Lompat ke isi

Tak Punya Sayap Bukan Berarti Tak Dapat Terbang

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Dibuat untuk diikutsertakan dalam lomba Yuwana Wiki Pedia

[sunting]

karya Defi Riani

[sunting]

Sinopsis

[sunting]

Ilham, seorang anak yang memiliki mimpi menjadi pemain sepak bola dunia. ketika ia mengetahui bahwa sebentar lagi sekolahnya akan mengikuti lomba sepak bola sekabupaten, ia mulai berlatih dan mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba itu. Dengan semangatnya yang berkobar dan membara, ia mampu melewati semua kesulitan yang menerjangnya. Dengan motivasi dari kedua Mega Bintangnya, ia kembali bangkit dan mulai mengejar mimpinya.

Tokoh

[sunting]

Ilham

Pak Rian

Ibu

Bu Guru Asri

Lokasi

[sunting]

Sekolah

Rumah

Cerita Pendek

[sunting]

Kecewa

[sunting]

Namaku Ilham, aku duduk kelas tiga sekolah dasar di kota Serang. Aku mempunyai hobi bermain bola, setiap  hari aku selau bermain bola sehabis solat Ashar. Orang tuaku pernah memarahiku karena aku terlalu sering bermain sepak bola. Apalagi sebulan lagi sekolahku akan mengikuti lomba sepak bola sekabupaten Serang. Aku sangat bersemangat ketika aku  mendengar akan hal itu. Namun, saat aku melihat papan pengumuman sekolah, semangatku langsung menghilang. Namaku tidak tercantum diantara deretan nama anak-anak yang akan diikut sertakan dalam pertandingan itu. Wajahku langsung murung seketika, semangatku yang membara kini hilang tak berbekas.

Pulang sekolah teman-temanku mengajaku untuk bermai bola seperti biasanya. Aku menolak mereka dengan alasan ada PR yang tidak bisa aku tinggalkan. Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamarku dan melemparkan tubuhku diatas kasur bergambar bola itu. Ibuku keheranan melihat sikapku yang tiba-tiba murung seperti itu. “ Ham....ham” panggil Ibu yang dari tadi mengetuk kamarku dengan nada yang terdengar cemas. “ kamu kenapa Ham?...., ada masalah apa? Sini cerita sama Ibu!” rayu Ibuku.

“ gak Bu!, gak ada apa-apa” ucapku memberi penjelasan kepada ibu yang masih menunggu jawabanku.

“........” hening.

“ Ooo...Ibu mau pergi dulu sebentar, kamu jangan kemana-mana ya” pinta Ibu sambil berjalan menjauh dari kamarku.

           Kamarku adalah kamar terbaik di rumah ini, sekiranya itulah penilainku terhadap kamar ku sendiri . Kamar ini Ku dekorasi sedemikian rupa, semua bertemakan sepakbola. Mulai dari kasur yang bergambar bola, selimut yang bergambar grup-grup bola, lemari bergambar pemain-pemain bola terkenal dunia, dan tak lupa foto pemain bola tervaforitku yaitu “ Cristiano  Ronaldo dan Lionel Messi” yang ku pajang di dinding kamarku. Mereka adalah idola dan penyemangatku dalam bermain bola. Suatu saat aku ingin seperti mereka, dan menjadi pemain terbaik dunia seperti mereka.

Aku berdiri dan memandang kedua foto tersebut, aku mengeluarkan seluruh keluh kesahku dihadapan mereka. Aku meyangkan kenapa sekolahku tidak memilihku untuk lomba  itu!. Kenapa sekolahku tidak mengadakan seleksi terlebih dahulu untuk mengetahui mana murid yang berbakat dalam permainan sepak bola! kenapa mereka tidak melirikku. Perasaan lega datang setelah aku mencurahkan seluruh isi hatiku pada foto mereka berdua. Aku memandang kedua foto tersebut lebih dalam lagi. Dalam pikiranku mereka seolah berkata “ you can do it.” Aku membayangkan kedua Mega Bintang itu memberikan sem angat kepadaku. Kata-kata mereka seakan -akan merasuk kedalam tubuhku dan membuat semangatku kembali berkobar.

