Lompat ke isi

TAKTIK MENDIDIK - Berbagi Praktik Baik Pendidikan/Pendidikan Inklusif: Mengatasi Hambatan, Membangun Kesetaraan

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Peserta Didik Berkebutuhan Khusus

Mengatasi Hambatan, Membangun Kesetaraan

[sunting]

Oleh Yuni Dwi Anggraini, S.Pd., M.Pd.

Pendidikan inklusif di Indonesia didasarkan pada perhatian yang semakin meningkat terhadap pentingnya memberikan kesempatan yang setara bagi semua peserta didik, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan pendidikan khusus[1]. Seiring dengan meningkatnya jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia, meningkat pula kebutuhan untuk mendapatkan pendidikan yang layak bagi anak berkebutuhan khusus. Saat ini, pendidikan inklusif memberikan semangat baru bagi peserta didik berkebutuhan khusus dimana pendidikan inklusif diharapkan dapat mengakomodir semua peserta didik, menghargai keragaman dan tanpa diskriminasi. Namun, pendidikan inklusif bukanlah suatu sistem pendidikan tanpa tantangan dan bebas hambatan. Pendidikan inklusif membutuhkan satu ekosistem yang mendukung tercapainya tujuan pendidikan inklusif yaitu memberikan pendidikan yang layak bagi peserta didik berkebutuhan khusus dan terciptanya iklim inklusif di sekolah.

Siapa saja yang dapat berperan dan berkontribusi dalam hal tersebut? Setiap orang dapat berperan penuh dalam menciptakan iklim inklusif di lingkungan sekolah. Salah satu sosok yang memegang peran utama dalam menciptakan iklim inklusif adalah Kepala Sekolah. Kepala Sekolah memiliki peran besar terutama dalam membuat kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif.

Implentasi dari kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif yang dilakukan oleh kepala sekolah diantaranya adalah menciptakan lingkungan yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi setiap orang yang berada di sekolah. Salah satu langkah dalam menciptakan lingkungan sebagaimana disebutkan sebelumnya adalah dengan melakukan sosialisasi kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif oleh kepala sekolah pada setiap warga sekolah seperti guru, murid, orangtua murid, dan setiap orang yang berada di lingkungan sekolah. Kepala sekolah juga wajib mendukung program peningkatan kompetensi guru terutama dalam mengelola program pendidikan inklusif di kelas yang diselenggarakan dalam berbagai bentuk pelatihan dan implementasi yang dipantau langsung oleh kepala sekolah. Selain itu, kepala sekolah juga dapat menciptakan beragam peluang kerja sama dengan berbagai pihak terkait sebagai upaya untuk menciptakan iklim pendidikan inklusif.

Setelah melalui tahapan implementasi, akan terlihat wujud nyata terciptanya iklim pendidikan inklusif. Hal tersebut dapat teramati, salah satunya, melalui interaksi guru yang baik dengan seluruh peserta didik tanpa kecuali saat memfasilitasi kegiatan pembelajaran maupun kegiatan lainnya. Selain itu, sesama murid juga dapat teramati bermain dan melakukan kegiatan bersama tanpa memandang perbedaan dan membantu jika melihat teman berkebutuhan khususnya memerlukan bantuan. Iklim pendidikan inklusif yang sudah terwujud dengan baik juga dapat teramati melalui terlibatnya orangtua murid sebagai bagian dari warga sekolah. Contohnya, menjadi sukarelawan pendamping peserta didik berkebutuhan khusus dalam kegiatan kunjungan edukasi, melakukan sosialisasi kebijakan pendidikan inklusif pada sesama orangtua, dan memberikan dukungan moril bagi orangtua peserta didik berkebutuhan khusus. Bentuk program dukungan bersama ini dapat meningkatkan solidaritas, kepercayaan diri dan informasi pada orangtua peserta didik berkebutuhan khusus[2]. Iklim inklusif dalam lingkungan pendidikan inilah yang pada akhirnya akan tercipta dalam mengatasi hambatan dan membangun kesetaraan antara seluruh warga belajar di sekolah apapun kondisinya.

Referensi

[sunting]
  1. Sukomardojo, T. (2023). Mewujudkan pendidikan untuk semua: Studi implementasi pendidikan inklusif di Indonesia. Jurnal Birokrasi & Pemerintahan Daerah Volume, 5(2), 205-214.
  2. UNESCO. (2020). Global Education Monitoring Report Summary 2020: Inclusion and education: All means all. Paris, UNESCO.