Lompat ke isi

Shift Tengah Malam

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

“Halo, namaku Larasita Sekar Putri, dipanggil Laras. Seorang pekerja magang shift malam di Stasiun Pom Bensin Rest Area, Surabaya. Aku nggak tahu harus mengatakan apa tentang insiden tersebut. Tapi entah mengapa saat aku mengingat kembali insiden, yang terjadi pada tahun 2010, rasanya seperti teringat-ingat terus insiden tersebut. Seperti mimpi buruk yang terus berputar-putar tanpa henti, seolah mimpi buruk tersebut tidak ada jalan keluar sama sekali. Dan ini adalah awal kejadian yang mengerikan, percaya nggak percaya, itu urusan kalian” menurut suara rekaman Laras pada tahun 2020.

Pada saat jam menunjukkan pukul 21.00 malam, di perjalanan panjang menelusuri jalan tol antara Surabaya dengan Malang, dimana di Stasiun Pom Bensin Rest Area, datanglah sebuah bis angkutan umum bernama Bus Garuda Djaya berwarna hijau turquois, terparkir di tempat Pos Pemberhentian Bis, dan turunlah empat orang pekerja magang kelas 3 SMA, yaitu Viola, Rizky, Satriya, dan Laras.

“Sepertinya bakal jadi malam yang panjang, deh” kata Rizky sambil membawa tas, “dan kita malah kayak pemburu aktivitas paranormal. Coba lihat sekeliling, cuma kita berempat saja, nggak ada mobil terparkir disini” kata Viola yang berjalan di sampan kiri Rizky sambil membenarkan posisi kacamata frame cat eyes-nya. Sementara dibelakang mereka, Satriya dan Laras berjalan mengikuti Viola dan Rizky dari belakang, “menurutmu apakah semuanya akan berjalan lancar, Sat?” kata Laras dengan nada santai, “semoga saja. soalnya sebelum berangkat, aku sempat mendengar berita tentang kasus menghilangnya orang-orang di daerah sini” respon Satriya sambil melihat sekeliling mereka yang tampak sangat tenang dan sunyi.

Begitu mereka masuk ke market untuk memulai shift pertama mereka, di Ruang Staff, mereka menemukan secarik kertas dari atasan mereka bernama Pak Bintang, yang berisi ungkapan selamat datang dan cara mereka bekerja disini, dimulai membuang sampah pada tempat pembuangan sampah yang ada di belakang market, membersihkan lantai yang kotor dengan menggunakan alat pel dan sapu, mengisi stok rak-rak yang kosong, serta melayani para pelanggan yang datang sampai waktu shift mereka selesai pada pukul 00.35 malam, namun pada bagian bawah, ada pesan dari Pak Bintang yang meminta mereka berempat untuk tetap waspada pada orang-orang yang datang, karena kedua pegawai wanitanya, Kinara dan Maya, dinyatakan menghilang saat melayani salah seorang pelanggan yang memiliki perawakan fisik aneh, serta menyeramkan, seperti memakai baju pekerja tukang potong daging yang kusam berdarah kering dan kelihatan seperti memakai topeng hewan menyerupai kepala babi hutan. Itulah menurut laporan kesaksian dari Putra dan Dimas, dua mantan pegawai shift malam beberapa bulan yang lalu sebelum mereka, dan kini telah resign dari pekerjaan setelah insiden tersebut.

“Oke… pesan ini… agak mengerikan…” kata Viola dengan nada agak gemetar dan ketakutan, “Santai sajalah, Vi. mungkin Pak Bintang cuma mengada-ngada saja, kayaknya. Lagipula beliau memiliki sifat yang agak overprotektif gitu sih, sama pegawai,” kata Rizky dengan nada positif, bermaksud menenangkan Viola. “Ya Tuhan, ternyata sampai jam 00.35 malam pulangnya, toh. Semoga saja orangtuaku nggak panik, kalau aku pulangnya malam banget” gerutu Laras sambil membuka handphone-nya untuk mengirim pesan SMS kepada orangtuanya, “Ya sudah, deh. Gini saja, kita bagi tugas saja kalau begitu. Aku yang buang sampah, Viola yang menyiapkan stok persediaan untuk rak yang kosong, Rizky yang jadi kasir, sementara Laras yang mengepel lantai, yah” kata Satriya, dan mereka mengerjakan tugas mereka dengan baik, sampai jam shift mereka selesai. Namun tanpa mereka ketahui, shift malam berikutnya akan menghantui mereka secara perlahan-lahan, meninggalkan memori menyeramkan yang mulai jadi mimpi buruk mereka, seumur hidup.

