Lompat ke isi

Si Putih dan Raksasa Besi

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Sinopsis :

Si Putih yang sangat suka bersama Raksasa Besi. Mereka menikmati indahnya laut dan cerahnya matahari, serta menghadapi ganasnya badai bersama-sama.

Lakon :

1. Si Putih (Burung Camar) 2. Raksasa Besi (Kapal Laut)

Lokasi :

Laut Jawa

Cerita Pendek :

    Aku merupakan seekor burung camar berwarna putih, berbadan kecil dan suka sekali terbang menjelajah lautan. Aku sangat bangga dengan suara keras dan lantangku. Hingga seringkali keberadaanku menarik perhatian manusia untuk melihatku. Aku tak keberatan dengan itu, bahkan aku sangat senang jika ikut menjelajah lautan bersama raksasa besi yang mereka tumpangi.
    Jika aku lelah dan ingin beristirahat, aku selalu berdiri diatas badan raksasa besi itu. Aku berdiri kokoh disalah satu menara sembari melihat luas dan indahnya lautan. Ombak-ombak yang menggulung dan berkilapnya air karena sinar matahari yang dapat kulihat disepanjang horizon. Pemandangan yang seakan tak akan pernah membuatku bosan.
    Pagi ini, aku bersama kawananku hendak berburu ikan-ikan kecil. Aku melihat mereka berkelompok dan membentuk barisan yang rapi di dalam air. Kesempatan yang bagus untuk mengisi perutku di pagi hari. Aku tidak pernah melewatkan sarapan pagi, karena itu penting bagi tubuhku sebagai energi agar aku dapat terbang seharian. Perburuan ikan pun dimulai. Aku berfokus pada salah satu ikan dibawahku, tujuannya yaitu agar aku bisa menebak dan membaca pergerakan ikan tersebut. Setelah ku temukan sasaran, ku tegapkan tubuhku dan ku bentangkan sayapku lebar-lebar. Aku kepakkan sayapku sambil terbang menukik ke bawah dengan cepat dan tepat. Ikan yang menjadi targetku berhasil aku tangkap dengan paruhku. “Yay” teriakku dalam hati. Kudapatkan ikan pertamaku di pagi ini, hatiku senang sekali. Aku melihat teman-temanku juga sedang memakan ikan hasil tangkapan mereka. Usai dengan ikan pertama, aku bersiap untuk menangkap ikan selanjutnya.
    Beberapa menit kemudian, situasi berubah saat aku mendengar pekikan burung elang dari kejauhan. Pekikannya terdengar semakin mendekat ke arahku dan kawan-kawanku. Aku panik dan seketika langung beranjak terbang sangat jauh dari burung elang untuk keselamatanku. Aku terus terbang menjauh, terus kukepakkan sayap tanpa kutoleh arah belakang. Hingga tiba-tiba kudapati awan tebal hitam di depanku. Aku melihat terdapat raksasa besi yang sedang melaju ke arah awan tebal hitam itu. Seharusnya saat itu aku tahu, bahwa aku harus berputar terbang berbalik arah untuk menghindari awan tebal itu, namun aku ingat jika ada burung elang dibelakangku. Aku tidak ingin ditangkap oleh burung elang itu.
    Aku terbang agak rendah hingga kakiku menapak di badan raksasa besi itu. Aku mencari tempat berteduh dibawah menara kapal. Air hujan perlahan mulai jatuh dan semakin deras. Aku sedikit kedinginan namun bulu-bulu putihku membuatku sedikit lebih hangat. Air mengguyur sangat deras dari langit disertai dengan suara petir. Ombak yang semula tenang seolah berubah menjadi ganas. Membuat raksasa besi dibawahku ikut terombang-ambing ke kanan dan ke kiri. Angin sangat kencang menerpa badan raksasa besi, hal itu cukup membuat badanku ikut terbawa angin dan akhirnya aku memutuskan untuk turun ke geladak kapal karena lebih aman. Aku tidak ingin badanku ikut terbawa angin yang menyeretku ke pusaran angin hitam pekat yang tak jauh dari raksasa besi.
    Aku ketakutan karena aku tidak terbiasa berada disituasi badai seperti ini, tidak untuk sendirian. Aku terbiasa terbang bersama kawananku, bersama teman-teman dan keluargaku. Namun aku terpisah saat burung elang mengejar kawanan kami. Membuatku terpisah dari kawananku, dan disinilah aku sekarang. Sendirian dan kedinginan. Dalam situasi ini, aku teringat dengan hal-hal yang sangat aku sukai. Mulai dari bercengkrama dengan teman dan keluargaku, berburu udang dan ikan-ikan kecil, serta yang paling aku sukai yaitu terbang bebas dilangit yang cerah. Aku mulai merindukan hal-hal itu dan ingin sekali segera berkumpul kembali bersama kawananku.
    Tak cukup dengan situasi badai yang membuat seluruh tubuhku menggigil, aku mendengar langkah kaki manusia yang perlahan mendekat ke arahku. Langkahnya semakin mendekat seiring dengan suara ketukan yang semakin keras. Aku kaget sekali saat mendapati manusia itu jongkok dan menunduk di depanku, sambil memberikan remahan roti kepadaku. Aku cukup terkejut dan kulihat manusia itu berbalik arah dan pergi. Aku lahap remahan roti itu dan setelah usai, aku menunduk sembari menunggu badai usai.
    Sinar matahari mulai terlihat membelah awan abu-abu dilangit. Seolah menandakan bahwa badai telah usai. Aku mulai mengepakkan sayap dan bersiap untuk terbang. Menuju arah dimana terakhir aku melihat kawananku. Sebelum aku terbang menjauh, aku menengok kembali ke arah raksasa besi dibelakangku. Terimakasih ucapku.


Tamat.


Si Putih dan Raksasa Besi © 2023 by Ustazah Aulia is licensed under CC BY-SA 4.0