Lompat ke isi

Selayang Pandang Sejarah Kedatuan Langko

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Gambar ini merupakan gerbang kantor desa langko yang terlihat elegan dan melambangkan simbol lumbung yang menjadi ciri khas daripada suku sasak Lombok (Bumi Gora)
Jebak atau Gerbang Kantor Desa Langko

Penulis

[sunting]

Muhammad Hamdani merupakan Ketua Komunitas Pemuda Literasi

A.Pendahuluan

[sunting]

Kerajaan Langko adalah salah satu kerajaan di Lombok Nusa Tenggara barat yang sering diperbincangkan dan dikisahkan oleh orang-orang terdahulu, sudah banyak sekali kisah-kisah dan sejarah-sejarah yang sering kita dengarkan tentang kerajaan langko, bahkan kisahnya dibeberapa daerah memiliki versi yang berbeda-beda, tetapi itulah yang menjadikan sejarahnya menarik untuk diceritakan dan kemudian di bukukan, karena sejatinya sejarah itu untuk di ceritakan turun temurun kepada anak cucu kita sehingga tidak teruputus untuk menjadi perbincangan dan cerita yang menarik, dan untuk senantiasa menjaga nilai-nilai sejarah dan kisah menarik tentang kerajaan Langko.

Sejarah dan cerita-cerita zaman dahulu berisi banyak sekali uraian hikm,ah dan pelajaran yang bisa kita ambil dari peristiwa dan kejadian pada masa itu, sejarah juga mengajak kita untuk mengenal siapa diri kita dan dari mana sebenarnya kita berasal, sehebat-hebatnya manusia akan ada masanya dan setiap masa pasti akan ada yang menggantikan, sejarah sangat menarik untuk dijajaki namun kesalahan dalam sejarah tidak seharusnya untuk di ulang, namun itu bisa menjadi pelajaran berharga untuk kita petik hikmahnya.

‘Solah gaweq solah dait, lengeq Gaweq Lengeq dait(kiyai Masmirah)”

Naskah tentang Sejarah Kedatuan Langko yang berada di tangan anda ini, terdiri atas tiga BAB. Di mana pada BAB pertama anda akan diceritakan bagaimana sejarah awal mula terbentuknya kedatuan langko. Sejarah kedatuan zaman dahulu memang penuh dengan banyak misteri yang membuat semua orang menjadi penasaran, apa dan mengapa? Bagaimana? Penuh dengan pertanyaan. Pada BAB ini pembaca akan semakin bersemangat untuk menjajaki isi Naskah ini.

Alhamdulillah, Akhirnya selesai juga naskah ini di tulis pada bulan Agustus atau bulan kemerdekaan Indonesia ke 80 tahun ini. Ini Naskah yang akan penulis persembahkan sebagai kado ulang tahun NKRI ke 80 Tahun. Naskah ini bisa selesai Semua tak lain berkat pertolongan allah S.W.T, yang maha membimbing,memberi petunjuk, menguatkan dan maha memudahkan.

Sholawat serta salam kepada rasullullah S.A.W, yang seluruh kisah hidupnya menjadi inspirasi utama penulis menggoreskan puluhan ribu kata dalam buku ini, begitupun para sahabat beliau, keluarga, dan orang-orang yang senantiasa beristikamah dijalannya.

B. Pembahasan

[sunting]

Sebelum Kita Memaparkan dan mengisahkan tentang kedatuan Langko alangkah lebih baik kita terlebih dahulu sedikit memaparkan tentang kerajaan-kerajaan besar yang pernah berdiri di pulau Lombok yang mana kerajan-kerajaan itu antara lain adalah Kerajaan Selaparang, Kerajaan Langko, Kerajaan Pejanggik, dan kerajaan lainnya.

B.1. Kerajaan Selaparang

[sunting]

Selaparang adalah kerajaan Islam tertua di Lombok sekitar permulaan abad ke-15. Beberapa ahli sejarah menyebutkan bahwa sebelumnya kerajaan Hindu yang didirikan oleh Ratu Mas Pahit pada masa kerajaan Majapahit di Jawa, salah seorang keturunan Prabu Brawijaya yang kemudian ditaklukan oleh pasukan Majapahit, di bawah pimpinan Senopati Nala. Tentang siapa nama raja selaparang ini ada beberapa yang disebut masyarakat, cerita tradisi yaitu Raden Mas Pakenak Dewa kerajaan Mas Pakel, Raden Prakasa dan Batara Selaparang. Jadi, sejak zaman Hindu yang kemudian beralih ke zaman Islam, Kerajaan Selaparang, menurut hasil penelitian ahli sejarah, mempunyai hubungan dengan Bali, Jawa, Sumbawa, Makasar (Goa) dan Banjarmasin, (Nuryahman, dkk 2013).

