Tiongkok dan Jepang
| Tiongkok dan Jepang oleh Pengarang: Liem Koen Hian |
| Didigitalisasikan oleh para penyunting Wikisumber Indonesia. Diperbarui ejaannya oleh para penyunting Wikibuku Indonesia. |
- Catatan penyunting: tahun 1938, ketika buku ini ditulis, Perang Dunia II belum dimulai. Perang Asia terbesar, yakni Perang Tiongkok-Jepang Kedua, baru dimulai tanggal 7 Juli 1937. Republik Tiongkok dikuasai oleh Chiang Kai-Shek dan Partai Nasionalis, dan perang saudara dengan Partai Komunis tengah berlangsung, yang melakukan gencatan sementara waktu untuk berperang melawan Jepang.
Buku ini asalnya dimaksudken sebagai penuturan sambil lalu dari perhubungan antara Tiongkok dan Jepang selama ini seribu lima ratus tahun yang paling belakang. Tetapi sembari menulis saya teringat akan kekurangan dalam pembacaan Melayu tentang sejarah Asia Timur. Buku ini boleh ditulis seringkes-ringkesnya, jikalau dalam bahasa Melayu sudah ada buku-buku yang berisi sejarah lengkap dari Asia Timur. Apa yang kurang terang dalam ini buku karena ringkesnya, bisa jadi terang dengan membaca lain buku yang sudah ada itu. Tetapi karena tidak ada buku begitu, maka isi yang terlalu ringkes dari ini buku bisa jadi kurang terang bagi kebanyakan pembaca dan demikian merugiken pada orang yang baca. Buat keuntungannya pembaca saya telah ubah maksud saya bermula.
Dari satu buku, yang tebalnya kira-kira dua ratus kaca, saya sekarang bikin dua buku, tebalnya masing masing kira-kira seratus lima puluh kaca.
Ini buku yang kesatu berisi hikayat ringkes dari perhubungan Tiongkok-Jepang sedari seribu lima ratus tahun dulu sampai pada lahirnya Republik Tiongkok dalam tahun 1912. Di situ ada termasuk juga riwayat ringkes dari imperialisme Barat di Asia Timur.
Buku kedua akan berisi sejarah Asia Timur sedari lahirnya Republik Tiongkok sampai pada perang Tiongkok-Jepang sekarang ini. Ini adalah hikayat Asia Timur yang paling baru, hikayatnya Asia Timur dalam zaman kita, dipandang dalam hubungannya sama seluruh dunia. Penuturan dari hikayat itu meminta tempat lebih banyak lagi dari penuturan sejarah yang lama. Maka Hu supaya tidak merugiken pada pembaca karena ringkesnya, perlu penuturan itu dibikin dalam satu buku sendiri.
Buku ini ditulis, tidak melainkan buat orang yang baca bahasa Melayu saja, tetapi juga buat orang orang yang cuma bisa baca bahasa Belanda saja, sebab juga dalam babasa Belanda tidak ada buku yang menyeritaken sejarahnya perhubungan antara Tiongkok dan Jepang sedari dulukala sampai sekarang.
Liem Koen Bien.
I. Utangnya Jepang Pada Tiongkok
[sunting]Dalam ia punya buku "Modern Japan" Inazo Nitobe menulis sebagai berikut:
"Tidak bisa ditaksir berapa besar pentingnya pengaruh dari kesopanan Tionghoa atas Jepang di masanya Jepang baru mulai bangun sebagai bangsa. Masih di zamannya dipakai pekakas dari batu sudah ada perhubungan penting antara Tiongkok dan pulau-pulau dari kerajaan Jepang, terutama pulau-pulau yang letaknya di Selatan. Di zamannya leluhur kita baru berhenti pakai pekakas dari brons dan tidak ada mempunyai lain dari-pada prau-prau kecil, kapal-kapal Tionghoa yang bawa muatan barang-barang berharga sudah kunjungi pesisir-pesisir negeri Jepang dan jual barang-barang bikinan perusahaan kerajinan pada penduduk Jepang yang masih biadab. Belakangan jenderal-jenderal dan pemimpin-pemimpin politik Tionghoa, yang dapat kekalahan dalam negerinya, pergi melariken diri ke Jepang dan tinggal di Jepang. Kita boleh anggap, dulu ada kampung-kampung Tionghoa di sepanjang pesisir Barat dari negeri Jepang. Maka itu bukannya tidak bisa jadi, beberapa kepala dari tempat-tempat di bagian Barat dan Selatan dari negeri Jepang, telah serahken diri di bawah perlindungannya kaisar Tionghoa yang maha kuasa dan sopan. Kira-kira di permulaan dari itungan Masehi, tatkala sejarah kita masih terbungkus dalam gelap gulita, Tiongkok sudah bisa banggaken pekerjaan-pekerjaannya Dinasti Han. Barang tentu saja kesopanan dari daratan benua Asia (Tiongkok) masuk di Jepang jalan Korea."
Dinasti Han memerintah di Tiongkok dari tahun 206 sebelumnya itungan Masehi (sebelumnya Kristus lahir) sampai tahun 220 sesudahnya Kristus lahir (sesudah itungan Masehi). Di masa itu bangsa Tionghoa sudah kira-kira dua ribu tahun mempunyai kesopanan kaya dan tinggi. Di masa itu bangsa Tionghoa sudah lahirken ia punya pemikir-pemikir besar, seperti Loo Tju [Laozi] dan Khongcu [Konfusius] bersama murid-muridnya yang terutama, yang belakangan dengan pelajarannya itu mempunyai pengaruh besar sekali atas berbagai-bagai negeri yang berutang banyak sekali dari kesopanan Tionghoa, seperti, Indo-China, Korea dan Jepang. Di masanya Dinasti Han agama Buddha (Hudkauw) [fójiào] masuk di Tiongkok dari India dan perlahan-perlahan diubah dan dicampuri sama pikiran Tionghoa, sehingga menjadi agama Buddha Tionghoa sendiri, yang berbeda dari agama Buddha yang asal di India.
Dalam kutipan di atas Inazo Nitobe jadinya mengaku, di masanya bangsa Tionghoa sudah kira-kira dua ribu tahun mempunyai kesopanan begitu tinggi dan kaya, sejarah Jepang masih terbungkus dalam gelap-gulita, mengertinya Jepang masih belum ada mempunyai sejarah yang tertulis alias masih biadab.
Nitobe ceritaken, menurut satu buku Tionghoa kuno, yaitu salah satu buku yang pertama, dalam mana ada disebut negeri Jepang, dalam abad ketiga sebelumnya itungan Masehi atau tiga ratus tahun sebelumnya Kristus lahir, di kepulauan Jepang ada kira-kira seratus kerajaan. Kira-kira tiga puluh dari ini kerajaan menakluk pada raja Tiongkok dari dinasti Yin [dinasti Qin].
Nitobe bilang, bisa jadi itu tiga puluh kerajaan terdiri dari turunan orang Tionghoa, atau, kalau tidak begitu, bisa jadi kaisar Tiongkok, yang kekuasaannya di masa itu sudah sampai juga di Korea, telah diaku sebagai tuan oleh suku-suku bangsa yang tinggal di Jepang.
Nitobe bilang, sampai sekarang pengarang-pengarang hikayat Jepang masih suka pungkir bisa jadinya hal itu, meskipun, kata Nitobe, mereka tidak bisa kasih alasan, kenapa perkara begitu tidak bisa kejadian.
Dalam tahun 57 sesudah Kristus lahir, yaitu tahun penghabisan dari pemerintahan kaisar Kuang Wu Ti (Kong Bu Tee) [Kaisar Guangwu] dari Dinasti Han, datang utusan dari negeri Ito (sekarang namanya Chikuzen), yang letaknya di pulau Kyushu, di kota raja Loyang [Luoyang] buat sampaiken hormatnya raja Ito pada raja Tiongkok. Waktu utusan Jepang itu pulang, ia dikasih sangu cap oleh raja Tiongkok buat rajanya.
Belakangan, dengan perantaraan waktu yang lama, lagi beberapa kali datang utusan-utusan dari Jepang di kota raja Tiongkok buat sampaiken sembah dan hormat rajanya pada raja Tionghoa. Tapi baru di permulaan dari Dinasti Tang, yang memerintah di Tiongkok dari tahun 618 sampai 907, ada perhubungan ramai dan langsung antara Tiongkok dan Jepang.
Tapi sebelumnya itu sudah ada bagian-bagian dari kesopanan Tionghoa yang masuk di Jepang. Cuma hal itu kejadian terutama dengan ambil jalan Korea, bukan dengan langsung dari Tiongkok ditanam di Jepang.
Sesudahnya Dinasti Han roboh dalam tahun 220, di Tiongkok terbit kekalutan besar, yang memaksa banyak orang Tionghoa menyingkir ke Korea dan Jepang.
Dalam abad keempat dan kelima bangsa Tartar berulang-ulang menyerang masuk di Tiongkok dan rampas berbagai-bagai bilangan di Tiongkok-Utara. Jumlah orang Tionghoa yang melariken diri ke Korea dan Jepang jadi bertambah banyak.
Kira-kira dalam tahun 450 M di Jepang dibikin cacah jiwa. Menurut ini hitungan, di Jepang itu waktu ada tinggal 18.670 orang Tionghoa atau turunan Tionghoa di antara penduduk dari bagian Barat dari pulau Honshu.
Di permulaan abad ke delapan di negeri Jepang ada 1177 orang bangsawan. Dari antara mereka ini ada tidak kurang dari 381 orang turunan Tionghoa atau Korea. Makanya sekarang ada orang yang bilang, turunannya orang Tionghoa yang di zaman dulu melariken diri ke Jepang menjadi kaum bangsawan Jepang sekarang ini, sebagaimana katanya gampang bisa dikenali dari mukanya, warna kulitnya dan lain-lain tanda lagi. Lain orang lagi lebih hati-hati dan cuma bilang, banyak famili Jepang yang ternama sekarang ini adalah turunan dari orang-orang Tionghoa, yang di zaman dulukala itu melariken diri ke Jepang.
Ini orang-orang, yang terpaksa menyingkir dari Tiongkok karena kekalutan di Tiongkok pada masa itu, telah bawa juga macam-macam kepandaian dan kerajinan dari Tiongkok. Beberapa antara ilmu kerajinan itu, seperti upamanya ilmu menanam sutra dan menenun sutra, perlahan-perlahan dicangkok oleh orang Jepang.
Dalam tahun 384 sesudahnya Kristus lahir, seorang utusan dari Korea, yang dalam bahasa Jepang disebut Achiki, datang di istana kaisar Jepang. Ia bawa kitab-kitab yang berisi pelajarannya Khongcu. Pada kaisar Jepang dan menteri-menterinya ia ceritaken apa isinya itu kitab. Penuturan itu menarik sangat hatinya kaisar Jepang dan menteri-menterinya, sehingga mereka kepingin pahamken juga huruf Tionghoa dan kitab-kitabnya Khongcu. Atas pengunjukannya Achiki kemudian seorang profesor Tionghoa, yang dalam bahasa Jepang disebut Wani, diundang buat menjadi guru dalam istana kaisar Jepang. Bangsa Jepang waktu itu tidak mempunyai huruf sendiri. Mulai dengan diundangnya professor Wani sanak keluarga kaisar Jepang dan kaum bangsawan Jepang mempelajari huruf Tionghoa dengan giat.
Lebih dulu dari itu orang Jepang sudah kenal juga huruf Tionghoa. Seperti sudah dibilang, lama sebelumnya itu utusan Korea datang di Jepang, di negeri Jepang sudah ada tinggal banyak orang Tionghoa, antara siapa tentu ada banyak juga yang terpelajar. Tetapi sampai sebegitu jauh huruf Tionghoa tidak dipelajari dengan resmi. Sesudahnya professor Wani diundang ke Jepang barulah di Jepang dengan resmi dimulai mempelajari huruf Tionghoa dan kitab-kitab yang berisi pelajarannya Khongcu.
Dalam tahun 552 seorang utusan dari Korea datang pula di istana kaisar Jepang membawa sebuah patung dari Buddha, terbikin dari tembaga dilapis sama mas serta beberapa kitab yang berisi pelajarannya Buddha. Seperti sudah diceritaken di atas, pada masa itu agama Buddha sudah beberapa ratus tahun dikembangken di Tiongkok dan dari Tiongkok agama itu menjalar ke Korea.
Kaisar Jepang dan menteri menterinya ketarik betul oleh penguraiannya itu utusan Korea tentang pelajarannya Buddha. Karena pengaruhnya Soga Iname, yang berpengaruh besar atas kaisar Jepang, maka kemudian agama Buddha dipakai sebagai agama resmi dari Jepang.
Dalam tahun 604 pangeran Shotoku, yang jadi wakil dari permaisuri Suiko, sebab kaisar sudah meninggal dan diganti oleh permaisurinya, keluarken firman yang terdiri dari tujuhbelas pasal. Orang Jepang bilang, ini adalah konstitusi Jepang yang pertama. Itu tujuhbelas pasal sebenarnya berisi pelajaran perihal kebajikan. Shotoku bikin itu pelajaran perihal kebajikan menjadi dasar baru dari pemerintahan di negeri Jepang. Demikianlah itu firman dari tahun 604 jadi semacam karangan politik, semacam karangan yang berisi Shotoku punya angan-angan perihal politik atau pemerintahan negeri.
Sebab angan-angennya itu berdasar atas pelajarannya Khongcu, maka Shotoku mengerti, supaya bisa sampaiken angan-angan itu, supaya aturan-aturan, yang dikarang menurut angan-angan itu, bisa dijalanken dengan betul, perlu ia dapat bantuan dari sejumlah pejabat, yang sama paham seperti ia sendiri dalam pelajarannya Khongcu.
Maka itu dalam tahun 607 Shotoku ambil putusan buat kirim utusan akan sampaiken hormatnya pada kaisar Tiongkok. Utusan Jepang itu datang di Loyang [Luoyang], ibu kotanya Tiongkok pada masa itu. Kaisar Tiongkok menyataken sudi terima persembahannya itu utusan Jepang dan lebih jauh sudi izinken raja Jepang kirim beberapa orang buat turut belajar dalam sekolah tinggi di ibu kota Tiongkok, supaya bangsa Jepang pun mendapat berkah dari kesopanan Tionghoa. Setahun belakangan Shotoku kirim delapan orang berilmu yang pilihan ke Tiongkok buat nempelajari aturan-aturan pemerintahan dan undang-undang di Tiongkok. Sepuluh tahun kemudian, dalam tahun 618, Dinasti Tang mulai memerintah di Tiongkok. Zamannya dinasti ini memerintah di Tiongkok adalah zaman paling gilang-gumilang dari antero sejarah Tiongkok. Kota raja dipindah dari Loyang ke Tiang An [Chang An] dan ini kota raja Tiang An dari Dinasti Tang menjadi pusat kebudayaan dari seluruh Asia Timur. Kota raja itu semakin lama semakin banyak menarik siswa dari Jepang dan dari Asia Timur serta Asia Tengah ke universitasnya yang besar.
Tiap-tiap waktu yang tentu raja Jepang mengirim utusan buat sampaiken hormat dan sembahnya pada raja Dinasti Tang. Ini pengiriman hormat dan sembah dari raja Jepang pada raja Tiongkok berjalan terus sampai jatuhnya Dinasti Tang dalam tahun 907. Dari antara delapan orang berilmu, yang dalam tahun 608 dikirim oleh Shotoku ke Tiongkok buat belajar, beberapa antaranya tinggal di Tiongkok sampai di tahun 632, sedang dua antaranya, yaitu si pengarang Kuromaro dan hweesio (padri buddha) Bin baru dalam tahun 640 pulang ke negerinya, sesudah berguru 32 tahun lamanya di Tiongkok. Sepulangnya di negerinya, mereka menjalanken peran penting dalam perubahan pemerintahan negeri, yang dimulai tidak lama sesudah mereka pulang.
Perubahan itu dimulai dalam tahun 645 oleh pangeran Naka-no-Oye, yang belakangan jadi kaisar Tenchi dan Nakatomi-no-Kamatari, yang belakangan sebagai ganjaran buat bantuannya menjalanken perubahan itu, dikasih permisi pakai nama Fujiwara. Mereka dibantu oleh orang-orang berilmu, yang sudah banyak tahun tinggal di Tiongkok memahamken aturan-aturan di Tiongkok.
Dalam tahun 671 sudah rampung perubahan pemerintah sentral menurut model dari pemerintahan di Tiongkok di zaman Dinasti Tang.
Bukan saja antero aturan pemerintahan di Tiongkok, tetapi juga semua hukum-hukum, yang berlaku di Tiongkok di zamannya Dinasti Tang, telah ditiru oleh Jepang.
Tapi tiruan itu tidak sempurna betul. Meski Jepang waktu itu dengan teliti sekali tiru aturan pemerintahan dari Dinasti Tang, toh dalam beberapa hal tiruan itu ada gagal.
Pertama Jepang gagal dalam hal meniru sifat yang terutama dari aturan Tionghoa di zaman itu, yaitu aturan memilih pejabat-pejabat negeri dengan perantaraannya ujian, dalam mana semua orang pandai, tidak peduli asal-usul dan derajatnya, boleh turut. Karena di Tiongkok ada ini aturan, maka sedari dulukala di Tiongkok jabatan negeri terbuka sampaipun buat anaknya orang-orang yang paling miskin dan paling hina. Asal mereka mempunyai kepandaian cukup buat turut dan lulus dari ujian yang dimustiken, mereka bisa dapat pangku jabatan negeri, tidak peduli mereka turunan bagaimana rendah sekalipun.
Seperti sudah dibilang, Jepang luput meniru ini sifat yang terutama dari aturan di Tiongkok pada masa itu. Betul orang-orang Jepang yang bikin perubahan di negerinya menurut model dari Dinasti Tang, telah diriken sebuah sekolah tinggi dan tetapken aturan angkat pejabat serta kenaikan pangkatnya bergantung melulu dari kepandaian dan pengetahuannya, tidak lagi dari derajat turunan, akan tetapi yang boleh menuntut pelajaran dalam itu sekolah tinggi melainkan putranya orang-orang bangsawan saja, sehingga melainkan putranya orang-orang bangsawan saja yang bisa diangkat jadi pejabat.
Karena ini kegagalan dalam hal meniru dengan sempurna aturan-aturan di Tiongkok, maka jabatan negeri di Jepang tetap terbuka melulu buat anak-anaknya golongan bangsawan saja. Orang-orang pandai dan rajin dari lain-lain golongan, tidak bisa diterima jadi pejabat.
Sebelumnya dibikin perubahan di Jepang dari tahun 645, raja raja Jepang tidak perlu dengan kota raja yang tetap. Kota raja itu selalu pindah dengan bergantinya raja lama dan naiknya raja baru atas takhta kerajaan. Ini adat buat selalu pindah tempatnya kota raja disebabken oleh ketakhayulannya bangsa Jepang. Menurut kepercayaan takhayul dari bangsa Jepang, tempat, di mana seorang meninggal, jadi kotor, tidak suci, tidak bersih lagi. Maka itu kalau raja meninggal di suatu tempat, lantas penggantinya cari lain tempat buat kota raja yang baru. Kemudian semua kantor negeri dipindah ke ini kota raja baru.
Di masanya pekerjaan negeri tidak teratur betul dan rumah-rumah masih sangat sederhana, tidak ada seberapa keberatan buat selalu pindah-pindah tempatnya kota raja. Tapi tatkala pemerintahan sudah diatur menurut modelnya aturan pemerintahan di Tiongkok dan kekuasaan memerintah semakin lama semakin banyak dikumpul di kota raja, sedang bilangan pejabat pun bertambah banyak, maka perlu kota raja itu bertempat tetap di suatu tempat saja.
Dalam tahun 710 dipilih Nara sebagai tempat buat kota raja. Sebuah kota yang indah lalu didiriken, menurut model dari kota raja Tiang An dari Dinasti Tang.
Tujuh puluh empat tahun lamanya Nara jadi ibu kota dari kerajaan Jepang dan jadi pangkalan dari ilmu kesenian, ilmu kesusastraan dan agama di Jepang.
Dalam tahun 784 kaisar Kwammu ambil putusan buat pindah kota rajanya ke lain tempat. Dari Nara kota raja bermula pindah ke Nagaoka dan sesudah bertempat di situ beberapa tahun, kota raja dipindah pula, ini kali ke Kyoto. Di sini arsitek-arsiteknya kaisar Kwammu lagi sekali meniru modelnya kota raja Tionghoa dan diriken kota Kyoto, yang lebih dari seribu tahun lamanya menjadi kota raja dari negeri Jepang.
Selama abad ketujuh dan kedelapan pengaruhnya pikiran pikiran Tionghoa bisa diliat nyata sekali dalam tiap-tiap babakan dari kemajuannya Jepang. Di zamannya Shotoku dan kemudian di masa perubahan dari Naka-no-Oye dan Fujiwara aturan-aturan memerintah negeri di Tiongkok dan filosofi dari Khongcu menjadi penunjuk jalan dan penganjur dari orang-orang Jepang yang mengubah peraturan masyarakatnya. Dalam urusan pemerintahan negeri dan undang-undang di Jepang pikiran-pikiran Tionghoa berkuasa sampai di buntutnya abad kedelapan. Dalam tahun 700/701 dan 718 Jepang adaken buku undang-undang baru. Dua-dua buku undang-undang ini berdasar atas buku hukum Tionghoa dari Dinasti Tang.
Dalam urusan-urusan lain, di luarnya urusan pemerintahan negeri, utangnya Jepang pada Tiongkok ada lebih besar lagi. Sejak zamannya Shotoku istana raja Jepang anjuri ilmu membikin rumah, membikin patung, menggambar dan ilmu kesusastraan. Dalam semua ilmu itu dengan teliti sekali ditiru contoh-contoh dari Tiongkok. Anjuran demikian telah dikasih juga dalam hal memajuken pembikinan mangkok dan piring, melebur dan mencampur logam dan dalam berbagai-bagai pertukangan dan perusahaan kerajinan.
Sebelumnya agama Buddha dipuja di Jepang, aturan membikin rumah di Jepang masih biadab sekali. Rumah-rumah Jepang pada masa itu separo kependem dalam tanah, jadi seperti setengah gua. Dalam tahun 607 Shotoku suruh diriken klenteng-klenteng di Horyoji. Sedari waktu itu mulailah pembikinan gedung-gedung yang indah untuk tempat memuja agama Buddha di Jepang. Pengaruhnya Tiongkok dan Korea (ilmu membikin rumah di Korea asalnya juga dari Tiongkok, tapi banyak tukang bangsa Korea bekerja di Jepang, maka dinamaken pengaruh dari Tiongkok dan Korea) menjalar juga sampai pada pembikinan rumah-rumah buat tinggal. Sejak itu waktu perlahan-perlahan mulai hilang rumah-rumah Jepang asal, yang modelnya seperti setengah gua. Sampai pada abad yang duluan masih bisa keliatan nyata, ilmu membikin rumah di Jepang asalnya dari Tiongkok dan Korea.
Sama kekalnya adalah pengaruh Tionghoa atas ilmu membikin patung dan ilmu menggambar di Jepang. Dua-dua ilmu ini terutama dipengaruhi oleh ahli-ahli kesenian yang kesohor dari zaman Dinasti Tang.
Sampai pada abad kesembilan Jepang tidak ada mempunyai huruf lain dari-pada huruf Tionghoa. Maka itu model buat karangan-karangan Jepang datangnya juga dari Tiongkok. Contoh-contoh Tionghoa itu ditiru dengan teliti oleh pengarang-pengarang Jepang. Dalam tahun 720 dikarang buku sejarah Jepang yang dikasih nama Nihongi. Dalam buku sejarah ini pengarang-pengarangnya campuri kejadian-kejadian di Tiongkok yang dikutip dari sejarah Tiongkok, buat bikin bukunya jadi menarik hati. Lebih jauh mereka ceritaken, raja-rajanya bikin pidato-pidato panjang lebar dan mereka tuturken bunyinya pidato-pidato itu. Tapi sebenarnya pidato-pidato itu mereka colong dari buku sejarah Tionghoa. Pidato-pidato itu adalah pidatonya kaisar-kaisar Tionghoa dulukala. Jepang masa itu masih terlalu biadab akan raja-rajanya bisa bikin pidato-pidato begitu bagus seperti raja-raja Tionghoa yang kesopanannya jauh lebih tinggi. Ini satu hal sudah cukup buat mengasih lihat satu sifat dari tabiat Jepang, yaitu kesukaan meniru lain bangsa yang lebih maju dan lebih sopan dan akuin tiruan itu seperti ciptaan sendiri, dengan harapan nanti dianggap sama maju dan sama sopannya seperti bangsa yang ditiru itu, sehingga mereka tidak segan buat karang sejarah bohong dengan campuri kejadian-kejadian yang dicolong dari sejarah Tiongkok dan colong pidatonya raja-raja Tionghoa dulukala buat dijual sebagai pidato raja-rajanya sendiri.
Lebih jauh dari Tiongkok dan Korea telah datang ke Jepang timbangan dan ukuran yang paling tua, sementara di penghabisan abad ke tujuh atau permulaan abad ke delapan dari Tiongkok dikasih masuk di Jepang uang mas, perak, dan tembaga. Sebelumnya itu bangsa Jepang tidak kenal timbangan, ukuran dan mata uang. Timbangan dan ukuran Tionghoa kuno itu sampai sekarang masih belum bisa dibuang dan diganti oleh rakyat Jepang dengan sempurna sama timbangan dan ukuran Barat.
Sampaipun nama Dai Nippon, dengan mana orang Jepang sendiri sekarang sebut negerinya, asalnya dari Tiongkok. Waktu belum lama kota raja bertempat di Nara, kaisar Tiongkok mengirim surat kepada kaisar Jepang, dalam mana kaisar Jepang disebut kaisar "Tai-nyih-pung-kok" (artinya: kerajaan besar asal dari matahari). Orang-orang berilmu dan pejabat-pejabat Jepang jadi kegirangan seperti anak kecil yang dapat kuweh tatkala mereka baca itu nama. Dengan segera mereka ganti mereka punya nama asal Yamato dengan itu nama baru. Beberapa ratus tahun kemudian Marco Polo tatkala berada di Tiongkok, dengar negeri Jepang disebut Nyih-pung-kok atau Jih-pung-kok. Tatkala belakangan dalam rumah penjara di Genua Marco Polo menyeritaken riwayat perjalanannya pada seorang kawan hukuman buat ditulis jadi buku, kawannya Marco Polo itu tulis nama itu jadi Cipango (Sipango) [Zipango / Zipangu]. Dari ini nama Cipango akhir-akhirnya orang Barat bikin nama yang sekarang ini: Japan.
Seperti di atas sudah dibilang, sampai pada abad kesembilan Jepang tidak mempunyai huruf sendiri. Semua karangan penting di Jepang ditulis dengan huruf Tionghoa. Pelajaran ilmu surat Tionghoa masih dituntut, tapi cuma sedikit orang pandai merasa ketarik sama itu pelajaran, karena upahnya kelewat jelek. Pengarang-pengarang Jepang yang ternama pada masa itu tidak banyak bikin karangan sendiri. Pada masa itulah mulai karangan-karangan baru, yang ditulis dalam bahasa Jepang dengan memakai huruf Kana. Huruf ini telah dibikin oleh seorang Jepang dengan bikin ringkes beberapa huruf Tionghoa yang terpakai hari-hari. Pada ini huruf-huruf baru, ringkesan dari huruf Tionghoa, dikasih suara Jepang. Cara demikian jadi terdapat semacam alfabet (a, b, c,), yang terdiri dari lima puluh letter atau huruf. Ini alfabet dikasih nama Kana. Lantaran itu maka pasal belajar membaca dan menulis jadi banyak lebih gampang dari dulu. Mulai waktu itu rakyat golongan bawah pun lebih gampang belajar membaca dan menulis. Tapi meski ada itu alfabet Kana, toh huruf Tionghoa sampai ini hari masih menjadi ilmu menulis dari kaum terpelajar di negeri Jepang.
