Seribu Sepatu
Pengantar
[sunting]Premis
[sunting]Kiko adalah seekor beruang yang pandai membuat sepatu. Suatu hari, seekor kaki seribu bernama Mela datang memesan seribu buah sepatu. Kiko yang tidak begitu pandai berhitung pun mengerjakan pesanan tersebut.
Lakon
[sunting]- Kiko
- Mela
- Tiga ekor rusa penarik gerobak
Lokasi
[sunting]
Hutan
Cerita Pendek
[sunting]Datangnya Mela
[sunting]Di sebuah hutan, tinggallah seekor beruang bernama Kiko. Kiko merupakan seekor beruang yang pandai membuat sepatu. Setiap hari, banyak penghuni hutan yang datang ke rumah kecil Kiko yang ada di tengah hutan untuk memesan sepatu mereka.
Suatu hari, seekor kaki seribu bernama Mela datang untuk memesan sepatu dari Kiko.
“Halo Kiko. Aku mau memesan sepatu nih. Karena kakiku seribu, aku mau memesan seribu buah sepatu ya. Tolong diantarkan ke rumahku di tepi hutan bulan depan,” pesan Mela.
“Oke, akan kukerjakan,” jawab Kiko.
Mela pun pergi setelah memberi ukuran sepatunya.
Kiko merasa girang. “Seribu buah sepatu. Wah, aku bisa kaya, haha,” katanya setelah Mela pergi. Dengan hati yang senang, Kiko membuat pesanan Mela sambil bersenandung.
Kiko mulai memotong helai demi helai kain pembuat sepatu, kemudian memotong-motongnya sesuai pola dan menjahitnya menjadi sebuah sepatu. Walaupun lelah, Kiko tetap mengerjakan satu demi satu sepatu milik Mela.
Dua minggu kemudian, Kiko menyelesaikan begitu banyak sepatu hingga sepatu-sepatu tersebut terlihat memenuhi rumahnya yang kecil. Sepatu-sepatu tersebut tergeletak di berbagai tempat, mulai dari meja kerja Kiko hingga ke atas meja dapurnya.
Melihat begitu banyak sepatu, Kiko merasa sepatu pesanan Mela sudah hampir selesai semuanya. Dengan gembira sambil memikirkan uang yang akan ia terima dari sepatu buatannya, Kiko pun mulai menghitung jumlah sepatu yang mulai ia kerjakan.
“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh,” hitung Kiko.
Kiko terus menghitung jumlah sepatu yang sudah ia selesaikan. “Lima belas, enam belas, tujuh belas, delapan belas, sembilan belas, aduh apa lagi ya?”
Pada hitung ke sembilan belas, Kiko berhenti karena ia tidak tahu angka apa lagi setelah sembilan belas. “Aduh, berapa ya?” pikir Kiko.
“Ah iya, tiga puluh,” sahutnya. “Tiga puluh satu, tiga puluh dua, em, berapa lagi ya?”
“Tiga puluh empat,” sambungnya. Dan begitulah. Kiko menghitung tiap sepatu yang telah ia buat.
“Seribu!” Pada akhirnya, Kiko sampai pada hitungan seribu. Dengan riang gembira karena merasa pekerjaannya sudah selesai, Kiko pun bersantai-santai sambil menunggu dua minggu lagi untuk mengantarkan sepatu milik Mela.
Mengantarkan Sepatu
[sunting]Dua minggu kemudian, Kiko pun memanggil tiga ekor rusa untuk membantunya membawa sepatu-sepatu itu kepada Mela.
Mereka berempat pun berangkat ke tepi hutan dengan membawa empat buah gerobak berisi sepatu-sepatu pesanan Mela.
Sampai di tepi hutan, Mela menyambut mereka dengan gembira. “Wah, sepatu-sepatu baruku sudah sampai, terima kasih Kiko,” katanya.
“Sama-sama,” kata Kiko dengan senang.
“Boleh kucoba dulu?” tanya Mela.
“Boleh,” kata Kiko.
