Lompat ke isi

Seribu Janji untuk Marni

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Aku selalu ingat akan seribu janji yang pernah kau lontarkan kepadaku, tentang bagaimana kau melihat kita di masa depanmu. Aku bahkan ingat setiap detailnya; hari apa, pukul berapa, dimana, pun raut wajahmu ketika mengucapkannya. Oh, bukan seribu? Lalu berapa? Apakah kau bisa menghitung janjimu sendiri?

Ingatkah kau, ketika senja menyapa kita di kaki gunung Panderman. Kau menghentikan pendakianmu hanya untuk mengikat tali sepatuku yang terlepas, padahal aku sendiri bisa melakukannya. Lalu kau berucap bahwa kau akan terus seperti itu walau kau sudah renta. Tahukah kau, saat itu pipiku tiba-tiba memanas sampai aku sibuk mendinginkannya dengan sarung tangan tebalku?

Pernah, sepulang kita dari kuliah pagi, kau ajak aku berjalan-jalan di mall dekat kampus. Kau menarikku masuk ke sebuah toko perhiasan. Disana, kau tunjuk satu cincin yang paling bersinar dan kau berkata keras-keras bahwa suatu saat kau akan melingkarkannya di jari manisku. Sadarkah kau, pramuniaga itu tak kuasa menahan tawa melihat tingkahmu?

Di sela tugas akhirmu, kau rela mencuri-curi waktu untuk menggambar rumah impianku; berlantai dua, dengan kolam renang di belakang dan taman bunga yang luas sesuai permintaanku. Kita bahkan membuat maketnya bersama, yang sampai saat ini masih kusimpan rapi di atas lemari bukuku.

Yang paling lekat di ingatanku, ketika kau memintaku bertemu, di bawah pohon jambu di taman bambu dekat rumahku. Gerimis adalah saksi bisu untuk janji kesekian yang kau berikan. Dua tahun lagi, kau akan segera kembali ke kota ini, dan akan mengikat janji sehidup semati. Kau pasti tak lupa, air mataku jatuh tak tertahan ketika kau berkata dengan senyuman, “Tunggu aku, Marni.”

Dan ketika ratusan kilometer jarak memisahkan kita, tak hentinya kau menghujaniku dengan kalimat-kalimat rindu, memintaku untuk terus bersabar dan menunggu. Walau keraguan mulai kerap menerpaku, aku tetap bertahan, tak tergoyahkan.

Orang bilang aku mabuk cinta. Tak kupakai lagi logika. Beberapa kali temanku, yang juga temanmu, memberitakan kepadaku perihal apa yang kau lakukan disana. Harusnya aku marah, sepatutnya aku mundur. Tapi aku ingat semua janjimu dan semua detail tentang itu. Layaknya anak kecil yang tak menaruh keraguan sedikitpun atas kasih sayang sang Ibu, aku pun begitu.

Sebulan yang lalu, temanku, yang juga temanmu itu, memberiku selembar kertas tebal berwarna biru. Disitu terukir indah namamu dengan nama perempuan itu. Perlahan, tembok yang kususun runtuh satu-satu. Namun hanya butuh waktu tujuh hari untukku, menata kembali dinding hatiku. Keyakinanku kuat, kau akan tetap kembali padaku.

Di bawah pohon jambu di taman bambu, aku menunggumu. Disaksikan ratusan dedaunan yang jatuh menimpaku. Walau senja berganti gulita, terik berubah beku. Aku akan tetap disini, menunggumu datang dan memberiku kebahagiaan yang kuimpikan.

Orang bilang aku gila. Mungkin memang aku terlalu lama tak memakai logika, sehingga lupa cara memakainya. Ah, kalau saja mereka tahu, betapa indahnya janjimu, dan setiap detail tentang itu, pasti mereka tak akan berkata seperti itu.