Runtuhnya Dinasti Tang selama bagian penghabisan dari abad kesembilan kejadian berbareng dengan runtuhnya kekuasaan dari pemerintah Jepang di dalam negerinya. Dua-dua hal ini mempengaruhi tidak baik perhubungan antara kedua negeri itu. Merosotnya derajat dari raja Tiongkok menyebabken hampir berhenti sama sekali dikirim utusan dari Jepang buat menyampaiken hormat dan sembahnya raja Jepang. Di dalam negeri Jepang bandit-bandit dan bajak-bajak laut merajalela dan bikin mati perdagangan Jepang di dalam maupun di luar negeri. Tapi sekalipun di masanya kekalutan paling besar, toh masih saja ada dibikin perhubungan antara Tiongkok dan Jepang. Kapal-kapal dagang Tionghoa kadang-kadang singgah di pelabuhan Jepang, terutama di Kyushu, sebab barang-barang Tiongkok sangat dicari di Jepang, sementara Jepang. Jepang yang sujud pada agama terus mencari pelajaran dalam klenteng-klenteng Buddha yang besar di Tiongkok.
Kekalutan di Jepang berkesudahan dengan robohnya pemerintahan sipil, diganti oleh pemerintahan dari kaum militer. Dengan lahirnya pemerintahan militer di Jepang, perhubungan sama Tiongkok tambah lama semakin baik. Dalam tahun 1173 Taira Kyomori, yang sebenarnya memerintah atas namanya raja Jepang, mulai pula kirim utusan. Ini kali utusan Jepang dikirim ke Hangchow [Hangzhou&rbrack, ibu kota dari Dinasti Song, yang masa itu memerintah di daerah Yangtze dan sebab itu maka dinamaken Dinasti Song Selatan. Utusan Jepang itu disambut dengan manis budi. Perhubungan sama Tiongkok, yang dimulai pula oleh Taira Kyomori, telah diterusken sampai lebih dari seratus tahun, sampai kaum Taira diganti oleh lain kaum yang memerintah di Jepang atas namanya raja.
Hasilnya ini perhubungan yang dihidupken pula sama Tiongkok telah berfaedah besar sekali buat Jepang.
Dalam tahun 1191 hweesio Jepang nama Eisei pulang di Jepang, sesudah tinggal lama di Tiongkok. Eisei bawa pulang pelajaran dari satu cabang dari agama Buddha Tionghoa yang dinamaken agama Buddha Ch'an (Sing Hudkauw), dalam bahasa Jepang disebut Zen. Lebih jauh Eisei bawa pulang bijinya pohon teh. Dulu, dalam tahun 814, teh dikasih masuk di Jepang, tapi buat lidah Jepang di masa itu minuman itu masih terlalu sopan, hingga mereka tidak bisa hargaken itu minuman. Tapi sekali ini itu minuman dari Tiongkok jadi populer di Jepang. Mulai itu waktu rakyat Jepang anggap itu minuman sebagai minuman alus dan mahal harganya.
Dalam tahun 1216 shogun Sanetomo, yaitu yang sebenarnya memerintah di Jepang — raja selalu ada di bawah kekuasaannya shogun — pekerjaken seorang tukang bikin kapal bangsa Tionghoa buat mengepalai pekerjaan bikin sebuah kapal di Kamakura. Ada dibilang, maksudnya Sanetomo adalah sama kapal itu, kalau sudah rampung, bikin perjalanan ke Tiongkok. Kapal itu dibikin menurut model Tionghoa. Tapi pekerjaan itu gagal. Kapal yang dibikin tidak jadi. Sebaliknya dari bikinken kapal, itu tukang Tionghoa kasih ajar pada orang Jepang berdagang dengan pakai wissel. Itu waktu adalah pertama kali wissel dipakai dalam perdagangan di Kamakura.
Baik dalam pekerjaan bikin kapal maupun dalam pembikinan piring dan mangkok, Jepang dari abad ketigabelas ketinggalan jauh sekali di belakang Tiongkok. Sebab teh di Jepang tambah lama semakin populer, maka bertambah banyak juga keperluan sama cangkir dan teko yang alus buat dipakai waktu upacara minum teh.
Dalam tahun 1223 seorang tukang bikin piring-mangkok Jepang pergi ke Tiongkok buat belajar bagaimana orang Tionghoa bikin porselen. Dalam tahun 1223 ia pulang ke Jepang dan jadi pabrikan pertama dari barang porselen dalam sejarah Jepang.
Kira-kira seratus tahun lamanya berjalan perhubungan yang baik antara Tiongkok dan Jepang, yang sangat menguntungken pada kemajuannya Jepang di lapangan kebudayaan. Kemudian Tiongkok diperintah oleh bangsa Mongol. Kaisar Kublai Khan dari dinasti Mongol kemudian coba takluken Jepang. Tapi serangan itu gagal, sebab turun taufan besar, yang binasaken sebagian dari kapal-kapalnya dan sebagian dibikin tercerai-berai hingga tentara Tionghoa tidak bisa mendarat di Jepang.
Meski daya upaya dalam abad keenam dan ketujuh buat cangkok aturan memerintah di Tiongkok ke Jepang tidak berhasil seanteronya, toh pengaruhnya kesopanan Tionghoa atas lain-lain lapangan dan kebudayaan Jepang ada besar sekali dan kekal.
Adat-istiadat perempuan Tionghoa dari zaman Dinasti Tang sampai ini hari masih dijunjung tinggi di Jepang. Orang perempuan Jepang sekarang, yang tidak gila adat Barat, yalah orang perempuan Tionghoa dari zaman Dinasti Tang. Demikian pun kebaktian, yang diajar oleh Khongcu, sampai ini hari masih dipegang teguh oleh Jepang. Ini kebaktian yang diajar oleh Khongcu telah dicangkok oleh Jepang dengan resmi dalam zamannya raja perempuan Kokken alias Shotoku memerintah di Jepang. Ini raja perempuan wajibken tiap-tiap rumah tangga di Jepang musti tahu isinya kitab Hauw King (kitab kebaktian) [Xiao Jing / Kitab Bakti].
Selewatnya abad kesembilan orang Jepang bikin karangan-karangan sendiri, tidak lagi menyonto dari buku-buku Tionghoa dan karangan itu ditulis dalam huruf Kana, tapi meski begitu, toh bahasa Tionghoa masih tetap jadi bahasanya orang-orang Jepang yang terpelajar dan filosofi Tionghoa tetap menguasai pikiran Jepang sampai pada hari ini.
Menurut katanya Nitobe, seorang Jepang sekarang dalam sekolah musti belajar dan paham kira-kira empat ribu huruf Tionghoa. Kitab-kitab Khongkauw [Konfusianisme] pun sampai ini hari dijunjung tinggi di negeri Jepang. Dalam pendahuluan dari ia punya salinan dalam bahasa Jerman dari kitab I Ching (Ya King), Richard Wilhelm ceritaken, waktu Tsingtao [Qingdao] dikepung oleh Jepang, jenderal Jepang Kamio, yang mengepalai tentara di luar itu benteng, di waktunya senggang selalu baca buku Bingcu. Lebih jauh Wilhelm ceritaken, kalau pemerintah Jepang hadapken soal-soal ruwet, ia lantas periksa buku petangan I Ching. Kalau ini perbilangan dari Wilhelm ada benar, maka dalam setahun yang baru lewat, sejak terbitnya peperangan sama Tiongkok, niscaya seringkali pemerintah Jepang periksa petangan dari I Ching buat tanya adpis, apa musti bikin dan niscaya dalam tempo yang dihadap akan lebih sering lagi pemerintah Jepang tanya adpisnya I Ching.
Selama delapan ratus tahun, sedari huruf Tionghoa dipelajari dengan resmi di Jepang sampai pada masanya Tiongkok diperintah oleh bangsa Mongol dalam abad ketigabelas, Tiongkok jadi sumber kesopanan dari Jepang. Dalam ilmu membikin rumah, ilmu menggambar, ilmu bikin patung, perniagaan, perusahaan kerajinan, pertanian, ilmu perang, ilmu surat, filosofi dan agama Tiongkok menjadi gurunya Jepang selama itu tempo yang panjang.
Dinasti Mongol di Tiongkok kemudian diusir oleh Dinasti Ming, yaitu dinasti Tionghoa sejati. Dalam tahun 1368 pemimpin kaum nasionalis Tionghoa, Chu Yuan Chang (Tju Gwan Tjiang) [Zhu Yuanzhang] dapat usir bangsa Mongol pulang ke negeri asalnya, yaitu Mongolia. Dengan gelaran Hung Wu (Hong Bu) [Kaisar Hongwu], Chu Yuan Chang memerintah di Tiongkok sebagai kaisar pertama dari Dinasti Ming, yang memerintah di Tiongkok dari tahun 1368 sampai 1644.
Sementara itu yang memegang kekuasaan memerintah di Jepang pun sudah berganti. Yang sekarang memerintah di Jepang adalah familinya shogun Ashikaga, makanya zaman itu dalam sejarah Jepang dinamaken zaman Ashikaga. Dari tahun 1367 sampai 1395 Jepang diperintah oleh shogun yang ketiga dari ini famili, yaitu Ashikaga Yoshimitsu.
Semasanya bangsa Tionghoa lagi repot mengusir bangsa Mongol dari negerinya, bilangan-bilangan di sepanjang pesisir Tiongkok seringkali dirampok oleh bajak-bajak Jepang, terutama yang berasal dari pelabuhan-pelabuhan di pulau Kyushu. Dalam tahun 1390 kaisar Ming kirim utusan ke istana shogun buat protes itu perampokan-perampokan dan buat minta supaya pemerintah Jepang tangkap dan serahken pada pemerintah Tiongkok sejumlah dari bajak-bajak yang terutama akan dihukum oleh pemerintah Tiongkok.
Yoshimitsu lulusken itu permintaan dari kaisar Tiongkok dengan tangkap sejumlah bajak dan kirim mereka ke Tiongkok buat dihukum. Lebih jauh Yoshimitsu menyataken dirinya jadi raja taklukan dari kaisar Ming. Kaisar Tiongkok lalu menyataken ia diangkat sebagai "raja Jepang".
Cara demikian Yoshimitsu telah mulai pula perhubungan yang baik sama Tiongkok. Ini perhubungan, yang dimulai pula oleh Yoshimitsu, telah membantu banyak sekali pada Jepang punya kemajuan dalam lapangan kebudayaan selama zaman Ashikaga.
Ilmu membikin rumah di Tiongkok, ilmu menggambar dari bangsa Tionghoa dan filosofi Tionghoa dipahamken dan ditiru di Kyoto selama pemerintahan dari Yoshimitsu lebih-lebih dari pada dulu-dulunya. Terutama dalam ilmu membikin rumah tukang-tukang Jepang dari zaman Ashikaga meniru contohnya lebih teliti dari tukang-tukang yang dulu bikin kota raja Nara dan Kyoto, Yoshimitsu telah suruh bikin sebuah istana yang dinamaken kinkakunji atau pavilun mas, sedang ia punya cucu. Yoshimasa, suruh bikin istana yang dikasih nama ginkakunji atau pavilun perak. Dua-dua istana ini mirip betul sama istana-istana bikinan tukang-tukang pandai di Tiongkok dari zaman Dinasti Ming.
Lebih jauh dalam zaman Ashikaga telah maju suatu peradatan Jepang baru, yaitu cha-no-yu atau upacara minum teh. Ini peradatan yang ruwet sekali, dalam mana perkara minum tehnya sendiri cuma perkara kecil saja, telah dimulai dan dianjuri oleh hweesio-hweesio Jepang, yang telah dapat didikan di Tiongkok dalam agama Buddha Zen. Maksudnya peradatan yang ruwet itu adalah buat anjuri orang memakai peradatan alus, sopan dan bikin anteng pikiran, supaya orang jadi biasa sabar dan anteng dan dalam keadaan demikian sabar dan anteng orang bisa terima pelajaran-pelajaran dari agama Zen.
Dalam tahun 1603 Tokugawa Ieyasu diangkat oleh kaisar Jepang jadi shogun. Sedari itu waktu jabatan shogun pindah dari tangannya famili Ashikaga ke tangannya famili Tokugawa. Ieyasu tinggal terus di ia punya kota Yedo [Edo], dari mana ia jalanken kekuasaannya memerintah. Kyoto tinggal tetap sebagai kota raja, tempat tinggalnya raja. Sedari kaum Tokugawa mulai pangku jabatan shogun, filosofi Tionghoa dipelajari pula dengan giat. Filosofi Tionghoa yang dipelajari pula dengan giat di Yedo waktu kaum Tokugawa mulai pegang pemerintahan adalah pelajaran Khongcu, seperti yang diartiken baru oleh pemikir-pemikir Tionghoa di zaman Dinasti Song, yang memerintah di Tiongkok dari tahun 960 sampai 1279 dan yang biasa dinamaken Khongkhauw Baru [Neo Konfusianisme]. Ini pelajaran Khongcu yang dibikin baru di zaman Dinasti Song adalah pekerjaannya dua saudara Ch'eng Hao (Thia Hoo) yang hidup dari tahun 1032 sampai 1085 dan Ch’eng I (Thia Ie) [Cheng Yi dan Cheng Hao] yang hidup dari tahun 1033 sampai 1107 serta dari Chu Hsi (Tju Hi) [Zhu Xi], yang hidup dari tahun 1130 sampai 1200. Chu Hsi adalah murid dari itu dua saudara Ch'eng.
Dalam seratus tahun yang pertama dari Dinasti Ming pelajarannya Chu Hsi paling banyak dapat pemuja. Maka itu tatkala di zamannya Dinasti Ming kalangan pemerintah di Jepang mulai pula pahamken filosofi Tionghoa dengan giat, filosofi itu adalah pelajarannya Chu Hsi. Dalam bahasa Jepang Chu Hsi disebut Shushi, sedang itu dua saudara Ch’eng, yang jadi gurunya Chu Hsi, disebut Tei. Sebab pelajarannya Chu Hsi asalnya dari itu dua saudara Cheng, maka orang Jepang sebut pelajarannya Chu Hsi dengan gandeng marganya itu dua saudara Ch’eng (Tei) sama Chu Hsi punya marga Chu (shu), jadi Teishu [Cheng–Zhu school].
Dalam beberapa hal pelajaran Khongcu seperti diartiken oleh itu dua saudara Ch'eng dan Chu Hsi, atau dengan pendek disebut pelajaran dari Teishu, ada berbeda dari pelajarannya Khongcu di zaman dulu-dulu. Tapi aturan-aturan dari kebajikan dalam pelajarannya Tei-shu tidak berbeda dari kebajikan yang diajar oleh pelajaran Khongcu yang dulu-dulu. Baik menurut pelajaran Khongcu seperti yang diterangken oleh pujangga-pujangga dulu, maupun menurut pelajaran dari Tei-shu, orang musti setia dan jujur pada tuan atau rajanya, berbakti pada orang tuanya dan hormat pada saudaranya yang lebih tua. Suami dan isteri musti sayang satu sama lain, sedang sobat sama sobat musti berlaku jujur pada satu sama lain. Begitupun asas-asasnya pemerintahan, seperti diuraiken oleh Chu Hsi, tidak berbeda dari asas-asasnya pemerintahan seperti diajar oleh pelajaran Khongcu dulu-dulu.
Seperti bisa diketahui dari penguraian di atas, dalam tahun 1600 Jepang sudah kira-kira seribu dua ratus tahun memuja pelajarannya Khongcu, akan tetapi kesetiaan yang diajar oleh pelajaran itu, masih belum bisa meresep dalam batin Jepang, terutama tidak dalam batinnya golongan yang dinamaken samurai atau orang peperangan dan golongan kaum bangsawan, yang piara samurai.
Kaum bangsawan Jepang asalnya tuan tanah. Ini tuan-tuan tanah sering bercidra pada satu sama lain. Percidraan itu kebanyakan kali berkesudahan dengan terbitnya perkelahian. Buat lakuken ini perkelahian tuan-tuan tanah yang besar piara tukang tukang berkelahi. Ini tukang-tukang berkelahi, yang dipiara oleh tuan-tuan tanah besar, dinamaken samurai. Bermula bilangan samurai yang dipiara oleh tuan tanah buat jadi mereka punya tukang berkelahi, tidak banyak. Tapi lama kelamaan bilangan itu jadi semakin besar, sehingga akhirnya merupakan tentara besar. Ini golongan samurai atau tukang berkelahi yang dipiara oleh tuan-tuan tanah, mulai ada dalam abad kesembilan. Sedari mulai ada ini golongan tukang berkelahi sampai pada abad ketujuhbelas, di zamannya pemerintahan dari shogun Tokugawa, kesetiaan pada tuan ada satu hal mustahil buat si samurai. Perbuatan khianat dari si samurai pada tuannya merupakan satu cerita panjang dan sangat jelek dalam sejarah Jepang. Perkaranya samurai bunuh tuannya bisa diitung puluhan. Perkara samurai lari dari tuan yang satu pada tuan yang lain ada satu kejadian hari-hari. Pendeknya perbuatan khianat dan tidak setia adalah salah satu hal paling celaka dalam sejarah Jepang dari dulukala sampai pada zamannya pemerintahan dari shogun Tokugawa dalam abad ke tujuhbelas. Maka itu tatkala di permulaan dari pemerintahan Tokugawa filosofi Tionghoa mulai dipahamken pula dengan giat di Jepang, adalah pelajaran dari Teishu yang paling diutamaken dan dari antara sekalian isinya itu pelajaran, adalah terutama ia punya pelajaran tentang kesetiaan yang paling dipentingken. Berdasar atas kesetiaan yang diajar oleh pelajaran dari Teishu, shogun Tokugawa yang pertama, Ieyasu, telah karang semacam regulasi atau kumpulan aturan-aturan yang musti diturut oleh kaum samurai. Regulasi itu dinamaken "pusaka dari Ieyasu" dan mewajibken samurai setia mati-matian pada tuannya dan mengancam dengan hukuman bengis pada samurai yang tidak setia. Satu artikel dari regulasi itu bunyinya begini:
Jikalau seorang hamba (samurai) bunuh tuannya, ia musti dianggap sama seperti musuhnya raja dan ia punya sekalian sanak keluarga musti dianggap begitu juga dan musti dibikin habis bersama sekalian akar dan cabangnya. Jikalau seorang hamba (samurai) coba bunuh tuannya, meskipun percobaan itu gagal, sanak keluarganya pun musti dihukum mati semuanya.
Sedang perbuatan tidak setia dikutuk dan diancam dengan hukuman bengis sekali, kesetiaan dimuliaken setinggi-tingginya. Karena kebengisannya kaum samurai Tokugawa dalam hal menanam kesetiaan dalam batinnya kaum samurai, maka akhir-akhirnya kaum samurai bisa juga jadi orang-orang yang setia. Pada ini pelajaran setia yang diajar oleh pelajaran dari Teishu, ditambah pelajaran dari satu cabang dari agama Buddha Tionghoa, yang dalam bahasa Tionghoa dinamaken Ch'an (Sing Hudkauw) dan dalam bahasa Jepang dinamaken Zen. Ini satu cabang dari agama Buddha Tionghoa perlunya buat mengajar kaum samurai supaya ridlah hidup melarat, tidak kemilikan sama harta dan kebesaran dunia, pandang enteng perkara mati dan bisa tinggal sabar dalam segala keadaan, tidak peduli dalam keadaan bagaimana berbahaya pun. Demikianlah di zamannya pemerintahan Tokugawa, dari pelajarannya Teishu dan dari satu cabang dari agama Buddha Tionghoa, telah dibikin semacam hukum buat kaum samurai. Kira-kira tiga puluh tahun dulu Inazo Nitobe, dalam karangannya yang dimaksudken untuk bikin propaganda buat Jepang, ia kasih nama bushido atau "hukumnya tuan yang jadi orang peperangan", pada itu hukum kaum samurai yang dibikin dari filosofi Tionghoa dan agama Buddha Tionghoa. Sejak itu waktu orang Jepang suka sekali banggaken sifat setia, nekat dan penghidupan sederhana dari kaum samurai dan mereka punya bushido. Sebenarnya si samurai asalnya tidak begitu kebagusan. Mereka baru kenal kesetiaan sejak kaum samurai Tokugawa pegang pemerintahan di Jepang dalam abad ketujuhbelas dan sejak kaum itu dipaksa pakai pelajaran dari Tei-shu dan agama Buddha Tionghoa yang dinamaken agama Zen.
Kalau sekarang Jepang suka sekali banggaken kesetiaan dan kegagahan dari serdadu-serdadunya, harus jangan dilupa, yang mereka banggaken itu yalah buahnya pelajaran dari filosofi dan agama Tionghoa.
Berbareng sama Chu Hsi di Tiongkok ada hidup juga seorang pemikir lain, namanya Lu Hsiang Shan (Liok Tjhiang San) [Lu Xiangshan]. Ia hidup dari tahun 1130 sampai 1192. Seperti juga Chu Hsi, begitupun Lu Hsiang Shan jadi murid dari dua saudara Ch’eng yang tersebut di atas. Tetapi artian, yang Lu Hsiang Shan kasih pada pelajaran Khongcu, ada bertentangan dengan artiannya Chu Hsi. Begitulah ini dua pemikir menjadi musuh dari satu sama lain dalam hal pikiran. Dalam pertentangan ini, artian atau pelajaran dari Chu Hsi yang menang. Kebanyakan kaum terpelajar di Tiongkok di zaman pemerintahan Mongol atau Dinasti Yuan dan di zaman Dinasti Ming memuja pelajarannya Chu Hsi. Pelajarannya Lu Hsiang Shan terdorong ke belakang sama sekali.
Tapi dari tahun 1472 sampai tahun 1528 ada hidup di Tiongkok seorang pemikir yang namanya Wang Shou Yen (Ong Siu Jien) [Wang Shouren] alias Wang Yang Ming (Ong Yang Bing) [Wang Yangming], dalam bahasa Jepang disebut Oyomei. Wang Yang Ming ada seorang pengurus negeri dan jendral yang pandai dan selain dari itu ia pun ada seorang pemikir besar. Dalam filosofi atau ilmu pikiran Wang Yang Ming ada berbeda dari Chu Hsi dalam hal-hal yang penting. Ia jadi pengiring dari Chu Hsi punya musuh, Lu Hsiang Shan.
Wang Yang Ming lolosken dirinya dari kebiasaan kuno dan malahan bilang, orang boleh tidak usah baca buku, ia anggap, penyelidikan dengan teliti pada dunia di luar orang punya diri, tidak ada pentingnya atau cuma sedikit pentingnya, sebab sumbernya orang punya antero pengetahuan ada terdapat dalam orang punya pikiran sendiri. Di luar dari orang punya pikiran sendiri, tidak ada apa-apa yang benar, cuma ada omong kosong saja. Ini pikiran dan anggapan dari Wang Yang Ming bikin ia jadi bertentangan keras sama pengiring-pengiring dari pelajarannya Chu Hsi.
Chu Hsi bilang, perlu orang selidiki dunia dan hukum-hukumnya alam, sebelumnya orang coba tetapken apa yang musti dianggap sebagai hukumnya kebajikan. Wang Yang Ming bilang, penyelidikan begitu tidak perlu. Orang punya pengetahuan tentang dirinya sendiri adalah pelajaran yang paling tinggi. Chu Hsi bilang, asas pertama adalah hukumnya alam dan pikiran manusia berbeda dari hukumnya alam. Pikiran manusia menakluk pada hukumnya alam. Wang Yang Ming sangkal ini pendapatan dan kata, tidak perlu mempelajari alam di luar diri kita buat bisa tahu hukumnya alam. Buat mengetahui hukumnya alam sudah cukup kalau orang periksa hatinya sendiri. Siapa mengerti hatinya sendiri, ia itu mengerti alam. Chu Hsi bilang, pengalaman ada perlu buat bisa mengerti hukum-hukumnya alam. Ini pun disangkal oleh Wang Yang Ming. Chu Hsi bilang, lebi dulu orang musti mempunyai pengetahuan, kemudian barulah orang bisa berlaku sebagaimana mustinya. Wang Yang Ming bilang, pengetahuan dan kelakuan yang benar tidak bisa dipisah dari satu sama lain, hanya ada bersama-sama. Chu Hsi anggap teori dan asas ada penting. Wang Yang Ming anggap praktik paling penting.
Pokonya pikiran dari Wang Yang Ming ada tersimpul dalam ia punya peribahasa: "Tahu dan berbuat yalah satu". Berbuat yalah tahu dan tahu yalah berbuat dengan cara yang sempurna. Mengertinya, kalau orang tahu suatu hal baik, orang kudu lantas berbuat, jangan pakai tunggu-tunggu lagi. Dari perbuatan itu ternyata, orang tahu hal yang diperbuat itu. Dengan lain perkataan: Wang Yang Ming mengajar orang berbuat dengan sebet dengan segera, apabila orang sudah pikir tentang hal yang kudu diperbuat. Wang Yang Ming mengajar, orang jangan cuma memikir saja, tapi tidak berbuat apa-apa. Pikiran yang tidak dijalanken atau diwujudken dengan perbuatan, tidak ada gunanya. Pikiran, yang cuma asik memikir saja, tapi tidak diwujudken dengan perbuatan, itu pikirannya tukang mengimpi dan buat tukang mengimpi tidak ada tempat dalam ini dunia. Pikiran baru ada gunanya, kalau pikiran itu, setelah dapat dipikirken, lantas diwujudken sama perbuatan.
Seratus tahun sesudahnya Wang Yang Ming meninggal, ia punya pelajaran baru mulai masuk di Jepang. Di Jepang pelajarannya Wang Yang Ming mulai dikembangken oleh Nakae Toju, yang hidup dari tahun 1608 sampai 1648. Segera juga pelajarannya Wang Yang Ming dapat pengiring-pengiring yang gembira di Jepang. Lebih dulu dari bangsa Tionghoa sendiri, bangsa Jepang pandang Wang Yang Ming sebagai salah seorang pemikir paling besar. Sampai ini hari Wang Yang Ming dijunjung tinggi di Jepang. Di Tiongkok baru dalam waktu belakangan ini saja pelajarannya Wang Yang Ming dipahamken lebih banyak dari dulunya.
Orang bilang, karena pengaruhnya pelajaran dari Wang Yang Ming, maka orang Jepang sekarang sebet sekali berbuat apa-apa, cepat sekali bergerak untuk mendapatken maksud yang sudah dipikir. Menurut pelajarannya Wang Yang Ming, mereka lantas berbuat untuk mewujudken apa yang mereka sudah pikir. Dari antero filosofi Tionghoa, yang mempengaruhi pikirannya kaum terpelajar di Jepang sekarang ini barangkali, selainnya kesetiaan dan kebaktian yang diajar oleh pelajaranya Khongcu, adalah pelajarannya Wang Yang Ming yang paling berpengaruh di Jepang pada masa ini.
Selain hal-hal yang sudah diceritaken di atas. Jepang telah cangkok lagi satu pasal dari bangsa Tionghoa, yaitu ilmu silat Tionghoa, yang di Jepang dinamaken jiujitsu. Ini ilmu silat Tionghoa telah mulai dikembangken di Jepang oleh seorang Tionghoa, yang disebut Chen Gem Bin [Chin Gempin/Chin Genpin]. Setelah Dinasti Ming roboh dan dinasti Manchu memerintah di Tiongkok, ini orang Tionghoa melariken diri ke Jepang dan tinggal di Owari, di mana ia meninggal dalam tahun 1671. Sebelumnya ilmu silat Tionghoa dikasih masuk di Jepang, orang Jepang tidak ada mempunyai ilmu silat. Mereka cuma mempunyai ilmu gelut dan tukang-tukang gelut, tetapi tidak ada mempunyai ilmu silat dan ahli-ahli silat. Professor Murdoch ceritaken, beberapa pengarang Jepang sangkal jiu-jit-su mulai dikembangken di Jepang oleh Chen Gem Bin, sebab, katanya itu pengarang-pengarang Jepang. "malu buat mengaku sampaipun jiu-jit-su asalnya dari Tiongkok".
Di zaman dinasti Manchu sudah sempurna Jepang berguru sama bangsa Tionghoa. Antero kebudayaan dari bangsa Tionghoa sudah dikasih ajar pada bangsa Jepang, sampaipun pakaian pembesar pembesar Tionghoa ditiru juga dan dijadiken contoh buat pakaiannya pembesar-pembesar Jepang. Dari satu bangsa biadab Jepang jadi satu bangsa yang sekarang mengaku sopan, melulu oleh karena mereka seribu lima ratus tahun lamanya berguru pada bangsa Tionghoa, sudah cangkok antero kesopanan Tionghoa, segala bagian dari kesopanan Tionghoa baik kesopanan lahir maupun kesopanan batin.
