Lompat ke isi

Terimakasih Sudah Menyebut, Nak

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Dari bawah kolong meja kerja setengah biro yang tidak dipakai keluarga Pak Oji lagi, mak mengendap-endap mendekati sumber suara. Meja usang itu sengaja diletakkan Pak Oji di depan pintu samping kanan rumahnya, selain menghalangi pintu yang tidak difungsikan sebagai tempat keluar masuk, juga tempat tinggal untuk Mak dan anak-anaknya. Kolong meja itu diberi dinding dengan karpet bekas, lantainya dialas karpet juga. Tempat itu hangat ketika malam, sejuk ketika siang.

Dari kejauhan mak melihat seekor kucing oranye usia tiga minggu dekat pot bunga mengeong-ngeong. Anak kucing itu lebih muda sekitar dua minggu dari anak-anaknya.

Mak mendekat. Dengan reflek si bocil oranye surut, bersembunyi di celah antara dua pot, memiringkan tubuhnya yang kurus kering itu, bulu-bulu punggunya seperti berdiri, kemudian dia mengeram.

“Kamu siapa?” Tanya mak seramah mungkin, namun tetap waspada dengan posisi tubuh berhadapan agak jauh dengan bocil tersebut.

Bocil oranye tidak menjawab, kecuali makin menggeram-geram seperti ketakutan dan marah.

“Jangan marah dan jangan takut, aku penguasa wilayah ini, kamu mengapa kemari” kata si mak lagi.

Si bocil tidak menjawab kecuali bergumam, “jangan ganggu aku…”

“Kamu dari mana?” tanya mak.

“Syh…syh….syh…jangan berkelahi,” terdengar suara bersamaan dengan daun pintu rumah itu terbuka.

“Mak, jangan diganggu, kasihan” kata suara itu lagi, yaitu Pak Oji, pemilik rumah itu, tuan si Emak dan anak-anaknya.

Induk kucing belang tiga; kuning, putih dan hitam itu memandang Pak Oji seraya mengibas-ngibaskan ekornya, segera menggesek-gesekkan kepalanya ke kaki sarung Pak Oji. Dia mau bilang tidak berkelahi, tapi manusia tak kan pernah mengerti dengan tepat kata demi kata yang mereka lontarkan. Pak Oji mendengar dari dalam rumahnya seperti suara kucing berkelahi ketika tadi Mak bertanya pada bocil Oranye.

Pak Oji meraih Bocil oranye. Si Bocil berupaya menghindar, namun dia sudah tesantak ke dinding rumah, terjepit antara dua pot. Tangan kekar Pak Oji menggenggam badannya. Terasa tulang belulang yang hanya diilapisi kulit dengan bulu-bulu tipis, kumal dan penuh scabies.

Reflek Pak Oji melepaskan genggamannya, karena si Bocil berusaha menggigit dan mencakar.

“Sakit…” jerit Bocil begitu mendarat di lantau teras rumah itu dan tanpa ada pilihan lain berlari mendekat kea ah mak.

“Kenapa? Tuan itu baik, dia akan menolong kamu” ujar mak.

“Disini aku sakit..” kata Bocil seraya menjilat-jilat tubuh sangping kanannnya, tepatnya dekat tulang iganya.

Melihat gelagat mak tidak menyerang, justru berupaya ramah keibuan sehingga membangkitkan kenagan Bocil terhadap ibunya yang etah dimana. Bocil bercerita, selepas senja tadi dibuang orang sehingga terpisah dengan ibu dan saudara-saudaranya, dia ditendang orang yang makan pecel lele di warung seberang jalan rumah Pak Oji. Mungkin karena jijik, tapi lebih tepatnya orang itu belum mendapatkan hidayah untuk menyayangi sesame makhluk, dia sepak Bocil ketika mengapai-gapai minta tulang ikan, sehingga iga Bocil terbentur kaki kursi. Pemilik warung menangkap Bocil dan menyampakkan ke halaman Pak Oji. Lapar belum terobati, rusuk nyeri serasa patah.

Pak Oji yang tadi masuk ke dalam rumahnya, ternyata kembali dengan membawa dua genggam nasi dicampur tulang dan sedikit daging ikan, masing-masing beralaskan kertas. Dia tarok di di sudut halaman rumah itu, dekat si Bocil dan Mak.

“Makan, ini utk kamu, ini utk mak” ujar Pak Oji.

“Kurap kamu besok ya kita obat,” tambah Pak Oji tertuju pada Bocil, kemudian masuk rumah karena melihat Bocil dan Mak sudah makan.

