Lompat ke isi

Tinta yang Tidak pernah Kering

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Penulis

[sunting]

Zahwa Afrianti

Cerita

[sunting]

Di sebuah dusun di lereng gunung, hiduplah seorang anak bernama Raka. Sejak kecil ia sangat mencintai buku, meskipun di sekolahnya hanya memiliki beberapa eksemplar yang sudah usang dan robek. Hampir setiap sore, ia duduk di bawah lampu minyak, menyalin cerita dari buku lama peninggalan ayahnya ke dalam buku tulis sederhana.

Suatu malam ibunya bertanya, “Raka, mengapa kamu repot-repot menyalin semua cerita itu?”

Raka menjawab lirih sambil tersenyum, “Kalau buku itu hanya kusimpan untuk diriku, ilmu akan berhenti di sini. Tapi kalau kutulis ulang, teman-temanku juga bisa membacanya.”

Keesokan harinya, ia membawa catatan hasil tulisannya ke sekolah. Teman-teman yang tidak pernah punya buku mulai bergiliran membaca. Dari situlah, cerita demi cerita menyebar. Tak puas hanya menyalin, Raka mulai menulis kisah tentang desanya: tentang sawah yang menghijau, sungai yang jernih, dan pepohonan yang ia kagumi setiap hari.

Lembar-lembar tulisannya semakin banyak. Guru desa yang melihat kegigihannya kemudian mengirimkan naskah itu ke sebuah penerbit di kota. Tak disangka, tulisannya dicetak menjadi buku dan tersebar ke banyak sekolah di daerah lain.

Ketika memegang buku hasil karyanya, Raka teringat pesan almarhum ayahnya: “Ilmu bukan untuk disimpan, melainkan untuk dibagikan. Seperti air, ia baru bermanfaat ketika mengalir.”

Sejak saat itu, Raka percaya bahwa menulis adalah cara sederhana untuk meninggalkan jejak yang tak lekang waktu jejak tinta yang akan terus memberi kehidupan.