II. Bangsa Barat Bentang Sayapnya ke Asia Timur
[sunting]Dari tahun 1368 sampai 1644 Dinasti Ming memerintah di Tiongkok. Dinasti ini adalah dinasti Tionghoa tulen, yang didiriken oleh Chu Yuan Chang (Tju Gwan Tjiang) [Zhu Yuanzhang] alias Hung Wu (Hong Bu) [Kaisar Hongwu] sebagai kaisar pertama dari dinasti itu dalam tahun 1368.
Sesudah Hung Wu meninggal, ia digantiken oleh ia punya putra Chu Ti (Tju Tik) [Zhu Di] sebagai kaisar Yung Lo (Ing Lok) [Kaisar Yongle] dalam tahun 1403.
Di bawah pemerintahan dari kaisar Yung Lo Dinasti Ming naik sampai di puncak dari kejayaannya. Di dalam negeri Yung Lo adaken keberesan. Kejayaan di dalam negeri bertambah besar. Yalah di bawah pemerintahannya Yung Lo, dalam tahun 1409, kota raja dari Dinasti Ming dipindah dari Nanking [Nanjing] ke Peking [Beijing], yang sekarang [1928-1949] dinamaken Peiping [Beiping]. Oleh karena keadaan dalam negeri ada jaya, maka Yung Lo bisa diriken istana, gedung-gedung negeri dan klenteng-klenteng di Peking, yang bikin Peking di zaman itu tidak ada bandingannya di seluruh dunia. Malah sekarang pun harus disangsi apa ada suatu ibu kota dalam dunia, yang begitu indah dan keren seperti Peking. Di luar negeri Yung Lo bentang kekuasaannya, tapi tidak sampai jadi imperialistis. Ia turut campur dalam kekalutan di Mongolia dan lakuken beberapa peperangan dalam itu negeri buat beresken itu kekalutan. Di masa itu shogun Yoshimitsu pegang kekuasaan memerintah di Jepang. Yung Lo terima baik permintaannya Yoshimitsu buat pasang pula perhubungan yang baik antara Tiongkok dan Jepang, sesudahnya Yoshimitsu menyataken ia mengakui kaisar Yung Lo sebagai tuannya.
Di Annam Yung Lo pun tanam kekuasaannya, seperti juga di Burma.
Lebih jauh Yung Lo kirim beberapa ekspedisi sama kapal ke negeri-negeri di Selatan. Ekspedisi-ekspedisi itu telah kunjungi Cochin China, Jawa, Sumatra, Borneo, Kamboja, Siam, India, Ceylon, Bengal, Arab, pesisir Somali (Afrika Timur) dan Ormuz di Teluk Persia.
Ekspedisi itu dikepalai oleh seorang kebiri nama Cheng Ho (The Ho alias The Sam Poo) [Zheng He] yang telah berpahala dengan menindes pemberontakan di Yunnan. Sedikit di luar kota Semarang ada klenteng Sam Po Kong, yaitu klenteng, di mana orang sembahyang pada ini The Sam Poo.
Cheng Ho berangkat pertama kali di musim panas dari tahun 1405 dari mulut sungai Yangtze dengan armada dari enam puluh dua kapal. Ini ekspedisi yang pertama lamanya lebih dari dua tahun. Dalam ini perjalanan yang pertama Cheng Ho singgah di Filipina, Sulu, Borneo, Cochin China, Kamboja, Siam, semenanjung Malaka, Sumatra dan Jawa, Armada dari Cheng Ho itu bawa banyak mas, sutra dan barang-barang berharga buat dikasihken sebagai persenan pada raja-raja dari berbagai-bagai negeri yang bakal dikunjungi. Di musim rontok dari tahun 1407 Cheng Ho pulang di Tiongkok dengan bawa utusan-utusan dari berbagai-bagai negeri, yang dengan sukanya sendiri menyataken takluk pada kekuasaannya raja Dinasti Ming. Lebih jauh ada turut juga raja Palembang, yang dibawa sebagai orang tangkapan, sebab sudah atur persekutuan buat serang orang-orangnya Cheng Ho.
Sesudah pakai tempo setahun buat bikin betul kerusakan dari kapal-kapalnya dan susun baru ia punya armada, Cheng Ho berangkat pula dari Tiongkok di musim rontok dari tahun 1408 dengan bawa empat puluh delapan kapal. Banyak tempat, yang ia telah kunjungi dalam perjalanannya yang pertama, ia kunjungi pula. Sekali ini itu armada Tionghoa lewat juga selat Malaka dan maju ke sebelah Barat sampai di Ceylon dan pesisir India. Selama kunjungan di pulau Ceylon, rajanya ini negeri coba serang dan tangkap Cheng Ho. Persekutuan itu ketahuan, Cheng Ho bawa itu raja yang khianat ke Tiongkok sebagai orang hukuman bersama ia punya sekalian famili dan pejabat-pejabat yang terutama. Sekembalinya itu ekspedisi ke Ceylon dalam tahun 1412, kaisar Yung Lo kembaliken kemerdekaannya itu orang-orang tawanan, tapi itu raja diturunken dari takhtanya dan diganti oleh seorang raja baru, yang diangkat oleh kaisar Tiongkok. Sejak itu waktu Ceylon tentu-tentu bayar upeti pada Tiongkok sampai di tahun 1459.
Cheng Ho punya ekspedisi yang ketiga lamanya dari November 1412 sampai dekat penghabisan musim panas dari tahun 1415. Hampir seantero tempo ini telah digunaken buat berperang di Aceh. Seperti sudah dibilang, bangsa Tionghoa itu waktu tidak kepingin merampok dan juga tidak kepingin merampas lain orang punya negeri buat dijadiken jajahan. Ceylon bisa dijadiken contoh. Rajanya ditangkap dan diturunken dari takhtanya melulu sebagai hukuman buat ia punya perbuatan khianat. Negerinya diserahken pada seorang Ceylon juga, yang diangkat sebagai raja baru, tidak dijadiken negeri rampasan dan jajahan dari Tiongkok. Begitupun peperangan di Aceh telah dilakuken bukan dengan maksud merampok atau merampas negerinya lain orang. Peperangan itu telah dilakuken melulu buat menjalanken titahnya keadilan dan kepantesan. Pada itu ekspedisi ada turut seorang nama Ma Huan sebagai juru bahasa. Ini Ma Huan catet kejadian-kejadian yang dialamken oleh itu ekspedisi ketiga. Menurut catetannya Ma Huan, seorang telah bunuh raja Aceh dan rampas takhta kerajaannya. Cheng Ho anggap ini perbuatan tidak pantes dan perangi itu perampas takhta kerajaan di Aceh. Ini perampok dapat dikalahken oleh Cheng Ho. Takhta kerajaan Aceh kemudian dikembaliken oleh Cheng Ho pada putranya raja yang dibunuh oleh si perampok.
Cheng Ho hidup lagi dua puluh tahun sehabisnya itu peperangan di Aceh. Dalam ini dua puluh tahun lagi empat kali ia bikin perjalanan ke negeri-negeri di Selatan. Perjalanannya yang penghabisan kejadian di antara tahun 1430 dan 1435. Dalam ini perjalanan yang penghabisan ia telah pergi sampai di Ormuz di Teluk Persia.
Sebagian karena kekuatan militernya yang angker dan sebagian karena kekayaan yang ditontonken, itu ekspedisi-ekspedisi dari Cheng Ho telah berhasil menaiken derajatnya Tiongkok di matanya kerajaan-kerajaan di Indo-China dan di tanah Melayu sampai di tingkatan tinggi, yang sampai sebegitu jauh belum pernah dicapai dalam sejarah dari Asia Timur. Di Palembang, Ceylon dan Aceh telah digunaken kekuatan militer buat tindes perlawanan dari raja-raja yang bermusuh, tapi di lain-lain negeri yang dikunjungi oleh Cheng Ho melainkan pertunjukan dari kekuatan dan kekayaan sudah cukup buat bikin raja-rajanya percaya kebesaran dan kekuatannya Tiongkok dan surung mereka mengirim utusan sama upeti ke istana Dinasti Ming.
Dalam tahun 1405 dan 1407 di Nanking datang utusan dari raja Malaka. Dalam tahun 1406 datang utusan dari raja-raja di Borneo, Luzon (Filipina) dan Brunei, sedang dalam tahun 1408 raja Luzon dan raja Brunei datang sendiri buat menyampaiken hormatnya pada kaisar Ming. Dalam tahun 1411 raja Malaka pun kunjungi istana raja Tiongkok itu. Dalam tahun 1417 tiga raja dari pulau-pulau Sulu bersama sanak keluarga dan pengiring-pengiringnya datang di kota raja Tiongkok.
Ini ekspedisi-ekspedisi dari Cheng Ho telah menjadi salah satu sebab yang terutama dari berantakannya kerajaan Majapahit. Ini kerajaan tadinya berkuasa sampai di luar tanah Jawa. Tapi kira-kira di tahun 1410 kekuasaannya Majapahit tidak melangkah batasnya tanah Jawa lagi, lantaran negeri-negeri di seberang, yang tadinya menakluk pada Majapahit, telah berontak dan merdekaken dirinya dari itu pemerintahan.
Tidak bisa dibilang dengan pasti, apakah pemberontakan-pemberontakan itu telah disebabken oleh datangnya armada-armada dari Cheng Ho ataukah Cheng Ho punya ekspedisi yang pertama telah dikirim oleh kaisar Yung Lo atas permintaan tulung dari itu negeri-negeri yang memangnya sudah berontak. Tapi satu hal sudah pasti, yaitu kedatangan yang pertama kali dari ekspedisinya Cheng Ho telah menyebabken banyak negeri Melayu yang kecil-kecil, antara siapa ada yang tadinya menakluk pada Majapahit, menyataken takluk pada kaisar Ming, sedang kunjungan yang berulang-ulang dari armadanya Cheng Ho mencegah Majapahit takluken poda negeri-negeri itu dan tanam pula kekuasaannya yang telah hilang. Hilangnya kekuasaan dari Majapahit atas jajahan-jajahannya tidak diganti dengan penjajahan oleh bangsa Tionghoa atas negeri-negeri itu. Bangsa Tionghoa sudah merasa puas, kalau saja mereka tidak diganggu. Mereka tidak kepingin merampas negerinya lain orang. Mereka malahan membantu memerdekaken atau menetapken kemerdekaan yang baru didapat dari negeri-negeri yang tadinya jadi jajahan. Penjajahan itu ditakdirken pada bangsa-bangsa Barat di hari kamudian.
Kira-kira tujuh puluh lima tahun sesudahnya Cheng Ho punya ekspedisi yang penghabisan, datang bangsa Portugis di Malaka. Inilah ada permulaan dari zaman, dalam mana negeri-negeri di bagian paling besar dari benua Asia dijadiken jajahan dari bangsa Barat.
Dalam tahun l511 Alburquerque, panglima perang Portugis, rampas Malaka. Sesudah Malaka dirampas oleh orang Portugis, panglima perangnya perlakuken saudagar-saudagar Tionghoa di situ dengan hormat dan manis sekali. Sepulangnya di Tiongkok itu saudagar-saudagar Tionghoa membawa kabar tentang manis budinya itu tetamu-tetamu baru dari Barat. Lima tahun sesudahnya rampas Malaka, satu pasukan kapal perang Portugis di bawah perintahnya Rafael Perestrello sampai di sisir Tiongkok. Dalam tahun 1517 satu pasukan dari delapan kapal di bawah perintahnya Fernao Peres de Andrade, yang bawa Thome Pires sebagai utusan dari raja muda Portugis di Goa, juga sampai di pesisir Tiongkok. Andrade bersama dua kapalnya di-izinken pergi ke Kanton, sedang sisa kapalnya tinggal di pulau Shangchuan, di seberang pesisir Kwangtung.
Saudagar-saudagar Arab di Kanton ceritaken pada pembesar-pembesar di itu kota, itu orang-orang Barat adalah bajak biadab. Tapi karena itu pembesar-pembesar ingat kabar-kabar yang baik, yang dibawa pulang oleh saudagar-saudagar Tionghoa dari Malaka, mereka tidak mau percaya ceritanya itu saudagar-saudagar Arab dan orang-orang Portugis diterima kedatangannya dengan hormat, Pires diizinken pergi ke Peking buat sampaiken kewajibannya sebagai utusan. Sedikit waktu sesudah Pires berangkat dari Kanton dalam perjalanan ke Peking, anggapan baik, yang telah dibangunken oleh Albuquerque dan oleh orang-orang Portugis yang pertama kali datang di Kanton, dibikin rusak oleh Simon de Andrade, saudara dari Fernao, yang datang di Shangch'uan sama empat kapal dan mulai berlaku kasar sekali. Ia daratken tentara di itu pulau, diriken sebuah benteng dan menjadi hakim sendiri dari orang-orangnya. Setelah kabar dari ini perbuatan sampai di Kanton, raja muda Kanton mulai percaya bicaranya saudagar-saudagar Arab tadi. Dengan segera raja muda Kanton kirim satu ekspedisi, yang dengan kekuatan senjata paksa itu penyerang berlalu dari itu pulau, Andrade punya serangan pada Tiongkok punya hak dipertuan membawa celaka buat itu utusan Portugis dari Goa. Tatkala Pires dalam bulan Januari 1521 sampai di Peking, ia lantas ditangkap dan dimasuken dalam penjara sebagai seorang mata-mata. Lain tahunnya dengan dirantai ia dikirim kembali ke Kanton, di mana ia meninggal dalam penjara dalam tahun 1523.
Selama dua puluh lima tahun sesudahnya percobaan yang gagal dari Simon de Andrade, orang Portugis terus coba jalanken di pesisir Tiongkok politiknya yang sudah ternyata berhasil di India dan semenanjung Melayu. Mereka diriken benteng sebagai pangkalan buat perniagaannya di Amoy, Ningpo dan Foochow. Ini tempat-tempat menjadi pangkalan dagang penting dan pembesar-pembesar Portugis di situ angkat dirinya menjadi hakim juga dari penduduk Tionghoa dalam itu bilangan-bilangan, seperti penduduk Tionghoa itu jadi bangsa taklukan dari bangsa Portugis. Pemerintah Tiongkok rada perlahan dalam mengambil tindakan terhadap pada orang-orang asing yang datang bikin rusuh di negerinya. Tapi dalam tahun 1545 pembesar-pembesar Tionghoa kirim tiga ekspedisi ke itu tiga benteng Portugis dan dalam sedikit tempo orang Portugis disapu bersih dari itu tiga tempat.
Sesudah dapat alamken dengan kerugian, mereka punya cara-cara yang berhasil di India tidak bisa dipakai dengan berhasil di Tiongkok, orang Portugis ubah politiknya dan berdaya-upaya buat ambil hatinya orang Tionghoa. Dalam tahun 1557 ini politik baru membawa hasil. Sebagai upah buat halnya orang Portugis telah bantu pembesar-pembesar Tionghoa menindes pembajakan, pada orang Portugis itu diizinken mendiriken beberapa gedung di pulau Makau. Tapi pembesar-pembesar Tionghoa tidak lupa kelakuan dulu dari itu tetamu-tetamu dari Eropa. Makanya orang-orang Portugis di Makau ditaruh di bawah penilikan keras. Perniagaan sama Kanton musti menakluk pada aturan-aturan bengis. Orang Portugis tidak boleh bikin gedung-gedung baru, malah tidak boleh bikin betul gedung-gedungnya yang sudah ada, jikalau tidak dapat izin dari pembesar-pembesar Tionghoa. Segala aturan dijalanken buat cegah orang Portugis melakuken perbuatan-perbuatan, yang bisa melanggar hak dipertuan dari Tiongkok. Menurut asas, yang dipakai oleh Dinasti Tang dalam abad ketujuh buat atur saudagar-saudagar asing yang tinggal di pelabuhan-pelabuhan Tiongkok, pemerintah Tiongkok dari Dinasti Ming izinken orang Portugis beresken sendiri mereka punya perselisihan perselisihan partikelir menurut mereka punya hukum sendiri. Tapi semua perkara kriminal dan semua perkara, dalam mana ada tersangkut kepentingannya rakyat Tiongkok, jikalau tidak bisa diberesken oleh orang tengah, musti diperiksa di depan hakim Tionghoa dan diputus menurut hukum Tionghoa.
Delapan tahun sesudahnya orang Portugis diriken kantornya di Makau, ekspedisi Spanyol sampai di Filipina dan bikin kepulauan itu jadi sebagian dari jajahan Spanyol. Tapi orang Spanyol tidak berdaya sungguh-sungguh buat berdagang sama Tiongkok. Daya-upaya, yang mereka kadang-kadang bikin, dihalangi oleh iri hatinya orang-orang Portugis di Makau.
Selama pemerintahan dari Dinasti Ming, orang Belanda dan orang Inggris telah coba berdagang sama Tiongkok, tapi hasilnya tidak seberapa. Percobaan pertama dari orang Belanda kejadian dalam tahun 1604, tatkala tiga kapal sampai di Makau dan minta permisi buat berdagang. Di masa itu pembesar-pembesar Tionghoa di Makau dan Kanton pandang semua orang baru dengan curiga. Dan tatkala orang Portugis ceritaken pada mereka, orang Belanda itu bangsa bajak, mereka tentu saja tidak dikasih permisi buat berdagang. Percobaan kedua dari orang Belanda kejadian dalam tahun 1622. Dalam bulan Juni dari itu tahun satu pasukan dari tiga kapal Belanda, di bawah perintahnya Cornelis Reyerszoon, datang di Makau dengan bawa perintah buat rampas Makau dan bikin itu tempat jadi pangkalan dari perdagangan Belanda. Dengan tidak endahken barang sedikit pada haknya Tiongkok, Reyerszoon serang Makau dengan antero angkatan perang yang ia ada bawa. Serangan itu gagal sama sekali. Orang Portugis, dengan dibantu oleh tentara Tionghoa, pukul orang Belanda mundur kembali ke kapal-kapalnya dengan dapat kerusakan besar. Diusir dari Makau, itu pasukan kapal Belanda pergi ke utara sampai di pulau-pulau Pescadores, di mana mereka rampas satu pelabuhan. Dalam tahun 1630 mereka pindah ke pulau Formosa, di mana mereka tinggal sampai di tahun 1662, selama waktu mana mereka lakuken perdagangan yang memberi untung bagus sama pelabuhan-pelabuhan dari provinsi Fukien (Hokkian). Dalam tahun 1662 mereka diusir dari Formosa oleh The Kok Sing (Koxinga).
Percobaan pertama dari orang Inggris buat berdagang sama Tiongkok kejadian dalam tahun 1637, tatkala kapten John Weddell datang di Makau dengan satu pasukan dari empat kapal. Meski Weddell dalam perjalanannya telah singgah di Goa dan dapat permisi dari raja muda Portugis di situ buat berdagang di Makau, toh saudagar-saudagar Portugis di Makau berdaya sebisanya buat terbitken kerewelan antara pembesar-pembesar di Makau dan itu orang-orang Inggris. Sebab kelamaan tunggu permisi dari pembesar-pembesar Tionghoa buat pergi ke Kanton, Weddell paksa masuk di sungai Kanton dan berlabuh di seberangnya Kanton dengan meriam-meriam yang sudah sedia buat disulut. Pembesar-pembesar di Kanton izinken orang Inggris tukar barang-barangnya sama gula, jahe dan lain-lain barang Tiongkok. Sehabisnya ini lagi satu atau dua kali orang Inggris lakuken percobaan yang tidak sungguh hati buat berdagang sama Tiongkok, tapi baru dalam tahun 1699, lima puluh tahun sesudahnya Dinasti Ming roboh dan diganti oleh Dinasti Qing, barulah orang Inggris bisa dapat bagian sungguh-sungguh dalam perdagangan dari Tiongkok.
Pemerintahan dari shogun Ashikaga di Jepang telah berakhir. Dari kekalutan dan peperangan di dalam negeri Jepang, yang terbit dengan robohnya kaum shogun Ashikaga, keluar seorang tani nama Hideyoshi sebagai orang yang paling berkuasa. Sesudah dapat kalahken sekalian musuh-musuhnya di dalam negeri dan dapat mempersatuken negeri di bawah perintahnya, Hideyoshi mengimpi buat takluken Tiongkok dengan ambil jalan dari Korea. Permintaannya Hideyoshi pada raja Korea buat kasih jalan pada ia punya tentara, telah ditolak dengan getas oleh itu raja. Dalam tahun 1592 satu angkatan perang Jepang dari dua ratus lima puluh ribu serdadu pilihan, yang sudah ulung karena dididik bertahun-tahun dalam peperangan di dalam negeri Jepang, menyerang masuk di Korea. Di daratan tentara Korea, karena pemimpin-pemimpinnya saling curiga satu sama lain, telah dikalahken oleh Jepang dengan gampang. Tapi di lautan angkatan perang Jepang dipukul kocar-kacir oleh armada Korea. Selagi tentara Jepang di daratan Korea terus-menerus beroleh kemenangan dan maju dengan cepat ke jurusan Tiongkok, kaisar Ming buru-buru kirim tentara buat menolong Korea. Kesudahannya Jepang di segala tempat dikalahken dan dipukul mundur sampai di pesisir Korea. Hideyoshi minta tunda perang dan berjanji akan tarik pulang sekalian tentaranya, kalau tentara Tionghoa tidak serang terus. Permintaan itu dilulusken oleh pihak Tiongkok dan Korea. Sebenarnya Hideyoshi melainkan kepingin dapat tempo buat kirim tentara baru ke Korea. Sesudah tentaranya di Korea diperkuatken oleh tentara baru, mendadak, selagi temponya penundaan perang belum habis, tentara Jepang menyerang pula pada tentara Korea dan Tionghoa. Tapi kembali Jepang dikalahken. Selagi peperangan berjalan terus buat kekalahannya Jepang, Hideyoshi meninggal. Tiongkok dan Korea kasih ampun pada sisanya tentara Jepang yang masih ada di Korea dan izinken mereka pulang ke negerinya.
Ini peperangan melawan Jepang di Korea, yang lamanya beberapa tahun, telah makan ongkos tidak sedikit dari pemerintah Dinasti Ming.
Padahal itu ditambah lagi halnya dari sebelah utaranya Tiongkok bangsa Manchu berulang-ulang bikin penyerangan dan menyebabken kerusakan milik tidak sedikit dalam bilangan-bilangan yang luas. Pekerjaan menangkis serangan-serangan itu pun meminta ongkos tidak sedikit dari pemerintah Dinasti Ming.
Oleh karena itu semua pajak menindih berat sekali pada rakyat di Tiongkok. Beban pajak yang berat ini dibikin jadi lebih berat pula oleh halnya musim panas keras menerbitken bahaya lapar dalam berbagai-bagai bilangan di Tiongkok. Dalam tahun 1621 di berbagai-bagai bilangan di Tiongkok terbit pemberontakan-pemberontakan.
Kepala-kepala rampok bisa dapat pengiring tidak sedikit dari antara ribuan orang yang sudah jadi mata gelap dan tidak punya rumah tangga lagi karena diserang bahaya lapar. Kepala-kepala rampok itu sampai jadi semacam raja-raja kecil dalam bilangan-bilangan yang luas. Pemerintah di Peking, yang repot menangkis serangan-serangan dari bangsa Manchu, tidak berani tarik tentaranya dari batas sebelah utara buat tindes itu kepala-kepala brandal.
Kepala rampok yang paling besar kekuasaannya karena itu keadaan kalut adalah Li Tzu Cheng (Lie Tju Sing) [Li Zicheng], yang dalam tahun 1637 cukup kuat atau cukup berani buat coba rebut ibu kota dari Szechwan [Sichuan], yaitu kota Chengtu [Chengdu]. Tapi percobaannya itu gagal. Ia dipukul mundur dari Chengtu. Dari situ Li Tzu Cheng mundur ke Hukuang (provinsi Hupeh dan Hunan), belakangan ia maju menerus Szechwan masuk dalam provinsi Shensi [Shaanxi] dan dalam tahun 1640 ia masuk dalam provinsi Honan [Henan] dengan mengepalai angkatan perang yang kuat. Di permulaan tahun 1642 Li Tzu Cheng sudah berkuasa atas seluruh provinsi Honan di sebelah selatan dari sungai Huangho [Huanghe]. Dari situ ia menyerang masuk dalam provinsi Shansi, yang berdamping sama provinsi Honan. Dalam tahun 1643 di kota Sianfu [Xiangyang], yaitu kota raja Tiang An [Chang An] dari zaman Dinasti Tang, ia maklumken dirinya jadi raja dan pakai gelaran kaisar. Ia keluarken maklumat yang Tuhan sudah cabut surat kuasanya pada Dinasti Ming (sudah ditakdirken turun dari takhta kerajaan). Ia ambil putusan buat kepalai tentaranya menyerang kota raja Peking.
Sedang ini "kaisar" pemberontak maju ke kota raja dengan mengepalai balatentara dari tiga ratus ribu orang, menteri-menterinya raja di Peking repot saling satru satu sama lain dan tidak bisa dapat kecocokan pikiran sama satu dengan lain. Dalam kota raja ada seratus lima puluh ribu serdadu, yang dengan gampang bisa belaken tembok-tembok yang kuat dari itu kota melawan serangannya Li Tzu Cheng. Di Sanhaikuan ada satu balatentara yang teratur baik, di bawah perintahnya Wu San Kuei (Go Sam Kui) [Wu Sangui], jendral paling cakap yang masa itu bekerja sama pemerintah. Buat kota raja ada terbuka dua jalan yang selamat. Tentara di Shanhaikuan bisa dipanggil pulang dan digabung jadi satu sama tentara di kota raja buat tempur musuh di medan perang. Atau kota raja bisa dijaga melawan serangan dari kawanan rampok sampai Wu San Kuei berangkat dari tempat kedudukannya dan serang musuh dari belakang. Tapi Wu San Kuei mempunyai musuh-musuh besar dalam kota raja, yang semua pada iri hati sama pahala-pahalanya itu jendral yang pandai dan sudah ambil putusan, tidak kasih kesempatan pada Wu San Kuei buat bikin pahala baru. Demikianlah diambil putusan buat tempur musuh di medan perang sama tentara yang ada dalam kota raja. Lain-lain percidraan dalam istana raja menyebabken tentara di Peking terpecah dalam dua bagian dan masing-masing bagian mempunyai pangiima perang sendiri, yang bermusuh pada satu sama lain. Tentu saja ini dua barisan tidak bisa bekerja sama-sama di medan perang. Barisan yang satu kena dikalahken dengan sempurna oleh musuh, sedang dari barisan yang lain sebagian besar serdadunya menyerah pada musuh. Pada tanggal 18 dari bulan ketiga, tahun 1644, Li Tzu Cheng sampai di depan pintunya Peking dan suruh raja turun dari takhtanya. Ditinggalken oleh pejabat-pejabatnya, siapa punya sirik hati pada satu sama lain telah menyebabken kecelakaannya, kaisar Chung Cheng [Chongzhen] bunuh diri, tertimbang ditangkap oleh kaum pemberontak, Li Tzu Cheng masuk dalam kota raja dan maklumken dirinya jadi raja, tetapi cuma buat sedikit waktu saja.
Sedang nasibnya Peking dan Dinasti Ming lagi terayun-ayun, belum ketentuan apa jadinya, Wu San Kuei tinggal terus di Shanhaikuan, menurut perintah yang dikasih padanya akan jangan tinggalken itu kota. Sesudahnya Peking jatuh di tangan musuh, ia bikin perdamaian sama bangsa Manchu dan minta mereka punya bantuan buat maju ke kota raja akan bikin pembalasan buat rajanya dan usir si perampok dari takhta kerajaan. Dengan bantuannya bangsa Manchu, Wu San Kuei dapat mengalahken kaum pemberontak, Li Tzu Cheng bersama sisa tentaranya mundur ke provinsi-provinsi di sebelah Barat, di mana ia akhirnya ditangkap dan dibunuh. Sesudah itu Wu San Kuei minta pada bangsa Manchu supaya kembali ke negerinya di sebelah utara, tetapi bangsa Manchu tidak ada niatan buat kembaliken Dinasti Ming atas takhta kerajaan Tiongkok. Mereka telah disambut di Peking sebagai penulung negeri dan tentaranya duduki itu kota raja. Mereka lantas pindah kota rajanya dari Mukden ke Peking, tempatken rajanya sendiri atas takhta kerajaan Tiongkok dan maklumken ia jadi kaisar dari Tiongkok dan Manchuria.
