Bunga Rampai Kearifan Lokal Nusantara/Sumbang Duo Baleh: Pembentuk Karakter Perempuan Minang
Sumbang Duo Baleh
[sunting]
Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah merupakan perpaduan adat dan agama yang menjadi dasar dalam berperilaku di masyarakat Minangkabau. Dalam adat dan agama, penghormatan pada perempuan berjalan selaras. Perempuan di Minangkabau merupakan Mandeh atau ibu bahkan dapat ditunjuk menjadi seorang Bundo Kanduang yang menjadi Limpapeh Rumah Nan Gadang berperan mengawasi, mengatur segala sesuatu yang terkait dengan tugas wanita secara adat, sumber teladan dan panutan dalam menjaga sikap dan prilaku generasi penerusnya terutama wanita dan sebagai tempat mengadu dan bertanya oleh anak keturunan dan kemenakan.
Begitu penting peran seorang perempuan di Minangkabau sehingga diperlukan suatu sistem nilai dan norma untuk menjaga kehormatan perempuan Minang. Sistem nilai tersebut dikenal dengan “Sumbang Duo Baleh”.
Sumbang diartikan sebagai sesuatu yang salah atau melanggar ketentuan dan norma kesopanan. Sumbang Duo Baleh berisi dua belas perilaku sumbang yang harus dihindari oleh perempuan Minang, yaitu:
Sumbang Duduak
Mengatur bagaimana perempuan Minang duduk yang pantas. Duduk yang pantas bagi perempuan Minang adalah duduk bersimpuh. Tidak boleh bersila seperti lelaki, tidak boleh mengangkat kaki, berjongkok dan duduk di kursi dengan cara menyamping dan merapatkan paha. Apabila berboncengan harus menyamping.
Sumbang Tagak
Mengatur bagaimana perempuan Minang berdiri dengan sopan. Perempuan Minang tidak diperbolehkan berdiri di depan pintu dan tangga tempat orang turun naik. Mereka juga dilarang untuk berdiri di tepi jalan jika tidak ada yang akan ditunggu. Perempuan Minang juga dilarang untuk berdiri bersama laki-laki yang bukan muhrimnya, apalagi berkumpul-kumpul.
Sumbang Bajalan
Mengatur bagaimana perempuan Minang ketika berjalan. Disebutkan di sini, bahwa perempuan Minang saat berjalan tidak boleh sendiri, setidaknya ditemani oleh anak kecil. Berjalan dengan tidak tergesa-gesa dan tidak berlenggak-lenggok. berjalan berhati-hati dengan tenang dan pelan. Saking hati-hatinya sehingga diumpamakan jika semut terinjak tidak akan mati. Jika berjalan dengan laki-laki, maka berjalanlah di belakangnya dan jika berjalan bersama teman-teman, jangan berjalan sampai menutupi jalan.
Sumbang Kato
Mengatur bagaimana perempuan Minang ketika berbicara. Perempuan Minang dalam berbicara haruslah dengan sopan dan mengerti dengan “kato nan ampek”. Mengetahui dengan siapa dia berbicara. Kato mandaki, yaitu cara bertutur kata dengan orang yang lebih tua atau dihormati. Kato manurun, yaitu cara bertutur kata dengan orang yang lebih muda, seperti adik. Kato malereang, yaitu cara bertutur kata dengan orang yang disegani, seperti tokoh adat, agama, dan pemimpin. Dan kato mandata yaitu cara bertutur kata dengan teman sebaya. Berkata dengan lemah lembut, dan bicarakan satu persatu agar paham maksudnya atau tujuannya. Tidak tergesa-gesa, mendayu-dayu atau kegirangan. Jangan menyela saat orang tua berbicara, dengarkan dulu sampai tuntas. Jangan berbicara hal yang kotor dan jorok saat sedang makan, membicarakan kematian di dekat orang sakit. Dan tidak baik, dan tidak terpuji menagih hutang di tengah keramaian.
