Lompat ke isi

Si Putih untuk Yasa

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Premis

[sunting]

Yasa yang sering merasa kesepian di rumah saat orang tuanya bekerja di toko sembako dan alat sembahyang milik mereka sangat ingin memelihara anjing. Namun, orang tuanya tidak mengijinkan Yasa memelihara anjing. Yasa kecewa lalu mogok makan, bolos sekolah, dan jatuh sakit. Saat sedang dalam kesusahan, SI Putih pun datang menolong.

Lakon

[sunting]
  1. Yasa
  2. Putih
  3. Bapak
  4. Ibu
  5. Bima
  6. Pak Made
  7. Pak Nyoman

Lokasi

[sunting]

Desa Buduk, Kecamatan Mengwi, kabupaten Badung, Bali.

Lapangan Desa

Cerita Pendek

[sunting]

Si Putih untuk Yasa

[sunting]
Si Putih bermain di bawah pohon

Keadaan rumah masih sepi saat Yasa pulang. Dia baru saja kembali dari rumah Bima untuk mengerjakan tugas. Jam tangan Yasa menunjukkan pukul lima sore. Yasa menyalakan lampu teras lalu bergegas mandi dan berganti pakaian. Dia kemudian menyiapkan sendiri makanan untuk makan malamnya di dapur. Nasi telur ceplok dan kecap dia santap sendirian di ruang makan. Yasa memang sudah terbiasa memasak makanan untuk dia makan sepulang sekolah karena orang tuanya sibuk berjualan.

“Mungkin toko sedang ramai jadi bapak dan ibu pulang agak terlambat,” pikirnya dalam hati.

Biasanya bapak dan ibu Yasa sudah pulang, karena toko tutup jam empat sore pada hari biasa. Tetapi karena hari ini adalah hari Purnama, banyak pembeli yang datang untuk membeli perlengkapan sembahyang. Toko orang tua Yasa memang akan diserbu pembeli pada hari-hari khusus umat Hindu seperti Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon maupun hari suci lainnya.

Sering kali dia merasa kesepian jika sedang berada di rumah saat orang tuanya belum pulang seperti sekarang. Yasa teringat Bima, teman sekelasnya. Bima juga sering ditinggal sendiri di rumah. Bedanya, Bima selalu ditemani Poleng, anjing berwarna hitam dengan tiga bulatan putih di punggungnya.

Yasa juga ingin sekali memiliki seekor anjing. Pasti akan sangat menyenangkan bermain kejar-kejaran di halaman atau main tangkap ranting bersama anjingnya. Seperti yang dilakukan Bima dan Poleng. Yasa hanya bisa memendam keinginannya. Sudah beberapa kali dia meminta orang tuanya untuk mengijinkan memelihara seekor anjing. Tetapi, bapak dan ibu Yasa selalu menolak.

“Nanti siapa yang urus anjingnya?” pertanyaan itulah yang selalu didapatkan Yasa saat meminta seekor anjing sebagai peliharaan.

Bapak dan ibunya khawatir Yasa tidak bisa mengurus anjingnya kelak. Mereka menganggap dia masih kecil, masih 10 tahun, belum bisa mengurus dirinya sendiri apalagi ditambah seekor anjing. Padahal, Yasa selalu mengerjakan apapun sendiri. Bahkan Yasa juga yang membantu ibunya untuk menyiapkan dan menghaturkan sesajen tiap hari. Kali ini, Yasa membulatkan tekadnya meminta ijin untuk memelihara anjing lagi. Dia sangat berharap bapak dan ibunya mengijinkan.

“Pak, Yasa boleh pelihara anjing ga?” Yasa menghambur ke arah pintu saat mendengar kedua orang tuanya pulang.

“Yasa, bapak sama ibu capek sekali. Sudah, tidak usah minta macam-macam. Belajar saja yang rajin,” jawab bapak Yasa sambil menyentuh kepala Yasa dan berjalan menuju kamarnya.

Yasa kemudian menuju dapur menghampiri ibunya yang sedang menaruh belanjaan.

“Ibu juga capek. Ikutin aja apa kata bapak,” ucap ibu Yasa bahkan sebelum dia bertanya.

Dengan hati kecewa Yasa berlari ke kamar dan mengunci pintu. Dia melempar tubuhnya ke atas kasur. Tak terasa Yasa menangis sendiri di dalam kamarnya. Dia memeluk sebuah kertas dengan gambar seekor anjing kecil yang dia gambar di rumah Bima tadi siang. Yasa pun teringat tugas yang dia kerjakan bersama Bima, meringkas kisah seekor anjing hitam yang mengiringi perjalanan suci Yudhistira dalam kisah pewayangan. Anjing bukan hanya peliharaan, tapi teman yang setia.

“Aku hanya ingin punya anjing,” isaknya lirih sambil memandangi langit-langit kamar. Yasa sangat ingin memelihara anjing. Teramat sangat ingin.

Keesokan harinya Yasa berjalan lunglai menuju sekolah. Rasanya hari ini dia sangat tidak bersemangat untuk belajar.

“Aku bolos saja ah,” batin Yasa dan melangkah menjauh dari bangunan sekolah yang sudah mulai terlihat.

Membolos bukan kebiasaan Yasa. Ada rasa bersalah yang dia rasakan tetapi kakinya tetap berjalan menuju lapangan desa yang bersebelahan dengan sawah tak jauh dari sekolahnya berada. Yasa duduk di bawah pohon mangga di pojok lapangan. Menyandarkan punggungnya ke pohon, dia tertidur.