Tatkala Peking jatuh dalam tangannya Li Tzu Cheng, beberapa pangeran dari famili raja telah bisa lolos dari tangannya dan pergi ke selatan, di mana kira-kira enam tahun lamanya mereka melawan dengan sia-sia pada bangsa Manchu yang maju ke selatan. Bermula Nanking, kemudian Hangchow [Hangzhou] dan akhirnya Kanton [Guangzhou] jadi tempat kedudukannya ini pangeran-pangeran dari Dinasti Ming buat melawan pada bangsa Manchu. Enam kaisar Ming berganti-ganti dengan cepat. Tapi satu per satu provinsi jatuh dalam tangannya bangsa Manchu. Dalam tahun 1647 mereka dapat rampas kota Kanton. Sesudah Kanton jatuh, satu pangeran dari Dinasti Ming kumpul tentara di Kwangsi [Guangxi] dan Yunnan dan tahun berikutnya beberapa provinsi lain turut membantu melawan pada bangsa Manchu. Tapi di akhirnya tahun 1650 boleh dibilang seluruh Tiongkok sudah dapat dirampas oleh bangsa Manchu. Beberapa pengiring yang setia dari Dinasti Ming masih terusken perlawanannya di lautan, tapi di daratan boleh dibilang semua perlawanan pada bangsa Manchu sudah dapat dikalahken.
Selainnya Wu San Kuei, lagi banyak pejabat Tionghoa siang-siang sudah berpihak pada bangsa Manchu. Terutama karena bantuannya ini pejabat-pejabat Tionghoa, maka bangsa Manchu dengan cepat bisa bentang antero kekuasaannya di seluruh Tiongkok.
Wu San Kuei barangkali pikir, melawan tidak ada harapan buat menang dan lebih jauh ia barangkali pikir, cuma bangsa Manchu bisa kembaliken keberesan dalam negeri Tiongkok yang lagi ketimpah kekalutan besar. Begitulah ia jadi kasihken bantuannya pada bangsa Manchu buat bikin seluruh Tiongkok lekas terima baik pemerintahan dari bangsa Manchu, tetapi oleh karena itu maka Wu San Kuei jadi dikutuk oleh semua pengarang sejarah Tionghoa sebagai pengkhianat besar.
Demikianlah kekuasaan memerintah pindah dari tangannya Dinasti Ming, yaitu dinasti Tionghoa tulen, ke tangannya dinasti Manchu, yang memerintah dengan gelaran Dinast Qing.
Sesudah bangsa Manchu pegang kekuasaan, aturan memerintah di Tiongkok boleh dibilang tidak diubah barang sedikit. Antero aturan bersama hukum-hukum, yang bangsa Manchu dapat waris dari Dinasti Ming, dipakai terus tanpa diubah.
Dinasti Manchu bermula melahirken berbagai-bagai raja yang cakap. Raja Manchu yang penghabisan yang cakap adalah kaisar Ch'ien Lung (Kian Liong) [Qian Long], yang memerintah dari tahun 1735 sampai 1795. Selama pemerintahan dari Ch'ien Lung, suku-suku bangsa Mongol di utaranya Tiongkok dibikin takluk betul-betul. Dalam tahun 1760 Turkestan Timur (sekarang Sinkiang [Xinjiang]), yang di zaman Dinasti Tang menjadi sebagian dari Tiongkok, telah direbut kembali, lantaran mana Tiongkok jadi berkuasa pula atas jalanan-jalanan kuno di sebelah Barat dari Tiongkok. Lebih jauh Tibet ditakluken di bawah pemerintahan Manchu. Dalam tahun 1792, buat bales serangannya bangsa Gurka dari Nepal pada Tibet, Ch'ien Lung kirim satu tentara dari tujuh puluh ribu serdadu, yang pukul bangsa Gurka mundur dan uber mereka sampai di dalam negerinya, lantaran mana Nepal menyataken takluk pada Tiongkok, cuma di satu jurusan tentaranya Ch'ien Lung tidak mendapat hasil yang diharep. Di antara tahun 1765 dan 1769 empat ekspedisi telah dikirim dari Yunnan buat serang kerajaan Burma, yang letaknya di sebelah selatan dari Yunnan. Tapi karena hawa yang panas dari itu negeri, yang bikin sangat banyak serdadu Tionghoa jadi sakit dan mati, maka serangan-serangan itu tidak berhasil, tapi akhir-akhirnya raja Burma pun menyataken takluk pada Tiongkok dan tiap sepuluh tahun sekali mengirim upeti ke Peking.
Semua orang asing, yang mengawasi itu pembentangan kekuasaan dari Tiongkok di bawah pemerintahannya Ch'ien Lung, pada kagumi itu kaisar Manchu punya politik luar negeri yang berhasil begitu bagus. Tapi rakyat Tionghoa sendiri, yang selamanya tidak kena dibikin kagum oleh perampasan pada lain orang punya negeri, menjadi kurang senang karena semua peperangan itu meminta ongkos besar dan menjatuhken beban berat pada rakyat. Di segala bagian dari Tiongkok mulai terbit perkumpulan-perkumpulan rahasia, yang berhaluan revolusioner dan anti dinasti Manchu. Sampai pada robohnya dinasti itu, perkumpulan perkumpulan rahasia itu selalu menjadi sumber kekalutan di dalam negeri. Sedang di dalam negeri terbit perasaan kurang senang keras pada dinasti Manchu, yang semakin lama menjalar semakin luas dan dalam, ditambah lagi justru di masa itu terbit perselisihan perselisihan yang semakin besar antara pemerintah Tiongkok dan bangsa bangsa Eropa.
Di Tiongkok, candu sudah terkenal di zamannya Dinasti Tang, tapi sampai pada pertengahan dari abad ketujuhbelas candu itu di Tiongkok dipakai melulu buat obat saja. Kira-kira di tahun 1620 kebiasaan isep tembako masuk di Tiongkok dari Filipina. Tidak lama kamudian orang-orang Belanda di Formosa dapat tahu, kalau tembako diisep sama candu, bisa dipakai buat mencegah penyakit malaria. Dari Formosa ini kebiasaan isep tembako dicampur candu masuk ke Fukien (Hokkian) [Fujian], yang letaknya di seberang Formosa. Kira-kira di akhirnya abad ketujuhbelas di Tiongkok orang isep candu tidak lagi sebagai obat, tetapi sebab bisa bikin orang seperti mabok.
Di tahun 1729 ini kejahatan isep candu, yang perlahan-perlahan menjalar dari Fukien ke lain-lain provinsi di Tiongkok yang berdamping sama Fukien, disampaiken pada kaisar Yung Cheng (Yong Tjing) [Yongzheng], ayahnya kaisar Ch'ien Lung, yang lantas keluarken firman, melarang orang buka tempat- tempat isep candu dan melarang penjualan candu buat diisep. Selama pemerintahan dari Ch'ien Lung ini larangan diulangken, tapi rupanya tidak berhasil. Dalam tahun 1800 Chia Ch'ing (Ke Khing) [Jiaqing], penggantinya kaisar Ch'ien Lung, keluarken firman yang melarang keras orang tanam candu di Tiongkok dan kasih masuk candu dari luar negeri. Dalam tahun 1729, waktu Yung Ch'eng terbitken firmannya yang pertama, pemasukan candu ke Tiongkok, yang terutama ada dalam tangannya orang Portugis, berjumlah kira-kira dua ratus peti setahun, tiap-tiap peti isinya 133⅓ pond. Selewatnya itu tahun, itu bilangan perlahan-perlahan bertambah banyak. Dalam tahun 1773 kongsi Inggris East India Company adaken monopoli candu dalam daerahnya di India. Kira-kira di tahun 1790 candu yang dikasih masuk di Kanton dari luar negeri berjumlah kira-kira lima ribu peti dengan harga kira-kira tiga sampai empat juta dollar.
Bagian paling besar dari candu yang dikasih masuk di Tiongkok jalan Kanton asalnya dari India dan dikasih datang oleh East India Company. Lain dari itu ada juga datang candu dari Turki dan Persi. Saudagar dari segala bangsa, terhitung juga orang Amerika, turut dagangken ini candu.
Buat orang-orang asing dan perdagangan asing di Kanton pembesar-pembesar Tionghoa telah adaken aturan-aturan yang bengis. East India Company telah minta pada pemerintah Inggris supaya bikin pembicaraan sama pemerintah Tiongkok buat dapatken perubahan dari itu aturan-aturan yang keras. Pemerintah Inggris lulusken ini permintaan dari rakyatnya yang berdagang di Kanton. Tapi utusan pertama, yang dikirim oleh pemerintah Inggris ke Tiongkok, telah dapat kecelakaan karena kapal, yang ditumpangi, tenggelam, yaitu dalam tahun 1788. Dalam tahun 1792 pemerintah Inggris kirim utusan yang kedua, ini kali dikepalai oleh Lord Macartney. Dalam bulan Agustus 1793 ini utusan sampai di mulut sungai Pai Ho, Macartney dan pengiring-pengiringnya dikirim mudik dari Taku ke Tungchow dengan naik sampan-sampan Tionghoa, di mana pembesar-pembesar Tionghoa pasang bendera-bendera dengan tulisan: "Penganter-penganter upeti dari negeri Inggris".
Sesampainya di Peking itu utusan-utusan Inggris dikasih tahu. Ch'ien Lung, yang itu waktu sudah berusia delapan puluh dua tahun, ada dalam istananya di Jehol. Sesudah berhenti sebentar di Peking. Macartney terusken perjalanannya ke Jehol. Tapi ini sekalian susah payah dari pihak Inggris tidak membawa hasil apa-apa. Macartney dan pengiring-pengiringnya diterima dengan manis, barang-barang yang mereka bawa diterima dan dibales sama hadiahan yang sama berharganya, akan tetapi Ch'ien Lung tolak dengan pasti permintaannya itu utusan Inggris buat buka pelabuhan baru untuk perniagaan asing atau buat ubah aturan-aturan yang dijalanken di Kanton.
Dengan perantaraannya Lord Macartney Chien Lung kirim surat pada raja Inggris, George III, yang bunyinya sebagai berikut:
"Kau(George III). O, Raja, tinggal di seberangnya banyak lautan. Meskipun begitu, disurung oleh keinginanmu yang hina-dina buat turut dapat berkah dari kesopanan kita, kau telah kirim utusan yang dengan hormat sampaiken kau punya surat . . . . . . . Aku sudah baca suratmu itu: bahasa yang dipakai dalam surat itu menunjuken kau merendahken diri dan menghormat padaku. Perbuatan itu harus dipuji tinggi.
Mengingat yang kau punya cetusan dan pengiring-pengiringnya sudah bikin perjalanan jauh sama kau punya surat dan upeti, maka aku telah unjuken kemurahan hati besar padanya dan sudah izinken ia dikasih ketemu sama aku. Buat unjuken aku punya kemurahan hati, aku pun telah izinken ia turut makan dalam sebuah perjamuan makan dan kasih padanya banyak hadiah . . . . . . .
Pasal permuhunanmu yang sangat buat boleh mengirim salah seorang rakyatmu akan menjadi wakilmu di aku punya Astana Langit buat menilik perdagangannya negerimu sama Tiongkok, ini permohonan ada berlawanan dengan segala kebiasaan dari ahalaku dan tidak mungkin dilulusken . . . . . . . Kalau kau bilang, kau punya perindahan pada kita punya ahala Langit bikin kau jadi sangat kepingin buat dapat juga kesopanan kita, maka harus diterangken, upacara dan undang-undang kita berbeda terlalu besar dari kau punya upacara dan undang-undang, hingga, meskipun kau punya utusan sanggup pelajari kulit-kulitnya kesopanan kita, kau toh tidak akan bisa tanam kita punya adat istiadat dan adat lembaga di kau punya tanah yang asing. Karena itu biar bagaimana sungguh hati adanya kau punya utusan, toh kau tidak akan bisa dapat faedah apa-apa.
Aku memerintah seluruh dunia, maksudku cuma satu, yaitu menjalanken pemerintahan yang sempurna dan memenuhi kewajiban-kewajiban dari pemerintah. Barang-barang aneh dan berharga mahal tidak menarik perhatianku. Kalau aku sudah perintah buat terima upeti yang kau kirim, maka hal itu kejadian melulu karena mengingat perasaan hatimu, yang sudah menyurung kau buat mengirim upeti itu dari tempat begitu jauh. Kebejikan yang mulia dari ahala kita sudah masuk di segala negeri di bawah langit dan raja-raja dari segala bangsa sudah kirim upetinya yang berharga mahal dengan jalan darat dan laut. Sebagaimana kau punya utusan bisa lihat sendiri, kita mempunyai segala barang. Aku tidak hargaken barang-barang aneh atau baru dan tidak bisa pakai barang-barang bikinan pabrik-pabrik di negerimu." Belakangan, dalam tahun 1816 pemerintah Inggris kirim utusan baru ke Peking, ini kali dikepalai oleh Lord Amherst.
Ini utusan gagal lebih sempurna lagi dari utusan yang duluan. Tanggal 29 Agustus malam itu utusan Inggris sampai di Peking. Amherst buru-buru pergi ke Yuan Ming Yuan (Wan Bing Wan) atau istana musim panas dari kaisar, di mana ia sampai pada jam lima pagi dan dikasih tahu, ia akan segera diterima oleh kaisar. Amherst kasih tahu, ia tidak bisa mengadep kaisar dalam tempo begitu pendek. Ia sudah capai sekali, pakaiannya penuh debu, ia punya pakaian istana dan surat-surat keangkatan ia tidak bawa, maka itu ia minta tempo sebelumnya dikasih mengadep pada kaisar. Dengan harapan supaya ia punya permintaan tempo itu dilulusken, ia kasih tahu, ia lagi tidak enak badan. Sebagai jawaban atas pengakuannya yang ia tidak enak badan, dokternya kaisar dikirim buat periksa padanya. Setelah itu dokter Tionghoa kasih tahu pada kaisar, Lord Amherst cuma pura-pura saja sakit, kaisar Chia Ch'ing jadi marah besar. Ia lantas keluarken perintah, itu utusan yang tidak tahu adat musti lantas diusir dari istana dan dianterken ke Kanton, di mana ia tanpa tempo lagi musti naik kapal berangkat pulang ke negerinya.
Seperti sudah diceritaken, kendati firman-firman kaisar melarang pemasukan dan penjualan candu di Tiongkok, toh di permulaan dari abad yang dulu bilangan candu yang dikasih masuk di Tiongkok dari luar negeri selalu bertambah. Dari tahun 1828 sampai 1834 East India Company saja kasih masuk di Kanton sama sekali 92.957 peti candu atau rata-rata 15.493 ton atau sedikit lebih dari dua ribu ton setahun. Kapal-kapal Amerika, Belanda, Prancis dan Portugis juga turut kasih masuk candu di Kanton, hingga candu yang dikasih masuk di Kanton setahunnya berjumlah rata-rata 18 ribu peti.
Tahun 1834 adalah tahun penghabisan dari monopolinya East India Company buat berdagang di Tiongkok. Selewatnya itu tahun kongsi Inggris itu berhenti pegang itu monopoli, hingga semua orang Inggris, kalau suka, boleh berdagang di Kanton. Dalam lima tahun yang berikutnya itu penghapusan dari monopolinya East India Company atau dari tahun 1835 sampai 1810 pemasukan candu di Kanton bertambah lebih banyak lagi. Dari tahun 1838 sampai 1839 ditaksir tidak kurang dari 40 ribu peti candu dikasih masuk di Kanton. Dalam itu tempo lima tahun rata-rata setahunnya pemasukan di Kanton tidak kurang dari 30 ribu peti. Sejak kaisar Tao Kuang [Daoguang] duduk atas takhta kerajaan Tiongkok dalam tahun 1820, itu soal perdagangan candu telah menarik perhatian semakin besar dari pembesar-pembesar di Peking. Dalam tahun 1836 dibicaraken pasal bikin lebih bengis larangan yang sudah ada atau ubah larangan itu. Di akhirnya tahun 1838 kaisar ambil putusan larangan itu musti dijalanken dengan bengis. Buat jalanken itu kehendak raja, Lin Tse Hsu (Liem Tjik Tjhie) [Lin Zexu], dulu raja muda dari provinsi Hupeh [Hubei] dan Hunan, dikirim sebagai komisaris ke Kanton, di mana ia sampai pada 10 Maret 1839. Lin Tse Hsu dikasih kekuasaan sebagai diktator. Ia dikasih kuasa buat periksa itu perdagangan candu dan berlaku turut pikirannya sendiri.
Selama delapan hari sesudah ia sampai di Kanton, Lin Tse Hsu bikin peperiksaan. Tanggal 18 Maret ia jalanken kekuasaan. Kantor-kantor dagang asing dikepung oleh barisan serdadu dan saudagar-saudagar asing diperintah buat serahken semua candu di dalam gudangnya dan menandatangani perjanjian, selamanya tidak akan kasih masuk candu lagi. Tiap-tiap pelanggaran dari ini janji akan dihukum sama hukuman mati, kapal yang muat candu dan antero muatannya dirampas. Kepala dari saudagar-saudagar Inggris pada itu waktu, kapten Charles Elliot, lantas buru-buru berangkat dari Makau ke Kanton buat protes itu larangan, tapi sesampainya di Kanton ia jatuh dalam kekuasaannya Lin Tse Hsu, yang ulangken perintahnya buat serahken semua candu yang ada dalam gudang. Lebih jauh ia jalanken aturan-aturan baru buat paksa orang turut perintahnya. Pada maleman dari harian kapten Elliot sampai di Kanton, semua pegawai Tionghoa diperintah tinggalken kantor-kantor dagang asing, di mana mereka bekerja. Orang-orang asing yang kena kepung, tidak bisa bikin perhubungan sama sekali dengan penduduk Kanton.
Kapten Elliot mengerti ia tidak bisa melawan dan turuti perintahnya Lin Tse Hsu buat serahken candu yang ada dalam gudangnya orang-orang Inggris. Begitu lekas itu candu sudah diserahken pada pembesar-pembesar Tionghoa, aturan-aturan yang dijalanken terhadap pada orang-orang asing lantas diubah. Bermula mereka dikasih barang makanan, belakangan jongos-jongosnya di-izinken kembali ke tempat majikannya. Sama sekali orang Inggris serahken 20.291 peti candu. Sesudah selesai ini penyerahan, barisan yang mengepung kantor kantor dagang asing lantas dipanggil pulang dan orang Inggris dikasih tahu, apabila mereka kasih surat perjanjian tidak akan lagi dagangken candu, perdagangan boleh diterusken seperti biasa. Sementara itu candu yang diserahken, segera disuruh bakar semuanya oleh Lin Tse Hsu. Orang asing boleh mengutuk atas sikap yang keras dari Lin Tse Hsu, tetapi dalam hati mereka memuji kejujurannya ini pejabat. Atas perintahnya kapten Elliot orang-orang Inggris di Kanton tinggalken itu kota dan pergi ke Makau, sedang sejumlah kapal Inggris berlabuh di pelabuhan dari pulau Hongkong. Di permulaan bulan Juli 1839 satu perselisihan antara beberapa orang Tionghoa dan sekumpulan kelasi Inggris dan Amerika di daratan di seberang Hongkong menyebabken kematiannya seorang Tionghoa. Lin Tse Hsu minta orang yang bersalah supaya diserahken buat diperiksa dan dihukum oleh pembesar-pembesar Tionghoa. Kapten Elliot tidak mau turut itu perintah dan malahan larang orang-orang Inggris kasih perjanjian akan tidak berdagang candu lagi. Tanggal 15 Agustus Lin Tse Hsu ancam akan kepung Makau kalau orang Inggris tidak pergi dari situ. Orang-orang Inggris di Makau lalu pindah ke pulau Hongkong, di mana dua minggu belakangan datang dua kapal perang Inggris. Tanggal 3 November itu dua kapal perang Inggris dan sejumlah prau jong Tionghoa ketemu di sungai yang pergi ke Kanton. Kapal perang Inggris tembaki itu prau prau, lantaran mana empat prau itu tenggelam. Demikianlah jadi terbit peperangan yang terkenal dengan nama Perang Candu.
Lebih dari tujuh bulan sesudahnya itu prau-prau jong ditembaki oleh orang Inggris, tidak ada terjadi perkelahian antara orang Inggris dan orang Tionghoa. Dalam bulan Juni 1840 satu pasukan dari dua puluh kapal perang Inggris, disertaken dengan dua puluh delapan kapal yang angkut serdadu, sampai di lautan Tiongkok, tapi meskipun begitu, peperangan masih dilakuken dengan setengah hati saja oleh kedua pihak. Tapi di permulaan dari tahun 1842 panglima perang besar dari itu pasukan laut Inggris mulai bikin gerakan seru di muara sungai Yangtze. Tanggal 20 Juli orang Inggris serang dan rampas Chin Kiang, tanggal 9 Agustus mereka sampai dekat kota Nanking. Melihat ini keadaan, pemerintah di Peking buru-buru mau bikin perjanjian buat berdamai. Tanggal 29 Agustus 1842 di Nanking ditandatangani perjanjian berdamai antara Sir Henry Pottinger, utusan Inggris dan tiga utusan dari kaisar Manchu.
Isinya perjanjian berdamai Hu menunjuken nyata kelemahannya kaisar Manchu yang masa itu memerintah di Tiongkok. Pemerintah Manchu sanggupi akan bayar penggantian kerugian pada Inggris sejumlah 21 juta dollar Mexico, yaitu enam juta buat ganti harganya candu yang dibakar, 3 juta buat bayar utangnya berbagai-bagai saudagar di Kanton pada saudagar-saudagar Inggris dan 12 juta buat ganti ongkos perang dari Inggris. Pulau Hongkong diserahken pada Inggris buat selama-lamanya.
Atas permintaannya Inggris, perjanjian itu menentuken, pelabuhan Kanton, Amoy, Foochow, Ningpo dan Shanghai dibuka buat orang asing tinggal dan berdagang. Di ini lima kota pelabuhan pemerintah Inggris berhak angkat konsul sebagai orang perantaraan antara pembesar-pembesar Tionghoa dan saudagar-saudagar Inggris. Lebih jauh pemerintah Manchu berjanji buat adaken tarif bea buat barang-barang yang dikasih masuk di Tiongkok dan yang dikirim ke luar dari Tiongkok. Sesudah bayar bea yang ditentuken, barang-barang dagangan Inggris boleh dibawa oleh saudagar-saudagar Tionghoa ke udik-udiknya Tiongkok.
Itu perjanjian di Nanking bikin berhenti Perang Candu antara Inggris dan pemerintah Manchu.
Di bawah pemerintahan dari kaisar yang lebih cakap, belum tentu peperangan itu berakhir dengan kesudahan begitu merugiken pada Tiongkok.
Begitu lekas pecah perang, kaisar Tao Kuang (Too Kong) lantas buru-buru pungkir ia sudah kasih kekuasaan penuh pada Lin Tse Hsu dan timpahken semua salah pada Lin Tse Hsu. Setelah orang Inggris tidak peduliken ini penimpahan kesalahan pada Lin Tse Hsu dan terusken peperangan buat dapatken hak-hak luar biasa dalam hal perdagangan, si raja Manchu sangsi antara perang ataukah berdamai, seperti juga Tiongkok yang salah. Dan setelah diambil putusan buat berdamai, ia angkat sebagai utusan orang-orang, yang tidak mengerti mereka sendiri punya perbuatan saking bodonya. Mereka dapat kepercayaan begitu besar sampai diangkat jadi wakil melulu karena mereka ada bangsa Manchu. Akhirnya, sesudah perdamaian dapat dibeli dengan harga begitu mahal seperti diceritaken di atas, kaisar Tao Kuang tidak tolak itu perjanjian berdamai yang menghina, juga tidak ambil aturan aturan buat cegah di kemudian kejadian-kejadian hal begitu pula, hanya ia telan itu semua dan biarken perkara berjalan sejadi-jadinya.
Itu perjanjian di Nanking menjadi dasar buat perhubungan di hari kemudian antara Tiongkok dan Inggris. Dalam dua tahun kemudian lagi tiga perjanjian dibikin oleh pemerintah Tiongkok, yaitu perjanjian di Bogue sama Inggris tanggal 8 Oktober 1843; perjanjian di Wanghia sama Amerika Sarikat tanggal 3 Juli 1844 dan perjanjian di Whampoa sama Prancis tanggal 24 Oktober 1844. Ini adalah permulaan dari apa yang belakangan oleh kaum revolusioner Tionghoa dinamaken perjanjian-perjanjian pincang yang musti dihapusken selekasnya bisa. Belakangan perjanjian-perjanjian ini diubah dengan perjanjian-perjanjian, yang dibikin di antara tahun 1858 dan 1860.
Dalam tahun 1853 pemerintah Inggris minta dibikin perubahan dari bunyinya itu perjanjian, tapi raja muda di Kanton tolak permintaan itu. Dua tahun belakangan Amerika Serikat majuken permintaan begitu juga, tapi ini permintaan pun ditolak,
Dalam bulan Oktober 1856 pemerintah Inggris dan Prancis, yang berserikat melawan Rusia dalam peperangan di semenanjung Krim, ambil putusan buat bekerja sama-sama di Asia Timur dan bikin serangan bersama-sama pada Tiongkok. Orang Prancis ada mempunyai alasan buat bikin serangan itu, karena seorang pendeta Katolik bangsa Prancis, pére Auguste Chapdelaine, telah dihukum mati oleh pembesar-pembesar di provinsi Kwangsi. Pemerintah Inggris waktu itu tidak ada mempunyai alasan buat memerangi Tiongkok, tapi pemerintah Inggris sudah sedia buat gunaken kekuatan akan paksa pemerintah Tiongkok bikin perubahan dari perjanjian-perjanjian dulu, supaya bisa menyukupi pada keperluan yang bertambah besar dari perdagangan Inggris di Tiongkok.
Sewaktunya pemerintah Inggris lagi ambil putusan buat gunaken kekuatan akan paksa pemerintah Tiongkok turut maunya, raja muda di Kanton kasih alasan, yang orang Inggris lagi cari-cari buat jalanken maksudnya tadi. Tanggal 8 Oktober 1856 raja muda Yeh Ming Ch’en [Ye Mingchen] di Kanton kirim opsirnya buat tangkap anak buah bangsa Tionghoa dari kapal layar Arrow, yang itu waktu berlabuh di pelabuhan Kanton, dengen alasan anak buahnya itu kapal telah lakuken pembajakan. Ini kapal Arrow kepunyaannya orang Tionghoa, tapi dimasuken daftar di Hongkong, menurut satu hukum di Hongkong, yang tidak mau diaku sah oleh pemerintah Inggris di London, oleh pembesar-pembesar Inggris di Hongkong kapal itu dikasih permisi buat pakai bendera Inggris. Dengan pakai bendera Inggris itu kapal layar lakuken perdagangan candu yang dilarang oleh pemerintah Tiongkok. Pada waktunya anak buahnya itu kapal ditangkap, surat permisi buat pakai bendera Inggris sudah habis temponya, tapi dalam itu hukum di Hongkong ada satu pasal yang bilang, kalau kapal, yang surat permisinya habis temponya, masih ada dalam perjalanan, pendeknya tidak ada di Hongkong, kapal itu boleh pakai bendera Inggris terus sampai ia pulang di pelabuhan Hongkong. Konsul Inggris di Kanton, Parkes, minta supaya itu anak kapal lantas dikasih kembali dan dihaturken maaf buat itu hinaan pada bendera Inggris. Raja muda Yeh kembaliken itu orang-orang kapal, tetapi tidak mau minta maaf, sebab ia anggap ia tidak ada melanggar haknya orang Inggris.
Ini perkara kapal Arrow memberi alasan bagus pada pemerintah Inggris, yang sudah ambil putusan buat gunaken kekuatan, Lord Elgin, utusan Inggris, disuruh kirim ultimatum dan gunaken perkaranya itu kapal sebagai alasan. Dalam bulan Desember 1857 Lord Elgin kirim ultimatumnya pada raja muda Yeh, tapi dalam ultimatum itu ia sebut dengan sepintas lalu saja perkaranya itu kapal, sebab, menurut pikirannya itu utusan Inggris, itu perkara kapal Arrow ada satu perkara busuk dan membikin malu orang Inggris sendiri.