Bocil makan bagai kesurupan, namun baru tiga hingga lima kali telan dating segerombolan anjing liar.

“Cepat sini, cepat…” teriak mak, yang telah lebih dahulu lari ke arah kandangnya. Bocil sempat mengeram, namun insting menyelamatkan diri yang ditirukan mak lebih menarik kehendaknya dibanding melawan tiga ekor anjing kampung liar itu.

Belum sempurna tubuh Bocil masuk kandang melalui pintu yang hanya muat badan kucing, dia disambut geraman dua ekor anak mak.

“Biarlah… dia berlindung sebentar saja,” kata mak melerai.

Sejurus kemudian anak-anak mak sudah mengelendut di susu mak, yang membuat mak harus berbaring. Lapar belumlah hilang, di depan mata tampak susu, hal ini cukup mmebuat Bocil beringsut kearah mak.

“Jangan kesini, disitu saja,” sergah mak. Bocil tersurut, dia menggerutu.

“Saya lapar, haus..” gumamnya.

Mak bukannya tidak merasakan kesusahan Bocil. Tapi resiko yang timbul akibat menyusukannya terlalu besar. Kalaula anak-anaknya tidak berkelahi dengan Bpcil, maka anak-anaknya tidak akan mau menyusu lagi karena bau areal penyusuan itu sudah asing. Kelanjurannya, anak-anak itu sudah harus mandiri, meninggalkan sarang itu, atau mak yang pergi dari sana. Selain itu, tertular kurap sangat mungkin terjadi.

Entah paham dengan hal itu, entah karena hal lain, Bocil segera keluar kandang. Anjing-anjing kampong sudah pergi. Dalam sekali dua raup dengan mulut nasi-nasi tadi ludes. Tersisa hanya teteasan liur dan sedikit remah.

“Astagfirullah… Bocil, mengapa kamu makan itu?” mak kaget bercampur panic melihat Bocil tergeletak lemas dengan mulut berbuih tidak jauh dari kandang. Ddekat Bocil masih tersisa potongan daging katak pohon. Katak itu kecil, ramping, berwarna merah atau oranye, katak beracun.

“Saya lapar,..” suara lirih Bocil, matanya berair sayu, sesekali tubuhnya yang tergolek lemas mengkedut.

Mak mengendus-endus bocil, menjilat-jiat kepala dan wajahnya, menggigit lembut tengkuknya. Terapi ini dapat menolong untuk menyegarkan, namun tidak banyak berarti untuk yang keracunan.

Mak mengelendut dekat kepala Bocil, menyodorkan susu. Mak tidak peduli lagi apakah setelah ini anak-anaknya tidak mau menyusu padanya lagi, atau dia diusir, yang penting Bocil terselamatkan dahulu. Namun Bocil tidak bereaksi. Mak mendorong-dorong kepala Bocil. Bocil hanya menggeliat kecil.

Segera Mak lari ke pintu rumah Pak Oji. Digarut-garutnya seraya memanggil minta pertolongan. Mungkin Pak Oji sudah tidur atau sedang menontom televise, sehingga tidak ada jawaban.

Bocil mendengkur-dengkur, mak berlari mendekati.

“Ada ikan, ada nasi, tulang ayam bagai, mak mau. Rusak saya tidak sakit lagi mak...” Bocil menceracau.

“Ini nak, susu, minum…” suara mak bergetar bercampur pilu, dia sangat paham apa yang akan terjadi.

“Mak menyebut saya, nak…” ucap Bocil tersengal-sengal.

“Bertahan ya nak… ayo menyusu..” kata mak.

“Terimakasih, sudah menyebut nak, saya bahagia sekali mak, ternyata saya punya ibu,” suara Bocil makin kecil dan terputus-putus, namun tidak sempat mereguk walau setetes susu.

Mak tidak dapat berbuat apa-apa lagi, naluri keibuannya membuat air matanya berlinang, tidak saja untuk Bocil tapi untuk anak-anak kucing yang dibuang sebelum lepas susu dan dalam kondisi lkelaparan, kesempatan untuk bertahan hidup hanya lima persen. Selain itu, adalah keliru jika membuang kucing dekat warung makanan dengan asumsi akan mudah mendapat makan. Kenyataannya justru menjerumuskan anak-anak kucing yang belum tahu apa-apa itu ke dalam perebutan makanan dengan hewan-hewan liar lainnya dan perlakuan buruk orang-orang kasar.