Sumbang Mancaliak
Mengatur bagaimana perempuan Minang ketika melihat. Kurang baik perempuan yang melamun , membelakangi , dan mematut diri sendiri. Ketika ke rumah orang lain, menjaga pandangan mata, jangan terlalu melihat-lihat ke seluruh rumah. Ketika ada tamu, sebisa mungkin tidak melihat jam agar tamu tidak merasa tersinggung karena dianggap mengusir tamu secara halus. Menjaga pandangan ketika bertatapan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya dengan melihat kea rah lain atau melihat ke bawah.
Sumbang Makan
Mengatur bagaimana perempuan Minang ketika makan. Jangan makan sambil berdiri, dan sambil berjalan. Makanlah dengan tangan, genggam nasi dengan ujung jari, dan bawa ke mulut pelan-pelan dan jangan membuka mulut terlalu lebar. Ketika makan dengan sendok jangan sampai sendok beradu dengan gigi. Makanlah secukupnya dan tidak berlebihan.
Sumbang Pakai
Mengatur bagaimana perempuan Minang ketika berpakaian. Pakaian yang digunakan jangan ketat yang tidak memperlihatkan lekuk tubuh sehingga tidak menjadi tontonan lelaki. Pakaian yang digunakan tidak transparan, tipis dan tembus pandang. tidak terbuka atas bawahnya. Untuk mode dan gayanya, sesuaikan dengan bentuk tubuh, sesuaikan dengan warna kulit , serta sesuaikan dengan tujuan acaranya, agar menarik dilihat.
Sumbang Karajo
Mengatur bagaimana perempuan Minang dalam bekerja. Pekerjaan perempuan adalah pekerjaan yang ringan dan mudah. Pekerjaan seperti membajak sawah, menebang pohon, atau memanjat pohon, hendaknya minta tolong dan diserahkan kepada lelaki.
Sumbang Tanyo
Mengatur bagaimana perempuan Minang ketika bertanya. Perempuan Minang ketika bertanya hendaknya terlebih dahulu mendengarkan orang berbicara atau menjelaskan. Setelah itu jika ada yang ingin ditanyakan maka tanyakanlah tanpa merendahkan atau menguji orang tersebut.
Sumbang Jawek
Mengatur bagaimana perempuan Minang ketika menjawab. Ketika ditanya, maka jawablah dengan baik dan dan hindari jawaban yang membuat orang tersinggung. Jangan asal menjawab sehingga akan membuat orang bertanya berulang-ulang.
Sumbang Bagaua
Mengatur bagaimana perempuan Minang ketika bergaul. Pergaulan perempuan Minang harus terjaga. Jangan bergaul dengan laki-laki yang bukan muhrim, jangan bergaul dengan anak kecil sampai ikut bermain permainan mereka. Dalam bergaul perempuan Minang juga harus menjaga kata-katanya, dan menolong dengan ikhlas
Sumbang Kurenah
Mengatur bagaimana perempuan Minang dalam bertingkah laku. Tingkah laku sehari-hari perempuang Minang haruslah tetap bisa menjaga perasaan orang lain. Jangan berbisik bisik ketika sedang bersama-sama, Jangan menutup hidung dalam keramaian, dan jangan tertawa terbahak-bahak. Jaga lisan dari hal yang akan dapat menyinggung perasaan orang. Menjaga diri agar tidak bersifat munafik.
Sumbang Duo Baleh: Pembentuk Karakter Perempuan Minang
[sunting]
Pesatnya kemajuan teknologi dan informasi membawa banyak perubahan besar. Hal ini tentunya berdampak pada budaya terutama yang berorientasi pada nilai. Perempuan Minang, tidak dapat dibantah juga ikut terlena dengan kemajuan teknologi ini.
Dengan kembali menguatkan Sumbang Duo Baleh terutama pada generasi muda Minangkabau, mereka dapat terhindar dalam melakukan sumbang sebagaimana yang ada dalam Sumbang Duo Baleh, dan tentu pada akhirnya dapat mengangkat harkat dan martabat sebagai seorang perempuan terhormat dan memiliki karakter yang lebih baik sehingga ke depannya mereka akan siap berperan sebagai Bundo Kanduang dalam suku atau kaumnya.