Suara Jukung

Setiap subuh, kabut masih menggantung tipis di atas Sungai Martapura ketika Aminah mulai mendayung jukungnya. Perempuan tua itu sudah berpuluh tahun berjualan di Pasar Terapung Banjarmasin. Ia membawa pisang mahuli, ikan sepat asin, dan kue bingka yang ia buat sendiri malam sebelumnya.
Sungai adalah hidupnya. Di atas air, ia tertawa, menangis, dan mencari pendapatan.
“Pagi, Minah!” teriak Juhri dari perahu seberang. Ia menjual hasil tangkapan malam: udang galah dan patin segar.
“Pagi, Bang Juhri. Ada patin?” Aminah menyambut dengan senyum tanpa gigi.
Mereka bukan hanya pedagang. Mereka keluarga yang hidup bersama arus sungai.
Hari itu, pasar ramai seperti biasa. Perahu-perahu kecil saling berdempetan, menjajakan hasil bumi, rempah, dan senyum. Tapi Aminah merasa ada yang berbeda. Seorang pemuda dengan kamera menggantung di lehernya mondar-mandir memotret dari atas jukung sewaan. Ia tampak kagum, tapi juga kikuk.
Aminah mendayung mendekat. “Nak, mau beli kue bingka?” tawarnya.
Pemuda itu tersenyum canggung. “Nggak, Bu. Saya hanya ingin mengambil gambar. Saya dari Jakarta. Baru pertama kali lihat pasar begini.”
“Jangan hanya lihat, Nak. Rasain juga. Kue ini resep nenek saya, sudah turun-temurun”
Ia menyodorkan sepotong bingka. Si pemuda menerimanya, lalu duduk di perahu Aminah. “Namaku Raka,” katanya sambil mengunyah. “Enak sekali…”
Aminah tertawa kecil. “Nama saya Aminah. Sudah 40 tahun saya di pasar ini. Suami saya dulu juga pedagang, tapi dia meninggal karena tenggelam ”
Raka terdiam. “Maaf, Bu…”
“Tidak apa-apa. Sungai ini memang kadang memberi, kadang juga mengambil.”
Mereka mengobrol sepanjang pagi. Raka tak hanya memotret, tapi mulai merekam cerita- cerita Aminah dan pedagang lainnya. Ia tertarik pada kehidupan mereka, pada nilai yang tak tertulis di buku pelajaran mana pun.
Beberapa minggu kemudian, Raka kembali. Kali ini dengan membawa buku kecil berjudul Suara Jukung, kumpulan kisah dari pasar terapung. Ia memberikannya pada Aminah. Di halaman pertama tertulis:
“Untuk Ibu Aminah dan Sungai Martapura, yang mengajarkan bahwa hidup bisa terus mengalir, meski kehilangan pernah datang.”
Aminah membaca dalam diam. Air sungai tenang di bawah jukungnya, seolah ikut mendengarkan.
-Banjarmasin, 2024