Kerajaan Seleparang yang menyatu dengan Sumbawa. Berdasarkan keterangan dalam tesis A.A. Cense: “ De Kroniek van Banjarmasin” dan berita dari Makasar tanggal 30 Nopember 1648, seorang putera raja Seleparang Mas Pamayan dilantik menjadi raja Sumbawa. Artinya Seleparang dan Sumbawa merupakan satu kesatuan atau satu kerajaan dan pernah berpusat di Lombok. Hal tersebut diperkuat dengan adanya kejadian pada tanggal 16 Maret 1675. Ketika kompeni diperlakukan tidak wajar di Seleparang, menyebabkan kemarahan VOC dan menyebabkan terjadinya perlawanan oleh Seleparang terhadap VOC. Di bawah pimpinan Kapten Holsteijn VOC menyerang Seleparang dan memaksa Seleparang membayar denda berupa 5.000-15.000 pikul kayu sapang kepada VOC. Penyelesainya dalam bentuk perjanjian antara Seleparang dengan vOC. (L.Muh.Danial 2016), Kerajaan di Lombok Timur ini terdiri dari 42 Desa. .. semua penduduk desa-desa ini disebut orang Sasak. (Agung;1991: 83).

Arya Sudarsana merupakan orang kepercayaan Raja Seleparang, dan Arya Sudarsana orang yang patuh dan tulus kepada Raja, tetapi dengan gencarnya fitnah, kondisi menjadi berubah. Kepatuhannya diwujudkan dalam bentuk memberikan persembahan dengan pakaian serba putih. Disaat duduk di balairung, para keluarga istana termasuk puteri Raja yang berusaha melihatnya dengan menaiki tangga sehingga terjatuh. Peristiwa tersebut menyebabkan raja Seleparang mengusir Arya Sudarsana dan selanjutnya meminta perlindungan ke Pejanggik. Kerajaan Pejanggik pada saat itu diperintah oleh Pemban Mas Meraja Kusuma. Kerajaan Pejanggik, di bawah pemerintahan Pemban Mas Meraja Kusuma dan Arya Sudarsana diangkat menjadi Panglima Perang dengan gelar “Patingalaga’, dengan nama Arya Banjar Getas. Ia mulai menata pemerintahan dengan menetapkan batas-batas wilayah pemerintahan. Atas sarannya dijalankan politik “Rerepe’, (rerepe’=perebah) tanpa pertumpahan darah. Polanya, Raja Pejanggik mengadakan pesta besar-besaran. Disediakan hidangan untuk dicicipi Pemban Pejanggik ala kadarnya, sisanya dikirim kepada Raja-Raja di bawah pengaruhnya. Bagi yang bersedia menerimanya berarti menyatakan takluk kepada Raja Pejanggik, dan yang inilah yang ditundukkan dengan kekerasan. Peran dan posisi sentral Arya Banjar Getas di Pejanggik menyebabkan kecemburuan sosial dari para pembesar (perkanggo) lainnya.

B.2. Kerajaan Langko

[sunting]

Kerajaan Langko merupakan kerajaan yang berpusat di sebelah Selatan Kopang kira-kira 12 km, dan termasuk wilayah Kecamatan Janapria sekarang. Van Theeuw menerangkan bahwa raja raja Langko merupakan keluarga dari Majapahit (bernama Batara Mumbul). Satu rumpun dengan keluarga Raja-Raja Seleparang. Kapan berdiri Kerajaan Langko belum dapat diketahui karena kekurangan sumber tertulis. Wilayah pengaruhnya meliputi Janapria, Kopang, Rarang, Tete Batu, Suradadi dengan batas-batas: sebelah Barat sampai Dasan Berahim (Beraim) dan gawah Sukaraja, ke Utara sampai batas wilayah Distrik Kopang, Selatan sampai Dasan Pelambik (Desa Jero Waru Sakra), ke Timur sampai perbatasan Desa Seleparang (Van Teeuw, halaman.5). Runtuhnya Kerajaan Langko bersamaan dengan hancurnya Pejanggik dan Seleparang, karena mendapat serangan dari Kerajaan Karangasem Bali pada tahun 1695. (L..Muh. Danial 2016). Desa Langko adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Janapria, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Desa Langko merupakan Desa Tua di pulau Lombok, karena dahulu dikenal sebagai salah satu kerajaan di pulau lombok. Jika dilihat dari posisi geografi yang terdapat di daerah tersebut kebanyakan berbentuk perbukitan (Habibi Muazar, Dkk. 2024).

