Surga di Telapak Tangan Ibu
Surga ada di telapak tanganmu. Kaulah yang mengantar mereka ke surga.
Pisau tinggi terangkat. Mata baja berkilat. Gagang kayu tergenggam erat. Sekali terayun, kulit tersayat, darah mengalir hebat.
“Kamu kenapa? Masakin air panas, dong!”
Pisau jatuh berdenting. Ujung runcing membentur lantai keramik. Tiba-tiba letih meraja.
Tanpa semangat Ani menjerang air permintaan suaminya.
Di depan kompor gas, Ani terduduk lemas.
Fajar belum merekah ketika suami meminta sambil berkata “Aku ingin bocah perkasa.” Suami terlelap setelah tersenyum puas. Tanpa kata mesra. Tiada cinta atas nikmat surga. Perempuan awal tiga puluh itu tergugu sendiri. Belum empat puluh hari menimang Kiki, menambah ramai suasana selain celoteh Dina dan Wilda. Khawatir. Benih baru tumbuh lagi.