Tari Gandrung Banyuwangi/Filosofi Omprok Gandrung
Filosofi Omprog Gandrung
[sunting]Oleh: Afin Yuliani
[sunting]
Tari gandrung merupakan kesenian tradisional yang popular di Banyuwangi. Acap tampil di berbagai acara, gandrung selalu diiringi oleh alat musik khas yang terdiri dari biola, kethuk, kendang, gong, dan kluncing. Saat musik bergema di atas panggung, para penari gandrung akan tampil gemulai seraya menebar sampur atau selendangnya. Sementara kepalanya yang berhias mahkota akan bergerak mengikuti irama. Nampak elok ketika kembang goyang yang terpasang di bagian atas mahkota turun berayun-ayun selaras dengan gerak kepala sang penari.
Omprog, demikian orang Banyuwangi menyebut mahkota yang dikenakan sang penari gandrung. Omprog terbuat dari kulit kerbau yang disamak dan diberi ornamen berwarna emas dan merah serta perpaduan tokoh wayang yaitu sayap Gatotkaca dan badan ular Antareja, putra Bima yang menutupi seluruh rambut penari Gandrung, seperti tertera dalam laporan penelitian Sofia Sulistiana.
Tidak sekadar hiasan semata, ada filosofi mendalam dibaliknya. Dikutip dari laporan penelitian Widya Adi Ardhana, berikut ini makna bagian-bagian Omprog atau mahkota penari gandrung Banyuwangi:
1. Pilisan
Di bagian pilisan terdapat ukiran berbentuk melati yang melambangkan pemikiran jernih
2. Pembatas antara Pilisan dan Bathukan
Pembatas yang terletak di antara bagian pilisan atau bathukan ini menggambarkan bahwa hidup manusia harus memiliki batasan yang jelas, agar manusia hidup dalam keteraturan.
3. Wayangan bentuk kepala Gatotkaca berbadan ular atau naga.
Bentuk kepala Gatotkaca pada bagian wayangan melambangkan ksatria, sementara bagian badannya yang berupa ular berarti keabadian. Namun, tidak hanya itu saja. Bentuk kepala Gatotkaca berbadan ular tersebut juga menggambarkan kesetiaan warga Banyuwangi terhadap budayanya dan bagaimana mereka menjunjung tinggi nilai perjuangan yang telah ditunjukan pendahulunya saat memperjuangkan bumi pertiwi dari penjajah.
4. Nanasan yang berbentuk seperti gunungan wayang dengan ujung tiga
Nanasan yang memiliki bentuk seperti gunungan pada wayang kulit dengan ujung tiga menjadi perlambang sandang, pangan, dan papan serta simbol kehidupan dari masyarakat jawa
5. Ombyog yang terbuat dari untaian manik-manik
Ombyog berada di bagian belakang bawah omprog, jika bergerak bagian ini akan meliuk-liuk seperti ombak. Gerakan dari ombyog ini mengingatkan bahwa hidup manusia selalu bergerak. Terkadang berada di atas, terkadang berada dibawah.
6. Keter atau kembang goyang
Keter atau kembang goyang yang berjumlah tiga menggambarkan hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, serta manusia dengan Tuhannya.
Referensi
[sunting]Sulistiana, S. 2020. Omprog Gandrung Banyuwangi Sebagai Sumber Ide Penciptaan Motif Batik Dalam Busana Pesta Malam. Institut Seni Indonesia Yogyakarta. https://digilib.isi.ac.id/10189/4/JURNAL.pdf
Ardhana, W.A. 2018. Perkembangan Bentuk dan Makna Motif Omprog Gandrung Banyuwangi. Universitas Negeri Yogyakarta. https://eprints.uny.ac.id/57843/