Bab 1

Shift Tengah Malam ke-2

Di Stasiun Pom Bensin Rest Area, disaat Laras, Viola, Rizky dan Satriya lagi istirahat di Ruang Staff sambil minum kopi dan ngobrol santai soal kegiatan sekolah mereka. Laras melihat keluar dan menemukan ada mobil pelanggan berwarna silver terparkir bermerek Toyota di depan toko, “wah, sepertinya ada pekerjaan tambahan untukmu, tuh… Riz” kata Laras, “ya udah, yah. Aku kerja dulu yah, kalau begitu” jawab Rizky yang berdiri dan berjalan ke meja kasir sambil minum kopi.

Pelanggan pertama mereka adalah seorang petugas kepolisian lokal bernama Pak Darma, masuk ke dalam bersama istrinya yang sedang hamil bernama Bu Nurwina. Saat Bu Nurwina masuk ke toilet khusus wanita untuk buang air kecil, sambil menunggu istrinya, Pak Darma berbelanja keperluan untuk perjalanan berikutnya. Begitu tiba di meja kasir, Pak Darma bertanya “Halo, anak muda. Lagi menjalankan shift malam?”, “Iya tuan, memangnya kenapa?” respon Rizky dengan nada bingung sambil melakukan pekerjaannya sebagai kasir. Pak Darma menjelaskan dengan jujur bahwa dia cuma ingin memastikan semuanya baik-baik saja terlebih ada kasus yang sedang marak terjadi di daerah ini, yaitu tentang kaburnya seorang narapidana pembunuhan, belum lagi kasus menghilangnya dua orang karyawan wanita saat bekerja di toko ini, Kinara dan Maya. Sehingga Pak Darma beserta polisi setempat harus turun tangan demi memastikan semuanya baik-baik saja. Sebelum pada akhirnya, Pak Darma pergi setelah istrinya selesai menggunakan toilet khusus wanita.

Setelah mobil silver itu pergi, Rizky mulai sedikit was-was dengan keadaan di sekitarnya, meskipun dia tetap berusaha berpikir optimis. Di dalam Ruang Staff, dia melihat teman-temannya sedang asyik mengobrol santai, “Eh, Riz. Dimana pelanggan pertama kita?” tanya Satriya padanya, “Cuma seorang petugas polisi setempat sama istrinya yang sedang hamil,” jawab Rizky dengan nada santai khasnya. Dan mereka kembali melakukan pekerjaan seperti biasanya.

Beberapa menit kemudian, pada saat pukul 00.33 malam. Setelah Rizky melayani para pelanggan dengan baik dan profesional, seperti Eka Gayatri, seorang pelanggan setempat yang memintanya untuk lebih berhati-hati bekerja disini setelah berita kasus yang sedang marak terjadi disini, Bobby Wenda, seorang pekerja kantoran yang kelihatan kecapekan bekerja di perusahaan swasta dan sempat curhat soal kendaraan transportasi umum yang biayanya semakin mahal tergantung waktu berangkat, Adam Siallagan, seorang pengembara muda dari Simanindo yang menikmati kehidupannya sebagai pengembara, Hendra Ichwan, seorang jurnalis yang melontarkan beberapa pertanyaan soal kasus menghilangnya kedua pegawai wanita pada Rizky, dan Shania Tjhai, seorang pekerja kantoran wanita yang sedang ingin cepat-cepat pulang karena nggak mau putranya menunggunya kelamaan di rumahnya.

Di sisi lain, saat Satriya mengangkat sampah terakhir ke tempat sampah yang ada dibelakang, ia nggak sengaja melihat sosok pria dari kejauhan yang memakai seragam pegawai jagal berlumuran darah kering, serta topeng berbentuk kepala babi hutan, sedang berdiri menatap Satriya dari kejauhan. Sebelum dia bisa mencerna apa yang dia lihat, sosok tersebut sudah menghilang begitu saja, membuatnya langsung masuk ke dalam dengan ekspresi ketakutan.

Bab 2

Shift Tengah Malam ke-3

Di jalan tol yang panjang, terdapat mobil hitam yang sedang terparkir di pinggir jalan. “Sialan… pake mogok segala lagi, padahal Stasiun Pom Bensin Rest Area cuma tinggal beberapa meter lagi dari sini” keluh seorang detektif wanita bernama Mbak Najwa, sehingga mau nggak mau, ia terpaksa jalan kaki untuk membeli bensin dari sana. Sebelum pergi, ia membawa tas selempang yang berisi dokumen penting soal kasus menghilangnya dua pegawai wanita, buku catatan beserta pulpen, kamera, handphone, dompet, dan taser. Begitu semua peralatan siap, ia melanjutkan perjalanan kakinya menuju Stasiun Pom Bensin Rest Area seorang diri, dan tanpa di sadari keberadaannya sedang di awasi oleh sosok yang memakai seragam pegawai jagal berlumuran darah kering, serta topeng berbentuk kepala babi hutan, di antara pepohonan pinus.

