Senja: Permainan dari Masa Kecil/Gebok
Adhit terlalu bersemangat mengikuti lomba Gebok antar desa sampai-sampai dia tidak bisa tidur menyiapkan semuanya. Gebok yang menjadi permainan tradisional bukan sekadar permainan anak-anak, tapi sebuah tradisi turun-temurun yang menjadi identitas desanya. Adhit ingin mengasah kebolehan melempar bola, berlari mengejar dan menghindar, juga mengasah strategi menuju kemenangan. Adhit sangat berambisi menjadi juara Gebok.
Lapangan depan rumahnya kini ramai oleh manusia yang berlalu-lalang: tidak hanya pemain dan pendukung permainan Gebok, pedagang makanan turut hadir sebagai pihak pemanis keramaian untuk para perut yang lapar atau sekadar ingin ngemil sambil melihat kebolehan para pemain Gebok.
“Adhit, semoga menang yah!” Sebuah suara menggema di telinga Adhit yang ternyata berasal dari Taqi, sahabatnya.
“Hehehehe... Kalau aku menang, jangan lupa traktir!” Jawab Adhit dengan wajah optimis.
“Memangnya kamu akan menang? Lawan kamu kuat loh?” Taqi meragukan.
Tapi Adhit tak menjawab pertanyaan Taqi karena tak ingin pertanyaan itu menjadi beban berat yang membuat permainannya tidak maksimal.
*
Tiga, dua, satu…
Saling serang dan bertahan antar lawan kian seru. Adhit dengan peluh keringat dan jantung yang menggebu-gebu membuat adrenalinnya terpacu kencang.