Semangat Juna
Pengantar
[sunting]Alhamdulillah, senang rasanya bisa terlibat menulis di sini. Saya Rahmawati, seorang guru SMPN 1 Kembang Janggut ( terletak di pedalaman Kutai Kartanegara). Dalam cerita ini saya menampilkan 2 tokoh utama yaitu Juna dan Aditya (aku). Saya berharap cerita ini dapat menginspirasi kita semua bahwa jangan meremehkan orang lain karena di balik kekurangan seseorang ada kelebihannya yang mungkin akan membuatmu terpukau.
Premis
[sunting]Awalnya aku meremehkan Juna, teman sebangkuku yang tidak bisa membaca dan menulis tetapi aku menjadi salut dengannya setelah dia menunjukkan kelebihannya.
Lakon
[sunting]- Aku (Aditya)
- Juna
Lokasi
[sunting]Sebuah desa di Pedalaman Kutai Kartanegara
Cerita Pendek: Semangat Juna
[sunting]Kalah dari Juna
[sunting]“Tumben cepat? Biasanya dekat waktu masuk baru berangkat.” Mamaku keheranan melihat aku bersiap-siap dan berangkat terlalu pagi, bahkan aku rela tidak sarapan dan hanya membawa bekal nasi goreng agar bisa sarapan di sekolah.
“Kali ini aku harus duluan dari Juna, Ma. Dia pakai sepeda sedangkan aku pakai motor. Aku pasti bisa menang dari Juna. Assalamualaikum, berangkat dulu ya, Ma.” Aku mencium tangan mamaku dan melaju dengan motorku.
Di desa kecil, bukan hal aneh jika siswa SMP membawa motor ke sekolah karena peraturan lalu lintas tidak diberlakukan ketat. Bahkan rambu-rambu pun tidak ada di jalan.
Sebentar saja aku melesat menuju sekolah. Jam di tangan ku menunjukkan angka 06.30 wita. Yes! Sekolah sepi. Pasti aku yang duluan! Hatiku bersorak. Dengan semangat aku menuju ke kelas dan… ya Salam… si Juna sedang menyapu di kelas.
Jam berapa dia dari rumah? Sudah sarapankah Juna? Naik sepeda lho, sekolah kami dengan rumahnya lumayan jauh karena berada di 2 desa sebelum sekolah. Rentetan tanya di hati ini ingin keluar dari mulutku.
BRAAK!!! Tiba-tiba kursi yang tadi di atas meja jatuh dan mengenai Juna. Rupanya letaknya memang terlalu pinggir dan tersenggol Juna. Tangannya refleks ke belakang menahan kursi itu. Juna kesakitan karena gerakan itu justru membuat tangannya keseleo.
“Aduh! Tolongin Dit, ambil kursi ini!” Juna mengerang kesakitan sambil menahan kursi. Aku cepat mengambil kursi itu.
“Sakit, Jun? Bagian mana?” kataku setelah meletakkan kursi.
“Ini, tangan kananku. Sakit banget.” Juna meringis.
Begitulah sekilas cerita pagi itu. Sehari sebelumnya aku katakan kepada Juna bahwa aku akan datang lebih dulu dari dia. Aku tersinggung saat Juna mengatakan bahwa selama ini aku selalu datang hampir terlambat dan tidak pernah piket membersihkan kelas. Memang siapa Juna? Aku mau nyapu atau tidak, kenapa dia yang urus? Ketua kelas aja tidak pernah menegurku.
Tapi melihat Juna yang kesakitan membuat aku kasihan. Seharusnya aku terima teguran Juna karena kenyataannya memang demikian. Aku tidak pernah peduli dengan kebersihan kelas dan belum pernah melaksanakan tanggung jawabku membersihkan kelas. Aku juga harus mengakui bahwa aku tidak bisa mendahului dia turun ke sekolah. Walaupun sudah kuusahakan cepat, tapi tetap saja Juna yang datang lebih awal.
Meremehkan Juna
[sunting]Namaku Aditya, anak kota yang pindah ke desa di pedalaman Kutai Kartanegara. Tahun ini aku masuk SMP di desa itu. Aku disuruh wali kelasku duduk sebangku dengan Juna. Dia memiliki tubuh yang lebih kecil dariku dan wajahnya terlihat lebih tua dari anak SMP pada umumnya.
Awalnya aku tidak terlalu peduli dengannya. Di hari pertama di sekolah baru, dengan setengah mengantuk aku memperhatikan guru menerangkan sambil sesekali mendiktekan materi yang harus kami catat. Tidak sengaja aku melirik tulisan Juna. Mataku melotot melihat tulisannya yang seperti ini: Kelarga tridi fghu namkra gdama prandhka kldasko hjunme… tulisannya tidak nyambung sama sekali. Kok Bisa?
