Lompat ke isi

Tangan Kotor dibalik Layar

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Cerita yang sederhana namun begitu kuat meninggalkan kesan pada hati pembacanya. Begitulah kata pertama yang saya akan ucapkan pada buku Puthut EA inikarena cerita yang begitu sederhana namun hidup kuat dan lekat dalam kehidupan kita. Banyak dari dialog dalam buku ini natural dan tidak dibuat-buat untuk menciptakan suatu impresi tertentu. Dijaga tetap natural hingga akhir buku dengan menimbulkan aura tersendiri bagi yang membacanya. Unsur cerita yang tidak terlalu kompleks dan detail-detail keseharian budaya Jawa kental dalam ceritanya. Mulai dari kuliner, kebiasaan baju, hingga tutur bicara pun dekat dengan realistas masyarakat khususnya dalam kasus percakapan santai teman sehari-hari. Hari-hari yang dilewati Hammam tidak pernah sempurnah dan penuh masalah, ini kembali dekat dengan realitas hidup saat ini. Dan elemen yang paling kuat di dalam buku ini adalah kekuatan relasi politiknya. Bagaimana relasi antara penguasa negara dna juga padepokan bekerja dengan menghadirkan 2 kubu yang berlawanan dalam negara yakni antara oposisi dan juga pemerintahan sama-sama meminta wejangan politik ke padepokan ini.

Interaksi padepokan dan juga kedua kubu ini tidak berjalan dengan baik. Oposisi maupun pemerintah tidak mendapatkan apa yang mereka mau yakni “dukungan politik” karena padepokan sendiri bukanlah komunitas yang tertarik ikut campur maupun membahas masalah perpolitikan, mereka hanya tertarik membahas mengenai sejarah nusantara dan keislaman. Mengapa padepokan memiliki banyak pengunjung adalah karena pada awalnya ketenaran mas Ikhsan sebagai pemimpin padepokan sendirilah yang sering muncul di berbagai media sehingga orang menganggapnya mas Ikhsan adalah orang pintar. Dan memang iya walaupun lebih pas ketika mas Ikhsan disebut sebagai orangyang bijaksana. Karena kebijaksanaanya yang dihargai itulah padepokan dinilai sebagai tempat yang wajib didatangi oleh orang yang memiliki hajat khususnya hajat-hajat politik. Karena hampir seluruh orang yang datang kesana hajatnya terkabul. Dari relasi tersebut padepokan mulai memiliki pengaruh besar dalam perpolitikan baik lokal maupun nasional.

Cerita diakhiri dengan sebuah surat misterius dan jam tangan kepada Hammam yang jam tersebut sudah lama ia inginkan. Pengirimnya siapa ? Hammam juga tidak tahu tentang hal itu. Yang dapat kita perkirakan di dalamnya hanyalah pada saat peristiwa Hammam meliput laporan tentang seorang penipu lulusan SMP yang berhasil menipu banyak orang bahkan hingga doktor-doktor universitas pun tertipu. Dari karikatur sederhana tersebut sedikit menjawab misteri yang ada di dalam buku tentang siapakah pengirimnya? Sebuah kisah yang sederhana namun hidup dan dekat dengan realitas.[1] 8/10

Referensi

[sunting]
  1. EA, Puthut. (2024). Tangan Kotor di balik Layar. Indonesia: Shira Media.