Kebetulan waktu itu di India terbit pemberontakan dari tentara Sepoy. Tentara Inggris, yang dimaksudken buat serang Tiongkok, musti dipakai di India. Lord Elgin sampai di Hongkong dalam bulan Juli 1857. Dalam bulan Desember baru ia kirim ultimatumnya pada raja muda di Kanton, kemudian dalam itu bulan juga lord Elgin dan utusan Prancis, baron Gross, dikasih kuasa buat serang Kanton sama kapal-kapal perang Inggris dan Prancis yang ada di situ. Sesudah lakuken ini gerakan, orang Inggris dan Prancis berdaya buat dapatken bantuannya Rusia dan Amerika Sarikat. Tapi ini dua negeri menolak akan bekerja sama-sama dengan menggunaken kekuatan militer. Tapi utusan Rus, graaf Putiatin dan utusan Amerika, W. B. Reed, turut bersama tentara Inggris dan Prancis pergi ke Tiongkok Utara dan gunaken kemenangannya orang Inggris dan Prancis buat dapatken juga perubahan dari perjanjian-perjanjian, yang negerinya sudah bikin sama Tiongkok.
Dalam bulan April 1858 kapal-kapal perang Inggris dan Prancis, yang sekarang sudah dapat tambahan angkatan perang darat yang cukup, sampai di Taku di muara sungai Pei Ho. Tanggal 20 Mei mereka minta benteng-benteng di Taku menyerah dan sebab permintaan itu tentu saja tidak dilulusken, mereka kemudian serang dan rampas benteng-benteng tersebut. Sembilan hari kemudian utusan-utusannya sampai di Tientsin [Tianjin], di mana, sesudah menunggu beberapa hari, mereka diketemui oleh utusan-utusan dari kaisar Manchu, yang dikasih kekuasaan secukupnya buat bicaraken perjanjian-perjanjian baru. Sesudah tiga minggu lamanya dibikin pembicaraan, dibikin empat perjanjian baru, yaitu perjanjian sama Rusia, yang ditandatangani pada 13 Juni, perjanjian sama Amerika, ditandatangani pada 18 Juni, perjanjian sama Inggris, yang ditandatangani pada 26 Juni dan perjanjian sama Prancis yang ditandatangani pada 27 Juni. Dibikinnya ini perjanjian di Tientsin cuma menyebabken dibikin penundaan perang saja, bukan pemberhentian perang antara Tiongkok dan itu dua negeri Barat. Tatkala utusan- utusan Inggris, Prancis dan Amerika dalam bulan Juni 1859 sampai di Taku dalam perjalanannya ke Peking buat tukar perjanjian yang sudah disahken oleh pemerintahnya, mereka dikasih tahu oleh pembesar-pembesar Tionghoa, mereka musti jalan darat ke Peking dari Peitang, satu pelabuhan kira-kira sepuluh mil di sebelah utara dari Taku. Benteng-benteng di Taku sendiri sudah dibikin kuat, sedang palang dan rantai besar-besar sudah dibentang menyeberang sungai buat cegah kapal-kapal masuk. Meskipun Tientsin tidak terhitung di antara pelabuhan-pelabuhan yang dibuka buat kediaman dan perniagaan orang asing dan dalam perjanjian-perjanjian tidak ada ditentuken haknya kapal-kapal perang asing buat masuk di sungai Pei Ho, toh utusan-utusan Inggris dan Prancis anggap ditutupnya itu sungai sebagai satu pelanggaran pada hak-haknya yang sudah ditentuken dalam perjanjian. Kapal-kapal perang, yang iringken utusan Inggris, coba paksa buka bendungan di sungai Pei Ho. Ini percobaan dipukul mundur oleh pihak Tionghoa dengan kerugian besar di pihak Inggris. Utusan Amerika, J. E. Ward, pergi ke Peking dengan ambil jalan yang diunjuken oleh pembesar-pembesar Tionghoa, tetapi utusan Inggris dan utusan Prancis kembali ke Shanghai, di mana mereka tunggu datangnya angkatan perang baru dan perintah-perintah baru.
Babakan penghabisan dari peperangan kejadian selama musim panas dari tahun 1860. Tanggal 30 Juli angkatan perang Inggris dan Prancis baru telah sampai di Peitang. Tanggal 21 Agustus benteng-benteng di Taku diserang dan dirampas. Tanggal 5 September tentara serikat itu ada di Tientsin, tanggal 21 September barisan Tionghoa dikalahken di luar temboknya Peking dan kaisar bersama orang-orang di dalam istananya pindah ke Jehol. Saudaranya kaisar, pangeran Kung, diwajibken buat bikin beres urusan sama orang Inggris dan Prancis.
Ahli-ahli militer asing tidak percaya, meriam-meriam Inggris dan Prancis pada waktu itu bisa bikin roboh tembok-tembok yang kuat dari kota Peking. Tapi pemerintah Manchu kalah gertak dan hilang nyalinya buat berperang. Tanggal 13 Oktober mereka turuti ultimatum dari tentara serikat dengan serahken pintu kota Anting di tembok sebelah utara. Tanggal 18 Oktober istana musim panas, Yuan Ming Yuan, dibikin hancur oleh orang Inggris dan Prancis. Tanggal 24 Oktober dalam kota Peking dibikin penukaran dari pengesahan perjanjian sama Inggris di Tientsin dan ditandatangani perjanjian tambahan. Esok harinya dibikin penukaran dari pengesahan perjanjian sama Prancis dan dibikin perjanjian tambahan sama Prancis.
Buat kedua kalinya Tiongkok diikat oleh negeri-negeri Barat sama perjanjian-perjanjian. Ini kali perjanjian-perjanjian itu banyaknya delapan macam, ditandatangani di antara tahun 1858 dan 1860. Selainnya empat perjanjian yang sudah ditandatangani di Tientsin dan perjanjian tambahan sama Inggris dan Prancis yang dibikin di Peking, Tiongkok telah bikin dua perjanjian sama Rusia, satu dibikin di Aigun pada 28 Mei 1858 dan satu di Peking pada 14 November 1859. Ini perjanjian-perjanjian ditambah sama rancangan tarif bea, yang ditetapken sesudah dibikin permufakatan antara utusan-utusan asing dan komisaris-komisaris dari pemerintah Manchu dan mempunyai kekuatan sama seperti perjanjian.
Ini gundukan kedua dari perjanjian-perjanjian pincang, yang Tiongkok terpaksa bikin sama negeri-negeri Barat, meluasken kekuasaan bangsa Barat atas aturan aturan tentang kediaman orang asing dan perniagaan orang asing di Tiongkok. Selainnya musti bayar penggantian kerugian pada Inggris dan Prancis buat ganti ongkos perang dan pada Amerika Serikat buat binasanya milik orang Amerika waktu permusuhan di Kanton, Tiongkok pun dipaksa buka lagi sepuluh pelabuhan untuk perniagaan asing, satu antaranya di Manchuria, satu di Shantung dan empat di sepanjang sungai Yangtze. Hak ekstrateritorialitas, yaitu haknya konsul asing buat jadi hakim dari rakyat negerinya yang bikin pelanggaran di Tiongkok, hingga orang asing di Tiongkok terluput dari kekuasaannya hakim dan hukum Tionghoa, menjadi sebagian dari bunyinya perjanjian yang Tiongkok bikin sama masing-masing dari itu empat negeri Barat.
Tadinya cuma Rusia diizinken oleh pemerintah Manchu menempatken utusan di Peking, tapi sekarang Inggris, Prancis dan Amerika juga dikasih hak buat taruh utusan di Peking. Lebih jauh ditentuken, pemerintah Manchu musti adaken Tsungli Yamen atau kantor urusan luar negeri yang musti jadi perantaraan dalam urusan antara pemerintah Tiongkok dan negeri-negeri asing. Perjanjian sama Inggris dari tahun 1858 menentuken, kapal-kapal perang Inggris, kalau datang tidak dengan maksud bermusuh atau kalau lagi menguber bajak, boleh datang dengan leluasa di segala pelabuhan dalam daerahnya kaisar Tiongkok. Karena itu maka sejak tahun 1860 negeri-negeri asing sebentar-sebentar bisa mengancam sama kapal perangnya, jikalau mereka merasa kurang senang karena mereka pikir pemerintah Tiongkok tidak jalanken betul bunyinya perjanjian-perjanjian itu. Lebih jauh negeri-negeri asing paksa ditentuken dalam itu perjanjian-perjanjian baru, pemerintah Tiongkok musti kasih tanggungan cukup pada pendeta-pendeta Kristen di Tiongkok dan orang~orang Tionghoa yang sudah masuk Kristen. Banyak onar dan kerugian sudah diterbitken pada Tiongkok oleh ini perjanjian buat melindungken pendeta-pendeta Kristen dan mereka punya pengiring-pengiring Tionghoa.
Perjanjian-perjanjian pertama, yang dibikin oleh Tiongkok sama negeri-negeri asing, tidak bicaraken urusan candu. Perjanjian sama Amerika menentuken, rakyat Amerika yang kasih masuk candu atau lain barang terlarang di Tiongkok, tidak akan dapat perlindungan dari pemerintahnya. Tapi perjanjian sama Inggris tidak sebut~sebut pasal perdagangan candu. Pembesar-pembesar Tionghoa pun tidak berdaya upaya lagi buat basmi perdagangan candu. Di tahun 1858 pemasukan candu di Tiongkok, yang dilakuken oleh orang-orang dari semua bangsa, selalu bertambah banyak sehingga jumlahnya dalam setahun tidak kurang dari lima ribu ton.
Perjanjian-perjanjian yang dibikin di Tientsin tidak bikin perubahan dalam ini keadaan. Cuma dari perjanjian sama Amerika dibikin hilang itu penetapan yang bilang, rakyat Amerika yang selundup candu di Tiongkok, tidak dapat perlindungan dari pemerintahnya. Selanjutnya juga tukang selundup bangsa Amerika akan dapat perlindungan dari pemerintahnya. Orang Amerika anjuri orang Inggris dalam daya-upayanya buat dapatken supaya perdagangan candu diaku sah oleh Tiongkok. Rancangan tambahan tarif bea, yang dibikin oleh utusan Inggris dan wakil-wakil Tiongkok, akhirnya sahken pemasukan candu di Tiongkok dengan tentuken, atas candu itu dikenaken bea masuk dari 30 tael buat tiap-tiap peti dari 133⅓ pond. Begitulah sesudah dua puluh tahun bercidra sama negeri-negeri Barat dan dua kali alamken peperangan sama negeri Barat, pemerintah Manchu terpaksa berhentiken daya-upayanya buat cegah masuknya candu di Tiongkok dan sejak itu waktu candu menjadi racun hebat buat rakyat Tionghoa.
Di antara tahun 1842 dan 1856 orang Inggris telah sewa dari Tiongkok sebagian kecil dari semenanjung Kowloon di seberangnya pulau Hongkong. Maksudnya Inggris sewa itu sepotong tanah adalah supaya bisa lebih baik perlindungken pelabuhan Hongkong. Kemudian, dengan perjanjian tambahan yang dibikin di Peking dalam bulan Oktober 1860, ini sepotong tanah di Kowloon dikasihken buat selama-lamanya pada Inggris.
Sementara itu di sebelah Utara dari Tiongkok orang Rus telah dapat dari Tiongkok sepotong tanah yang besar sekali. Orang Rus sudah lama berdaya buat ubah batas antara Siberia dan Tiongkok buat mereka punya keuntungan. Peperangan dari Tiongkok melawan Inggris dan Prancis memberi kesempatan pada Rusia buat kabulken keinginannya itu. Tanggal 28 Mei 1858 graaf Nicolas Muravieff bikin di Aigun satu perjanjian sama Tiongkok, dengan mana ditentuken sungai Amur menjadi batas antara Siberia dan Tiongkok. Perjanjian ini disahken oleh kaisar Manchu pada 14 Juni, yaitu satu hari sesudahnya dibikin perjanjian sama Rusia di Tientsin. Waktu tentara serikat duduki Peking dalam bulan Oktober 1860, utusan Rus di Peking, jenderal Ignatief, gunaken itu ketika yang pemerintah Manchu lagi kebingungan, buat bikin satu perjanjian baru sama itu pemerintah. Perjanjian ini ditandatangani pada tanggal 14 November dan kasihken pada Rusia hak seorang diri atas daerah pesisir di sebelah Timurnya sungai Ussuri dan Amur.
Kelemahannya Tiongkok dalam berurusan sama negeri-negeri Barat pada masa itu disebabken buat sebagian oleh halnya kaisar Manchu, yang semasa itu bertakhta di Tiongkok, memangnya ada seorang yang bersemangat lemah, yang sangat mengecewaken pada leluhur-leluhurnya yang gagah-berani dan buat sebagian lagi oleh halnya di dalam negeri Tiongkok sendiri terbit pemberontakan yang maha besar, yang terkenal dengan nama pemberontakan Tai-Ping dan dikepalai oleh seorang nama Hung Hsiu-Ch'uan (Ang Siu Tjhwan) [Hong Xiuquan].
Hung Hsiu Ch'uan terlahir dalam provinsi Kwangtung dalam tahun 1813. Meski sedari anak ia terkenal pinter dan sudah lulus dalam beberapa ujian, tetapi buat ujian buat dapat gelaran Chu-jen (ki-jin) ia gagal berulang-ulang. Dalam tahun 1847, sesudah gagal penghabisan kali buat itu ujian, ia belajar sebentar sama I. J. Roberts, seorang pendeta bangsa Amerika. Dalam tahun 1848 ia diriken sebuah perkumpulan agama, yang ia namaken "Perkumpulan dari Tuhan", buat bikin habis kepercayaan takhayul dan siarken pemujaan pada Allah yang sebenarnya, yang tunggal. Di tahun 1850 sepak-terjangnya ini perkumpulan baru telah menarik perhatiannya pejabat-pejabat raja. Dalam bulan Agustus dari itu tahun dikirim tentara buat bikin hancur itu perkumpulan. Ini tentara raja dibunuh habis dan itu gerakan, yang asalnya melulu gerakan agama, lantas berubah jadi satu pemberontakan melawan bangsa Manchu.
Senjata buat ini pemberontakan sudah sedia lama dalam provinsi Kwangtung. Selama perang Inggris dari tahun 1840 sampai 1842, pembesar-pembesar di Kanton telah anjuri pasukan-pasukan sukarelawan buat melawan pada itu bangsa asing yang menyerang negerinya dan biarken senjata dalam bilangan-bilangan besar jatuh di tangannya perkumpulan-perkumpulan rahasia, yang sampai sebegitu jauh dilarang dan ditindes dengan bengis oleh pemerintah. Senjata itulah yang sekarang berguna dalam pemberontakan yang dikepalai oleh Hung Hsiu Ch'uan melawan pemerintah Manchu.
Di Tiongkok gerakan melawan pemerintah yang sudah tidak disuka lagi, selamanya cepat sekali dapat penyokong dan menjalar dengan luas. Dengan berhasilnya Hung Hsiu Ch'uan mengalahken tentara pemerintah. Hung Hsiu Ch'uan dan pengiring-pengiringnya menjadi pokok dari satu kawanan yang cepat sekali menjadi besar, karena dapat pengiring dari semua orang di Tiongkok Selatan, yang sudah lama tidak senang hati dan benci bangsa Manchu.
Senjata yang ada dipunyai oleh kaum pemberontak, segera juga ternyata tidak cukup buat mereka punya barisan yang selalu bertambah besar dan lantaran itu maka mereka jadi tidak cukup kuat buat melawan tentara negeri dalam provinsi Kwangtung dan Kwangsi. Maka itu dalam musim semi dari tahun 1852 mereka maju dari Kwangsi ke Hunan. Changsha, ibu kota Hunan, dapat pukul mundur serangan-serangan dari kaum pemberontak, tapi Yochow mereka dapat rampas. Di situ mereka dapatken gudang senjata, yang kasih mereka senjata lebih dari cukup. Dari Yochow itu tentara pemberontak, yang sekarang sudah bersenjata cukup, dengan cepat milir turut jalannya sungai Yangtze. Dalam bulan Maret 1853 mereka sudah ada di Nanking. Di musim rontok dari tahun 1852, selagi kepung kota Changsha, Hung Hsiu Ch'uan pakai gelaran kaisar dan maklumken ia punya dinasti baru, yalah dinasti Tai Ping atau Perdamaian Besar.
Tatkala di musim semi dari tahun 1852 tentara Taiping maju ke utara masuk dalam lembah sungai Yangtze, tentara negeri yang ada dalam itu bilangan terdiri cuma dari tentaranya beberapa provinsi dalam itu bilangan dan dari barisan-barisan Manchu dalam beberapa kota besar. Ini semua tentara negeri dengan cepat dapat dikalahken oleh tentara Taiping. Sebelumnya pembesar-pembesar di Peking sempat ambil aturan-aturan yang sembabat buat lawan itu pemberontakan, pecah perang sama Inggris dan Prancis. Peperangan ini menyebabken pemerintah di Peking musti kumpul antero angkatan perangnya buat melawan tentara asing. Dalam keadaan demikian pembesar-pembesar di lembah sungai Yangtze, di antara tahun 1852 dan 1860, dapat bantuan cuma sedikit dari Peking. Ini pembesar-pembesar di berbagai-bagai provinsi musti berdaya upaya sendiri buat kumpul serdadu, uang dan alat perang yang perlu buat melawan kaum pemberontak. Melainkan sesudah peperangan melawan Inggris dan Prancis berhenti, barulah pemerintah Manchu bisa mengirim tentara buat membantu pembesar-pembesar dalam berbagai-bagai provinsi melawan barisan Taiping. Dan sesudahnya dibikin perjanjian-perjanjian dari tahun 1858 dan 1860 berbagai-bagai negeri asing pun ambil putusan buat tunjang pemerintah Manchu melawan kaum pemberontak.
Semasa kaum pemberontak maju dari Kwangsi ke Utara, dalam provinsi Hunan ada tinggal, sebagai seorang preman, seorang berilmu yang kesohor, Tseng Kuo Fan (Tjan Kok Hwan) [Zeng Guofan]. Tanpa menunggu perintah dari pemerintah, hanya melulu menuruti dorongan hatinya menurut kebiasaan di Tiongkok dulukala akan menolong negeri di waktunya ada dalam bahaya, Tseng Kuo Fan lempar ia punya jubah orang berilmu, tukar penanya sama pedang dan diriken satu barisan sukarelawan, yang ia kepalai sendiri buat tempur kaum pemberontak. Dalam provinsi Anhui pun ada tinggal seorang ahli ilmu kesusastraan, yang sudah lulus dengan pujian-pujian paling tinggi buat ujian-ujian yang paling tinggi. Ia itu adalah Li Hung Chang (Lie Hong Tjhiang) [Li Hongzhang]. Seperti juga Tseng Kuo Fan, pun Li Hung Chang mengerti, negeri perlu sama orang orang yang berani gulung tangan baju dan sebab itu maka ia pun tukar penanya sama pedang. Pekerjaannya ini dua pemimpin sukarelawan segera diaku oleh pemerintah Manchu. Dua-dua diangkat dalam jabatan negeri, yang mereka pangku sampai di waktunya mereka menutup mata.
Sesudah kembaliken keamanan dalam ia punya provinsi Hunan. Tseng Kuo Fan diangkat oleh pemerintah Manchu jadi raja muda dari provinsi Kiangsu, Kiangsi dan Anhui, sedang Li Hung Chang, yang lebih muda, diangkat jadi gubernur dari Kiangsu, sebagai pembantu dari Tseng Kuo Fan. Sebagai raja muda dan gubernur Tseng Kuo Fan dan Li Hung Chang akhir-akhirnya telah bisa padamken pemberontakan Taiping. Tanggal 30 Juni 1864 Hung Hsiu Ch 'uan, yang bertakhta sebagai kaisar di kota Nanking, bunuh diri, sebab lihat sudah tidak ada harapan lagi buat bisa melawan tentara pemerintah. Tanggal 19 Juli Nanking direbut oleh tentara pemerintah. Sesudah ibu kota dari Taiping jatuh, beberapa pasukan dari tentara Taiping masih terus duduki sejumlah kota-kota yang kurang penting, tapi dalam bulan Mei 1865 barisan penghabisan dari ini kaum pemberontak dapat dibinasaken dan pemberontakan itu berakhir.
Limabelas tahun lamanya pemberontakan Taiping menyebar kematian dan kebinasaan dalam provinsi-provinsi yang paling jaya dati kerajaan Tiongkok. Ditaksir pemberontakan itu sudah menyebabken kematian dari dua puluh juta jiwa. Sekarang pun dalam banyak kota dalam lembah sungai Yangtze orang masih bisa lihat reruntuk kota dalam bilangan yang luas, yang menjadi bukti dari besarnya kebinasaan yang sudah diterbitken oleh Hung Hsiu Ch'uan dan pengiring-pengiringnya.
Keadaannya pemerintah Manchu sudah jadi sukar sekali. Dua peperangan melawan negeri asing sudah bikin derajatnya pemerintah Manchu turun banyak sekali, tidak saja di matanya luar negeri, tetapi juga di matanya ia punya rakyat Tionghoa. Lebih jauh itu dua peperangan celaka sudah paksa pemerintah Manchu bikin perjanjian-perjanjian sama negeri negeri Barat, yang menjatuhken kewajiban-kewajiban, yang bertentangan sama kebiasaan-kebiasaan Tionghoa kuno. Buat memenuhi kewajiban-kewajiban itu, pemerintah Manchu musti turut campur dalam urusan di provinsi dan di distrik-distrik, satu hal yang langka dalam pemerintahan negeri di Tiongkok. Maka itu sesudahnya pemberontakan Taiping dapat ditindes, negeri tidak jadi aman, tetapi pemberontakan-pemberontakan baru mengamuk dalam berbagai-bagai bilangan. Beberapa pemberontakan itu ada gerakan-gerakan revolusioner, yang dibangunken oleh perkumpulan-perkumpulan rahasia dan ditujuken pada pemerintah Manchu. Lain-lain perusuhan disebabken oleh kawanan kawanan perampok yang bersenjata, yang gunaken itu kekalutan umum sebagai ketika yang baik buat merampok sesuka-sukanya. Lain-lain perusuhan lagi berupa perusuhan anti bangsa asing atau anti Kristen dan disebabken oleh rakyat punya perlawanan pada hak hak, yang dikasih pada bangsa asing oleh perjanjian perjanjian baru.
Dalam urusan menjalanken ini perjanjian-perjanjian baru sama negeri-negeri Barat, pemerintah Manchu kejepit antara tanduk banteng dan mulut macan. Kalau pemerintah Manchu, dengan berlawanan sama maunya rakyat, coba juga jalanken dengan betul bunyinya itu perjanjian-perjanjian, maka pemerintah itu bisa terseret dalam rakyat punya kebencian pada orang asing dan bisa terbitken kekalutan-kekalutan baru, pembunuhan pada orang asing dan pembinasaan pada milik asing, lantaran mana negeri-negeri asing tentu akan majuken permintaan buat diganti kerugian dan buat diadaken tanggungan lebih kuat yang milik dan jiwa rakyatnya selanjutnya tidak akan diganggu lagi. Sebaliknya, jikalau pemerintah Manchu coba menuruti kemauannya rakyat Tionghoa dengan cegah pendeta-pendeta dan saudagar-saudagar Eropa jalanken dengan penuh mereka punya hak-hak, yang mereka dapat dengan kekuatannya itu perjanjian-perjanjian baru, maka sudah tentu negeri-negeri asing juga tidak akan tinggal diam dan akan banjiri pemerintah Manchu sama macam-macam permintaan.
Sedang pemberontakan Taiping masih belum berhenti, orang orang Islam di Turkestan (Sinkiang) pun turut berontak, yaitu dalam tahun 1863. Kaum pemberontak itu dikepalai oleh seorang pemimpin yang cakap, Yakub Beg. Ia diriken satu negeri merdeka dengan ibu kotanya di Kashgar. Dengan alasan yang pemberontakan dalam itu bilangan menjadi bahaya buat perdamaian dan kesantosaan dari daerah Rus di dekat situ, pemerintah Rus dalam tahun 1871 kirim tentara buat duduki distrik Kulja, di bagian Utara dari Turkestan. Orang Rus berjanji, apabila pemerintah Manchu sudah bisa kembaliken kesejahteraan dalam provinsi yang berontak itu, maka tentara Rus itu akan ditarik pulang.
Tatkala Rusia kasih ini janji, tidak seorang pun ada kira sungguh-sungguh yang pemerintah Manchu akan bisa tanam kembali kekuasaannya di Turkestan. Kekuatannya Yakub Beg ada begitu maha besar, hingga orang Inggris dalam tahun 1870 dan 1873 kirim utusan ke istananya, sedang orang Rus dalam tahun 1872 aku kekuasaannya sebagai raja merdeka dalam itu bilangan dengan bikin pembicaraan sama Yakub Beg buat bikin perjanjian dagang. Akan tetapi bintangnya pemerintah Manchu masih belum gelap betul.
Seperti juga buat padamken pemberontakan Taiping ada pemimpin-pemimpin Tionghoa yang cakap, yang menolong pemerintah Manchu, demikian pun buat padamken pemberontakan dari orang Islam di Turkestan pemerintah Manchu telah pakai pertulungannya seorang panglima perang Tionghoa dengan tentara Tionghoa. Bukan saja di Turkestan, tapi juga di Yunnan orang-orang Islam telah berontak, tapi ini pemberontakan di Yunnan lekas dapat dipadamken oleh jenderal Tso Tsung T'ang (Tjoo Tjong Tong) [Zuo Zongtang]. Dalam tahun 1870 jenderal Tso Tsung T'ang diperintah buat kembaliken kesejahteraan di Turkestan. Gerakannya jenderal Tso Tsung T'ang ini kali ada perlahan sekali. Dua kali ia musti kasih berhenti gerakan tentaranya cukup lama buat tanam padi dan pungut hasilnya, supaya ada persediaan barang makanan buat tentaranya itu. Akhirnya di musim rontok dari tahun 1876 ia kepalai tentaranya maju ke bagian Barat dari Turkestan. Yakub Beg kena dikalahken dan sebelumnya tahun 1877 berganti, kekuasaan Manchu atas orang-orang Islam di Turkestan sudah kembali pula dengan sempurna.
Buat Rusia sekarang datang temponya akan berlalu dari Kulja menurut janjinya. Dalam bulan Desember 1878 pemerintah Manchu kirim seorang utusan spesial ke St. Petersburg buat urus penarikan pulang dari tentara Rus dari itu bilangan, Chung Hou [Chonghou], yaitu pejabat yang diutus buat itu maksud, cuma perluken pasal bikin beres itu urusan seberapa bisa lekas. Dalam bulan Oktober 1879 ia bikin perjanjian di Livadia, dengan mana ditentuken Rusia akan tetap mempunyai kira-kira tiga perempat dari daerah yang didudukinya, lebih jauh Rusia akan terima lima juta rubel buat gantinya ongkos menjagaken itu bilangan dan akhirnya Rusia akan buka jalanan baru.
Perjanjian itu dengan segera ditolak oleh pemerintah Manchu. Chung Hou hampir saja dihukum potong kepala karena jeleknya ia urus itu urusan. Pemerintah Manchu kembali ulangken permintaannya pada Rusia, supaya berlalu dari itu daerah. Tentaranya Tso Tsung T’ang masih terus ada di Turkestan, Gubernur Rus dari Siberia Barat kasih tahu pada pemerintahnya, ia tidak punya cukup tentara buat tempur tentaranya jenderal Tso. Pemerintah Rus mengalah dan dengan perjanjian yang ditandatangani pada 12 Februari 1881 di St. Petersburg, antero bilangan yang dibuat rewel itu dikembaliken pada Tiongkok. Tiongkok bayar sembilan juta rubel pada Rusia buat ganti ongkosnya jagaken itu daerah.