Di sisi lain, di market Stasiun Pom Bensin Rest Area, saat Viola selesai menyusun stok-stok persediaan pada rak yang kosong. Ia mengobrol santai dengan Laras yang lagi mengepel lantai yang kotor, “Ngomong-ngomong, bagaimana kencanmu dengan Arief, si cowok populer sekolah kita?” tanya Viola sambil menaruh stok makanan instan ke rak sembari membenarkan posisi kacamata frame cat eyes-nya yang sedikit jatuh ke hidungnya, “Buruk banget.” Jawab Laras datar dan kesal, lalu menambahkan “Rupanya dia itu nggak terlalu peduli sekali sih sama aku. Dia malah ‘sibuk’ chat dengan cewek lain lewat handphone-nya, lalu pura-pura perhatian sama aku… dan sangat pandai berakting, pokoknya menyebalkan deh” kata Laras dengan nada sedikit kesal dan jengkel sambil mengepel lantai.

Sementara di meja kasir, dimana Rizky dan Satriya sedang bersantai menunggu para pelanggan datang. “Jadi apa yang kamu lihat itu beneran ada… atau cuma halusinasimu karena kecapekan, Satriya” tanya Rizky dengan nada ragu-ragu, “Kurang tahu sih aku, Riz” jawab Satriya, sebelum pada akhirnya para pelanggan berdatangan, memulai shift tengah malam mereka. Pelanggan berikutnya adalah Intania Burhan, Dewi Kusuma, Nicholas Djapri, Faisal Chandra, Kevin Winarto, Muhammad Yaputera, Tiara Salim, dan Lukas Kogoya. Kebanyakan dari para pelanggan cuma membahas soal kasus menghilangnya dua pegawai wanita market ini yang di duga ada saangkut pautnya dengan serial killer bernama Sang Jagal, kecuali Dewi Kusuma dan Lukas Kogoya yang justru malah membahas tentang insiden kebakaran hebat di pabrik pengolah daging, serta mulai berteori bahwa dulu Stasiun Pom Bensin Rest Area ini adalah pabrik pengolah daging bernama Pabrik Daging Tormo

Di sudut pandang Mbak Najwa, waktu ia sampai di Stasiun Pom Bensin Rest Area. Ia masuk ke dalam dan disambut oleh keempat pegawai magang yang tengah melakukan tugasnya masing-masing, Rizky melayani pelanggan, Viola sedang mengambil kotak kardus stok dari bagasi, Satriya tengah membuang sampah pada tempatnya di halaman belakang, dan Laras baru keluar dari toilet habis mengepel lantai kotor. “Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?” tanya Laras sambil menaruh alat pel lantai, “Iya… bisakah kamu bawakan tabung bensin ke mobilku, soalnya mobilku mogok karena kehabisan bensin”.

Setelah Satriya dan Rizky mengisi bensin mobil Mbak Najwa. Laras dan Viola mulai memperkenalkan diri pada Mbak Najwa, diikuti oleh kedua cowok tersebut. Dimana Mbak Najwa juga mulai memperkenalkan dirinya sebagai detektif wanita, membuat kelimanya saling berhubungan satu sama lain.

Bab 3

Shift Malam, Setelah 1 Minggu Lalu, Dimulainya Teror

Di malam hari, pada saat hujan lebat. Dimana Laras, Viola, Satriya, dan Rizky tengah asyik nongkrong di teras Stasiun Pom Bensin Rest Area. Membahas soal pertemuan mereka dengan Mbak Najwa beberapa hari yang lalu. Di tengah perbincangan yang semakin berat, Viola bertanya “Jadi menurut kalian itu benar atau nggak sih? Soal rumor Sang Jagal, yang katanya ada kaitannya dengan kasus menghilangnya Kinara dan Maya?”.

“Kalau menurut beberapa sumber media yang kutemukan sih, begitu Vi”, jawab Satriya dengan nada sedikit was-was, matanya menyapu sekitar mereka dengan tajam.

“Tapi, kalau itu benar, kenapa Mbak Najwa ngasih kita informasi setengah-setengah. Dan kenapa nggak laporin ke pihak kepolisian saja” kata Rizky.

”Mungkin ia merasa bukti yang sudah ia kumpulkan belum cukup kuat buat dilaporkan ke polisi, gitu. Lagian dia sudah bilang ke kita dulu, bahwa hanya ada satu bukti ‘terkuat’ yang bisa menungkapkan semuanya, Riz” jawab Laras sambil mengaduk-aduk kopi hitam.

