Senja: Permainan dari Masa Kecil/Jaga-jaga Nomor

“Jaga-jaga nomor, tolong berkumpul,” ucap Andi selaku penjaga pertama yang menghadap tembok, teman lainnya pun berbaris di belakangnya.
“Jaga-jaga nomor, nomornya nomor…,” Andi terdiam sejenak, memprediksi sasaran empuk untuk menjadi penjaga, ia tersenyum licik kemudian menyebutkan, “Nomornya nomor tiga.”
1, 2, 3, Farhan jaga.
***
“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, siap tidak siap, aku datang!”
Matahari masih bertengger dengan gagah, dengan panas yang tidak terasa oleh anak-anak yang sedang bermain. Panggilan dari Ibu untuk tidur siang, pun diabaikan. Tidak ada beban, yang ada hanya tawa dan kebahagiaan tak lekang oleh waktu.
“Sssstt, jangan sembunyi di sini, kamu di sana saja,” bisik Syila kepada Andi di sampingnya.
“Lah, suka-suka akulah. Ngapa kamu yang atur?” jawabnya dengan ketus dan tersenyum menang.
Karena terbawa emosi, Syila mendorong Andi,
DUBRAK!
“AWW, hey jangan didorong dong!” teriaknya.
Syila berlari dan mencari tempat sembunyi lainnya. Farhan yang merupakan penjaga, mendengar hal itu dan menemukan Andi.
“Kena Andi!” teriak Farhan.
“Ais, gara-gara Syila nih,” kesalnya.
***
Sementara itu, Farhan masih harus menemukan temannya yang lain, ia menelusuri bawah pohon, semak-semak, bahkan di dalam rumah tetangga. Hingga, ia pun menemukan dua teman yang bersembunyi di satu tempat yang sama, yaitu Aina dan Nini.
“Curang kamu ah, harusnya jangan cari ke sini!” tutur Nini.
"Iya, harusnya jangan ke sini, " tambah Aina.
Farhan hanya pasrah mendengar ocehan yang berisik dari kedua anak perempuan itu. Masih ada satu orang lagi yang belum ditemukan, Syila. Farhan berjalan perlahan, menelusuri kembali semak-semak yang tadi ia lalui. Sebenarnya ia tahu, ada seseorang yang bersembunyi di sana, tetapi ia tidak ingin ketahuan, agar Syila tidak kabur.
Dengan jejak tanpa suara, ia mengagetkan Syila,
“Kena kamu!” Farhan tertawa puas melihat ekspresi Syila, sedangkan Syila terlihat sangat cemberut dan mulai menangis. Suara tangisannya yang tanpa suara, semakin kencang hingga membuat seluruh temannya berkumpul.
“Cengeng huu, gitu aja nangis!” ejek Farhan sambil tertawa jail.
Aina dan Nini menenangkan Syila dan mengajak bersembunyi bersama.
***
Tak terasa matahari mulai terbenam, permainan pun masih terus berlanjut. Kali ini akan dijaga oleh Andi, orang yang ditemukan lebih dahulu. Farhan, anak yang paling jail. Namun, cerdik. Ia sudah menemukan strategi agar tim sembunyi bisa menang. Ia harus bisa sampai ke tempat jaga dan memegang tembok tempat berhitung dan mengatakan enggo.
“Delapan, sembilan, sepuluh. Siap tidak siap, aku datang!”
Hening, tak ada orang. Andi malah duduk santai di tempat jaga, sambil menikmati sinar matahari yang mulai jingga. Hingga ada pergerakan yang ia lihat, ia pun langsung berlari ke arahnya dan menemukan teman yang bersembunyi. Masih ada satu orang lagi, Farhan. Andi masih terus berkeliling, memanggil nama Farhan dengan keras, lalu terdengar suara azan berkumandang, membuat para Ibu datang dan menjemput anaknya. Mereka pun pulang.
Di sisi lain, Farhan masih bersembunyi di belakang rumah yang ia tidak tahu rumah siapa. Ia tak merasa aneh, ia malah merasa kalau Andi telah gagal menemukannya. Ia pun menuju ke tempat jaga, berlari dengan senang dan teriak mengucapkan, “enggoo!”
Namun, tak ada orang. Hari mulai gelap. Farhan kecewa dengan kemenangannya.
_TAMAT_