Lompat ke isi

Si Kuskus

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Hewan Kuskus

Pagi menyapa dengan sinar mentari hangatnya. Seperti biasa, Ibu mendatangi kebun kecil di belakang rumah panggung sambal membawa keranjang kecil untuk di isi sayur ataupun buah segar yang akan disantap hari ini. Tidak lupa gadis kecil dengan rasa penasaran yang besar itu juga ikut mengekor kemanapun Ibu pergi. Meski begitu, Ibu sama sekali tidak merasa terganggu ketika dasternya sesekali ditarik halus saat Mita hendak mengeluarkan berbagai pertanyaan yang terus menerus timbul dalam kepalanya.

“Ibu, kenapa ulat sawi warna hijau?”

“Ibu, kenapa terong warnanya ungu bukan merah muda?”

“Ibu, kenapa ubi kayu tumbuhnya dalam tanah bukan di daun?”

Kurang lebih begitulah pertanyaan yang dilontarkan Mita setiap harinya. Sesekali pertanyaan itu dijawab serius meski pada akhirnya Mita belum memahami maksudnya, namun biasanya rentetan pertanyaan itu hanya dijawab seadanya oleh Ibu atau bahkan di diamkan saja karena akan terus memunculkan pertanyaan baru. Meskipun begitu, Ibu tetap merasa tidak terganggu karena memahami kepekaan yang dimiliki Mita sudah sewajarnya seperti anak kecil pada umumnya. Seperti saat ini, daster Ibu kembali ditarik berkali-kali.

“Ibu, dengar tidak suara di dalam pohon?” ucap Mita sambal menunjuk pada pohon manga yang sudah tua tepat di depan keduanya sedang berdiri.

“Iya, sepertinya suara burung sedang membuat sarang” timpal Ibu yang masih berkutat memetik cabai.

“Bukan, Bukan! Suaranya seperti sedang cakar-cakar pohon, burung kan tidak punya cakar.” Ucap Mita yang kini melepas tangannya dari Ibunya. Berjalan mendekati pohon mangga tempat asal suara.

Ibu tetap fokus pada aktivitasnya sampai akhirnya ia juga menyadari suara tersebut. Awalnya tidak ia gubris, tetapi karena rasa penasaran putrinya yang begitu besar turut mendorongnya untuk memastikan asal suara tersebut. Ibu mendekati pohon mangga, lalu menyadari pohon itu memiliki lubang ditengahnya yang sepertinya sebelumnya tidak ada, terlebih lubang tersebut agak tersembunyi karena benalu yang menempel. Setelah di cek, Ibu terkejut karena sepasang mata kecil yang menatapnya dari dalam lubang.

Singkat cerita, Ibu, Ayah, Mita telah berkumpul di kolong rumah panggung. Sementara Nenek seperti biasa, duduk di kursi kebanggaannya tepat di samping bale-bale. Ayah sibuk memastikan kandang kecil itu tertutup rapat. Ibu masih sedikit tergidik melihat makhluk tadi, sementara Mita, justru tidak bias menyembunyikan kikikannya sejak tadi. Setelah diamati baik-baik, Ayah menyadari makhluk yang ditemukan Ibu dan Mita di kebun adalah hewan Kuskus. Bentuknya tubuh dan warna bulunya mirip koala namun memiliki telinga yang kecil, dan mata yang agak menonjol berwarna cerah. Ukurannya kecil seperti buah nanas yang biasanya Ibu petik di kebun.

Mita tidak henti-hentinya mencoba menarik perhatian hewan kecil itu memanggilnya “kus, kus” tanpa henti. Di dalam kandang kecil itu Ibu menyiapkan dedaunan dan beberapa buah pisang sekiranya agar tak kelaparan. Setelah Mita melapor pada Ayah, Kuskus tersebut dimasukkan dalam kandang dengan maksud memberinya tempat yang sekiranya nyaman untuk sementara waktu sampai luka di tubuhnya sembuh.

“Mita, jangan taruh tanganmu di dekat kandang, si Kuskus masih ketakutan” ucap Ibu kuatir. Gadis kecil itu menuruti apa yang dikatakan oleh Ibunya. Namun matanya tak berhenti mengamati dengan lekat.