Dalam tahun 1862 orang Prancis telah caplok Cochin China. Lain tahunnya Kamboja dinyataken berada di bawah perlindungannya Prancis. Hal ini segera disusul dengan pengluasan dari kepentingan dan pengaruh Prancis ke lain-lain bilangan dari kerajaan Annam. Dalam tahun 1866 satu ekspedisi yang dikepalai oleh Francis Garnier memeriksa sungai Mekong, mencari jalanan yang baik untuk perdagangan masuk di provinsi Yunnan di bagian Selatan dari Tiongkok. Udiknya sungai Mekong ternyata tidak bisa dijalani oleh kapal. Tapi Garnier, waktu sampai di Yunnan, dapat ketahui satu sungai lain, yang dikasih nama Sungai Merah. Ini sungai bisa sekali dipakai sebagai jalanan buat dagangan dari Annam masuk di Yunnan. Maka itu dalam tahun 1873 ia dikirim oleh pemerintah Prancis dengan satu barisan dari dua ratus dua-belas serdadu ke Hanoi buat minta permisi dari pemerintah Annam akan saudagar-saudagar Prancis boleh kirim barang dagangannya mudik di Sungai Merah. Tatkala pembesar-pembesar di Hanoi tolak ini permintaan, lantas terbit perkelahian, Garnier dan ia punya barisan dikalahken oleh orang Annam. Garnier sendiri kena dibunuh. Sesudah ini kejadian, pemerintah Prancis pakai jalan diplomatik. Dalam tahun 1874 dibikin perjanjian berdamai sama Annam. Dengan ini perjanjian Prancis aku sah kemerdekaannya Annam. Buat itu pengakuan Prancis dapat hak buat berniaga di sepanjang Sungai Merah dan buat kasih "advies" pada pemerintah Annam dalam segala hal, yang menyangkut sama urusan dengan luar negeri.
Ini perjanjian antara Prancis dan Annam dari tahun 1874 diberitahuken dengan resmi pada pemerintah Tiongkok dalam bulan Mei 1875. Pemerintah Manchu tidak bikin keberatan atas ini perjanjian, dari sebab raja Annam terus kirim upeti ke Peking dalam tahun 1876 dan 1880, hal mana menjadi tanda yang raja itu tidak anggap ada perubahan dalam perhubungannya yang lama sama Tiongkok. Tapi dalam tahun 1880 utusan Tiongkok di Paris menanya maksudnya orang Prancis di Annam dan dalam tahun 1881 utusan itu protes perbilangannya Prancis, yang Annam ada satu negeri merdeka.
Di permulaan tahun 1882 maksud-maksudnya orang Prancis di Annam dibikin jadi terang betul buat orang Annam maupun buat orang Tionghoa. Kaget karena orang Prancis langgar kekuasaannya, maka raja Annam kirim permintaan tulung pada pemerintah Manchu. Dalam bulan April satu barisan Prancis rampas Hanoi dan dalam bulan Agustus 1883 orang Prancis paksa raja Annam menandatangani perjanjian, dengan mana kerajaan Annam dengan berterang diubah jadi satu negeri taklukan dari Prancis. Sesudah Hanoi dirampas oleh orang Prancis, tentara Tionghoa dikirim ke Tongking, provinsi yang utara dari Annam buat bekerja sama-sama dengan barisan-barisan Annam yang tidak teratur buat melawan orang asing yang merampas negerinya. Antara Prancis dan Tiongkok terbit keadaan seperti keadaan perang, meski tidak ada dimaklumken peperangan.
Baik orang Prancis maupun pemerintah Manchu kepingin cegah peperangan. Maka itu dalam bulan Mei 1884 Li Hung Chang dan seorang opsir Prancis, komandan Fournier, bikin satu perjanjian di Tientsin buat berhentiken permusuhan. Tiongkok aku sah perjanjiannya Prancis sama Annam dan mufakat buat tarik pulang tentaranya dari Tongking. Tapi sebelumnya ini keakuran sempat diberitahuken pada pembesar-pembesar militer Tionghoa di Tongking, perkelahian baru terjadi di Langson antara barisan Prancis dan barisan Tionghoa. Pemerintah Prancis dan pemerintah Manchu saling tuduh satu sama lain sudah melanggar janji. Perjanjian dari Li Hung Chang sama Fournier tidak diaku sah. Perkelahian di laut dan di darat diterusken pula lagi setahun. Di laut orang Prancis jauh lebih jempol dari orang Tionghoa, tetapi di darat serdadu Tionghoa ternyata jadi tandingan betul dari orang Prancis. Berkali-kali orang Prancis dikalahken di darat. Sesudah beberapa kali dicoba dengan sia-sia buat bikin pembicaraan, akhirnya dibikin perdamaian dengan satu perjanjian baru, yang ditandatangani di Tientsin pada 9 Juni 1885. Baik pemerintah Prancis maupun pemerintah Manchu tidak dapat penggantian kerugian. Peperangan dianggap seri. Perjanjian dari Li Hung Chang sama Fournier disahken. Lebih jauh dibikin perjanjian buat urusan dagang antara Annam dan provinsi-provinsi Tiongkok yang berdamping sama Annam.
Sedang di bagian Timur dari semenanjung Indo-China orang Prancis caplok Annam, di sebelah Barat dari Indo-China orang Inggris bikin rampung perampasan dari Burma, yang juga dari dulu menakluk pada Tiongkok. Seperti orang Prancis, begitupun orang Inggris harap bisa pakai pengluasan pengaruh dan kepentingannya di Indo-China sebagai tangga buat majuken perdagangan sama provinsi-provinsi di bagian Selatan-Barat [Barat Daya] dari Tiongkok. Daya-upayanya buat kabulken ini harapan bikin orang Inggris jadi hampir berperang pula sama pemerintah Manchu.
Dalam tahun 1874 pemerintah Inggris di India dapat permisi dari pemerintah Manchu buat kirim sekumpulan orang buat bikin peperiksaan dari Burma ke dalam provinsi Yunnan. Margary, pejabat dari kantor konsul Inggris di Hankow, jalan darat pergi ke Yunnan akan ketemu sama itu kumpulan di Bhamo di tapal batas daerah Burma. Sebulan sesudahnya Margary sampai di itu tempat, itu kumpulan yang terdiri dari kira-kira dua ratus orang, dalam mana ada terhitung juga satu barisan kuat yang bawa senjata, berangkat dari Bhamo menuju ke tapal batas Yunnan. Sebab ada tersiar kabar angin, suku-suku bangsa di Yunnan lagi persenjataken dirinya buat cegah masuknya itu kumpulan dari India, maka Margary dan beberapa orang jalan lebih dulu buat bicara pasal damai dan buat cegah permusuhan dari itu suku-suku bangsa. Tanggal 19 Februari 1875 ia masuk di Yunnan. Tiga hari kemudian ia dan itu beberapa orang pengiringnya dibunuh di Manwyne oleh orang banyak yang bersenjata, yang rupanya kaget sebab kiraken ada satu tentara asing menyerang masuk dalam negerinya.
Tatkala kabar tentang dibunuhnya Margary sampai di Peking, utusan Inggris, Sir Thomas Wade, lantas minta dikasih kepuasan buat itu pembunuhan. Pemerintah Manchu suruh hukum mati sejumlah orang dari itu suku-suku bangsa, yang dikataken telah turut dalam itu pembunuhan. Pada sanak keluarganya orang-orang yang dibunuh dikasih penggantian kerugian. Tapi itu utusan Inggris minta lebih lagi dari itu. Ia minta juga supaya raja muda dari Yunnan pun dihukum karena sudah alpaken kewajibannya. Ini permintaan ditolak oleh pemerintah Manchu. Sesudah desak lagi beberapa kali dengan tidak berhasil, akhirnya Wade minta dibikin pembicaraan tentang semua hal yang masih tergantung antara Inggris dan Tiongkok. Dalam bulan September 1876, sesudah bikin pembicaraan lama, Wade dan Li Hung Chang bikin perjanjian di Chefoo, yang beresken kebanyakan dari soal-soal yang masih tergantung. Ini perjanjian baru lantas disahken oleh pemerintah Manchu, tapi saudagar-saudagar Inggris di Tiongkok ribut bikin keberatan-keberatan tentang beberapa pasal dalam perjanjian itu. Baru dalam tahun 1885, sesudah ditambah satu pasal yang melindungken orang Inggris punya perdagangan candu di Tiongkok, pemerintah Inggris sahken itu perjanjian.
Sesudahnya alamken banyak kerugian dan kehinaan, pemerintah Manchu kelihatannya mau tiru beberapa aturan dari Barat. Sebagian dari tentara Tiongkok dipersenjataken dan diatur menurut aturan Eropa. Lebih jauh sudah dimulai buat bikin angkatan perang laut model baru. Siswa-siswa Tionghoa dikirim ke negeri-negeri Barat buat belajar. Beberapa opsir laut dari Barat dipakai buat mengepalai kapal-kapal perang yang dibeli di luar negeri. Sejumlah saudagar-saudagar Tionghoa dianjuri buat diriken satu kongsi kapal Tionghoa dan buat berniaga sama luar negeri serta di antara pesisir Tiongkok dan kota-kota di udiknya sungai-sungai yang besar di Tiongkok. Di berbagai-bagai negeri Barat yang besar ditaruh utusan-utusan Tiongkok. Kemudian ditempatken konsul di berbagai-bagai pelabuhan, di mana perdagangan Tiongkok sudah jadi besar.
Dalam tahun 1876 telah dicoba buat bikin jalanan kereta api antara Shanghai dan Woosung, tapi percobaan ini diurungken, sebab penduduk Tionghoa di situ bikin keberatan. Tapi dalam tahun 1887 dikasih jalan kereta api dalam provinsi Chili (sekarang Hopei) antara tambang-tambang batu bara Kaiping dan Tongshan. Dalam tahun 1890 didiriken pabrik besi model baru di Hanyang. Dalam tahun 1862 di Peking didiriken sebuah sekolahan buat kasih ajar bahasa-bahasa asing, supaya pemerintah mempunyai juru-juru bahasa yang cakap. Tiga tahun belakangan dalam sekolahan itu dikasih ajar pelajaran dalam ilmu pengetahuan model baru. Sejumlah guru-guru bangsa asing dipekerjaken pada itu sekolahan. Belakangan sekolahan itu diubah jadi Tungwen College.
Tapi meski sudah ada ini tindakan-tindakan buat kasih masuk pikiran-pikiran Barat, meski Tiongkok sudah hampir empat ratus tahun mempunyai perhubungan sama Eropa, meski Tiongkok sudah setengah abad terikat sama berbagai-bagai perjanjian deugan negeri-negeri Barat, toh bangsa Tionghoa umumnya masih keras tidak setuju buat ubah aturan-aturannya yang sudah kuno. Boleh dibilang tiap-tiap aturan baru, yang dijalanken di Tiongkok, adalah pekerjaannya satu-dua orang saja, seperti Li Hung Chang dan Chang Chi Tung (Tio Tjie Tong). Bagian paling besar dari pejabat-pejabat Tionghoa dan rakyat Tionghoa pandang bangsa Barat dan sekalian aturan-aturannya dengan benci dan curiga. Kaum pejabat dan kaum terpelajar di Tiongkok mengerti yang Tiongkok tidak punya kekuatan buat tolak desakan-desakan dari negeri-negeri Barat, tetapi mereka pun insyaf, masuknya pikiran-pikiran dan aturan-aturan asing di Tiongkok akan berakhir dengan musnahnya dasar dari mereka punya kesopanan sendiri. Bagian yang paling besar dari rakyat biasa acapkali kenal orang Barat melainkan sebagai penyebar dari pelajaran-pelajaran agama yang aneh, yang bikin onar dan gunaken pengaruhnya buat turut campur dalam urusan-urusan dari masyarakat di dalam kota atau desa. Bagian yang terbesar dari rakyat biasa sesalken ini turut campurnya orang-orang asing dalam mereka punya urusan rumah tangga. Kadang-kadang kemeneselan ini menyala jadi serangan-serangan hebat pada pendeta pendeta Kristen dan orang-orang Tionghoa yang memeluk agama Kristen. Segala golongan rakyat Tionghoa bisalah dibilang sudah bersatu hati dalam putusan buat cegah orang Barat, yang sudah dapat satu jari, jangan sampai ambil satu tangan sama sekali. Begitulah, meski sudah diambil tindakan-tindakan yang diceritaken di atas tadi buat kasih masuk dengan perlahan pikiran pikiran Barat ke Tiongkok, toh pemerintah Manchu sampai pada kira-kira di akhirnya abad yang dulu, berdaya sebisanya buat cegah orang Barat jangan terlalu dekat padanya, buat jaga supaya orang Barat tinggal jauhan sedikit dari badannya. Ini politik buat jauhken orang Barat seberapa bisa jauh, disetujui seanteronya oleh rakyat Tionghoa rata-rata.
Tapi tidak melainken pemerintah Manchu dan rakyat Tionghoa saja di masa itu kepingin jauhken bangsa-bangsa Barat seberapa bisa jauh. Juga Jepang di masa itu berpendapatan, lebih baik tidak bergaulan sama bangsa-bangsa Barat, sehingga Jepang bertindak lebih jauh lagi dari pemerintah Manchu: Jepang tutup negerinya buat orang Barat sampai lebih dari dua ratus tahun lamanya.
Tetapi sebabnya Jepang tidak suka bergaulan sama bangsa Barat ada lain dari sebabnya bangsa Tionghoa jauhken dirinya seberapa bisa jauh dari bangsa Barat. Rupa-rupa onar sampai menyebabken dua peperangan dengan negeri Barat adalah sebab yang terutama maka bangsa Tionghoa sebisanya coba jauhken dirinya dari pergaulan sama bangsa Barat. Pada masa Jepang menutup negerinya buat bangsa Barat, buat Jepang belum ada itu sebab. Nanti lama belakangan, sesudah pintunya Jepang didobrak oleh orang Amerika, sehingga Jepang terpaksa terima pergaulan sama bangsa Barat, barulah Jepang alamken juga hal-hal, yang sudah dialamken oleh Tiongkok. Penutupan dari negeri Jepang buat bangsa Barat disebabken terutama oleh halnya perdagangan sama negeri-negeri Barat menguntungken pada musuh-musuhnya kaum yang memegang kekuasaan memerintah di Jepang dan meruntuhken kekuasaan itu. Dari sebab itu maka kaum yang memegang kekuasaan itu ambil putusan buat berhentiken itu perhubungan dagang, supaya bisa membuntu sumber kemakmuran dari musuh-musuhnya.
Dalam tahun 1542 sebuah kapal bajak Tionghoa terdampar di pesisir negeri Jepang karena taufan. Dalam kapal itu ada menumpang tiga orang Portugis. Anak buahnya bersama tiga penumpang bangsa Portugis ketulungan dengan mendarat di Tanegashima, yang letaknya di pulau Kyushu, pulau Jepang yang paling selatan. Ini tiga orang Portugis adalah orang Eropa yang pertama datang di Jepang. Mereka diterima dengan baik oleh orang-orang Jepang di tempat tersebut. Kemudian mereka pulang ke Malaka, yang masa itu jadi pusat dari perdagangan bangsa Portugis di Asia. Waktu kapal itu berangkat dari negeri Jepang, dengan sembunyi ada turut menumpang seorang Jepang, yang hendak melariken diri sebab sudah lakuken pembunuhan. Ini orang Jepang turut sama itu kapal sampai di Goa. Di sana St. Franciscus Xavier telah bikin ia jadi Kristen dengan dikasih nama Paul Yajiro.
Dalam tahun 1549 ini orang Jepang bawa St. Franciscus pergi ke Jepang buat kembangken agama Kristen di Jepang.
Demikianlah sebuah kapal bajak Tionghoa dan seorang Jepang yang jadi pembunuh telah bikin Jepang jadi berkenalan sama bangsa bangsa Barat. Sehabisnya itu datang kapal dagang Portugis di Jepang buat berdagang sama ini negeri yang baru diketemuken. Itu orang-orang Portugis kasih masuk senjata api di Jepang. Dari sebab itu maka selama banyak tahun senjata api dalam bahasa Jepang disebut tanegashima menurut namanya tempat, di mana orang Portugis pertama kali kasih masuk senjata itu di Jepang.
Orang Portugis berdagang di berbagai-bagai pelabuhan dari Kyushu. Mereka luasken perdagangannya ke bagian utara dari ini pulau. Selama lima puluh tahun orang Portugis pegang monopoli dari antero perdagangan Jepang sama benua Barat. Empat puluh tahun belakangan mereka disusul oleh orang Spanyol. Kemudian, dekat akhirnya abad keenambelas, datang saudagar-saudagar Inggris dan Belanda.
Franciscus Xavier mendarat di Satsuma. Dengan menyaru ia datang di kota raja Kyoto. Kunjungan ini tidak berhasil. Kemudian ia kembangken agama Kristen di Hirado di pulau Kyushu, di mana ia dapat pengiring-pengiring Jepang yang pertama. Ini agama baru dengan cepat menjalar dari Kyushu ke pulau Hondo atau Honshu, yaitu pulau Jepang yang paling besar dan akhirnya masuk juga di kota raja.
Beberapa lamanya pendeta-pendeta Kristen dan gerejanya tidak dapat gangguan atau halangan apa-apa. Tapi kemudian, sesudah Toyotomi Hideyoshi pegang pemerintahan, keadaan mulai berubah. Hideyoshi kuatir, ia punya pengiring-pengiring yang memeluk agama Kristen, bisa jadi bahaya karena mereka, lantaran agamanya, nanti bisa jadi setia pada negeri asing. Maka itu ia undang kepala-kepala pendeta Jesuit ke Kyoto dan majuken pada mereka ini beberapa pertanyaan:
1. Apa sebabnya mereka kembangken agama Kristen di Jepang?
2. Apa sebabnya mereka suruh pengiring-pengiringnya bikin hancur klenteng-klenteng dan meja-meja sembahyang?
3. Apa sebabnya mereka bunuh hewan dan makan dagingnya?
4. Apa sebabnya mereka memusuhi pendeta-pendeta Buddha?
5. Apa sebabnya mereka beli dan jual orang-orang Jepang sebagai budak?
Sesudah berulang-ulang bikin peperiksaan, Hideyoshi tidak bisa dapat keterangan yang memuasken. Ia jadi yakin, agama Kristen ada agama kalap. Dalam tahun 1587 ia keluarken firman, yang melarang orang siarken agama Kristen dan perintah semua pendeta asing musti lantas pergi dari negeri Jepang. Tapi lantaran kemudian terbit peperangan di dalam negeri Jepang, maka ini firman tidak dijalanken dengan keras. Penyiaran dari agama Kristen berjalan terus.
Kemudian datang satu hal baru yang membikin keadaan jadi lebih kalut. Dengan tidak peduliken itu larangan dari Hideyoshi, pendeta-pendeta Franciscan bangsa Spanyol datang di Jepang dalam tahun 1592 dan siarken agama Kristen dengan tidak peduli pada siapa pun juga.
Dalam tahun 1596 kapal San Felipe, sebuah kapal dagang Spanyol, kandas di Urato. Dengan pura-pura hendak menolong, orang-orang Jepang sengaja bikin kandas itu kapal di pesisir dan kemudian mereka nyataken itu kapal dan muatannya jadi barang rampasan, menurut hukum Jepang. Salah seorang anak buahnya itu kapal yang ketulungan, banggaken kekuatannya negeri Spanyol dan luasnya daerah kerajaan Spanyol, yang itu waktu jadi jago di lautan, buat bikin takut orang Jepang supaya kembaliken kapalnya. Ia ceritaken caranya bangsa Spanyol meluasken daerahnya dengan kirim dulu pendeta-pendeta Kristen dan kemudian, kalau banyak anak negeri sudah masuk Kristen, mereka disusul sama angkatan perang buat rampas negeri yang didatangi oleh pendeta-pendeta tadi.
Hideyoshi punya curiga yang pendeta-pendeta Kristen jadi pekakas buat merampas orang punya negeri, jadi lebih keras. Ia suruh lagi sekali bikin peperiksaan. Tatkala ternyata benar itu orang Spanyol ada bicara seperti tadi, Hideyoshi lantas jalanken aturan-aturan lebih bengis terhadap agama Kristen dan suruh tangkap dan salib kepala-kepalanya agama itu.
Kemudian terjadi sejumlah peperangan dalam negeri Jepang. Pendita-pendeta Jesuit dan Franciscan gunaken ini kekalutan dalam negeri Jepang buat lipat ganda mereka punya daya-upaya buat siarken agama Kristen. Kemudian datang saudagar-saudagar Belanda dan Inggris. Mereka ini ceritaken pada orang Jepang jahatnya saudagar-saudagar Spanyol dan Portugis. Keadaan jadi lebih genting lagi.
Dalam tahun 1603 Tokugawa Ieyasu menjadi shogun dan pegang kendali pemerintahan. Sejak itu waktu sampai tahun 1867 pemerintahan di negeri Jepang dipegang oleh kaum Tokugawa.
Ini shogun Tokugawa yang pertama senang sama perhubungan dari Jepang sama negeri-negeri asing. Ia anjuri saudagar-saudagar Portugis terus datang di Jepang. Dalam tahun 1614 Date Masamune kirim utusan ke Rome dan Spanyol dan ke Mexico. Ia adaken aturan keuangan buat bikin gampang perniagaan. Ia anjuri pembikinan kapal-kapal dan perdagangan antara rakyat Jepang sendiri. Tapi maksud terutama dari Ieyasu adalah buat memajuken perdagangan dari kota Yedo, ia punya tempat tinggal dan tempat memerintah. Ieyasu anjuri juga orang-orang Belanda buat berdagang sama Jepang. Kapal Belanda yang pertama sampai di Jepang adalah kapal Liefde, yang datang di Jepang di musim semi dari tahun 1600. Karena itu anjuran dari Ieyasu maka kira-kira di tahun 1609 kapal-kapal dari Oost Indische Compagnie bikin perjalanan yang tentu dari Hindia ke Jepang. Tetapi, seperti juga orang Portugis, begitupun orang Belanda lebih suka berdagang di Kyushu dari pada bawa barang-barangnya ke Yedo, kotanya shogun, yang letaknya di pesisir Timur dari negeri Jepang.
Di antara opsir-opsirnya kapal Belanda yang sampai di Jepang dalam tahun 1600 ada juga seorang Inggris nama Will Adams, yang bisa bikin kapal dan paham ilmu pelayaran. Maka itu ia lekas juga jadi orang yang disayang oleh Ieyasu. Adams bikinken beberapa kapal buat Ieyasu, kasih ajar ia sedikit ilmu itung dan ilmu pelayaran dan kasih keterangan tentang orang Portugis dan orang Spanyol. Keterangan itu tentulah bukan keterangan yang sejujur-jujurnya, sebab orang Portugis dan orang Spanyol jadi saingan dari orang Inggris dan orang Belanda. Atas permintaannya Ieyasu, Adams tulis surat pada pembesar-pembesar dari kongsi Inggris East India Company, minta ini kongsi Inggris buka perdagangan sama Jepang dan bikin Yedo jadi pangkalan dagangnya di Jepang. Dalam tahun 1613 datanglah sebuah kapal Inggris, tapi ini kapal tidak menurut adviesnya Adams buka kantor di Yedo, hanya turut orang Belanda dan orang Portugis berdagang di pelabuhan-pelabuhan dari pulau Kyushu. Sesudah sepuluh tahun berdagang di Hirado dengan tidak dapat untung, orang Inggris mengilang dari Jepang.
Kendati Ieyasu berdaya sebisa-bisanya, toh harapannya buat bikin Yedo jadi satu pelabuhan dagang yang makmur, tetap tidak terkabul.
Tokugawa Ieyasu terima juga pendeta-pendeta Kristen dengan baik. Tapi itu pendeta-pendeta jadi sombong dan seringkali berlaku menghina dan tidak endahken pejabat-pejabat Jepang yang berpangkat tinggi. Ada juga beberapa pendeta yang menghasut antara berbagai-bagai daimyo dan jalanken politik buat luasken mereka punya kekuasaan. Hal-hal ini menyebabken pembesar-pembesar Jepang ambil putusan buat batasi perhubungan sama orang-orang asing buat cegah jangan sampai terbit kerewelan karena agama.
Dalam tahun 1622 shogun dapat alasan buat curiga, pendeta-pendeta Katolik ada turut campur dalam satu persekutuan dari orang-orang Spanyol buat menyerang masuk dalam negeri Jepang.
Gerakan memusuhi pendeta-pendeta disertaken dengan sikap lebih bengis juga terhadap orang-orang dagang bangsa Barat. Dalam tahun 1624 dikeluarken firman yang titahken buat usir semua orang Spanyol dari Jepang dan selanjutnya melainkan orang-orang Jepang yang tidak beragama Kristen boleh pergi ke luar negeri buat berdagang. Tapi sekalipun ini orang-orang dagang Jepang dilarang keras buat pergi ke Filipina atau lain-lain tempat yang berada di bawah kekuasaan Spanyol.
Dalam tahun 1633 shogun larang pendeta-pendeta Kristen datang di Jepang. Hukuman berat mengancam pada siapa yang melanggar ini larangan. Lebih jauh dilarang senjata dari Jepang dikirim ke luar negeri dan semua orang Jepang dilarang pergi ke luar negeri, kecuali sama kapal yang dapat permisi.
Dalam tahun 1636 semua orang Jepang, baik yang beragama Kristen atau bukan, dilarang pergi ke luar negeri, tidak peduli buat urusan apa saja. Orang Jepang dilarang bikin kapal kapal yang bisa dipakai buat berlayar di lautan besar. Sesuatu orang Jepang, yang tinggal di luar negeri, kalau coba pulang ke Jepang, akan dihukum mati. Sebaliknya semua orang asing pun tidak boleh datang di Jepang. Antero negeri Jepang ditutup buat orang asing. Inilah firman yang dinamaken sakoku-rei.
Di musim rontok dari tahun 1637 terbit pemberontakan di Kyushu, yang dinamaken pemberontakan Shimabara. Kira-kira tiga puluh ribu orang Jepang yang beragama Kristen berontak melawan pembesar-pembesar dan bertempat di daerah pegunungan dari Shimabara, dekat Nagasaki, di mana mereka terusken perlawanannya sampai mereka mati lapar. Meski tidak ada bukti yang orang Portugis ada turut campur dalam itu pemberontakan, toh dikeluarken satu firman baru dalam tahun 1638, yang usir semua orang Portugis dari negeri Jepang.
Orang Inggris sudah lama tidak datang lagi di Jepang buat berniaga, sebab perniagaan itu tidak menguntungken pada mereka. Selewatnya tahun 1640 cuma orang-orang Belanda, yang mengaku menganut agama Kristen lain dari orang Spanyol dan Portugis dan yang sedari bermula tidak turut mengembangken agama Kristen di Jepang, adalah satu-satunya bangsa Barat yang diizinken berniaga di Dejima, sebuah pulau kecil di pesisir Nagasaki, dengan musti menakluk pada aturan-aturan yang bengis dan menghina. Demikianlah Jepang asingken dirinya dari lain-lain bagian dari ini dunia buat lamanya dua ratus tahun lebih.
Sesudah sembilan puluh sembilan tahun bergaulan sama bangsa-bangsa Eropa, Jepang tutup pintunya. Melainkan pulau Dejima, tempatnya orang Belanda berdagang, dijadiken semacam jendela, jalan mana pemerintah Jepang dan rakyatnya bisa dapat tahu kejadian-kejadian di lain-lain bagian dari ini dunia. Buat itu keperluan orang-orang Belanda di Dejima saben-saben kasih laporan pada pembesar-pembesar Jepang tentang kejadian-kejadian dalam dunia.
Putusannya shogun Tokugawa buat tutup pintu negerinya telah disebabken terutama oleh kekuatiran tentang keadaan di dalam negeri. Keadaan di dalam negeri Jepang masa itu boleh dibilang sudah aman. Pemerintahan dari seluruh negeri sudah terkumpul dalam tangannya kaum Tokugawa. Maksudnya Ieyasu punya pengganti-pengganti adalah buat pegang terus, turun-menurun, itu kekuasaan memerintah dan buat singkirken segala apa saja, yang bisa merusak keadaan yang sudah tentram itu. Kekuatannya kaum Tokugawa buat memerintah terletak dalam provinsi-provinsi di bagian tengah dan timur dari pulau Honshu atau Hondo. Kalau kaum Tokugawa bisa bikin daimyo-daimyo di lain-lain bilangan jangan jadi jaya dan kuat, maka kekuasaannya kaum Tokugawa akan bisa kekal, keadaan yang tentram itu akan terus ada.