B.3 Kerajaan Pejanggik

[sunting]

Kerajaan yang pernah ada di wilayah yang dikenal dengan sebutan Lombok Tengah sekarang adalah Kerajaan Pejanggik yang berpusat terletak di Kecamatan Praya Tengah sekarang. Data yang lengkap mengenai kapan tepatnya Kerajaan Pejanggik mulai berdiri, belum diketahui. Raja Pejanggik mempergunakan gelar “Pemban” sebagaimana halnya kerajaan Seleparang. Kekuasaan Pejanggik meluas dan mencapai kemajuan pada saat pemerintahan “Pemban Mas Meraja Kusuma”. Zaman keemasan di capai tahun 1675. Sistem pemerintahan diperbaharui dengan menetapkan batas-batas wilayah kekuasaan. Sebelumnya batas wilayah pada waktu itu didasarkan kepada ikatan kekerabatan. Keberadaan Pejanggik berakhir sekitar tahun 1695 Masehi. (L.Muh Danial 2016).

BAB I

[sunting]

SEJARAH BERDIRINYA KEDATUAN LANGKO

[sunting]

Awal Mula Berdirinya Kedatuan Langko

Prabu Anom, adalah salah seorang dari raja-raja selaparang, yaitu kerajaan yang sangat terkenal di pulau Lombok, prabu anom memiliki seorang putra yang bernama raden mas panji tilar Negara, ia tumbuh menjadi putra raja yang sudah memiliki wibawa dan kharisma sejak masih berusia 5 tahun,suatu hari raden mas panji tilar Negara sedang bermain-main di halaman kerajaan, mas panji bermain dengan memegang sepotong besi kecil dan tiba-tiba mas panji terkejut oleh ibu tirinya yang lewat dibelakangnya.

Sambil memelototi ibu tirinya, ia marah sedemikian rupa sambil mengayunkan besi kecil tadi kearah ibu tirinya,iya marah lantaran ibu tiri nya tidak permisi dan tiba-tiba lewat dibelakangnya, sang ibu tiri dianggap tidak tahu adat atau sopan santun, lewat dibelakangnya tanpa permisi terlebih dahulu.

Ajaib, seketika itu ibu tirinya terkapar meninggal, padahal belum juga terkena pukulan besi kecil tersebut, seketika istana dan rakyat selaparang menjadi gempardikarenakan mas panji yang masih kecil itu memukul ibu tirinya sampai meninggal. Ternyata besi kecil yang digunakan bermain itu adalah besi kuningan, yang sampai dengan saat ini masih di percaya orang sebagai senjata yang mumpuni dan jika dipakai akan akan dapat mengebalkan tubuh dari pukulan benda keras dan benda tajam ataupun melindungi dari gangguan roh-roh jahat, begitupula apabila direbahkan kearah musuh baik jarak dekat ataupun jarak jauh bisa membuat musuh terkapar tak berdaya seperti kasus mas panji tilar Negara.

Ketika rakyat selaparang gempar dan dipenuhi kepanikan, dua patih kerajaan singarpe dan singamarte melaporkan kejadian tersebut kepada raja prabu Anom yang sedang berburu rusa di hutan belantara, ketika mendengar laporan amarah raja tak tertahankan, diperintahkanlah kedua patih tadi untuk menyembelih Raden Mas Panji putranya sendiri kemudian hatinya dibawa kepada raja yang sedang marah untuk disantap. Segera patih tersebut kembali ke istana dan menyembelih Raden Mas Panji lalu hatinya dipersembahkan kepada raja, sedangkan Raden Mas Panji dibawa lari untuk sementara, ditengah hutan peringgebaye untuk selanjutnya akan di bawa nyebrang ke pulau sumbawa guna dititikpkan kepada pamannya Demang Alas.