Juna pernah kutes membaca. Dia membaca sesuai imajinasinya. Hanya saja saat guru bertanya dengan Juna, kadang-kadang dia bisa menjawab. Bahkan berani tampil ke depan, walaupun kadang salah. Menurutku dia mendengarkan apa yang dijelaskan guru walaupun tidak bisa membaca dan menulis.
Awal mengenal Juna, aku meremehkannya. dan ingin pindah duduk, sayangnya tidak ada satu pun teman yang mau bertukar tempat denganku. Buatku Juna ngga asyik dan ngga bisa diandalkan.
Juna yang Keren
[sunting]
Pandanganku berubah setelah kami mengikuti class meeting cabang futsal.
“Waduh, gawat! Hari ini jadwal kelas kita bertanding tapi pemain kita kurang 1 orang. Rico yang menjadi andalan kita hari ini tidak masuk karena sakit. Siapa yang bisa menggantikan?” Fahmi kebingungan mencari pemain pengganti.
“Aku bisa gantikan Rico.” Juna menawarkan diri.
“Kamu ngga pernah ikut latihan futsal. Selama ini kalau ada latihan, kamu memilih membantu Pak Iyan di mushola.” kataku sangsi. Sebagai salah satu pemain yang mewakili kelas, aku tidak ingin Juna menggantikan Rico karena aku belum pernah melihat dia ikut latihan bersama kami.
“Ngga apa-apa Dit, waktu kita sebentar lagi, ngga mungkin kita sempat mencari pemain lain.” Fahmi menerima tawaran Juna.
Aku kecewa Juna berada dalam tim kami. Buatku Juna akan mengacau saat pertandingan. Tak kusangka ketika kami bertanding, Juna bermain dengan sangat baik. Larinya kencang dan teknik bermainnya sangat bagus. Ternyata dia sering berlatih bersama teman-teman di desanya. Juna berhasil menyumbangkan gol-gol terbaik dan mengantarkan kelas kami sebagai pemenang hingga babak final.
Dia Sahabatku
[sunting]Sejak saat itu aku mulai berteman baik dengannya. Aku mengenal Juna yang bersemangat ke sekolah. Langkahnya ringan dan senyumnya mengembang kepada teman-teman dan guru. Dia selalu datang pagi dan menyapu kelas, walaupun bukan jadwal piketnya. Dia selalu pergi ke ruang dewan guru untuk membantu membawakan tas atau buku guru. Semua guru senang kepada Juna karena anaknya gercep ngga pake telat.
Juna jarang sekali berbelanja di kantin. Pernah kutanya sempatkah dia sarapan jika datang selalu pagi? Dia mengatakan selalu sarapan walaupun hanya nasi dengan ikan asin atau kerupuk. Juna paling senang kalau aku mentraktir es dan gorengan. Apalagi kalau aku berbagi bekal nasi goreng buatan mamaku.
“Dit, nasi goreng mamamu enak banget. Aku pernah dikasih tetangga nasi goreng, tapi ini lebih enak.”
“Syukur deh kalau kamu suka. Nanti aku bawakan lebih banyak lagi. Oh ya, kamu kok bisa selalu datang lebih cepat padahal desamu kan jauh sedangkan kamu hanya naik sepeda.”
“Sebenarnya aku selalu berangkat bareng dengan Pak Budi, penjaga sekolah kita. Dia itu tetanggaku. Karena tugasnya membuka pagar dan pintu ruangan sekolah otomatis kami harus datang pagi, biasanya kami tiba pukul 06.20 wita.”
"Pak Budi kan naik motor, kamu pakai sepeda. Jadi bagaimana bisa bareng?”
“Aku naik sepeda dan berpegang ke bagian belakang motornya. Ngga perlu mengayuh sepeda dan aku bisa sampai ke sekolah ini paling awal.”
“Ooh… begitu rupanya, pantesan. Selama ini aku selalu heran, kok bisa kamu datang cepat. Percuma aja menantang kamu untuk bisa datang lebih awal.” Aku tertawa mengingat pernah menantang Juna untuk datang lebih dulu dari dia.
Aku salut dengan Juna yang rajin dan selalu bersemangat. Dia sadar dengan kekurangannya yang miskin dan tidak bisa menulis serta membaca. Tapi dia tetap percaya diri. Menurutnya kebahagian bisa didapat semua orang, termasuk dirinya. Dia merasa bahagia jika dia sering membantu orang lain. Aku bangga berteman dengannya. Akupun ingin memiliki semangat seperti Juna.