sejenak. Awalnya ia terkejut mendengar jawaban temannya, rasa bersalah tergambar dari raut mukanya, lalu mukanya berubah ekspresi yang lebih menggambarkan kesedihan. Ia menutup kedua matanya untuk satu dua tarikan napas. Ia kemudian mengadahkan kepalanya menghadap langit sore dan membuka matanya perlahan-lahan. Temannya hanya memperhatikannya dengan diam, menunggunya memproses rasa dan mengolah pikirnya. Ia kemudian menurunkan arah pandangnya dan merogoh hapenya dari saku celananya untuk membuka suatu aplikasi.

Ia mengangkat pandangannya kembali mengarah temannya dan berkata, “Besok pagi kamu bisa mengantarku tidak?”

Selamat Pagi, Lagi

[sunting]

Keesokannya ia membuka hapenya dan mengetik Ma, aku pulang. Lalu dikirimnya ke ibunya dengan menyertakan foto langit dari pesawat.



Catatan

[sunting]

Peribahasa Jawa yang digunakan dalam cerita pendek ini mengambil inspirasi dari artikel "Mangan Ora Mangan, Sing Penting Kumpul" (Makan Tidak Makan, Yang Penting Kumpul) Tinjauan Filosofis "Aku dan Liyan" dalam Gagasan Togetherness Para Filsuf Barat[1]

  1. (PDF) “MANGAN ORA MANGAN, SING PENTING KUMPUL” (MAKAN TIDAK MAKAN YANG PENTING KUMPUL) TINJAUAN FILOSOFIS “AKU DAN LIYAN” DALAM GAGASAN TOGETHERNESS PARA FILSUF BARAT