Di Sumbawa Raden Mas panji merasa sangat kesepian dan rindu dengan saudara-saudaranya di bumi selaparang. Untuk mengobati rasa rindunya Raden Mas Panji sering pergi ke sebuah pulau, disana secara jelas dapat menyaksikan gunung Rinjani sebagai pengobat rindu kepada sanak saudaranya di bumi selaparang.

Pulau tersebut kemudian oleh Raden Mas Panji diberi nama Pulau Moyo. Moyo atau moye yang dalam bahasa sasak berarti melihat,menonton. Pulau moyo adalah pulau tempat mas panji melepas rindu serta melihat(moye) gunung Rinjani sebagai pengganti rindu kepada sanak saudaranya yang ada di bumi selaparang.

Beberapa tahun kemudian sekira raden Mas Panji sudah beranjak dewasa, Baginda Raja Prabu Anom di Selaparang meninggal dunia, Kerajaan selaparang mengalami kekosongan pemerintahan, Putra Putri raja tidak ada yang pantas menduduki kursi kerajaan kecuali Raden Mas Panji yang kini berada di Sumbawa. Patih singarpe dan singamarte mengambil inisiatif untuk menjemput Raden Mas Panji ke Sumbawa, pulang bersama dan mendarat di labuhan haji berarti tempat berlabuhnya Raja (Kini : Labuhan haji di Lombok Timur) Walaupun rencana semula Raden Mas Panji hendak kembali ke Sumbawa yang namanya trauma masa lalu masih sulit dihilangkan sehingga ia pergi ke tempat baru untuk menetap yakni di purna (Dekat Sakra,Lombok Timur) Ketika kedatangan Raden Mas Panji dari Sumbawa menjadi berita dimana-mana tidak terkecuali bagi Raja Wanasaba yang sudah lama mencari menantu untuk salah seorang putrinya. Raja wanasaba suatu ketika datang menemui Raden Mas Panji sambil mengutarakan niatnya hendak menjadikannya sebagai menantu, Raden Mas Panji berjanji untuk datang ke wanasaba guna untuk menemui Raja Wanasaba,pada hari yang telah ditentukan berangkatlah Raden Mas Panji  beserta para pengiringnya menuju wanasaba, disana sang raja beserta putrinya dan segenap huluhalang telah menanti, suasana dimeriahkan pula oleh para penghiburyang menampilkan bebagai macam ragam kesenian yang ada di kerajaan wanasaba.

Raden Mas Panji tiba, Raja bersama segenap pengiringnya menyambutnya tak terkecuali sang putri yang seketika menjadi pingsan menyaksikan ketampanan calon suaminya Raden Mas Panji.

Upacara Perkawinan akbar dilaksanakan, pesta 3 bulan penuh sebahgai wujud dan rasa syukur kepada yang maha kuasa digelar. Selesai acara akbar yang berlangsung cukup lama itu Raden Mas Panji mengutarakan niatnya kepada kepada sang raja untuk mencari pemukiman baru, ia merasa tidak enak tinggal bersama mertua terus menerus. Sang raja tidak keberatan, lalu pada hari yang telah ditentukan, tepat di sebuah perbukitan kecil yang bernama Gunung Tembing (Sekarang di kecamatan Janapria-Lombok Tengah)

Di bukit kecil inilah sang raja bersama rombongannya beristirahat untuk beberapa lamanya, sampai pada suatu ketika ditengah malam yang gelap Raden Mas Panji menyaksikan seberkas cahaya diarah selatan sebagai pertanda tempat akhir perjalanannya bakal dijadikan lokasi bagi terbentuknya pemukiman baru. Pagi subuh itu juga ketika ayam jantan kesayangan Mas Panji berkokok berangkatlah rombongan kearah cahaya yang dilihatnya tadi malam, dalam perjalanan rombongan singgah, pertama di suatu tempat yang bernama lingkok (Sumur,kolam) saba. Setelah melepas dahaga rombongan melanjutkan perjalanannya dan singgah lagi disuatu tempat yakni dusun siwi (siwi = siu= seribu) suatu tempat yang diambil dari nama banyaknya anggota rombongan. Keesokan harinya memasuki kawasan tempat cahaya tadi yang bertempat di tengah hutan belantara dan sumber cahaya itu sendiri adalah sejenis Permata yang bernama MONG GUNE MONG yang dibawa oleh Baloq Jabut mahluk besar utusan Dewi Anjani yang bertahta di gunung rinjani. Mong Gune Mong diserahkan kepada Raden Mas Panji sebagai pertanda untuk membangun daerah hunian baru tersebut. Demikianlah setelah anggota rombongan bekerja keras beberapa waktu lamanya kerajaan diresmikan menjadi kerajaan Langko dengan rajanya Mas Panji Tilar Negara dengan dua orang patihnya yang semulanya mengabdi di Selaparang yakni singarpe dan singamarte dengan penghulu istananya yakni Kiai Mas Mirah. Rakyat dan kerajaan Langko hidup subur makmur berkeadilan.

