Senja untuk Nara
Nara masih ingat terakhir kali dia duduk di kafe ini adalah ketika matahari terbenam di musim semi. Ketika ia dan teman-temannya merayakan hari kelulusan bersama. Mungkin sekitar dua tahun lalu. Bersama ketiga sahabatnya yang bergembira. Ketika pengumuman kelulusan akhirnya diinformasikan. Nara bahkan menjajakan dua loyang pizza ukuran medium dan sepuluh botol soju untuk menemani mereka berempat.
Umurnya 22 tahun waktu itu. Apa bedanya 22 dan 24? Apakah perbedaan itu harus merebut semua waktunya untuk sekedar duduk di kafe itu? Padahal kafe yang menjajakan berbagai kopi dan minuman keras ini belum merubah dekorasinya. Masih pada keunikannya─dengan warna cokelat tua dan hiasan antik di dalamnya.
Pada saat itu, memutuskan untuk bekerja di dunia hiburan adalah hal yang paling ia banggakan. Skenario terbaik yang pernah terjadi saat situasinya terpuruk memilah pekerjaan. Dan saat ini, jalanan yang ramai di luar sana membuatnya tertawa. Sedang berpuluh orang yang lewat bergegas dengan payung di tangan kemudian membuatnya sedih sekaligus senang.
“Proyek ini akan dilakukan dua hari lagi. Aku harap kau segera mengeluarkan ide gilamu.”
Suara di ponsel pintarnya kembali berdering beberapa kali. Mendandakan notifikasi yang lagi-lagi membuatnya jengah. Nara─perempuan dengan outfit hitam itu membulatkan mata. Decakan yang keluar melalui kedua bibir itu segera terhenti karena kedua tangannya tergesa menekan layar ponselnya dua kali.
[Nara, proyek besar ini kuserahkan sebagai hadiah kesetiaanmu]
[Penyanyi Park akan membuat karirmu tertantang bukan?}