Coba Ieyasu punya daya-upaya buat pindah pangkalan perdagangan asing dari Kyushu ke Yedo, berhasil, bisa jadi sekali itu politik menutup negeri Jepang buat orang asing tidak dijalanken, sebab coba daya-upaya itu berhasil, keuntungan yang dibawa oleh itu perdagangan akan menambah kekayaannya kaum Tokugawa dan daimyo-daimyo yang jadi pengiringnya yang setia. Tapi Ieyasu punya daya upaya tidak berhasil. Jepang punya perdagangan sama luar negeri terus masuk hampir melulu jalan pelabuhan-pelabuhan dari Kyushu, yang letaknya dalam daerah dari daimyo-daimyo yang di segala waktu bisa berontak robohken kekuasaannya kaum Tokugawa.
Dalam keadaan begini lanjutnya perdagangan yang leluasa sama luar negeri berarti menambah semakin kaya kaum bangsawan yang berbahaya dan bikin merosot semakin banyak kekuasaannya kaum Tokugawa.
Maka itu selewatnya tahun 1641 semua perdagangan asing dibatasken pada pelabuhan Nagasaki saja, di mana kaum Tokugawa taruh seorang gubernur buat tilik itu perdagangan dan pungut pajak yang berat dari itu perdagangan buat kasnya kaum Tokugawa.
Jepang baru bikin pula perhubungan sama luar negeri, sama negeri-negeri Barat, sesudahnya Tiongkok alamken ia punya perang candu yang pertama. Waktu terjadi ini perang, Jepang masih asingken dirinya dari lain-lain bagian dari ini dunia. Karena itu pengasingan diri dari Jepang, maka Jepang belakangan dari Tiongkok alamken kekuasaannya senjata Barat, yang menyusul kapal-kapal dagang Barat.
Beberapa kali kejadian kapal-kapal Amerika, yang tangkap ikan paus, dapat kecelakaan dan terdampar di pesisir dari pulau-pulau Jepang. Anak buahnya ditangkap oleh orang Jepang, dimasuken dalam penjara, kemudian dengan perantaraannya orang Belanda di Dejima dikirim ke Betawi.
Karena ini perlakuan-perlakuan tidak baik pada kelasi-kelasi Amerika yang dapat kecelakaan, maka pemerintah Amerika ambil putusan buat bikin perhubungan resmi sama pemerintah Jepang. Begitulah dalam bulan November 1852 komodor Perry berangkat dari Amerika, membawa perintah dari presiden Amerika akan pergi ke Jepang buat dapatken perlindungan untuk orang-orang laut Amerika yang dapat kecelakaan, permisi buat kapal-kapal Amerika masuk di pelabuhan-pelabuhan Jepang buat beli barang keperluannya, bikin gudang batu bara dan minta dibuka satu atau lebih banyak pelabuhan di Jepang untuk perdagangan. Komodor Perry musti bikin orang Jepang jadi mengerti betul kekuatan dan kebesarannya Amerika.
Perry berangkat dari Amerika memutar Afrika ke Shanghai, di mana ia berkumpul sama ia punya pasukan kapal perang dan kemudian pergi ke teluk Yedo. Tanggal 8 Juli 1853 Perry masuk di teluk Yedo dengan empat kapal perang dan lepas jangkar di depannya satu kota kecil nama Uraga.
Dari orang-orang Belanda di Dejima pembesar-pembesar Jepang sudah dapat tahu yang Perry bakal datang, tapi tempo mereka lihat kapal-kapal perangnya Perry, itu pejabat-pejabat Jepang hampir terbang sukmanya. Begitupun rakyat Jepang, yang lihat itu pasukan kapal perang Amerika, tidak bisa diceritaken lagi kagetnya. Pasukan itu bukan saja merupakan pasukan kapal perang yang paling besar, yang mereka pernah lihat, tetapi juga terdiri dari kapal-kapal api, yang mereka baru itu kali tahu lihat. Makanya juga orang Jepang kasih nama "kapal item" pada itu kapal-kapal dari Perry.
Pembesar-pembesar Jepang di Uraga buru-buru kasih ingat pada Perry tentang firman-firman yang melarang perhubungan sama luar negeri dan kasih nasehat pada Perry akan pergi ke Nagasaki saja, Perry tidak peduliken itu semua bicara dan berkeras mau pergi ke Yedo, tempatnya shogun, buat ketemui shogun sendiri dan terimaken suratnya presiden Amerika. Pembesar-pembesar di Uraga mengerti, mereka tidak bisa usir itu orang asing yang kepala batu. Begitulah mereka terima juga surat yang dibawa oleh Perry dan berjanji lagi berapa bulan, jadinya di lain tahun, nanti dikasih jawaban dengan perantaraannya orang Belada di Nagasaki. Lebih jauh pada Perry dikasih tahu, selanjutnya perhubungan akan dibikin di Nagasaki, jangan lagi di Uraga, menurut firman-firmannya shogun. Buat unjuk keangkerannya, Perry kasih demonstrasi dengan perintah kapal-kapal perangnya itu jalan meronda di teluk Yedo sampai di tempat, di mana sekarang terletak kota Yokohama. Kemudian pada tanggal 17 Juli Perry berlalu, sesudahnya kasih tahu, di lain tahun ia akan kembali.
Datengnya itu empat "kapal item" dari Amerika sampai dekat sama ibu kota, telah menerbitken kebingungan besar dalam istananya shogun. Setelah itu pasukan kapal perang Amerika sudah berangkat, shogun hadapi satu hal yang sukar buat jawab suratnya presiden Amerika. Surat itu berisi tiga permintaan:
1. buka negeri Jepang buat perhubungan secara sobat dan perhubungan dagang;
2. perlakuken dengan baik pada orang-orang laut Amerika yang dapat kecelakaan;
3. kasih permisi buat adaken gudang batu bara di Jepang untuk kapal-kapal Amerika. Tolak ini permintaan-permintaan dari Amerika berarti bencana, barangkali perang. Lulusken itu permintaan berarti berhentiken politik tutup pintu buat orang asing, yang sudah berjalan lebih dari 200 tahun.
Dalam keadaan begitu sukar, shogun lalu ambil tindakan yang tadinya belum pernah kejadian, yaitu ia kirim itu surat pada Mikado dan pada berbagai-bagai daimyo buat minta iaorang punya pikiran, Mikado perintah shogun lantas usir orang-orang Amerika, sedang kebanyakan daimyo pun mufakat pegang teguh pengasingan dari Jepang. Tapi ada juga beberapa daimyo yang setuju buat coba bikin perhubungan sama luar negeri buat beberapa tahun, dari tiga sampai sepuluh tahun. Kalau hasilnya itu perhubungan tidak memuasken, Jepang sementara itu sudah cukup kuat buat tutup pula pintunya. Shogun dan itu beberapa daimyo insyaf tidak sanggup melawan paksaan dari Amerika. Mereka pikir, jalan yang selamat yalah turut itu pikiran buat bikin percobaan selama beberapa tahun.
Segera sesudahnya Perry berangkat ke Tiongkok, di mana sementara itu pemberontakan Taiping mengamuk, datang satu pasukan kapal perang Rus di bawah perintahnya wakil-admiral Poutiatin, di Nagasaki dan majuken tiga permintaan: bikin perhubungan secara sobat, buka pelabuhan-pelabuhan di Jepang buat perdagangan dan bikin beres urusan batas antara daerah Rus dan daerah Jepang di pulau Sakhalin. Pembesar Jepang di Nagasaki tolak itu permintaan-permintaan dari orang Rus dan itu armada Rus berangkat pula. Dalam bulan November Poutiatin kabarnya ketemui Perry dan ajak Perry bekerja sama-sama dalam berurusan sama Jepang, tetapi Perry tolak itu permintaan. Kemudian tersiar kabar angin, pasukan kapal perang Prancis dan pasukan kapal perang Rus bakal kunjungi Jepang buat sama-sama paksa Jepang bikin perjanjian, sedang pasukan kapal perang Inggris dengan maksud begitu juga sudah ada di lautan daerah Asia.
Perry buru-buru kembali ke Jepang. Di pertengahan bulan Januari ia berangkat dari Hongkong. Dalam perjalanannya ke Jepang ia terima satu surat dari seorang Belanda yang jadi agen Jepang. Surat itu kasih tahu pada Perry yang shogun barusan meninggal dan orang Jepang minta supaya Perry tunda kembalinya ke Jepang, sebab di Jepang orang masih berkabung karena matinya shogun. Perry tidak peduliken itu permintaan dan menuju terus ke teluk Yedo, di mana ia sampai pada 13 Februari 1854 dengan mengepalai satu pasukan dari tujuh, kemudian jadi sembilan kapal perang.
Pembesar-pembesar di Yedo jadi kaget melihat Perry kembali begitu lekas. Sesudah tukar-menukar pikiran tentang tempat pertemuan, akhirnya Kanagawa dipilih sebagai tempat pertemuan. Tanggal 8 Maret wakil-wakil Amerika dan wakil-wakil Jepang ketemu di Kanagawa. Wakil-wakil Jepang menyataken pemerintah shogun suka berjanji perlakuken dengan baik orang-orang Amerika yang dapat kecelakaan sama kapalnya, dan kasih batu bara serta Jain barang keperluan pada kapal-kapal Amerika di pelabuhan Nagasaki, tetapi permintaannya Amerika buat buka perhubungan dagang ditolak. Perry berkeras minta dibuka perhubungan dagang dan unjuken perjanjian dari Amerika sama Tiongkok dari tahun 1844 sebagai contoh. Enam minggu lamanya dibikin pembicaraan. Akhirnya pada 31 Maret Perry dan wakil-wakil Jepang bikin perjanjian, dengan mana Jepang menyataken mufakat buat lulusken semua permintaan dari Amerika Serikat. Shimoda dalam provinsi Izu dan Hakodate di pulau Yezo akan dibuka buat kapal-kapal Amerika. Di itu dua pelabuhan orang Amerika diberi hak luar biasa buat beli kayu, air, barang makanan, batu bara dan lain-lain keperluan. Orang orang pelayaran bangsa Amerika yang dapat kecelakaan, jikalau terdampar di salah satu bagian dari pesisir Jepang, akan diperlakuken dengan manis dan dianterken ke salah satu dari dua pelabuhan yang baru disebut. Sesudah lewat delapanbelas bulan Amerika Serikat akan angkat seorang konsul atau agen buat tinggal di Shimoda, jikalau dipikir perlu. Lebih jauh di mufakat, kapal-kapal Amerika, yang datang di salah satu pelabuhan yang terbuka buat mereka, akan diizinken tukar uang mas dan perak dan lain-lain barang sama barang-barang juga, menurut aturan yang nanti ditetapken buat sementara waktu oleh pemerintah Jepang.
Berhasilnya orang Amerika bikin perjanjian sama pemerintah Jepang menjadi tanda buat lain-lain negeri asing akan majuken permintaan-permintaan buat bikin perjanjian seperti itu juga.
Dalam bulan Oktober 1854 admiral Sterling dapatken buat Inggris satu perjanjian, yang mengasih hak pada kapal-kapal Inggris buat berdagang di pelabuhan Hakodate dan Nagasaki. Dalam bulan Februari 1855 graaf Poutiatin, utusan Rus, dapatken hak buat saudagar-saudagar Rus berniaga di Hakodate dan Shimoda, menurut aturan-aturan yang ditetapken oleh pemerintah Jepang. Dalam bulan November dari itu tahun juga orang Belanda bikin perjanjian yang hapusken aturan-aturan yang menghina, dengan mana mereka selama dua ratus empatbelas tahun diizinken berniaga di pulau Dejima dan kasih izin pada saudagar-saudagar Belanda buat berdagang di pelabuhan-pelabuhan yang baru dibuka.
Semua perjanjian ini berisi penetapan, pada negeri-negeri yang bikin perjanjian itu diberi hak-hak sama seperti yang dikasih pada negeri yang dikasih hak paling banyak.
Mengertinya kalau salah satu negeri dikasih hak lebih banyak dari yang lain-lain, maka lain-lain negeri itu berhak buat menuntut supaya dapat hak sama banyaknya seperti negeri yang satu itu.
Karena adanya ini penetapan, maka kewajiban-kewajiban dari Jepang pada luar negeri, seperti juga kewajiban-kewajibannya Tiongkok pada luar negeri, segera juga tergabung menjadi satu renteng kewajiban yang sama, yang gampang bisa ditambah jadi lebih banyak, tapi sukar sekali buat dibikin kurang.
Begitulah pembentangan sayap dari bangsa Barat ke Asia Timur telah menyebabken Tiongkok dan Jepang jadi terikat sama perjanjian-perjanjian dengan negeri-negeri Barat, yang menjatuhken pada Tiongkok dan Jepang sekian banyak kewajiban-kewajiban, yang bisa bertambah jadi lebih banyak, tetapi tidak gampang bisa jadi kurang. Pada Tiongkok pembentangan sayap dari negeri-negeri Barat sudah menerbitken peperangan, kehinaan, kerugian tidak sedikit serta onar dan kekalutan di dalam negeri, yang akhirnya menerbitken revolusi dari tahun 1911.
Pada Jepang pembentangan sayap dari negeri-negeri Barat baru melahirken perjanjian-perjanjian pincang, tapi tidak lama kemudian juga akan menerbitken kerewelan sama negeri-negeri Barat itu, yang berakhir dengan penembakan pada berbagai-bagai tempat di Jepang, kehinaan dan kerugian pada Jepang, hingga akhirnya menerbitken pembaruan dari Jepang, setengah abad lebih dulu dari revolusi di Tiongkok.
III. Pembaruan Dari Jepang
[sunting]Kurang lebih dua ratus lima puluh tahun lamanya kaum Tokugawa memegang kekuasaan memerintah di Jepang. Tapi dekat di akhirnya itu tempo kedudukannya kaum Tokugawa mulai goyang. Berbagi-bagi daimyo atau tuan tanah besar memusuhi padanya. Dalam kalangan kaum keluarga Tokugawa sendiri mulai terbit pecah belah karena berebut kekuasaan. Kira-kira di waktunya Perry dobrak pintunya Jepang, kedudukannya kaum Tokugawa sebagai shogun sudah mulai goyang. Maka itu shogun Tokugawa di masa itu tidak berani putusi sendiri permintaan-permintaan yang dimajuken oleh Perry, hanya ia bikin turunan dari permintaan-permintaan itu dan kirim turunan itu pada kaisar serta pada berbagai-bagai daimyo buat minta pertimbangan mereka. Di masa itu memangnya ada banyak daimyo, terutama dari Jepang Selatan, yang sudah lama kepingin negeri Jepang dibuka untuk pergaulan sama negeri asing. Perniagaan sama bangsa-bangsa asing dulu sudah membikin makmur itu daimyo-daimyo di Selatan. Penutupan dari negeri Jepang buat pergaulan sama bangsa-bangsa asing telah membuntu sumber kemakmuran yang besar dari berbagai-bagai daimyo itu. Maka itu mereka sudah lama kepingin, negeri Jepang buka pula pintunya untuk perniagaan sama bangsa-bangsa asing, supaya mereka dapat kembali kejayaannya dulu. Ini berbagai-bagai daimyo telah bisa bujuk kaisar Jepang buat menyataken mufakat sama permintaan-permintaan yang dimajuken oleh Perry. Begitulah perjanjian perjanjian, yang bermula dibikin sama Amerika, kemudian sama lain-lain negeri Barat, telah disahken oleh kaisar.
Di satu pihak ini tindakan dari shogun buat minta pertimbangan dan perkenannya kaisar untuk perjanjian-perjanjian yang dibikin sama negeri-negeri Barat, ada baik, sebab perkenannya kaisar membikin daimyo-daimyo yang memusuhi shogun dan yang tidak mufakat buat ubah politik lama, yang menutup negeri Jepang buat pergaulan asing, jadi terpaksa tutup mulut dan tidak membantah sekeras-kerasnya. Tetapi di lain pihak itu tindakan dari shogun buat minta perkenannya kaisar ada celaka buat kedudukannya shogun yang memangnya sudah goyang. Musuh-musuhnya shogun gunaken hal itu buat bilang, hal itu membuktiken, kaisar sebenarnya ada lebih kuasa dari shogun dan mereka mendesak supaya selanjutnya dalam segala urusan yang menyangkut sama pemerintahan negeri, kaisar yang pegang kekuasaan paling tinggi, jangan shogun lagi. Lebih jauh ini musuh-musuh dari shogun mendesak supaya kaisar gunaken antero kekuasaannya itu buat batalken perjanjian-perjanjian yang sudah dibikin sama negeri Barat. Musuh-musuhnya shogun mengerti, cara begini mereka bikin shogun jadi kejepit di antara dua musuh, yaitu musuh di dalam negeri dan musuh di luar negeri, yaitu negeri-negeri asing yang sudah bikin perjanjian sama Jepang dan yang tentu tidak mau mengerti, kalau bunyinya perjanjian itu tidak diturut dengan betul. Begitulah sejak dibikin perjanjian, yang dipaksa oleh Perry dengan ancaman sama kapal perang, perjanjian itu dijadiken sepak bola dalam permainan politik di dalam negeri Jepang, antara shogun dan musuh-musuhnya.
Artikel kesebelas dari perjanjian yang dibikin oleh Perry menentuken, Amerika Serikat ada hak buat angkat seorang konsul atau agen di pelabuhan Shimoda. Dalam bulan Agustus 1856 Townsend Harris datang sebagai konsul-jenderal dari Amerika buat tinggal di itu pelabuhan. Pembesar-pembesar di Yedo, kotanya shogun, yang artiken perjanjian itu lain macam dari pemerintah Amerika, menyataken tidak mufakat seorang wakil dari Amerika tinggal di Jepang. Tapi Harris, yang sudah mempunyai pengalaman di Shanghai, bagaimana musti berurusan sama orang Asia, telah bisa perlahan-perlahan dapatken kepercayaan dari pembesar-pembesar Jepang, sama siapa ia sering berurusan. Akhirnya dalam bulan Maret 1857 ia bisa bikin satu perjanjian tambahan, dengan mana pada rakyat Amerika dikasih hak buat tinggal tetap di Shimoda dan Hakodate dan buat berdagang di Nagasaki. Dalam bulan November dari itu tahun Harris pergi ke Yedo, di mana ia diizinken bikin audiensi sama shogun. Tanggal 29 Juli 1858, sesudah bikin pembicaraan yang lama, akhirnya ia bisa bikin perjanjian dagang yang tetap sama wakil-wakilnya shogun.
Perjanjian yang Perry telah bikin, cuma membuka dua pelabuhan di Jepang buat kapal-kapal Amerika beli kayu, air dan batu bara dan tukar barang-barang menurut aturan-aturan yang ditetapken oleh pemerintah Jepang. Tapi perjanjian yang Harris bikin dalam tahun 1858, menentuken dibukanya lima pelabuhan Jepang, Hakodate, Hyogo, Kanegawa, Nagasaki dan Niigata buat orang-orang Amerika tinggal dan berdagang tanpa dibatasi. Bea akan dipungut menurut tarif, yang disertaken pada itu perjanjian dan pemerintah Amerika mempunyai hak ekstrateritorialitas penuh, mengertinya rakyat Amerika di Jepang yang berbuat pelanggaran di Jepang, dalam urusan sipil atau kriminal, diperiksa dan dihukum oleh pengadilan konsulnya sendiri, tidak oleh pengadilan Jepang.
Sebab dalam perjanjian sama negeri-negeri Barat ada ditentuken, tiap-tiap negeri itu dapat hak hak sama seperti yang dipunyai oleh negeri, yang dikasih hak paling banyak, maka hak-hak baru, yang didapatken oleh Harris buat Amerika Serikat, dengan sendirinya menjadi juga hak dari semua negeri Barat, yang sudah bikin perjanjian sama Jepang. Tapi itu perjanjian dari Harris telah dibikin oleh shogun atas kekuasaannya sendiri, meski kaisar sudah tolak buat kasih permisi akan bikin perjanjian itu. Negeri-negeri asing segera akan dapat kenyataan, perlawanan dari musuh-musuhnya shogun, yang sembunyi di belakangnya kaisar, ada cukup besar buat batalken kebanyakan hak, yang sudah dijanjiken oleh pembicaraan di Yedo.
Lima tahun dulu dalam tahun 1853 shogun telah minta perkenannya kaisar buat bikin perjanjian sama negeri-negeri Barat, sebab shogun insyaf tidak cukup kuat buat melawan kekuatan senjata dari negeri-negeri itu dan di lain pihak shogun takut buat perlawanan musuh-musuhnya di dalam negeri pada perjanjian itu. Coba waktu itu shogun berani bikin itu perjanjian atas kekuasaannya sendiri, tanpa peduli pada kaisar dan pada musuh-musuhnya, barangkali ia tidak akan dapat perlawanan seberapa keras dari musuh-musuhnya dan dari kaum bangsawan di istana kaisar. Tapi waktu itu shogun berbuat kesalahan dengan minta perkenannya kaisar buat itu perjanjian, demikian shogun sendiri memberi bukti yang kaisar lebih kuasa dari shogun. Maka itu tatkala lima tahun kemudian shogun bikin itu perjanjian sama Harris atas kekuasaannya sendiri, meski kaisar sudah menyataken tidak mufakat, ini perbuatan dari shogun membangunken permusuhan yang berterang dari kaum bangsawan di istana kaisar dan memberi jalan yang bagus pada semua musuh dari kaum Tokugawa akan bersatu hati melakuken serangan yang hebat pada shogun punya politik luar negeri.
Demikianlah pada masa itu lahir semboyan Son O Jo I (indahken raja dan usir orang asing). Negeri terpecah dalam dua partai, yaitu partai shogun dan partai raja. Dalam partai raja terhitung semua kaum bangsawan dari istana raja dan semua musuh dari shogun, yang sekarang mendapat alasan bagus buat coba guling kaum Tokugawa. Alasan itu, seperti tadi sudah dibilang, yalah memuliaken raja dan usir orang asing. Memuliaken raja mengertinya bikin raja lebih berkuasa dari shogun. Usir orang asing mengertinya bikin shogun jadi bermusuh sama orang asing.
Dengan pakai semboyan Son O Jo I pengiring-pengiringnya partai raja serang dengan seru sesuatu hak, yang dikasih oleh shogun pada orang-orang asing, bukan saja menurut perjanjian yang dibikin oleh Harris, tetapi juga hak-hak yang dikasih oleh perjanjian-perjanjian yang lebih dulu, yaitu perjanjian-perjanjian dari tahun 1854 dan 1855.
Kaisar keluarken firman yang kasih marah keras pada shogun karena sudah bikin itu perjanjian sama Harris. Sehabisnya keluar ini firman raja, sejumlah pengiring dari musuh-musuhnya shogun ambil putusan buat bikin shogun jalanken kewajibannya buat usir orang-orang asing dari Jepang atau mereka akan lakuken sendiri itu pekerjaan mengusir orang asing.
Tanggal 7 Juli 1859 Harris mulai berumah dalam gedung utusan Amerika yang baru rampung didiriken di Yedo. Satu hari di muka itu Rutherford Alcock diangkat jadi utusan Inggris. Kemudian menyusul utusan Prancis, Belanda dan Rus.
Di permulaan bulan Agustus utusan Inggris dan Amerika mengadu pada shogun tentang seringnya dilakuken hinaan, ancaman dan serangan pada orang-orang Inggris dan Amerika dan juga pada pejabat-pejabat dari gedung utusan itu di Yedo dan di pelabuhan Yokohama yang baru dibuka dan letaknya dekat sama Yedo.
Tanggal 25 Agustus dua orang Rus, seorang opsir dan seorang kelasi dari kapal perang, yang baru sampai bawa utusan Rus, dibunuh di jalanan di Yokohama oleh orang-orang yang tidak diketahui siapa. Dalam empat tahun yang berikutnya senantiasa semakin panjang daftarnya penyerangan pada orang-orang asing.
Tidak melainken orang-orang asing saja yang sering diserang, juga pejabat-pejabat tinggi dari shogun tidak terluput dari serangan musuh-musuhnya shogun. Orang yang terutama dalam pemerintah dari shogun Tokugawa adalah tairo atau perdana menteri Ii Naosuke. Ia inilah yang sudah tidak peduliken larangannya kaisar dan sudah bikin juga itu perjanjian sama Harris. Ialah juga yang kemudian dengan tangan besi tindes sesuatu orang yang berani bantahan pada kekuasaannya shogun. Tanggal 24 Maret 1860, sedang itu tairo dipikul dalam joli dari rumahnya ke istana shogun, ia mendadak diserang dan dibunuh oleh beberapa puluh orang hambanya Nariaki, daimyo dari Mito. Belum ada dua tahun belakangan, tanggal 14 Februari 1862, Ando Tsusyima-no-kami, shogun punya menteri urusan luar negeri, diserang juga di tengah jalan, tetapi tidak sampai jadi mati, hanya cuma dapat luka saja.
Sampai pada buntutnya tahun 1861 kebanyakan perlawanan pada shogun punya politik luar negeri dilakuken oleh anggota-anggota kaum Tokugawa sendiri, yang tidak cocok pikiran sama shogun. Upamanya itu daimyo dari Mito, Nariaki, orang-orang siapa telah bunuh perdana menteri li Naosuke, adalah kepala dari satu famili Tokugawa yang besar dan ayahnya Keiki, tuan tanah dari Hitotsubasyi, yang kemudian menjadi shogun yang penghabisan. Ini percidraan dalam kalangan kaum Tokugawa sendiri betul ada jahatnya, tetapi ada juga baeknya buat shogun. Karena adanya itu permusuhan dalam kalangan kaum keluarga Tokugawa sendiri, maka kaum-kaum di Jepang Barat, yang besar kekuatannya dan benci sekali sama shogun, menjadi bingung dan tidak sampai berserikat menjadi satu buat memusuhi shogun. Sesudah Nariaki mati dalam bulan September 1861, perlawanan dalam kalangan kaum Tokugawa menjadi berhenti. Mulai dengan berhentinya itu permusuhan dalam kalangan Tokugawa sendiri, itu berbagai-bagai kaum di sebelah Barat, yang sampai sebegini jauh pecah belah karena sirik hati pada satu sama lain dan karena dari antara pemimpin pemimpin keluarga Tokugawa sendiri ada yang memusuhi orang asing, mendadak jadi bersatu hati dan berserikat sama partai raja di Kyoto yang memusuhi keras pada orang-orang asing.
Dalam bulan Mei 1862 Shimadzu Idzumi, bapanya daimyo dari Satsuma dan kepala dari kaum Satsuma yang besar, datang di Kyoto. Tidak berapa hari kemudian daimyo dari Choshu, Mori Motonori, datang juga di itu kota raja. Choshu selamanya telah berhubungan rapet sama kaum yang anti orang asing. Tapi Satsuma, meski benci kaum Tokugawa, toh mufakat sama pembukaan dari negeri Jepang buat perniagaan asing, sebab negerinya kaum Satsuma yang dapat untung paling banyak dari itu perniagaan.
Sesudah ketemu di Kyoto itu dua daimyo dari Satsuma dan Choshu lupakan perselisihan-perselisihannya waktu dulu dan berserikat menunjang partai raja melawan partai shogun. Segera kedua daimyo itu diaku sebagai pemimpin-pemimpin dari partai raja. Perserikatan itu dinamaken perserikatan Sat-Cho (Satsuma dan Choshu). Ini perserikatan berjalan terus sampai sekarang dan sesudahnya kaum Tokugawa nanti dapat dirobohken, yalah ini perserikatan atau ini dua kaum Satsuma dan Choshu yang berkuasa atas angkatan perang darat dan laut dari Jepang dan sebab itu jadi memegang kekuasaan paling tinggi dalam pemerintah Jepang sampai sekarang. Tapi pada waktunya perserikatan itu baru dibikin, itu dua kaum di Jepang Barat jadi kaum yang paling terkemuka dalam gerakan anti orang asing sebagai jalan buat merobohken kekuasaannya shogun. Yalah ini dua kaum juga yang menyebabken negeri-negeri Barat menggunaken kekuatan senjata pada Jepang, seperti mereka lebih dulu dari itu sudah berbuat pada Tiongkok.