Entah berapa lama Yasa tertidur, matahari sudah bersinar sangat terik di atas kepalanya. Yasa bangun dengan rasa sakit teramat sangat di perutnya. Yasa memegangi perut sambil mencoba bangkit, tapi dia tidak bisa. Dia teringat tidak ada sedikit pun makanan yang masuk ke perutnya dari pagi tadi. Rasa kecewa pada bapak dan ibunya membuat dia tidak ingin menyentuh makanan di bawah tudung saji yang sudah disiapkan.

“Aduh, sakit banget,” erang Yasa sambil mengatur napas, mencoba kedua kalinya untuk berdiri. Di saat itulah dia merasakan ada sebuah benda kenyal basah menyentuh tangan kiri yang dia gunakan untuk menopang tubuhnya.

Yasa menoleh ke arah tangan kirinya yang kini sudah basah. Seketika Yasa tersenyum dan sekejap lupa akan sakitnya. Di samping kirinya, seekor anjing kecil berwarna putih agak kotor sedang menjilati tangannya. Seolah makhluk kecil itu ingin memberi Yasa semangat. Ekornya bergoyang dan kedua mata bulatnya menatap Yasa yang sedang menahan sakit di perutnya.

Guuk.. guuk.. guuk…

Anjing kecil itu menyalak memutari Yasa, berlari ke arah jalan, menggonggongi orang yang lewat, lalu kembali lagi ke tempat Yasa berada. Dia melakukannya terus menerus hingga seseorang akhirnya melihat tingkah aneh si anjing dan mengikutinya.

“Kamu sedang apa di sini, Nak? Mana demam lagi,” ucap lelaki itu sedikit panik.

Dia menoleh ke kanan dan ke kiri namun tidak bisa menemukan siapapun untuk dimintai bantuan. Dengan sigap, lelaki itu kemudian menggendong tubuh lemas Yasa dan menghentikan seorang pemotor yang sedang melintas.

“Yasa?” pekik pemotor yang mengenali Yasa.

Pemotor itu ternyata adalah Pak Made, guru kelas Yasa. Pak Made dan  Pak Nyoman yang menemukan Yasa bergegas mengantarnya ke Puskesmas dan menghubungi orang tua Yasa. Setelah diperiksa dokter dan diberikan obat, Yasa boleh pulang bersama bapak dan ibunya untuk menjalani rawat jalan di rumah.

“Tasmu dimana, Yasa?” tanya ibunya sambil mengelus punggung tangan Yasa saat sudah berada di dalam kamar.

“Di lapangan dekat sekolah,” ucap Yasa lirih. Seketika, Yasa teringat tentang anjing kecil berwarna putih yang menolongnya tadi siang.

“Apakah anjing kecil itu masih di sana? Apa dia baik-baik saja?” batin Yasa.

  Dia tidak berani bertanya apa-apa pada ibunya yang sudah bergegas menemui bapaknya. Ibu Yasa meminta sang bapak untuk mengambil tas Yasa yang tertinggal di lapangan. Yasa mendengar deru  motor bapaknya menjauh.

  Guk.. guuk.. guuk..

Gonggongan anjing mengagetkan Yasa yang sedang beristirahat ditemani ibunya. Yasa pikir itu adalah gonggongan anjing tetangga.

  Guk.. guuk.. guuk..

Gonggongan itu semakin terdengar mendekat. Rasanya seperti berada di dalam rumah. Anjing tetangga tidak mungkin bisa masuk ke rumah Yasa yang pagarnya selalu ditutup dengan rapat.

  “Bu, ada anjing yang masuk ke rumah kita,” beritahu Yasa pada ibunya. Ibu tersenyum sambil mengelus rambut Yasa. Bersamaan dengan itu, bapak membuka pintu dan masuk ke dalam kamar. Tangan kiri bapak di sembunyikan di belakang badannya.

  “Ada yang mau ketemu kamu, Nak,” kata bapak sambil menunjukkan sesuatu yang dia sembunyikan di balik punggungnya.

  “PUTIH!!!” seru Yasa bangkit dari kasur. Tubuhnya masih belum kuat, namun dia sangat bahagia melihat anjing kecil berwarna putih yang dibawa bapak. Itu Si Putih, anjing yang menolongnya di lapangan.

Yasa turun dari tempat tidur, memeluk Putih dan menangis karena sangat senang. Putih membalas pelukan dengan jilatan di pipi Yasa. Keduanya tampak sangat gembira bisa bertemu kembali.

“Jadi namanya, Putih?” tanya bapak mengelus kepala Yasa dan dijawab anggukan dari Yasa.

”Maafin bapak sama ibu ya, Nak. Kami tidak mau kamu sedih lagi,” ucap ibu.

“Putih sudah menolong kamu, Nak. Jadi kita harus berterima kasih dengan merawatnya dengan baik,” sambung bapak.

“Tapi Putih harus dimandikan dulu,” ibu mengambil Putih dari pelukan Yasa dan membawanya ke kamar mandi untuk dimandikan.

Yasa kembali ke atas kasur dengan tersenyum sangat lebar. Hatinya seperti mau meledak karena bahagia. Akhirnya dia mempunyai anjing. Yasa berjanji akan merawat Putih dengan baik dan mengajaknya bermain juga jalan-jalan sore, menjadi sahabat setia yang menghantarkan pada kebaikan seperti Dewa Dharma dan Yudhistira.