Tari Gandrung Banyuwangi/Filosofi Motif Gajah Oling dalam Kostum Gandrung
Filosofi Motif Gajah Oling dalam Kostum Gandrung
[sunting]oleh : Muklina Faizah
Banyuwangi merupakan salah satu provinsi yang mempunyai beragam batik dan corak yang sudah melekat pada budayanya. Batik merupakan industri yang dikembangkan untuk melestarikan budaya serta filosofi yang terkandung pada suatu daerah lebih khususnya daerah Banyuwangi.
Salah satu batik khas daerah Banyuwangi yakni batik gajah oleng, Sejarah batik gajah oling berkembang sejak abad ke 16-17. Dari sisi etnologi, diketahui bahwa pemahaman motif batik Gajah Oling ini rata-rata lebih menggunakan pendapat masyarakat masa kini yang berarti binatang sejenis belut, menurut (Estetika et al., 2022)
batik gajah oling juga dipakai sebagai busana tari daerah Banyuwangi biasa dikenal sebagai tari gandrung, dalam hal ini batik gajah oleh mempunyai filosofi yang mempunyai warna merah, hitam, dan kuning emas. Warna hitam memiliki arti keangkeran, kebajikan, dan kebatilan yang bersimbol dari perilaku atau kejelekan manusia yang tertutup dalam penari Gandrung. Warna merah memiliki arti kekuatan yang memiliki makna untuk selalu kuat, nantang, dan berani sebagai penari Gandrung dalam melawan penjajah. Warna kuning emas memilki arti keagungan bagi penari Gandrung (sang Ratu) yang memiliki simbol daya magis dan warna kejayaan. (Negara, 2012).
Filosofi batik Gajah Oling dalam tari Gandrung Banyuwangi mencerminkan nilai-nilai kehidupan yang mendalam sekaligus identitas budaya masyarakat Using. Motif ini tidak hanya sekadar hiasan busana, melainkan juga sarat makna simbolik yang mendukung ekspresi tari Gandrung. Warna hitam dalam batik Gajah Oling melambangkan sifat dualitas manusia—antara kebajikan dan kebatilan—yang memberi pesan tentang introspeksi diri. Sementara itu, warna merah menggambarkan keberanian, kekuatan, dan semangat juang penari Gandrung yang dahulu juga menjadi simbol perlawanan masyarakat terhadap penjajahan.
Di sisi lain, warna kuning emas melambangkan keagungan dan kejayaan, yang menempatkan penari Gandrung sebagai sosok Ratu yang berwibawa sekaligus sakral. Kehadiran batik Gajah Oling dalam tari Gandrung menjadi bukti bahwa kesenian Banyuwangi bukan hanya hiburan, melainkan juga sarana penyampai pesan moral, spiritual, dan historis. Dengan demikian, filosofi batik ini memperkuat identitas tari Gandrung sebagai warisan budaya yang memadukan estetika, simbol perlawanan, serta penghormatan pada nilai-nilai luhur masyarakat Banyuwangi.