Sosiologi Pedesaan Daerah Aliran Sungai Indragiri/Pengertian Sosiologi dan Sosiologi Pedesaan
Pengertian Sosiologi dan Sosiologi Pedesaan adalah defenisi masing-masing dari sosiologi dan sosiologi pedesaan.
Sosiologi
[sunting]Secara sederhana Sosiologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang bermasyarakat. Berdasarkan Etimologi, sosio (Latin) artinya kawan, teman atau masyarakat dan logos (Yunani) artinya ilmu pengetahuan.
Menurut Auguste Comte Sosiologi adalah disiplin ilmu yang bersifat positif yaitu mempelajari gejala-gejala dalam masyarakat yang didasarkan pada pemikiran rasional dan ilmiah.
Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi berpendapat Sosiologi adalah lmu masyarakat yang mempelajari tentang struktur sosial yakni keseluruhan jalinan sosial antara unsur-unsur sosial yang pokok, seperti kaidah, kelompok dan lapisan sosial, proses sosial: Interaksi dan aktivitas yang terjadi dalam masyarakat serta perubahan sosial, yaitu perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dan pengaruhnya terhadap sistem sosial, termasuk nilai, sikap, dan pola perilaku.[1]
William Kornblum mengatakan, Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari masyarakat dan perilaku sosialnya serta menjadikan yang bersangkutan dalam berbagai kelompok dan kondisi.
P.J. Bouman, berpendapat Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan sosial antar individu dengan individu, individu dengan kelompok, sifat dan perubahan-perubahan, lembaga-lembaga serta ide-ide sosial.[2]
Sedangkan Emile Durkheim menyebut Sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial yaitu fakta-fakta atau kenyataan yang berisikan cara bertindak, cara berpikir dan cara merasakan sesuatu.
Sosiolog lainnya, yaitu Pitirim Sorokin, mengartikan Sosiologi sebagai Ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik di antara berbagai gejala sosial.
Max Weber mengatakan, Sosiologi ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial manusia.
Dari pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa aspek kajian Sosiologi adalah; ajari gejala-gejala rasional dan ilmiah dalam masyarakat, struktur sosiall, proses sosial, perubahan sosial, perilaku sosial masyarakat, hubungan sosial, fakta-fakta sosial, hubungan dan pengaruh timbal balik di antara berbagai gejala sosial serta tindakan-tindakan sosial manusia.
Sosiologi Pedesaan
[sunting]Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan masyarakat pemerintahan, setempat diakui berdasarkan kepentingan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Berdasarkan pendapat para ahli, Sosiologi Pendesaan adalah adalah cabang dari disiplin ilmiah sosiologi yang mempelajari tentang struktur sosial, kondisi, proses dan sistem sosial dari masyarakat pedesaan beserta segala hal yang terkait
Sosiologi pedesaan merupakan bagian dari ilmu sosiologi terapan yang ditujukan bagi masyarakat pedesaan.
Pada masa klasik, sosiologi pedesaan diartikan sebagai keadaan sosial dari desa-desa di Eropa yang menggambarkan perbedaannya secara jelas bila dibandingkan dengan keadaan di kota.
Pada masa modern, sosiologi pedesaan diartikan sebagai cara masyarakat pedesaan dalam menyesuaikan diri dengan kehidupan kapitalisme yang memengaruhi pertanian maupun situasi, kondisi dan potensi desa lainnya. Perkembangan ilmu sosiologi pedesaan berlangsung pesat di Amerika Serikat melalui karya tulis ilmiah T. Lynn Smith dan Paul E. Zopf pada tahun 1970 serta pada tahun 1972 melalui karya tulis ilmiah Galeski.
Sudut pandang tentang sosiologi pedesaan terbagi menjadi sudut pandang klasik dan sudut pandang modern.
Topik utama dalam kajian sosiologi pedesaan, yaitu struktur sosial, organisasi sosial, sistem dasar masyarakat dan proses perubahan sosial.
DAS Indragiri
[sunting]Inderagiri adalah nama sebuah kerjaan/kesultanan. Kesultanan Inderagiri berdiri dan berkembang dalam kurun waktu 1508 - 1800. Wilayah Kesultanan Inderagiri pada sekarang ini terletak di tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Kuantan Singingi, Kabupaten Indragiri Hulu dan Kabupaten Indragiri Hilir.
Perbatasannya ialah pada bagian Selatan berbatasan langsung dengan Provinsi Jambi. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Sawahlunto-Sijunjung, sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Kampar dan sebelah Timur berbatasan dengan Selat Berhala.
Keadaan geografis kawasan Indragiri berupa rawa-rawa di bagian Timur dan dataran tinggi di bagian Barat. Indragiri dibelah oleh sebuah sungai besar yang berhulu di Danau Singkarak. Sejak dari Danau Singkarak hingga perbatasan Sumatera Barat - Riau, sungai ini bernama Batang Ombilin. Memasuki kawasan Kuantan Mudik (Kuantan Singingi) hingga Kecamatan Sei Lala (Kab. Indragiri Hulu) bernama Batang Kuantan. Selanjutnya hingga bermuara di laut di wilayah Indragiri Hilir bernama Sungai Indragiri.
