Tari Gandrung Banyuwangi/Sejarah Tari Gandrung
Sejarah Tari Gandrung
[sunting]Tari Gandrung merupakan tari tradisional Banyuwangi yang memiliki sejarah panjang. Bila ditelusuri, tarian ini sudah ada sejak tahun 1801, yang mana saat itu dikenal dengan Gandrung Seblang. Dengan tujuan awal sebagai ungkapan rasa terima kasih dan syukur masyarakat Using (Suku Asli Banyuwangi) kepada Dewi Sri atas panen padi yang melimpah. Tari Gandrung mulanya ditarikan oleh penari laki-laki dewasa atau dikenal Gandrung Lanang. Pada tahun 1816, sebutan Gandrung Seblang berubah menjadi Gandrung Banyuwangi. Kemudian, Gandrung yang awalnya berfungsi sebagai ungkapan syukur, kemudian berubah menjadi sarana hiburan bagi masyarakat Banyuwangi.[1]
Pada tahun 1890-an, fungsi Gandrung selain sebagai hiburan, juga sebagai alat perjuangan Rakyat Banyuwangi. Karena waktu itu, pertunjukan ini sering diundang oleh Belanda. Para Gandrung Lanang bisa berinteraksi langsung dengan penjajah. Di saat itulah para penari membaca taktik penjajah, lalu informasi tersebut disampaikan kepada para pejuang. Tokoh Gandrung Lanang yang terkenal di era ini adalah Gandrung Marsan.
Seiring perkembangan zaman, perempuan dianggap lebih menarik untuk menarikan tarian ini. Sehingga yang awalnya Gandrung ditarikan oleh laki-laki, bergeser ke perempuan. Penari Gandrung perempuan pertama bernama Semi dari Kelurahan Cungking. Ada kisah dibalik perempuan ini menjadi seorang penari Gandrung. Hal ini bermula saat Semi sakit yang berkepanjangan dan tak kunjung sembuh. Akhirnya, Mak Midah (ibunya Semi) bernazar bahwasanya jika anaknya sembuh maka dia akan dijadikan Seblang (penari). Tidak lama kemudian, Semi benar-benar sembuh dari penyakitnya. Teringat dengan nazarnya, Mak Midah meminta Semi menghirup asap dupa yang dibakar di atas kemenyan. Akibatnya gadis ini terjatuh, kemudian melakukan gerakan-gerakan seperti pada Tari Gandrung. Sedangkan ibunya, Mak Midah kesurupan dan melantunkan tembang-tembang kuno. Dalam peristiwa ini masyarakat sekitar menganggap janggal, karena si Semi tidak bisa menari. Namun, tiba-tiba ia sangat pandai menari. Sejak saat itu ia dijadikan penari Gandrung untuk menggantikan Marsan, penari Gandrung Lanang sebelumnya.[2]
Di tahun 1950-an seiring banyaknya pendatang dari luar seperti Madura dan Bali, Gandrung bukan hanya menjadi sarana hiburan tetapi juga menjadi salah satu cara untuk mempertahankan identitas budaya rakyat Banyuwangi.
Tari Gandrung mencapai popularitasnya di era 80-an hingga 90-an. Yang mana saat itu, tarian ini sering tampil di berbagai festival seni di seluruh Indonesia. Saat ini pertunjukan tari ini juga semakin mudah ditemui di ragam acara seperti pesta perkawinan, penyambutan tamu pejabat, peringatan hari besar, selamatan desa, dan event pariwisata seperti Festival Gandrung Sewu yang diadakan setahun sekali.