Senja: Permainan dari Masa Kecil/Dende
Dende
Sarinah rebahan di depan TV ruang keluarga. Ia menonton Upin-Ipin menemani adiknya yang setengah mengantuk. Sarinah sebenarnya hanya menunggu pukul 16.00 WITA. Ia menunggu jadwal bermainnya bersama teman-teman. Sejak kemarin, mereka telah bersepakat untuk bermain dende.
Jam dindingnya masih menunjukkan pukul 14.37 WITA. Sarinah bangkit dan menuju buffet di samping TV. Mengambil kaleng biskuit bekas yang dijadikan markas benang oleh ibunya. Iseng, ia ingin membuat batu dende-nya. Sarinah yang sudah kelas 3 SD, sudah mahir menjahit jelujur dan sesekali menggunakan tusuk feston.
Menjelang batu dende-nya selesai, suara Lisa dari depan rumahnya telah terdengar. Sarinah segera bangkit menemui mereka.
“Sarinah, ayok mi main dende,” ajak Lisa.
“Iya, sudah jam 4 mi,” Ninda menambahkan.
Sambil membuka pintu pagar, Sarinah mencari temannya yang tidak terlihat. “Mana Indah?”
“Kata mamanya lagi demam ki. Ayok nanti kalo selesai kita jenguk ki,” Lisa menyarankan.
“Ayokmi,” sahut Sarinah dan Ninda bersamaan.
“Tunggu nah, masuk ka dulu ambil batu dende-ku yang baru,” izin Sarinah pada teman-temannya.
Mereka bertiga berjalan ke lapangan tanah di ujung gang. Di sana, garis dende sudah tergambar rapi di tanah, bekas permainan kemarin. Polanya seperti rumah-rumah kecil yang disambung, dengan angka di setiap kotaknya. Sarinah melempar batu dende-nya ke kotak pertama. Batu buatan sendiri itu terbuat dari kain bekas yang diisi pasir, lalu dijahit rapi.
Satu per satu, mereka melompat dengan satu kaki, menjaga keseimbangan. Tawa pecah saat Ninda salah injak garis. Lisa berteriak, “Kena mi! Giliranku nah!”
Matahari mulai condong, cahaya sore membuat bayangan tubuh mereka memanjang di tanah. Peluh membasahi dahi, tapi semangat tak surut. Permainan baru berhenti saat azan magrib berkumandang. Mereka pun bergegas pulang, sambil berjanji akan datang lagi besok sore.
Saat hendak berpisah di depan rumah Sarinah, Lisa menatap batu dende di tangan temannya. “Bagus sekali batu dende-mu, Na. Ajari ka juga jahit begitu,” pintanya.
“Iya, ajari juga saya. Besok sore sebelum main kita bikin batu dende di rumahmu, Na,” sambung Ninda.
Sarinah tersenyum lebar. “Boleh mi. Besok kita jahit sama-sama, baru main dende lagi.”
Di tangannya, Sarinah menggenggam batu dende-nya erat. Entah kenapa, ia merasa batu itu membawa keberuntungan—dan sore ini, ia berhasil menjadi pemenang.