Fenomena Pedesaan DAS
[sunting]Karakteristik pedesaan yang berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) antara lain; struktur lahan terdiri atas lempung berpasir (yang berada di pinggiran sungai), liat berpasir (sekitar 150 m dari pinggir sungai) dan gambut (sekitar 500 m dari pinggir sungai).
Vegetasi yang tumbuh pada tiga jenis tanah itu tentu saja beragam. Dominan rumput yang bersulur, tumbuhan tahan air dan semak belukar.
DAS sangat rentan terhadap banjir pada saat musim hujan dan kekeringan pada saat kemarau. Ancaman lainnya pada musim kemarau adalah kebakaran lahan. Apabila terjadi pada lahan gambut akan meluas dan sulit dipadamkan, karena bara api berada jauh dalam tanah.
Rumah-rumah penduduk umumnya berada di pinggir sungai. Maka nyaris semua aktivitas mandi, cuci dan kakus dilakukan di sungai.
Intinya, sungai merupakan sesuatu yang penting bagi DAS, sehingga semula jadi apapun aktivitas masyarakat DAS dari sungai. Transportasi, pemenuhan kebbutuhan hidup, keperluan kehidupan sehari-hari, bahkan aktivitas ekonomi dipengaruhi oleh sungai.
Nurisma Rahmatika mencatat setidaknya terdapat empat permasalahan yang paling sering dijumpai pada DAS, yaitu: erosi, longsor (pinggir sungai runtuh, ambrol, terban), pemukiman sekitar DAS terlalu padat, dan kekeringan lingkungan sekitar DAS.
Dinas Lingkungan Hidup Buleleng menyatakan DAS di Indonesia mengalami kerusakan sebagai akibat dari perubahan tata guna lahan, pertambahan jumlah penduduk serta kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan DAS. Gejala Kerusakan lingkungan Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat dilihat dari penyusutan luas hutan dan kerusakan lahan terutama kawasan lindung di sekitar Daerah Aliran Sungai.
Pemerintah RI, dalam PP 37/2012 menyebut bahwa telah terjadi penurunan daya dukung DAS yang dicirikan dengan terjadinya banjir, tanah longsor, erosi, sedimentasi dan kekeringan, yang dapat mengakibatkan terganggunya perekonomian dan tata kehidupan masyarakat,[3]
Lebih lanjut disebutkan, pengelolaan DAS yang akan dipulihkan daya dukungnya , meliputi: a).optimalisasi penggunaan lahan sesuai dengan fungsi dan daya dukung wilayah; b) penerapan teknik konservasi tanah dan air dilakukan dalam rangka pemeliharaan kelangsungan daerah tangkapan air, menjaga kualitas, kuantitas, kontinuitas dan distribusi air; c). pengelolaan vegetasi dilakukan dalam rangka pelestarian keanekaragaman hayati, peningkatan produktivitas lahan, restorasi ekosistem, rehabilitasi dan reklamasi lahan; d). peningkatan kepedulian dan peran serta Instansi Terkait dalam pengelolaan DAS; dan/atau e). pengembangan kelembagaan Pengelolaan DAS untuk meningkatkan koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan sinergi lintas sektor dan wilayah administrasi.
Sedangkan pelaksanaan kegiatan Pengelolaan DAS yang dipertahankan daya dukungnya meliputi: a). menjaga dan memelihara produktivitas dan keutuhan ekosistem dalam DAS secara berkelanjutan; b). bimbingan teknis dan fasilitasi dalam rangka penerapan teknik konservasi tanah dan air demi kelangsungan daerah tangkapan air, untuk menjaga kualitas, kuantitas, kontinuitas dan distribusi air; c). peningkatan koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan sinergi antar sektor dan wilayah administrasi dalam rangka mempertahankan kelestarian vegetasi, keanekaragaman hayati dan produktivitas lahan; dan/atau d). peningkatan kapasitas kelembagaan Pengelolaan DAS untuk meningkatkan koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan sinergi lintas sektor dan wilayah administrasi.
Objek Sosped pada DAS Indragiri
[sunting]Kajian sosped pada DAS Indragiri akan lebih difokuskan pada: pemahaman tentang desa di DAS Indragiri dan karakter pemerintahan desanya, karakteristik dan pola komunikasi masayarakat, kearifan lokal DAS Indragiri, sistem sosial budaya masyarakat, struktur sosial budaya masyarakat. lembaga sosial DAS Indragiri, sistem perekonomian masyarakat, perubahan pola pertanian masyarakat, dan mobilitas masyarakatnya.
Referensi
[sunting]- ↑ Mohammad Jamin, Hukum dan Struktur Sosial, 2024, Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret https://spada.uns.ac.id/pluginfile.php/918566/mod_resource/content/2/2%20HUKUM%20DAN%20%20STRUKTUR%20K%20SOSIAL%20%20%281%29.pdf#:~:text=Selo%20Soemardjan%20dan%20Soelaiman%20Soemardi,%2C%20serta%20lapisan%2Dlapisan%20sosial.
- ↑ P.J. Bouman, Sosiologi fundamental, ; diterjemahkan oleh Ratmoko, 1982, Jakarta Djambatan.
- ↑ Pemerintah Republik Indonesia, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI, 2012, Jakarta