Bab II

[sunting]

MASA-MASA KEEMASAN LANGKO

Raden Mas Panji tilar Negara dikawinkan dengan puteri Raja Wanasaba, dalam perkawinannya itu Raden Mas Panji memperoleh dua putra, yaitu Raden Pringganala dan Raden Terunejaya. Setelah dewasa kedua putra tersebut memiliki sifat dan kegemaran yang berbeda, Raden Pringgenale sangat gemar mengumpulkan dan memelihara berbagai jenis burung, sementara Raden Tarunajaya sangat gemar mengumpulkan berbagai macam senjata, ketika Raden mas Panji meninggal dunia, terjadilah kekosongan kekuasaan dan pemimpin kerajaan, dan untuk sementara waktu kerajaan  dipimpin oleh Raden Pringganala. Suatu hari raden Tarunajaya menasihati saudaranya supaya mau ikut mengumpulkan senjata, akan tetapi ditolak sehingga menimbulkan perselisihan antara keduanya, Raden Pringganala kemudian mengusir Raden Terunajaya dari kerajaan.

Raden Terunajaya berniat hendak memberikan pelajaran kepada saudaranya akan pentingnya persenjataan,  Maka disusunlah rencana penyerangan ke kerajaan langko. Teknik penyerangan diserahkan sepenuhnya kepada patih singarp. Strategi yang digunakan sangat sederhana yaitu mengumpulkan semua wanita, anak-anak,orang dewasa sebagai pembawa hewan peliharaan seperti sapi, kambing,kerbau kuda dan lain-lain. Sebagai lapisan terakhir adalah pasukan bersenjata lengkap dengan tombak,panah dan sebainya. Strategi ini dilakukan karena Raden Tarunajaya memang tidak menginginkan adanya korban jiwa. Hal ini juga sebagai rasa hormat dan sayang masih sangat mendalam kepada saudaranya. Pada tengah malam semua pasukan harus segera di berangkatkan agar tiba di pintu gerbang kerajaan, Kerajaan Langko dikuasai tanpa adanya perlawanan yang berarti, Raden Pringganala pun menyerah. Beliau beserta para pengikutnya yang setia disarankan untuk pergi dari langko dan mencari pemukiman baru. Merekapun mendirikan perkampungan Praubanyar di Lombok Timur sekarang.

Setelah berhasil mengambil alih kerajaan langko, maka semakin luas dan meningkat kemakmurannya, Raden Tarunajaya menjadi rajanya dan bergelar Prabu Langko, Raden Tarunajaya mempunyai empat orang putra yang semuanya laki-laki. Masing-masing bernama Raden Putra, Raden Natadiraja, Raden Ajiwayah dan Raden Ajiundak. Sementara itu diberitakan juga bahwa saudaranya di praubanyar yaitu Raden Pringganala juga sudah mempunyai 4 (empat) orang putri yang masing-masing bernama Denda Suparta, Denda Suparah, Denda Supadan dan Denda Supayang, Patih Singarpa menyarankan agar menyambung kembali persaudaraan yang lama terputus dengan jalan menikahkan keempat putra Raden Tarunajaya dengan keempat putri dari Raden Pringganala, anjuran tersebut diterima dengan lapang dada, Akhirnya bertautlah persaudaraan kerajaan Langko dan praubanyar, keempat pasangan tersebut adalah Raden Putra Beristri Denda Suparta, Raden Natadiraja Beristri denda Suparah, Raden Ajiwayah Beristri Denda Supadan, Raden Ajiundak Beristrikan Denda Supayang.

