Lompat ke isi

Senja: Permainan dari Masa Kecil/Ma'jengkal

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

MA’JENGKAL

Bel jam istirahat berbunyi. Afifah bersama teman-temannya bergegas membereskan buku dan peralatan tulisnya ke dalam tas. Mereka sudah tidak sabar bermain ma’jengkal. Afifah bahkan sudah menghafalkan beberapa nama yang mungkin akan teman-teman sebutkan dalam permainan ma’jengkal. Dia tidak mau kalah lagi dalam permainan kali ini. Setelah mencari tempat bermain yang nyaman ke berbagai penjuru sekolah. Mereka akhirnya memutuskan bermain di bawah pohon mangga dekat Ruang Guru.

“Wah, seru sekali kita main di bawah pohon mangga ini!" seru Afifah sambil tertawa. Ia bersama keenam sahabatnya; Yumna, Arkan, Nayla, Sinta, Fifi dan Rafa, sedang bersiap mulai permainan ma’jengkal. Permainan dimulai dengan suit untuk menentukan siapa dua orang di antara mereka yang akan jaga. Sinta dan Arkan kalah dan harus berjaga.

Sinta dan Arkan duduk berhadapan dan saling menempelkan telapak kaki, lalu perlahan mulai naik. Awalnya hanya sejengkal, lalu dua jengkal, hingga akhirnya mereka menumpuk keempat tangan mereka membentuk "benteng" yang harus dilompati. Afifah dan teman-temannya yang lain mulai ancang-ancang untuk melompat sambil memikirkan clue yang akan disebut.

Sebutkan nama teman Unyil? Yumna membuka permainan dengan clue ini sambil berlari melompati “benteng”. Giliran Afifah dan Fifi untuk melompat. Dengan cekatan mereka melompati tumpukan tangan Sinta dan Arkan, lalu berteriak, "Satu! Dua! Tiga! Sambil menyebut satu persatu nama teman Unyil; Pak Raden dan Pak Ogah. "Benar!" kata Sinta sambil tersenyum. Mereka mudah saja clue pertama ini karena sudah mereka hafal.

Selanjutnya, giliran Nayla. Dia juga berhasil melompat dan berteriak menyebutkan nama "Usro!" Ia tidak hanya berhasil menyebut nama teman Unyi dengan benar tapi juga mampu melompati benteng tangan di hadapannya. "Benar!" seru Arkan.

Tinggal Rafa. Rafa melihat tumpukan tangan itu semakin tinggi. Ia merasa cemas. "Ayo, Rafa!" teriak Sinta menyemangati. Sebagai pemain paling kecil dan baru, Rafa ragu untuk melompat dan jadi lupa siapa saja nama teman Unyil.

Rafa mengambil ancang-ancang. Ia berlari kecil, lalu melompat. Namun, karena ragu-ragu, lompatannya kurang tinggi. Kakinya menyentuh jari Arkan dan hampir jatuh. Ia tidak berhasil melompati tumpukan tangan itu. Wajahnya langsung cemberut.

"Aku tidak bisa!" rengek Rafa.

"Kamu harus coba lagi, Rafa," kata Afifah lembut.

"Tapi aku lupa harus menyebut apa," bisik Rafa dengan wajah malu. Ia melihat Yumna dan Afifah tadi bisa melompat dengan mudah sambil berteriak menyebut nama teman Unyil dan "Satu! Dua! Tiga!"

"Kamu tidak perlu menyebutkan apa-apa kalau tidak mau," kata Afifah. "Yang penting kamu melompatinya saja dulu dengan benar. Kita mau lihat kamu Latihan dulu melompati benteng itu. Kalau sudah berhasil baru kita mulai lagi. Jadi kalau kamu kalah, kamu harus bersedia gentian jaga dengan Sinta atau Arkan.”

Rafa tersenyum. Ia mengambil napas dalam-dalam, mengambil ancang-ancang lagi. Kali ini ia lebih yakin. Ia berfokus pada tumpukan tangan yang menjadi "benteng". Ia beranikan diri untuk melompat sekali lagi.

"Satu! Dua! Tiga!" Rafa berteriak dengan lantang, lalu melompat dengan kuat.

Wush!

Kini Rafa berhasil melompati tumpukan tangan itu tanpa menyentuhnya. Ia lalu mematung dan berteriak “OK”.

"Hebat!" sorak mereka semua. Rafa merasa sangat gembira. Ia menyadari bahwa bermain bersama teman-teman tidak hanya seru, tetapi juga mengajarinya untuk tidak mudah menyerah. Ia tahu, kalau ia berhasil, ia tidak perlu lagi khawatir untuk mengingat kata-kata, yang terpenting adalah berani mencoba.

"Horeee! Keren, Rafa!" teriak Yumna sambil melompat-lompat.

Mereka melanjutkan permainan dengan berbagai clue dan gantian berjaga bagi yang kalah karena menyentuh tangan penjaga benteng. Ada juga yang kalah karena menyebutkan nama tidak sesuai dengan clue yang diminta.

Tiba-tiba, suara bel tanda masuk terdengar dari jauh. "Teman-teman ayo kembali ke kelas. Bel jam istirahat sudah berbunyi. Kita harus sudah ada di kelas sebelum Pak Guru datang!"

Mereka bertujuh saling pandang. Wajah mereka yang gembira langsung berubah menjadi murung. "Yah..." Rafa menghela napas panjang.

"Jangan sedih begitu, teman-teman," kata Arkan mencoba menghibur. "Kita bisa melanjutkan besok. Besok kita main ma’jengkal lagi dengan lebih banyak clue yang baru dan mengajak teman-teman yang lain biar lebih ramai. Kalau seperti itu kan kita bisa mengetahui lebih banyak nama dan akan lebih banyak anak yang berjaga.

Fifi dan Sinta tersenyum tipis. "Janji ya?" tanya Rafa.

"Iya, janji!" jawab Arkan sambil mengangkat kelingkingnya. Mereka bertujuh menyatukan kelingking sebagai tanda janji.

Meskipun harus kembali ke kelas saat keseruan mereka sedang memuncak, hati mereka terasa lebih tenang. Mereka tahu, petualangan menebak nama di bawah pohon mangga itu akan menunggu mereka di hari esok dengan teman-teman lainnya. Dengan langkah yang mantap, mereka berjalan kelas, siap untuk melanjutkan pelajaran.