Setitik Harapan yang Kembali
Setitik Harapan Yang Kembali
Sejak kecil “nini” bermimpi menjadi perempuan yang hebat dan bisa tampil percaya diri. Meski pergerakannya dalam akademik terlihat cukup amatir, teman seangkatan menganggapnya jauh tertinggal sebab tidak pernah memiliki juara di setiap kenaikan kelas. Hari-hari nini merasa dirinya jauh tertinggal terlihat tidak layak untuk menjadi orang hebat, meski begitu ia memberanikan diri untuk keluar dari “zona nyaman”. Sebagian orang memandang dirinya cukup berbeda, dengan kepribadiannya yang “introvert”, terkadang hal-hal seperti ini terus banyak menguburkan harapan nini. Hari -harinya yang berat, membuatnya minder, dan merasa dihantui oleh banyak-banyak bayangan ekspektasi diluar sana.
Suatu sore Nini menatap langit biru, menghirup udara segar, mendengar kicauan burung, dan melihat banyak manusia berdamai dengan caranya masing-masing. Ia merasa pandangan yang terlihat di sore itu bukan suatu yang biasa “ini adalah jawaban bahwa setiap orang berhak punya jalannya masing-masing” “kamu tidak perlu takut, kamu hanya perlu berani dengan caramu sendiri”.
Sejak saat itu Nini memulai misinya, menulis banyak hal yang menjadi afirmasi positifnya dan bertekad dengan motivasi sederhananya “bekali diri, percaya diri, dan terampil”. Walau jalannya tidak semudah yang dibayangkan, nini mulai melangkah dalam zona berani ia begitu yakin langkah ini akan menjawab setitik harapan yang pernah terkubur, kini telah kembali, bersama cahaya yang terus menyala di setiap langkah yang dijalani.