Waktu terus berjalan, kini sudah petang dan Mita sudah terbangun dari tidur siang. Belum cuci muka, ia langsung keluar rumah untuk mengamati si Kuskus lagi. Saat ia menguap, suatu hal yang berbeda membuatnya takjub. Segera ia memanggil Ibu dengan nyaring.

“Ibu, si Kuskus punya anak. Anak bayinya disimpan dalam kantong!”

Keajaiban si Kuskus kembali membuat keluarga itu berkumpul di kolong rumah. Bukan hanya Mita yang antusias, Ibu dan Ayahnya juga.  Rupanya si Kuskus merupakan induk yang memiliki bayi. Induk Kuskus memiliki kantung di perutnya untuk membawa dan merawat si bayi. Kini Mita semakin girang karena ada dua Kuskus.

           “Bu, kenapa si Kuskus selalu kelihatan marah?”

           “Induk hewan memang semestinya begitu, tujuannya untuk melindungi diri dan bayi”

Mita mengangguk paham. Kini pertanyaan selanjutnya kembali menyambar “Sama seperti Mita, berarti Kuskus juga punya keluarga, kan. Terus Ayahnya kemana?”

Tak ada jawaban, melainkan hanya kikikan dari orangtuanya. Ayah mengelus pucuk kepala putrinya yang cerewet itu dengan gemas. Hari telah berganti, pagi berikutnya Mita mencoba memasukkan makanan ke dalam kandang Kuskus, tentunya di damping ayah. Namun si Kuskus masih terlihat sama ketakutan dan ganasnya saat Mita mendekat ke kandang.

Di kolong rumah panggung itu, ia ditemani Nenek yang sedang mengaji di kursi kebanggaannya. Ibu sedang memasak di dapur, dan Ayah masih di lading memberi makan sapi.Masih sama seperti kemarin, di sore hari Mita memantau Kuskus dengan antusias. Namun kali ini ia merasa kasihan melihat hewan tersebut masih berusaha menyembunyikan wajahnya atau mencakar kandang berkali-kali.

Keesokan paginya, saat Mita bangun ia mendapati Ibu yang terlihat kebingungan. Saat mendekat, kandang yang semalam masih di isi Kuskus, telah rusak. Saat itulah ia menyadari bahwa si Kuskus berhasil lolos dari kandang. Rasa sedih memenuhi hatinya, antusiasme itu sirna bersama si Kuskus yang telah pergi.

Di sore hari, Mita bermain boneka di atas bale-bale. Seperti biasa, ditemani Nenek di kursi kebanggannya. Menyadari cucunya tidak semeriah biasanya. Nenek tersenyum tipis mengajak cucunya turun untuk duduk di pangkuannya. Si cucu menurut dengan bibir yang ditekuk ke bawah. Dadanya diusap sayang.

“Memang sudah seharusnya si Kuskus kembali ke alam” ucap Nenek.

“Tapi kan, lukanya belum sembuh. Kandang buatan ayah juga lebih bagus dibanding tinggal di pohon tua, harus cari makan sendiri juga” MIta tidak setuju, bibirnya semakin cemberut.

“Kalau sayang sama si Kuskus, berarti siap mengikuti maunya si Kuskus. Sama seperti Ayah dan Ibu yang sayang sama Mita, dibangunkan rumah agar bisa berteduh, agar tidak kedinginan diberi selimut, agar tidak kelaparan diberi makan.”

Gaids kecil itu terdiam, ucapan nenek terdengar sangat lembut dan nyaman.

“Kuskus juga sama saja lahir dan tinggalnya di hutan, maka wajar saja jika ingin bebas di dalam hutan. Maka dari itu, kalua Mita sayang, mulai sekarang bantu si Kuskus untuk jaga hutannya. Karena hutan bagi Kuskus itulah rumahnya. Kalau rumahnya dirusak, si Kuskus bias kehilangan keluarga dan tempat tinggal”

           Kata demi kata yang mengalun dengan lembut itu cukup membuatnya terenyuh. Benar juga apa yang dikatakan nenek. Sejak awal Kuskus bertahan dengan keluarganya di dalam hutan, bukan di kandang kecil yang membatasi pergerakannya. Si Kuskus pastinya lebih suka berkeliling dan mencicipi berbagai jenis makanan dengan bebas dibanding dengan satu jenis buah saja. Selama Mita dan orang-orang di kampong bias membantu menjaga rumah si Kuskus, maka dia akan baik-baik saja.