Lompat ke isi

Tanah yang Dihormati, Tanah yang Dikhianati/Ruang Gelap

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Di antara gelapnya sudut ruang, aku tengah berjinjit di atas kursi yang beberapa saat lalu kutarik dengan susah payah, meraba-raba tumbu dari anyaman bambu yang tergantung tali yang menjulur kebawah dari langit-langit,mencari korek api letak korek api yang bahkan aku sendiri tidak dapat melihatnya. Satu-satunya yang kuandalkan hanyalah tanganku ini yang menjadi mataku untuk mencari letak korek api tersebut.

Sudah sudah terhitung empat kali panen di sawah kami, Ayah belum pulang, sejak saat orang-orang berbaju hijau itu mendatangi rumah kami. Aku masih ingat saat itu aku tengah terbangun saat tiba-tiba ada tamu orang yang tidak dikenal bertamu di tengah malam-malam. Saat itu aku baru terlelap beberapa menit setelah seharian membantu Ibu menjaga toko sayur, saat sayup-sayup mataku tengah meredup mengantuk, aku memkasakan diri untuk mengerjakan mengerjakan tugas bahasa Indonesia ku yang kebetulan mata pelajaran yang paling tidak kusukai, sastra.

Aku tidak mengetahui apa yang Ayah sebenarnya kerjakan, kata teman-temanku di sekolah menyebut kalau ayah adalah seorang penghianat, yang menjual negaranya kepada orang asing sehingga membuat oranng-orang kampung menjadi murka

Terkadang ayah pulang dengan membawa kumpulan lembaran-lembaran pamflet, salah satu pamflet yang aku ingat terdapat sebuah puisi, yang itu bentuknya berbeda dengan puisi yang ada dalam tugas bahasa Indonesiaku. Di dalam pamflet itu terdapat puisi yang berjudul yang sedang sekarat. Aku baru mengerti kalau sebuah puisi bisa menggunakan kata-kata yang lugas seperti itu, tanpa menggunakan kata-kata yang sukar dimengerti.