“Ya udah deh. Mau nggak mau kita harus menunggu informasi tambahan darinya kalau begitu. Sambil nunggu, kita harus menyelesaikan shift malam. Aku dapat pesan SMS dari Pak Bintang soal kenaikan gaji magang kita” kata Satriya sambil melirik sebentar ke arah jam tangannya dan berdiri dari bangkunya, diikuti oleh yang lain. Tanpa mereka berempat sadari, pergerakkan mereka di awasi oleh sosok misterius yang sama dari balik pohon, dengan pisau daging di tangan kanannya.

Di sisi lain, sebuah truk melaju melintasi jalan tol yang terasa panjang. Di dalamnya, terdapat seorang pria paruh baya bernama Pak Joshua yang tengah mengemudi ditemani oleh putranya bernama Sultan, dimana keduanya sedang menempuh perjalanan panjang menuju rumah mereka. Ditengah perjalanan, saat Jerome sudah mulai bosan dengan Game Boy Advance yang dia mainkan, dia mulai ngobrol santai dengan ayahnya yang baik hati kepadanya, mulai membahas tentang sekolahnya sampai ke pekerjaan ayahnya sebagai tukang kayu yang menurutnya sendiri terlalu bereksiko tinggi terhadapan kesehatan ayahnya. Pak Joshua mengapai perbincangan anaknya dengan baik hati, setengah bercanda, setengah lapang dada. Namun di tengah asyik keduanya mengobrol, tiba-tiba ada sesosok pria besar dan agak gemuk memakai pakaian tukang daging dan topeng berbentuk kepala babi hutan yang dia kenakan. Menyebabkan truk angkut tersebut kehilangan kendali dan menabrak pohon, membuat Pak Joshua dan Sultan pingsan tak sadarkan diri di dalam truk.

Beberapa saat kemudian, Isaac mendapatkan kembali kesadarannya dan melihat Jerome masih pingsan. Dia langsung membangunkan putranya sambil melihat sekeliling dan menyadari bahwa dia dan Sultan telah berada di dalam Pabrik Daging Tormo yang sudah lama terbengkalai dan dibiarkan tidak terawat. Pak Joshua juga menemukan dokumen-dokumen mengenai kualitas produksi daging yang semakin menurun, foto keluarga yang satu keluarga rata-rata agak gemuk, dan dia juga menemukan sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari yang dia kira, yakni daging yang digantung di pengait, semuanya terbuat dari daging manusia. Serta menemukan kartu nama yang bertulisan “Maya” di lantai yang berlumuran darah.

Akan tetapi,  sebelum Pak Joshua bisa melakukan apa-apa, dia bertemu dengan yang sama dengan kejadian tabrakan tadi malam. Bertubuh besar dan agak gemuk, memakai topeng menyerupai kepala babi hutan, memakai seragam kerja tukang jagal yang berlumuran darah kering, serta tangannya memegang pisau daging besar. “Kumohon, beri ampun padaku dan putraku… ak… aku berjanji tidak akan menceritakan semua aksimu ke pihak kepolisian!” kata Pak Joshua berjalan mundur ke putranya yang masih pingsan. Namun Sang Jagal tetap maju perlahan-lahan, sambil menggengam pisau daging besar, membuat Pak Joshua mulai panik. Sang Jagal mengayunkan pisau daging besar, diikuti oleh suara teriakan Pak Joshua. Teriakannya nyaring luar biasa. Terdengar sampai keluar pabrik daging, hutan, dan bahkan mulai menggema hingga sampai ke Stasiun Pom Bensin Rest Area.

Di Stasiun Pom Bensin Rest Area, ditengah jam istirahat. Mereka berempat mendengar suara teriakan seseorang, membuat keempatnya bingung sekaligus keheranan. “Em… apakah kalian mendengar sesuatu? Seperti… jeritan seseorang” tanya Viola sembari membenarkan posisi kacamata frame cat eye-nya dengan tangan agak gemetaran. Yang lainnya cuma menangguk pelan, antara yakin dan ragu jadi satu. Sehingga mereka memilih untuk lanjut bekerja saja daripada ambil pusing soal suara tersebut.

“Dan ini baru teror permulaan, karena minggu selanjutnya akan jadi mimpi buruk termengerikan bagi aku dan ketiga temanku. Bahkan aku sudah menjalani terapi psikologi secara rutin… namun mimpi buruk itu, masih terasa nyata… dan sangat mustahil bagiku untuk dilupakan udah bertahun-tahun… sampai aku mengidap Anxiety ringan” menurut suara rekaman Satriya pada tahun 2020.