Syal Rasa di Tepi Samudra
"Syal Rasa di Tepi Samudra" by Riky Mandai

Di tepi samudra, ketika arka (matahari) mulai merunduk di pelukan cakrawala, pemuda yang bernama Rendra berdiri mematung. Angin sore mengusap wajahnya, membawa gandha (aroma) garam dan sisa hujan semalam. Di lehernya, syal warisan ibu terikat lembut, seperti pelukan yang tak ingin lepas seakan terus ingin memeluk
Ibunya dulu sering berkata, "Hati punya bahasa yang tak diucapkan bibir, namun dipahami jiwa." Dan kini, di hadapan samudra itu, Rendra merasakan kata-kata itu kembali bergetar di dalam ingatan.
Ombak datang silih berganti, seperti smara (kenangan) yang tak pernah reda. Syal itu menari di antara angin, mengikat segala yang pernah ia cintai dan segala yang pernah hilang. Angin tepi samudra yang membawa rindu... dan angin yang menenggelamkan semu.
Ketika arka tenggelam; Rendra tahu bahwa esok, samudra akan tetap setia, menunggu kisah baru yang mungkin akan ia titipkan di tepi rasa. Melebur; berpadu dengan ombak lautan samudra.