Tayuh
Tampilan
Tayuh Tung Widut
Dapur terbuka milik bu Wid dihiasi secangkir teh panas di meja kayu. Dia menyeruput sedikit demi sedikit cairan coklat di dalam gelas. Sambil menikmati kolam kecil.
“Dik tadi sepulang jum'atan pak Toyo menghentikan langkahku. Sebenarnya sepeda motornya sudah di stater, tahu saya dimatikan lagi. Berlari menuju ke arahku, “ kata pak Im memecah kesunyian.
Teh yang berada digelar sedikit terperanjat.
“tanya bu wid datar.
“Menawarkan sawah. Katanya nggak luas. Hanya sekitar 60 ru,
“ lanjutnya.
Cerita pun berlanjut tentang silsilah keluarga pak Toyo. Tak ada sangkut pautnya dengan tanah. Teh manis dalam gelas telah habis. Habis pula pembicaraan santai pasangan suami istri itu.
Bu Wid merebahkan badannya di springbed usang miliknya. Springbed yang dia beli tiga puluh tahun lalu. Cafer merah yang membungkus sudah robek sana sini. Beberapa pir besi mencuat menebus busa. Kesederhanaan sebagai seorang pensiunan guru sangat tercermin dalam kehidupan yang sehari-hari. Lugu, sederhana, tak banyak cerita kemewahan setiap harinya.
Seluruh badan kini tersangga spring bed. Matanya menerawang jauh menembus langit-langit usang rumah tua warisan nenek. Berkelana ke enam bulan lalu. Enam bulan yang sedikit catatan tentang anak sulungnya.
“Buk, nabunglah. Belikan aku tanah di Yogya. Suatu saat aku akan kerja dan bangun rumah di sana, “ kata Ahlan sang anak.
Membaca kesederhanaan sang anak persetujuan dihiyakan. Kembali hidup bu Wid sesederhana mungkin. Setiap hari berlaku seadanya. Sayuran diambil dari tanaman sendiri di belakang rumah. Daun ketela, bayam, sawi, kangkung. Diputar untuk teman santap nasi setiap hari. Bayangan anak yang mempunyai rumah sendiri menjadi sebuah impian. Impian itu diusahakan pada sebuah liburan. Kedatanganya ke Jogja bersama sang anak melihat beberapa lokasi yang direncanakan sebelumnya. Seorang pengusaha properti bernama mbak Lis di hubungi. Mereka berdiskusi dari satu lokasi ke lokasi lain. Mencari harga termurah yang mungkin terjangkau.
“Mbak, aku minta tolong lihat dagangan mbak. Tapi maaf bila nanti belum cocok. Beli tanah itu Tayuh, jodoh-jodohan. Biasanya aku lewat mimpi. Mimpi mendapat bayi. Jadi kalau belum cocok nanti ya minta maaf, “ kata bu Wid di awal pertemuan.
Orang yang disebut mbak Lis dengan ramah menanggapi. Wajah polosnya sebagai ibu tunggal terlihat iklas. Pengalaman dibidang property menggembleng untuk selalu ramah. Berfikir positif tentang kata bu Wid tentang perjodohan.
“Iya bun. Nggak apa-apa. Kalau memang belum cocok, mungkin tempat lain ada yang cocok, “ katanya dengan sabar.
Bukan tak berkemelut di antara mereka. Wajahnya datar tapi hati bergejolak. Rasa saling tak enak menjadi pembatas.
Bu Wid memaknai kata tayuh yang diucapkan beberapa kali. Kata itu pernah diucapkan oleh ibunya saat pertama kali dia ingin membeli sebuah tanah. Mungkin tayuh berarti jodoh kalau dalam pernikahan. Keberuntungan yang datang dari Allah yang ditahan sudah menjadi rezekinya. Tak bisa ditolak, diakali atau tak disangka sebelumnya. Bu Widterhenyak dari lamunannya.
“Mungkinkah mimpi mendapatkan bayi saat itu tentang pembelian tanah dari penawaran pak Toyo. Bukan tanah permintaan anakku”katanya lirih.
Dia terjaga, menghampiri suaminya yang sedang duduk santai sambil melihat televisi di ruang tengah.
“Yah, coba hitung kira-kira duitnya berapa ya?” Ajak bi Wid.
“Ya kalau 60 ru kira-kira 150-an lah. Memang ibu punya tabungan. Kalau aku hanya 75 hanya itu saja. Mengikat sekarang ahlan permintaannya banyak-banyak. Kalau dulu mintanya 500.000 sekarang 750 malah kadang lebih?” jawabnya santai.
“Ya siapa tahu jodoh yah. Allah pasti kasih rezeki. Kalau ayah mikir bilang sama pak Toyo,” kata bu Wid.
Pembicaraan antara keluarga pak Im dan pak Toyo berjalan singkat. Tentang harga yang ditawarkan berdasarkan penawaran pada umumnya. Sebagai patokan sawah sebelahnya tahun yang lalu dijual. Keduanya saling sepakat ditambah satu juta dari harga jual tahun lalu.
Ketegangan mulai timbul ketika ternyata surat tanah yang dijual itu berada di sebuah koperasi karena digadaikan. Dijadikan jaminan utang.
“Maaf pak Im, ternyata suratnya dijadikan jaminan utang oleh ibu saya,” kata pak Toyo terbata-bata.
Terlihat ada ketakutan di raut wajahnya. Tak takut bagaimana pembicaraan sudah dinyatar dil. Ada sebuah kesepakatan tanpa ada saling paksaan. Selama pembicaraan selalu ada unsur saling menghormati satu sama lain. Uang muka sudah diterima walaupun hanya bisa dihitung jari.
“Kendalanya apa pak. Cerita saja,” kata pak Im.
“Maaf pak. Bukan saya bermaksud menipu, tapi semula memang saya tak tahu. Ternyata ibu tanpa sepengetahuan saya meminjamkan ke bank swasta,” kembali katanya terbata.
Kedua kalinya pak Im meminta penjelasan. Jawaban pun terpenggal-penggal sulit dipahami. sedikit. Kesabaran mulai terkikis. Ketegangan ada diantara mereka. Diam dan diam dalam waktu yang lumayan lama.
“Kita mulai dari awal kejadian,” kata pak Im.
Pertanyaan pemanti membuat jalan cerita menjadi runtut. Sedikit hal yang ditutupi mejadi terbuka. Perlahan simpul-i keruwetan bisa diurai dengan jelas. Saling kepercayaan dibangun kembali.
“Kita ini bertetangga. Selamanya akan hidup berdampingan. Marilah kita saling jujur, saling bantu. Kita selesaikan bersama,” kata pak Im.
Tanpa suatu reaksi yang berlebihan. Pembicara demi pembicaraan berjalan bagai air mengalir. Semula tak berpikir serius ternyata jadi juga.
“Alhamdulillah,” kata bu Wid setelah semua urusan selesai.