           Hari berganti malam, malam berganti pagi dan pagi berganti petang. Aku sudah bersiap untuk  bermain bola bersama teman-temanku di lapangan dekat sekolah kami. Aku menenteng sepatu dan makanan yang sudah disiapkan oleh Ibu. Dilapangan sepak bola itu aku bermain dengan semangat dan berusaha melupakan seluruh masalah dan kekesalan yang sedang melanda diriku. Aku bermain mengikuti semua gerakan yang terekam dari permainan-permainan dua pemain idolaku itu. Aku meloncat, menyundul dan menggiring bola mengikuti gerakan yang ku ingat itu. Saat peluit wasit yang dibunyikan oleh temanku berbunyi, pertanda bahwa permainan telah berakhir dan dimenangkan oleh timku. Aku berlari menuju samping lapangan, aku merebahkan tubuhku diatas rumput yang berwarna hijau itu. Ku biarkan suara anak-anak yang sedang bersorak dan saling membanggakan klub mereka masing-masing. Yang kalah tak terima dengan kekalahannya, dan yang menang menyombongkan diri mereka dan merasa bahwa mereka adalah yang terbaik. Ku pejamkan mataku dan berusaha membuang suara bising  itu. Tiba- tiba terdengar suara seseorang yang kukenal “ permainan kamu bagus juga”. Suara itu membuatku terbangun, aku sedikit kaget ketika yang ku lihat ternyata adalah guru olahragaku, Pak Rian.

“ Pak Rian” ucapku sambil mencim tangannya untuk bersalaman.

“ Seberapa suka kamu dengan sepak bola” tanya pak Rian yang tiba-tiba mengintrogasiku tentang sepak bola.

“  Bola itu  sebagian dari jiwa saya Pak” ujarku memberikan jawaban.

“ Seberapa hebat kamu bermain bola” lanjut Pak Rian.

“ ........ .Saya gak tau pak, saya belum bisa menilai permainan saya” jawabku merendah.

“ Permainan kamu bagus, tapi kurang indah.” Mendengar pujian sperti itu cukup membuatku bahagia dan merasa bahwa ada orang yang menghargai permainanku. “ kalau kamu ingin menjadi Bintang dunia, kamu masih kurang ” lanjut Pak Rian sambil berdiri dan mulai berjalan meninggalkanku.

“ Tapi, saya yakin suatu saat kamu bisa menjadi pemain yang handal.” Lanjut Pak Rian sebelum berjalan menjauh dariku.Kata-kata pak rian memberikan semangat tersendiri kepadaku, aku semakin bersemangat dalam mengembangkan bakat bermaain bolaku.

Kesempatan

[sunting]

Keesokan harinya aku sedang duduk bersama beberapa sahabatku di kantin sekolah. Tiba- tiba salah seorang kakak kelasku yang bernama Heru masuk dan mencari-cari keberadaanku. Setelah melihatku, ia langsung mendekatiku dan berkata bahwa aku dipanggil oleh Bu Asri. Aku heran sekaligus kaget, kenapa wali kelasku itu tiba-tiba memanggilku. Dengan cepat Aku langsung berdiri dan berjalan menuju kantor sekolah.

Assalamualaikum” ucapku sambil berdiri di depan kantor sekolah.

Wa’alaikumussalam” jawab orang-orang yang berada disana.

“ Silahkan masuk!” pinta seseorang yang suaranya sudah tak asing lagi di telingaku. Aku langsung menuju ruangan Bu Asri yang terlihat sedang menulis beberapa kata di atas kertas yang berada di depannya.

“ Silakan duduk Ham!” pinta Bu Asri. Aku duduk berhadapan dengan Bu Asri, Jantungku berdebar dan keringat dingin membasahi tubuhku.

“ Gimana kabar kamu Ham?” tanya bu Asri memulai pembicaraan.

[sunting]

“  Alhamdulillah, baik Bu!”

“ Kamu senang main bola kan?”

“ Iya Bu” jawabku antusias.

“ Jadi gini, sebelumnya Ibu mengucapkan selamat untuk kamu Ham, karena kamu terpilih untuk mewakili sekolah kita dalam perlombaan sepak bola sekabupaten Serang.”

“ Be..beneran Bu” tanyaku tak percaya mendengar hal itu.

“ Iya, selamatya!, mulai sore ini kamu sudah bisa bergabung latihan dengan anak-anak yang lain.” Jelas Bu Asri.

“ Siap! Bu makasih!” ucapku sambil mencium tangan Bu Asri.

“ Sekarang kamu boleh keluar. Sekali lagi, selamat ya!”

             Sore ini aku berdiri di lapangan sekolah, waktu latihan dimulai dari sehabis Ashar sampai jam setengah enam sore. Aku datang paling awal dari semuanya, aku sudah tak sabar lagi untuk berlatih bersama kawan-kawanku. Tak lama kemudian orang-orang yang terpilih untuk lomba ini pun datang, dan dibelakang mereka berdiri Pak Rian yang berdiri gagah seperti  pelatih terkenal Indonesia Shin Tae Yong. Kami berkumpul ditengah lapangan, sambil berdiri di hadapan Pak Rian. Sebelum berlatih pak rian memberikan sedikit motifasi dan masukan agar sekolah kami bisa lolos di babak penyisihan.