Mela pun mulai mencoba sepatu-sepatunya. Tanpa lelah, ia memakai setiap sepatu yang sudah memenuhi empat buah gerobak itu. Sampai di sepatu terakhir, ia menemukan bahwa sepatu yang dibawa Kiko tidak sampai seribu buah. Masih ada lima puluh buah sepatu yang kurang dan tidak sampai kepadanya.
“Apa ini Kiko? Sepatu yang kau bawa hanya 950 buah. Ke mana 50 buah lagi?” tanya Mela sambil menunjuk lima puluh kakinya yang belum memakai sepatu.
Kiko pun merasa tak enak. “Itu, maaf. Sepertinya aku salah menghitung jumlah sepatu yang aku buat. Bagaimana kalau aku kembali dan membuatkan sisanya lagi?” tanyanya dengan menyesal.
Tetapi, Mela sudah telanjur kecewa kepada Kiko. “Bagaimana sih?” omelnya. “Kalau kurang satu atau dua sih tidak apa. Kenapa sampai kurang sebanyak ini sih? Aku kan mau memakainya untuk pesta akhir minggu ini.”
“Maaf, maaf. Aku akan segera membuat sisanya. Aku janji akan menyelesaikan semuanya sebelum akhir minggu,” janji Kiko.
Dengan wajah kesal, Mela akhirnya mengiyakan janji Kiko. Kiko pun pulang sambil merasa bersalah. “Ini semua pasti karena aku tidak belajar pelajaran berhitung dengan benar di sekolah dulu,” katanya dengan menyesal.
Pada saat sekolah dulu, Kiko memang jarang memperhatikan pelajaran, terutama pelajaran berhitung karena ia merasa pelajaran itu sulit dan membosankan. “Duh, aku menyesal. Aku sudah membuang-buang dua minggu juga karena merasa hitunganku sudah benar. Sekarang, aku harus berusaha keras untuk menyelesaikan sisanya dalam kurang dari seminggu,” sesalnya.
Memperbaiki Kesalahan
[sunting]Saat pulang ke rumah, Kiko pun mulai menyelesaikan sisa sepatu yang belum ia selesaikan. Karena ia hanya punya waktu kurang dari seminggu, ia terpaksa mengerjakan lima puluh buah sepatu itu setiap siang dan malam tanpa beristirahat.
Akhirnya, sebelum akhir minggu, lima puluh buah sepatu selesai. Belajar dari kesalahannya karena berhitung, Kiko pun meminta bantuan tiga ekor rusa untuk memastikan jumlah sepatu-sepatu tersebut, sebelum mengantarnya kepada Mela.
“Apa kalian yakin ini sudah benar lima puluh buah?” tanya Kiko kepada tiga ekor rusa itu.
“Yakin,” kata salah satu dari mereka. “Kami kan sudah sering menghitung jumlah barang yang harus kami antar setiap harinya.”
Usai memastikan jumlahnya sudah benar, mereka pun berangkat.
Sampai di rumah Mela, Mela pun mencoba sisa sepatu itu bersama sepatu-sepatu lainnya yang sudah tiba seminggu yang lalu. Dengan puas, ia melihat seribu buah sepatu berwarna merah yang indah dan cocok di keseribu kakinya.
“Terima kasih Kiko,” kata Mela senang. “Yang kali ini aku maafkan. Tapi lain kali jangan sampai ini terjadi lagi ya.”
“Iya, aku janji akan belajar berhitung lagi dengan benar dan tidak mengecewakanmu lagi, Mela,” kata Kiko.
Mela pun membayar pesanannya pada Kiko. Memegang jumlah uang yang begitu banyak itu, Kiko pun tiba-tiba termenung, karena ia lagi-lagi tidak bisa menghitung jumlah yang lebih dari sepuluh dengan benar.
Akhirnya, ia lagi-lagi meminta tolong kepada tiga ekor rusa itu.
Setelah melalui hari-hari yang melelahkan karena seribu buah sepatu, Kiko akhirnya benar-benar menyesal karena tidak belajar dengan benar. Ia pun meminta tiga ekor rusa itu untuk mengajarinya berhitung. Kali ini, ia pun belajar dengan tekun untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali.