Seni di Era Pandemi

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Seni di era pandemi.jpg
  • Mata Kuliah : Literasi Digital
  • Nama : Diah Ayu Elsan Pratiwi (21020134050)
    Anugrah Putra Mahardika Irawan (21020134068)
    Claudia Revlin Ayu Harfianti (21020134073)
  • Nama Dosen : Aditya Prapanca, Universitas Negeri Surabaya

Pandemi COVID-19 mulai menyerang Indonesia pada tahun 2020 lalu. Berbagai dampak dari pandemi ini dapat dirasakan oleh semua masyarakat. Mulai seperti banyak orang di PHK, tempat usaha makanan menjad sepi, hingga banyak dampak lainnya. Keputusan pemerintah memulai PPKM diterapkan untuk upaya mengurangi penyebaran virus COVID-19 ini. Para pengajar sekolah seperti guru, dosen juga merasa kesusahan untuk memberi pelajaran kepada muridnya. Meskipun sudah bisa melakukan proses belajar-mengajar melalui platform zoom, google meet, itu juga dirasa kurang ampuh untuk memberi materi, karena banyak kendala yang timbul. Seperti susahnya sinyal di desa pedalaman, masyarakat yang kurang mampu untuk membeli paket data dan lain sebagainya. Seiring berjalannya waktu, pemerintah mulai memberikan bantuan paket data ke setiap siswa hingga mahasiswa dan juga guru hingga dosen yang mengajar.

Pemerintah Indonesia juga sudah melakukan berbagai cara dalam memutus rantai penyebaran covid-19 ini. Dengan menerbitkan salah satu kebijakan untuk mengendalikan virus covid-19 ini, pemerintah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau bisa di singkat dengan PSBB. Kebijakan ini menyebabkan menurunnya interaksi sosial yang ada di Indonesia, tetapi tidak menyurutkan budaya untuk terus berkembang. Di tengah pandemi ini menghasilkan inovasi dan perkembangan di bidang IT.

Pemerintah juga melarang untuk mengadakan acara-acara seperti acara hajat nikah, pementasan seni, dan lain sebagainya. Hal ini yang membuat seniman kebingungan dengan masalah ekonomi nya. Yang biasanya dapat penghasilan dari job (tanggapan), dan kini tidak ada pemasukan sama sekali. Para Seniman menilai bermacam-macam dampak dari pandemi covid-19 ini. Mulai dari dampak penciptaan seni hingga pementasan seni. Namun, seharusnya para seniman juga bisa tetap melakukan aktivitas seperti penciptaan seni yang hanya di siarkan melalui media youtube, zoom, dan lain sebagainya. Namun, hal ini juga tetap tidak bisa menyelesaikan masalah ekonomi yang dihadapi seorang seniman juga pelaku seni. Wabah ini sudah seperti indikator penggerak perkembangan budaya yang melalui media sosial, digital dan daring. Untuk itu kita sebagai warga Indonesia perlu untuk memahami bahwa kebudayaan harus tetap di lestarikan. Dan sampai saat ini, belum ada peristiwa yang menjadi pentunjuk akan berakhirnya pandemi ini. Penikmat seni pun mulai bosan karena tidak ada hiburan yang mereka tonton. Begitupun dengan para pelaku dan pencipta seni. Mereka juga berfikir bagaimana cara untuk tetap berkarya dan berinovasi di dalam masa pandemi ini. Hingga pada akhrinya, pandemi covid-19 pun mereda. Dan pemerintah memperbolehkan untuk pelaku dan pencipta seni melakukan pementasan dengan aturan protokol kesehatan ketat. Seiring berjalannya waktu, setelah mengadakan beberapa pementasan di berbagai wilayah, kasus covid-19 ini muncul varian baru yang menimbulkan pementasan seni tidak diperbolehkan lagi. Dan pada akhirnya, seniman Indonesia pun sepakat untuk tetap berkarya dan menyiarkan karya yang mereka buat dengan media Live Streaming di Youtube, Instagram, atau biasa dikenal sebagai konser virtual. Peran media sosial di masa ini sangat bagus untuk mengenalkan keragaman budaya Indonesia ke mancanegara, dan hal ini sangat di dukung oleh para seniman seniman yang ikut ambil alih dalam kebudayaan Indonesia. Keharmonisan kebudayaan, baik pada masa normal atau pandemi ini, membawa kesejahteraan dan kebahagiaan bagi rakyat Indonesia untuk terus berkreasi.

Di Jawa Timur sendiri khususnya Walikota Surabaya, Ibu Tri Risma Harini yang menggelar parade seni budaya pada tahun 2020, sudah bisa menjawab atau mengayomi keluh kesah para pencipta seni, pelaku seni, hingga penikmat seni. Walikota Surabaya telah mengadakan pementasan secara rutin dengan protokol kesehatan yang sangat ketat tentunya dengan tema “Parade Seni Budaya” yang digelar tiap hari sabtu dan minggu di tempat yang berbeda-beda. Di Jawa Timur tepatnya di Kota Surabaya, mengadakan pagelaran Parade Sen Budaya yang di lakukan secara virtual untuk menghibur warga Surabaya di masa pandemi ini dan untuk mengakomodasi ruang karya seniman dan budayawan. Parade Seni Budaya ini diwujudkan melalui dagelan Surabaya, keroncong, karawitan, campursari, reog, dan pementasan ludruk. Bu Risma pun juga ikut terlibat dalam kegiatan ini seperti membaca puisi dalam sendratari “Sumpah Merah Putih Gayatri Rajapatni”.Dengan hal ini, Ibu Risma sangat berharap agar pencipta seni tetap bisa berkarya dan juga dapat mengatasi sedikit masalah ekonomi mmereka. Kesenian dan parade ini dipentaskan secara virtual agar tidak mengundang kerumunan orang yang berpotensi meningkatkan risiko penularan virus korona baru. Selain itu, pergelaran melalui akun media sosial pada Instagram dan Youtube diharapkan menjangkau penonton atau warga lebih luas serta terdokumentasi.

Kesimpulanya, adalah melestarikan seni tradisi juga bagian dari kehidupan kebudayaan masyarakat. Serta, menjamin keberlangsungan hidup seniman dan budayawan. Maka dari itu dengan adanya Seni ini kita dapat menghadirkan hiburan atau keceriaan bagi publik di tengah situasi yang sulit ini akibat Pandemi. Di masa yang penuh tantangan Ini, seni diharapkan menjadi pematik semangat bagi pelaku dan penikmat. Terimakasih kepada upaya pemerintah yang telah memberi wadah di bidang seni, sehingga kita para seniman pun masih bisa terus berkarya ditengah kondisi pandemi seperti ini. Parade seni budaya ini menjadi salah satu cara yang efektif untuk mencegah penularan kontak fisik karena ditengah pandemi covid ini kita harus menjaga jarak dan juga para seniman masih bisa berkarya walaupun melalui virtual. Pementasan seni tetap dapat dilakukan secara virtual dengan memperhatikan berbagai aspek. Seperti, durasi pertunjukan, tempat pertunjukan, dan sisi lain dari penonton seni.