TAKTIK MENDIDIK - Berbagi Praktik Baik Pendidikan/Student Centered Learning: Educaplay & Station Learning dalam P5
Student Centered Learning: Educaplay & Station Learning dalam P5
[sunting]oleh Nawal El Moutawaqil, M.Pd

Karakter sangat penting untuk mewujudkan Generasi Indonesia Emas 2045. Karakter merupakan fondasi bagi siswa untuk menjadi manusia yang baik dan bijaksana.[1] Karakter dapat memengaruhi kualitas moral siswa Indonesia. Karakter mendorong siswa untuk bertindak jujur, bertanggung jawab, dan peduli terhadap sesama. Karakter menjadi salah satu indikator yang diukur pada Rapor Pendidikan di Indonesia. Karakter yang diukur terkait dengan Dimensi Profil Pelajar Pancasila yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, mandiri, bergotong-royong, berkebinekaan global, bernalar kritis, dan kreatif.[2]

Siswa, di tempat saya mengajar, membutuhkan intervensi khusus dalam meningkatkan karakter mandiri dan bergotong-royong. Berdasarkan data rapor pendidikan tahun 2024, siswa hanya mencapai skor 57,03 dengan predikat menengah pada indikator mandiri. Sedangkan pada indikator gotong royong, siswa hanya mampu mencapai skor 59,78 dengan predikat menengah bawah. Data tersebut menunjukkan bahwa perlu dilakukan langkah khusus dalam mengatasi hambatan yang telah teridentifikasi.
Rendahnya karakter mandiri dan gotong royong tampak saat proses Pembelajaran P5. Saat itu, siswa tengah menyusun laporan proyek P5 untuk dipresentasikan. Saya sudah memotivasi siswa agar mampu menunjukkan karakter mandiri dan gotong royong. Namun, sepertinya motivasi lisan saja tidak cukup. Berulang kali saya mengingatkan siswa untuk mempersiapkan diri agar maksimal menyajikan laporan proyek. Tetapi, perhatian siswa justru teralihkan. Beberapa siswa tampak berusaha berlatih presentasi. Namun, mayoritas siswa justru bercanda atau melakukan hal lain yang tidak relevan. Selain itu, muncul berbagai macam konflik internal kelompok. Ada siswa yang mengeluh karena anggota kelompokknya tidak seluruhnya berpartisipasi bahkan muncul pertikaian.
Saya menerapkan dua hal untuk mengatasi rendahnya karakter mandiri dan gotong-royong. Pertama, saya memanfaatkan Educaplay karena mampu meningkatkan motivasi belajar siswa.[3] Saya menawarkan kuis Educaplay. Siswa tertarik hingga berkenan melakukan persyaratan dari saya. Saya menjelaskan keterkaitan topik kuis dengan laporan proyek tiap kelompok. Setiap kelompok memaparkan proyek yang berbeda-beda. Alhasil, siswa tertarik untuk terlibat dalam kegiatan presentasi. Ketertarikan ini saya manfaatkan untuk menyusun kesepakatan kelas. Saya menyampaikan harapan saya dan menggali harapan siswa. Berdasarkan harapan-harapan tersebut, siswa menyusun kesepakatan kelas untuk mewujudkannya.

Kedua, saya menerapkan Station Learning untuk memupuk karakter gotong royong.[4] Siswa harus menyelesaikan tantangan di tiap pos belajar. Untuk mengendalikan rotasi kelompok, saya memberikan kartu kendali. Kerjasama yang baik menentukan kualitas keberhasilan dalam menghadapi tantangan. Saya mendesain tiap tantangan secara interaktif menggunakan kuis Educaplay. Educaplay menyajikan fitur kuis yang beragam sehingga siswa mendapatkan pengalaman baru di tiap pos belajar. Saya juga merasa terbantu dalam proses memberikan umpan balik. Siswa mendapatkan cap predikat sesuai hasil pengerjaan kuis interaktif.
Penerapan Educaplay dan Station Learning dalam P5 dapat meningkatkan karakter mandiri dan gotong royong. Siswa menjadi lebih termotivasi dalam mempersiapkan laporan proyek secara mandiri (tanpa diingatkan berulang kali). Selain itu, siswa juga tampak mampu melaksanakan gotong royong secara baik pada kegiatan Station Learning. Namun, motivasi tersebut hanyalah motivasi eksternal. Saya berharap, siswa mampu membangun motivasi internal sehingga perubahan baik itu muncul karena kesadaran diri.
Referensi
[sunting]- ↑ Sudrajat, A. (2011). Mengapa pendidikan karakter?. Jurnal pendidikan karakter, 1(1). https://doi.org/10.21831/jpk.v1i1.1316
- ↑ Maruti, E. S., Malawi, I., Hanif, M., Budyartati, S., Huda, N., Kusuma, W., & Khoironi, M. (2023). Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) pada Jenjang Sekolah Dasar. Abdimas Mandalika, 2(2), 85-90. https://doi.org/10.31764/am.v2i2.13098
- ↑ Najib, A., Martati, B., & Faradita, M. N. (2024). Analisis Keterampilan Kolaborasi Siswa Sekolah Dasar Dengan Menggunakan Media Pembelajaran Berbasis Games Educaplay Pada Pembelajaran IPAS. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 9(3), 1964-1978. https://doi.org/10.23969/jp.v9i3.16995
- ↑ Sari, I. K. (2021). Blended learning sebagai alternatif model pembelajaran inovatif di masa post-pandemi di sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 5(4), 2156-2163. https://doi.org/10.31004/basicedu.v5i4.1137