Bab III

[sunting]

RUNTUHNYA KERAJAAN LANGKO

Setelah kerajaan Langko aman sentausa dan makmur, Raden Ajiwayah diangkat sebagai putra mahkota dan menggantikan Raden Tarunajaya sebagai Prabu Langko, Kemudian Raja ini mempunyai anak bernama Raden Suryanata, Raden Terunajaya dan Patih Singarpe meninggal dan dimakamkan diLangko.

Singkat cerita Beberapa kali pergantian kekuasaan dan samapailah pada masa Raden Ajiundak memimpin Langko dan terjadilah kemunduran dan kerajaan langko semakin melemah yang membuat kerajaan-kerajaan lain melakukan penyerangan-penyerangan, terakhir penyerangan oleh kerajaan karangasem yang bergabung dan bekerjasama dengan Arya Banjar Getas tidak dapat ditangkal, Akhirnya kerajaan Langko pun menyerah kalah.

C. Penutup

[sunting]

Kesimpulan

[sunting]

Sejarah memang sangat menarik untuk diceritakan walaupun berbeda-beda versinya tetap saja banyak uraian peristiwa atau kejadian yang bisa kita petik hikmahnya baik itu dari tradisi dan adat istiadat pada masa itu dan kebiasaan-kebiasaan atau budaya yang berlaku baik di luar dan di dalam kerajaan serta peraturan yang berlaku pada masa itu untuk bisa dicontoh dan di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari, peristiwa-peristiwa tersebut juga tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari pada zaman sekarang karena kita semua berasal dari keturunan dan suku yang banyak mencontohkan nilai-nilai yang kaya akan filosofis dan yang melatar belakanginya. Tetaplah hargai warisan budaya yang ditinggalkan oleh nenek moyang kita untuk dijadikan pedoman hidup sampai akhir zaman.

Sejatinya sejarah tidak baik kalau ditutup-tutupi karena dalam sejarah itu kita akan bisa mengetahui kisah orang-orang terdahulu dan akan menambah khazanah pengetahuan yang akan membuat kita terkagum-kagum dan berbangga, kita yang sekarang hidup di Lombok Secara khusus dan di Indonesia sejaca umum. Kecintaan kita juga akan semakin bertambah ketika sudah dipersatukan oleh perbedaan, dan dari perbedaan itulah kita saling belajar untuk saling menghargai.

D. Daftar Pustaka

[sunting]

Nuryahman, dkk, 2013 : Situs makam selaparang di Lombok Timur: dalam perspektif pengajaran sejarah dan pengembangan wisata sejarah 2013.

Danial Lalu, Muh, 2016  ; Kajian Birokrasi Dari Aspek Historis Di Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusatenggara Barat, Dalam Jurnal Politikologi (Hal 93 & 94)

Agung, Anak Agung Ketut, 1991; Kupu-Kupu Kuning yang Terbang di Selat Lombok,Lintasan Sejarah Kerajaan Karangasem, (1661-19500); Denpasar; PT Upada Sastraa.

Habibi Muazar, Dkk. 2024 ; Implementasi Alat Filterisasi Untuk Mengatasi Kekurangan Air Bersih Di Desa Langko, Kecamatan Janapria, Lombok Tengah, dalam Artikel seminar nasional Gelar Wicara Tahun

Drs. Karim Abdurrrahim, 1996; Makam Bile Tawah Dalam Naskah Sinopsis

Wawancara, Bersama Muhamad Mastur (Penggiat Budaya), Hari Selasa, 26 Agustus 2025

Biografi Penulis

[sunting]

Penulis  lahir di Desa Langko Kecamatan Janapria Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat, 28 Mei 2000, penulis menempuh pendidikan di SDN 1 Langko (2006-2011), SMP 3 Janapria (2012-2015), dan SMK 2 Praya Tengah (2015-2017) Penulis melanjutkan studinya di Departement Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Mataram. Bidang Jurusan yang diambil penulis adalah Elektronika Digital, Selama menjadi Mahasiswa, penulis aktif dalam kegiatan non-akademis sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Elektro dan juga Anggota BEM FT Unram. Selain itu, pengalaman internship penulis adalah merancang bangun Alat fermentasi MOL (Microorganisme Lokal) berbasis IoT (Internet Of Things). Penulis dapat dihubungi melalui surat elektronik hamdanimuhammad887@gmail.com

Bisa juga melalui sosial media dan contact person:

Telp : 087723408095

Instagram : @hamdani_l.d