“ Ilham kenapa kamu mau ikut lomba ini?” tanya pak Rian dengan nad yang tegas.

“ Saya ingin membawa sepak bola Indonesia terkenal di Dunia Pak!” jawabku dengan semangat.

“ Bagus” seru pak Rian sambil tersenyum puas. “ sekarang saatnya kita berlatih dengan keras dan buktikan bahwa Indonesia mampu. Sorakan semangat kami luapkan, Kami yakin dengan usaha yang keras kami dapat terbang tinggi ke Angkasa.

Usaha Tidak Pernah Menghianati Hasil

[sunting]

Sorakan penongton memenuhi lapangan yang mulai ramai oelh teriakan mereka. Hari ini adalah hari penentuan pemenang Perlombaan Sepak Bola ini. Hatiku berdebar tak menentu, suaranya tak karuan seperti suara jam yang rusak. meskipun begitu, aku senang akhirnya sekolahku dalam maju ke semi final. Peluit telah ditiup pertanda permaian dimulai. aku sedikit hawatir dengan lawan kaami sekarang, lawan kami ini adalah juara bertahan empat musim. aku menduduki posisi sebagai gelandang tengah, aku berharap dapat mencetak gol untuk sekolahku. waktu terus berjalan tak terasa waktu untuk babak pertama habis, dengan hasil perolehan 2:0 yang dimenangkan oleh pihak lawan. saat waktu istirahat, kami berkumpul disamping lapangan, kami mendengarkan Pak Rian yang sedang memberikan masukan dan beberapa strategi agar kami daapat membalikan keadaan. aku sempat merasa putus asa karena kaapi kebobolan dua gol. Namun, Pak Rian terus memberikan kami semangat dan motivasi.

" Prit....prit" wasit telah membunyikan peluit pertanda bahwa istirahat telah selesai dan pertandingan akan segera dilanjutkan. Aku segera berlari ketengah lapangan dan bersiap melakukan serangan. Aku berlari menggiring bola, mengoper kesana kemari, dan mencoba membobol gawang lawan. Semua usahaku sia-sia, semua upaya yang kami lakukan seperti tak berbekas pada mereka. Kulihat waktu yang pertandingan, tersisa lima belas menit lagi, dan permainan kan berakhir. Aku benar-benar putus asa, aku melihat sekelilingku, semua sorakan dan dukungan yang diberikan penongton membuatku berfikir, dan tiba-tiba aku teringat kepada kedua idolaku. Aku merasa semangatku kembali bangkit, aku membayangkan sedang bermain dengan kedua Mega Bintang itu. tak lama salah seorang temanku mengoper bola kepadaku, aku tak akan menyia-nyiakan peluang ini. Aku berlari dan menggiring bola ke gawang lawan. Aku melihat sedikit celah, tanpa berpikir panjang, aku langsung menendang bola ke arah gawang itu, dan " Goool..." suara penongton dan wasit dengan serentak. Seluruh temanku mendatangiku dan memeluku.

Akhirnya

[sunting]

Aku sedang menggiring bola kearah gawang lawan, setelah mencetak satu gol tadi, kami langsung melancarkan serangan kembali ke gawang lawan. waktu hanya tersisa lima menit lagi. aku terus berkonsentrasi dengan bola yang ku giring ini. penjagaan lawan semakin ketat, aku sedikit kesulitan. Namun, aku melihat sedikit celah, tanpa membuang waktu, aku langsung menendang bola ke arah gawang. Namun, bola itu terkena tiang gawang danterpental, akhirnya bola itupun melambung tinggi. Aku langsung berlari dan mengejar bola itu. Di depanku tim lawan berlari dan mengejar bola itu juga. bola itu kini masih melambung tinggi di udara, aku melihat posisi lawan tepat di tempat bola itu akan jatuh. Dengan cepat aku meloncat dan menyundul bola itu, tak lama terdengar suara peluit. Badanku terjatuh dan aku merasa sedikit nyeri aku merasa hening untuk sesaat, namun tiba-tiba teriakan keras terdengar " goool....goool....gool". Aku lansung terbangun dan mencoba berdiri, teman-temanku datang bersama Pak Rian. Kami saling berpelukan dan menangis karna terharu. Aku tersenyum lebar, aku merasa usaha dan do'a kami selama ini tak sia-sia.

Intisari

[sunting]

Tak Punya Sayap Bukan Berarti Tak Dapat Terbang mengajarkan pada kita tentang betapa pentingnya sebuah usaha. Semangat dan usaha adalah modal utama bagi seseorang untuk menggapai mimpi yang sekalipun mustahil untuk digapai. karena cara untuk terbang tidak hanya dengan sayap.