Tanggal 14 September 1862 sekumpulan orang Inggris, tiga orang laki dan satu perempuan, menunggang kuda di jalan besar dekat Yokohama. Mereka ketemu Shimadzu Idzumi, yang, dengan di-iringken oleh banyak pengiring, lagi dalam perjalanan pulang dari Yedo. Pengiring-pengiringnya itu daimyo bilang, itu orang-orang asing telah melanggar peradatan, tidak menunjuken hormat dan peradatan sebagaimana mustinya, kalau ketemu sama seorang daimyo besar seperti Shimadzu Idzumi. Itu pengiring-pengiring yang bersenjata lalu serang itu orang-orang asing. Seorang Inggris nama C. L. Richardson kena dibunuh, yang dua lainnya dapat luka berat. Setelah kejadian ini direpotken pada pemerintah Inggris, pembantunya utusan Inggris di Yedo lantas diperintah buat minta pada pemerintah Jepang supaya orang-orang yang sudah lakuken serangan itu ditangkap, dituntut dan dihukum mati serta dibayar penggantian kerugian sejumlah 125 ribu pond sterling. Dari ini bilangan 100 ribu pond sterling musti dibayar oleh shogun dan yang sisanya musti dibayar oleh daimyo dari Satsuma. Sesudah dibikin pembicaraan lama, pembesar-pembesar di Yedo mufakat buat bayar itu antero penggantian kerugian, terhitung juga bagiannya Satsuma, tetapi mereka menyataken tidak sanggup, buat jatuhken hukuman apa saja pada orang orang yang bersalah, sebab mereka itu ada orang-orangnya daimyo dari Satsuma dan pembesar-pembesar di Yedo tidak ada mempunyai kekuasaan atas mereka. Utusan Inggris lalu minta bantuannya ia punya armada. Tanggal 11 Agustus 1863 satu pasukan kapal perang Inggris masuk di Teluk Kagoshima buat dapatken kepuasaan sepenuhnya dari daimyo Satsuma, seperti yang diminta oleh pemerintah Inggris. Pada daimyo dari Satsuma dikirim ultimatum, yang minta pembunuh itu lantas ditangkap dan dihukum mati. Pembesar-pembesar dari Satsuma menyaut, orang yang bersalah sudah melariken diri, tapi nanti ditangkap dan dihukum sebegitu lekas dapat diketahui di mana ia berada. Orang Inggris tidak mau bikin pembicaraan lagi tentang pasal-pasal yang mereka minta dalam ultimatumnya. Tanggal 14 dan 15 Agustus itu pasukan kapal perang Inggris lalu tembaki Kagoshima dan musnahken bagian paling besar dari itu kota. Sesudah lakuken ini penembakan, itu pasukan kapal perang Inggris kembali ke Yokohama.
Perkelahian antara Choshu dan negeri-negeri Barat telah mulai sebelumnya orang Inggris lakuken penembakan pada Kagoshima, tapi baru di musim rontok dari tahun 1864 Choshu rasaken kekuatannya senjata Barat.
Di permulaan tahun 1863, sedang perkaranya Richardson masih terus dibikin pembicaraan di Yedo, partai raja di Kyoto, dengan dikepalai oleh kaum Choshu, mulai pula gerakannya buat hapusken semua perjanjian yang sudah dibikin sama negeri-negeri Barat. Dalam bulan April shogun dan perdana menterinya dipanggil ke Kyoto buat terima perintah dari raja dan menyataken mufakat buat lekas usir orang-orang asing dari Jepang, dengan jalan damai jikalau bisa, dengan pakai kekuatan senjata, jikalau tidak bisa dengan jalan damai. Firman raja tentang usir orang-orang asing tidak ada menentuken tanggalnya itu pengusiran musti dilakuken. Selama dua setengah bulan, yang lewat sejak dikeluarken firman raja itu, pembesar-pembesar dari kaum Tokugawa tidak ada bikin apa-apa buat menjalanken bunyinya firman itu. Partai raja yakin, pemerintah shogun di Yedo tidak ada niatan sungguh-sungguh buat menjalanken perintah raja itu. Kemudian dikeluarken perintah baru yang menitahken usir orang asing dengan kekuatan senjata. Ditetapken tangal 25 Juni musti dijalanken ini perintah. Oleh pejabat-pejabatnya raja dikasih perintah seperti itu, yang dikirim dengan langsung pada semua daimyo, tidak dengan perantaraannya shogun lagi.
Kebanyakan daimyo anggap, perintah itu dikeluarken cuma buat diterima saja, tapi tidak buat dijalanken. Tapi daimyo dari Choshu, yang negerinya terletak di sepanjang pesisir utara dari selat Shimonoseki, artiken perintah itu musti dijalanken dengan lantas. Tanggal 26 Juni 1863 kapal Amerika Pembroke berlabuh di muaranya itu selat. Kapal itu lantas ditembaki oleh dua kapal yang bersenjata, kepunyaannya daimyo dari Choshu. Duabelas hari kemudian serangan serupa itu dilakuken pada sebuah kapal meriam kecil kepunyaan orang Prancis, nama Kienchang. Tanggal 11 Juli kapal-kapal dan barisan meriam di sepanjang pesisir dari Choshu lepas tembakan pada kapal Belanda Medusa. Buat bales ini perbuatan bermusuh, kapal perang Amerika Wyoming datang di Shimonoseki pada 16 Juli dan binasaken itu dua kapal dari Choshu. Tanggal 20 dari itu bulan juga dua kapal perang Prancis, di bawah perintahnya admiral Jaurès, bales serangan pada kapal Kienchang dengan bakar satu desa kecil dan binasaken satu barisan meriam di sepanjang pesisir. Tapi barisan-barisan meriam yang masih ketinggalan di sepanjang pesisir terus tembaki selama antero tahun berikutnya, sesuatu kapal api asing, yang berani berlayar cukup dekat sehingga pelornya meriam-meriam itu bisa sampai.
Partai yang cari onar sama bangsa asing, dengan dikepalai oleh Choshu, senantiasa tambah besar pengaruhnya di Kyoto dan di seluruh negeri Jepang. Puluhan daimyo dari segala bagian dari negeri Jepang tinggalken pihaknya shogun dan pilih pihaknya partai raja. Dalam bulan Agustus dimaklumken, kaisar sendiri akan mengepalai pengiring-pengiringnya yang setia memerangi orang asing. Daimyo dari Choshu dan adpisur-adpisurnya gunaken itu ketika buat coba rebut kekuasaan paling tinggi dalam istana raja. Percobaan ini gagal. Tanggal 30 September mereka dipaksa pulang ke negerinya dengan kehinaan. Ini kehinaan dari Choshu, yang kejadian sedikit waktu sesudahnya orang Inggris tembaki pelabuhan Satsuma, melemahken partai di Kyoto yang hendak memerangi orang asing. Tapi itu daimyo dari Choshu, yang diusir dari kota raja dan pulang ke negerinya, terusken seorang diri saja ia punya peperangan pada kapal-kapal asing yang lewat selat Shimonoseki.
Dalam bulan Maret 1864 Sir Rutherford Alcock kembali di Yedo dari verlof dua tahun. Sekembalinya di Yedo ia lantas jadi kepala pula dari sekalian utusan asing di itu kota. Sir Rutherford bisa bikin lain-lain utusan asing jadi percaya, melainkan pembukaan dengan paksa dari selat Shimonoseki adalah jalan satu-satunya buat bikin orang Jepang pegang bunyinya perjanjian-perjanjian. Tanggal 30 Mei utusan Prancis, Inggris, Belanda dan Amerika Serikat kasih tahu maksudnya akan bergerak sama-sama buat lindungken hak-haknya yang dikasih oleh perjanjian-perjanjian yang sudah dibikin. Karena adanya ini keakuran, maka satu pasukan serikat, terdiri dari tujuhbelas kapal perang, pada 5 September 1864 datang di Shimonoseki. Pada itu hari dan selama tiga hari berikutnya itu pasukan kapal perang asing musnahken limabelas barisan meriam di sepanjang pesisir Choshu, yang letaknya di selat itu. Sesudah lakuken ini perbuatan, komandan-komandan dari itu pasukan kapal perang asing bikin perjanjian sama wakil-wakil dari Choshu. Perjanjian itu menyanggupi kapal-kapal asing boleh lewat dengan leluasa di selat Shimonoseki, di sepanjang pesisir dari selat itu tidak akan dibikin benteng-benteng. Choshu akan ganti ongkosnya mengirim kapal-kapal perang itu dan kapal-kapal dagang asing ada hak buat singgah di pelabuhan Shimonoseki. Penembakan pada Kagoshima dalam bulan Agustus 1863, pengusiran dari kaum Choshu dari kota raja pada enam minggu kemudian dari itu penembakan dan serangan dari armada serikat pada Shimonoseki dalam bulan September dari tahun berikutnya, merupakan pukulan-pukulan hebat pada kekuatan dan pengaruhnya kaum Satsuma dan kaum Choshu yang jadi kepala dari partai yang memusuhi kaum Tokugawa. Kejadian-kejadian itu memberi kesempatan pada shogun buat menapas legahan sedikit dari tadinya, tetapi buat sementara waktu saja dan tidak banyak memperbaiki kedudukan yang sukar dari shogun. Choshu tidak bisa banyak bicara lagi, sebab masih ketimpah oleh kehinaan karena percobaannya yang gagal buat rebut kekuasaan di Kyoto. Tapi Satsuma, yang diam-diam masih terus bersobat sama kawannya yang sudah terhina, sekarang berserikat sama lagi dua kaum yang ternama di Jepang Barat, yaitu Hizen dan Tosa, buat terusken dengan sama serunya seperti dulu gerakannya memusuhi kaum Tokugawa.
Mulai itu waktu ini kaum yang memusuhi Tokugawa ubah taktiknya. Mereka mengerti, kalau mereka terusken gerakannya memusuhi bangsa-bangsa asing, perserikatan antara kaumnya shogun dan bangsa-bangsa asing itu menjadi lebih kuat. Maka itu partai musuhnya Tokugawa ubah haluan. Mereka berhenti pakai politik memusuhi bangsa asing. Mereka coba bikin utusan-utusan asing jadi percaya, sebetulnya mereka bersobat sama bangsa asing dan antero rakyat Jepang memusuhi kaum Tokugawa. Bangsa asing berbuat keliru sekali, kalau mereka terus bersobat sama kaum Tokugawa. Ini suara disampaiken bermula di musim panas dari tahun 1864 oleh dua orang muda dari Choshu, yaitu Inouye Kauru dan Ito Hirobumi, yang bekerja sebagai orang perantaraan dengan harapan bisa bikin berhenti percidraan antara negeri-negeri asing dan kaum Choshu. Inouye dan Ito ceritaken pada utusan-utusan asing, perbuatan-perbuatannya Choshu yang memusuhi pada bangsa asing, disebabken melulu oleh permusuhannya pada shogun. Mereka tegesken, kalau utusan-utusan bangsa asing kepingin bersobat kekal sama Jepang, mereka musti balikin belakang pada shogun dan pergi ke Osaka, bikin perhubungan yang langsung sama pejabat-pejabat dari istana raja.
Di permulaan musim panas tahun 1863 beberapa utusan asing telah pikir perlunya akan bikin pertunjukan armada di Osaka, supaya kaisar sahken perjanjian-perjanjian yang sudah dibikin. Dalam sepucuk surat pada pemerintah Amerika, utusan Amerika pujiken supaya dikasih kuasa akan bikin aksi begitu. Lebih dari dua tahun selewatnya itu tanggal, negeri-negeri asing tidak ada bikin apa-apa. Tapi di buntutnya Oktober 1865 wakil-wakil dari empat negeri asing ambil putusan buat gunaken halnya shogun dan ia punya menteri-menteri ada di Osaka dan pergi ke sana beramai-ramai dengan dianter oleh semua kapal perangnya yang ada sedia. Maksudnya adalah buat bicaraken beberapa urusan yang masih tergantung dan, kalau bisa, buat dapatken pengesahan dari kaisar dari perjanjian-perjanjian yang sudah dibikin.
Sebagai kesudahan dari ini putusan, tanggal 4 November satu armada dari sembilan kapal, lima Inggris, tiga Prancis dan satu Belanda, datang di pelabuhan Hyogo, dekat Osaka. Utusan-utusan asing dengan berterang kasih mengerti, bisa jadi mereka nanti bikin pembicaraan langsung sama beberapa daimyo di Jepang Barat. Karena itu maka tanggal 14 November pengangkat bicara dari shogun dengan sungguh-sungguh berjanji, kaisar nanti sahken perjanjian-perjanjian yang sudah dibikin. Buat penuhken ini janji bukan satu perkara gampang, sebab kaum yang memusuhi shogun dan sebab itu jadi memusuhi juga bangsa asing, masih tetap paling berkuasa di Kyoto. Tapi pada tanggal 24 lohor pemerintah shogun bisa kirim pada utusan-utusan asing turunan dari satu firman raja pada shogun, yang bunyinya begini: "Raja kasih permisi buat perjanjian-perjanjian yang sudah ditandatangani, sebab itu hendaklah kau ambil tindakan-tindakan yang perlu,, berhubung sama pengesahan itu."
Dalam bulan September 1866, sepuluh bulan sesudahnya kaisar sahken perjanjian sama negeri-negeri Barat, shogun Tokugawa yang keempatbelas, Iemochi, meninggal dan diganti oleh Keiki [Yoshinobu], daimyo dari Hitotsubashi, yang sejak tahun 1862 telah menjalanken peran kepala dalam pemerintahan dari shogun. Lima bulan kemudian kaisar Komei diganti oleh ia punya putra yang baru berumur empatbelas tahun, Mutsuhito.
Delapan bulan kemudian, dalam bulan Oktober 1867, daimyo dari Tosa, dengan dibantu dan dimufakat oleh daimyo dari Satsuma, Choshu dan Hizen, terimaken pada shogun yang baru sepucuk surat, dalam mana diunjuken, karena kekuasaan memerintah terpecah belah antara shogun dan kaisar, maka negeri Jepang terancam bahaya besar, Shogun diminta, demi kecintaannya pada negeri, buat kembaliken kekuasaan memerintah pada kaisar, kekuasaan mana sudah begitu lama dipegang oleh kaum Tokugawa. Shogun Keiki, yang insyaf sukarnya ia punya kedudukan, dijepit antara bangsa-bangsa asing dan musuh-musuh di dalam negeri, tidak sanggup mengalahken musuhnya di dalam negeri dan juga tidak sanggup mengusir bangsa-bangsa asing, seperti dipaksa oleh musuh-musuhnya, tidak ada lihat lain jalan dari pada turut itu "nasehat" dari daimyo dari Tosa. Tambahan lagi Keiki harap, kalau pemerintahan nanti sudah diatur baru, ia dan sanak keluarganya bakal dapat kedudukan dalam pemerintah yang baru. Begitulah pada 3 November shogun itu menyataken setuju sama adpis tadi dengan serahken kembali kekuasaannya shogun pada kaisar dan sembilan hari kemudian ini penyerahan kembali dari kekuasaannya shogun, diterima baik oleh kaisar dengan ini firman yang pendek dan ketus sekali bunyinya: "Usulnya Tokugawa Keiki buat kembaliken kekuasaan memerintah pada raja diterima baik oleh raja."
Shogun berani harap, ia dan sanak keluarganya akan mendapat tempat dalam pemerintah yang diatur baru, sebab, meskipun ia sudah kembaliken ia punya jabatan shogun pada raja, toh ia masih menjadi tuan tanah paling besar dan paling kuat di Jepang. Tapi Keiki segera juga akan dibikin kecewa dalam harapannya itu.
Tanggal 3 Januari 1868, tujuh minggu sesudah kaisar namanya pegang pula kekuasaan memerintah, putusan yang usir daimyo dari Chosu pulang ke negerinya, dicabut. Segera sesudahnya itu putusan dicabut, sejumlah besar orang-orang Choshu datang membanjiri kota Kyoto. Kekuasaan militer dalam itu kota raja, yang sampai sebegini jauh dipegang oleh pengiring pengiringnya kaum Tokugawa, lantas diambil oper oleh tentara serikat dari kaum Satsuma, Choshu, Hizen dan Tosa, yang dengan ringkes biasa disebut perserikatan SatCho-Hi-To. Keiki majuken protes keras tentang ini kedatangan dari apa yang ia namaken "kawanan bandit" dari Choshu di kota raja. Empat hari sesudah majuken ini protes, Keiki undurken diri ke Osaka.
Mundurnya bekas shogun dari Kyoto segera disusul dengan firman raja, yang menitahken Keiki kasih kembali semua pangkatnya dalam istana dan ia punya sekalian tanah. Keiki barulah insyaf, itu "adpis cinta negeri" dari musuh-musuhnya sebenarnya dimaksudken buat bikin celaka padanya dan buat gantiken ia pegang kekuasaan memerintah. Sesudah insyaf itu, maka di akhirnya bulan Januari Keiki pergi ke Yedo dan bersiap buat maklumken perang. Tapi terhadap pada tentara serikat, yang sekarang berjejer di bawah panji raja, tentaranya kaum Tokugawa tidak sanggup memberi perlawanan yang kuat. Dalam bulan Mei, sesudah mengerti yang perlawanan dengan senjata tidak ada gunanya, Keiki serahken ia punya kota Yedo dan sekalian tanahnya. Sesudah itu ia di-izinken buat tuntut penghidupan sebagai seorang preman. Tapi pengiring-pengiringnya di bagian utara dari negeri Jepang masih terusken perlawanannya. Lebih dari setahun pemberontakan itu berjalan. Tapi dalam bulan Juli 1869 tentara pemberontak yang penghabisan menyerah dan dengan itu tamatlah ceritanya kaum Tokugawa dalam sejarah Jepang.
Pada 1 Januari 1868 dimaklumken namanya pemerintahan dari kaisar yang baru, menurut adat Tionghoa kuno. Dalam bahasa Tionghoa nama pemerintahan begitu disebut nien-hao (lian-hoo), dalam bahasa Jepang disebut nengo, mengertinya "nama tahun". Pada pemerintahan dari kaisar Mutsuhito dikasih nama Meiji atau pemerintah yang dapat penerangan. Sebab kaisar sendiri pada masa itu baru berumur belum cukup enambelas tahun, terlalu muda buat bisa atur sendiri pemerintahan negerinya, maka sudah terang yang atur dasar-dasarnya ini pemerintahan baru bukannya itu raja sendiri, tetapi orang-orang lain yang sudah ada umur, pengertian dan pengalaman lebih banyak. Orang-orang yang terutama pasang dasar-dasarnya pembaruan dari negeri Jepang adalah Sanjo dan Iwakura, dua orang bangsawan yang jadi pembesar di istana raja, Kido, Ito, Yamagata dan Inouye dari Choshu, Okubo, Saigo dan Oyama dari Satsuma, Soyeshima, Okuma dan Enomoto dari Hizen, Itagaki, Goto dan Tani dari Tosa.
Tindakan-tindakan pertama, yang dijalanken oleh ini orang-orang dari zaman Meiji, yang membikin baru negeri Jepang, ada jauh dari-pada revolusioner, jauh dari-pada membongkar aturan-aturan lama dan mengganti sama aturan-aturan baru sama sekali. Dalam bulan Januari dan Februari 1868 dimaklumken sejumlah firman raja, yang menyipta suatu dewan negeri dan delapan dewan pemerintahan. Prof. Murdoch, seorang ahli sejarah Jepang, bilang, dewan-dewan ini bukannya dapat meniru dari Barat. Dewan-dewan itu asalnya dari Tiongkok di zaman Dinasti Tang memerintah di Tiongkok. Di zaman itu, yaitu dalam abad ketujuh dari hitungan Masehi, dewan-dewan pemerintahan itu dicangkok oleh Jepang dari Tiongkok. Belakangan, sesudahnya kekuasaan memerintah di Jepang dirampas oleh shogun dari raja, dewan-dewan itu tidak terpakai lagi dan tinggal terus tidak terpakai selama shogun menjalanken kekuasaan memerintah yang sebenarnya. Tatkala kekuasaan shogun habis dan kekuasaan memerintah namanya dikembaliken pada raja yang belum berumur enambelas tahun, orang-orang yang masa itu berkuasa mengatur pemerintahan atas namanya telah hidupken kembali itu aturan-aturan Tionghoa kuno, yang pada seribu dua ratus tahun dulu dicangkok oleh Jepang dari Tiongkok.
Tanggal 6 April, selagi tentaranya raja berperang melawan pemberontakan dari pengiring-pengiringnya Tokugawa, orang-orang yang masa itu menggantiken shogun menjalanken kekuasaan memerintah, telah suruh raja yang belum akil baliq itu mengeluarken sebuah keterangan, berisi asas-asas, yang raja berjanji atau disuruh berjanji akan jadi penuntunnya dalam pemerintahan negeri. Keterangan ini biasa dinamaken Charter Oath atau surat sumpah. Bunyinya asas-asas itu adalah begini:
- Selanjutnya akan dipakai kebiasaan buat bikin perembukan dan debat dan semua aturan akan diputusken sesudah diperbincangken di muka orang banyak.
- Tinggi dan rendah selanjutnya akan bersatu pikiran dan keberesan umum akan dipegang teguh dengan sempurna.
- Kekuasaan sipil dan militer perlu dikumpul dalam satu badan, hak-haknya semua golongan ditanggung dan pikirannya rakyat akan dibikin puas betul-betul.
- Adat lembaga yang tidak sopan dari zaman dulu-dulu akan dibuang dan keadilan seperti diperlihatken dalam pekerjaannya alam, akan dipakai sebagai pokoknya perbuatan.
- Pelajaran akan dicari di seluruh dunia, supaya bisa memasang dasar-dasarnya negeri.
Belakangan tiga pasal yang pertama dalam keterangan raja itu diartiken seperti berisi janji buat adaken pemerintahan dengan parlemen. Tapi tidak bisa jadi begitu adanya maksud dari adpisur-adpisurnya pemerintah Jepang; yang sudah karang itu keterangan raja. Pikirannya adpisur-adpisur itu tidak cocok sama pemerintahan demokrasi, hanya cocok sama pemerintahan dari seorang raja atau kepala dengan kekuasaan tidak terbatas. Ada lebih betul kalau tiga pasal itu diartiken sebagai janji, yang selanjutnya tidak akan ada shogun lagi, selanjutnya raja akan pegang sendiri antero kekuasaan sipil dan militer dan tidak akan ada lagi tuan tanah yang besar atau segundukan kaum bangsawan dalam istana, yang bisa bikin raja turut apa maunya.
Pekerjaan lebih jauh dari orang-orang yang menggantiken shogun menjalanken kekuasaan memerintah atas namanya raja adalah memindah kota raja dari Kyoto ke Yedo. Kyoto letaknya tiga puluh mil dari pesisir yang paling dekat, di antara gunung-gunung. Sebaliknya Yedo letaknya di kepala dari Teluk Yedo (sekarang dikasih nama Teluk Tokyo). Lebih dari dua ratus lima puluh tahun lamanya Yedo jadi pangkalan dari pemerintah. Lebih jauh Yedo sudah biasa sama saudagar-saudagar dan utusan-utusan asing, bisa lebih gampang dibikin cocok sama aturan baru. Begitulah tanggal 3 September 1868 satu firman raja ganti namanya Yedo dengan Tokyo, yang mengertinya "ibu kota di sebelah Timur". Dua bulan belakangan antero kantor-kantor pemerintah dipindah ke Tokyo. Kyoto dikasih nama baru, yaitu Saikyo, yang mengertinya "ibu kota di sebelah Barat". Sekarang Kyoto dianggap sebagai ibu kota Jepang dalam urusan agama saja, sebagai tempat buat nobatken raja, buat kawinan, buat mengubur raja dan sanak keluarganya. Semua pekerjaan pemerintah selanjutnya dilakuken di ibu kota yang baru, yang dulu jadi ibu kotanya shogun.
Perampasan dari semua tanahnya kaum Tokugawa dan pengiring-pengiringnya telah bikin raja jadi tuan tanah paling besar dalam antero negeri Jepang. Tuan-tuan tanah yang setia pada raja dibiarken terus mempunyai tanahnya. Kemudian sebagian dari tuan-tuan tanah itu serahken tanahnya kembali pada raja. Yang lain-lainnya diperintah buat menurut itu tuladan, sehingga semua tanah kembali jadi miliknya raja. Tapi tuan-tuan tanah, yang sudah tidak punya tanah lagi, diangkat menjadi pembesar di tanah-tanahnya dulu, sehingga cuma nama saja tanah-tanah itu sudah dikembaliken pada raja.
Pekerjaannya ini tuan-tuan tanah dulu sebagai pembesar negeri buat urus tanah-tanahnya itu ternyata tidak beres. Maka itu sesudahnya lewat dua tahun, pada 29 Agustus 1871, dikeluarken firman raja, yang betul-betul hapusken itu tanah-tanah partikelir dan dijadiken miliknya negeri betul-betul. Tanah-tanah itu dibagi dalam desa, kota dan distrik, persis menurut pembagian di Tiongkok dulukala.
Penghapusan tanah-tanah partikelir sama tuan-tuan tanahnya yang jadi semacam raja-raja kecil, menyerahken antero kekuasaan memerintah, baik di kota raja maupun di tiap-tiap tempat dalam antero kerajaan Jepang, dalam tangannya adpisur-adpisur dari raja. Mereka jadi leluasa, tidak ada yang halangi lagi, buat jalanken segala perubahan yang mereka pikir perlu dijalanken buat bikin baru negeri Jepang. Lebih jauh dua pasal yang penghabisan dalam keterangan raja yang tersebut di atas, dijalanken buat menyangkok aturan-aturan Barat yang perlu. Sedang orang Tionghoa, kendati sudah alamken kerugian dan kehinaan dari kekuatannya senjata Barat model baru, toh tetap percaya teguh yang ia punya kesopanan sendiri ada lebih tinggi dari kebudayaan Barat dan sebab itu tetap tidak sudi meniru apa-apa dari Barat, orang Jepang dengan terburu-buru "berguru" pada bangsa Barat dan cangkok segala aturan, pikiran dan pendapatan dari Barat, yang oleh kaum yang memegang kekuasaan baru ditimbang perlu ditiru buat bikin negerinya bisa berjejer sama bangsa Eropa dan Amerika dalam urusan ekonomi dan militer. Ratusan siswa pilihan dikirim ke berbagai-bagai negeri di Barat buat pahamken segala pengetahuan dari Barat. Kebencian pada orang asing dalam sekejap mata diganti sama kegilaan pada orang asing.
Ahli-ahli ilmu pengetahuan dan insinyur-insinyur dari berbagai-bagai negeri diundang datang bekerja di Jepang buat jadi gurunya bangsa Jepang dalam ilmu mesin dari Barat. Opsir-opsir militer, bermula dari Prancis, kemudian sesudahnya Prancis dikalahken oleh Jerman dalam peperangan dari tahun 1870/1871, opsir-opsir militer dari Jerman, dipakai buat atur dan didik satu balatentara Jepang model Barat, Orang-orang Inggris, yang ahli angkatan perang laut, didatangken di Jepang buat pasang dasarnya angkatan perang laut model baru. Ahli-ahli perguruan bangsa Amerika diundang buat bantu mendiriken aturan pendidikan buat antero rakyat.
Dalam tahun 1868 dipasang perhubungan kawat yang pertama di Jepang. Dua tahun kemudian dimulai pekerjaan memasang jalanan kereta api yang pertama di Jepang, yaitu dari Tokyo ke Yokohama. Dalam bulan Desember 1870 didiriken satu departemen untuk pekerjaan guna orang banyak. Maksudnya ini departemen baru adalah buat urusan perusahaan tambang, pabrik besi, pabrik listrik, jalanan kereta api, perhubungan kawat dan lain-lain. Tanggal 3 Januari 1871 dikeluarken firman raja, mulai 1 Januari lain tahun angkatan perang dari negeri Jepang akan terdiri dari serdadu serdadu milisi. Kewajiban buat jadi serdadu dijalanken di seluruh negeri, tanpa memandang derajatnya orang yang dikenaken kewajiban itu. Dalam bulan itu juga dimaklumken peraturan hukuman siksa yang sudah diubah dan dimulai pekerjaan mengubah rumah-rumah penjara. Dalam bulan Agustus dewan censor yang lama dihapusken dan pekerjaannya dijadiken satu dengan satu departemen urusan peradilan model baru. Dalam bulan September menjelma dua departemen baru, yaitu departemen urusan pelajaran dan urusan uang. Dalam tahun berikutnya diadaken rancangan buat mewajibken anak-anaknya antero rakyat Jepang masuk sekolah rendah. Departemen urusan uang ambil tindakan-tindakan buat diriken bank-bank model baru. Tanggal 1 Januari 1873 penanggalan Barat dipakai sebagai penanggalan resmi, mengganti penanggalan Tionghoa kuno, yang dipakai terus oleh rakyat sampai sekarang buat keperluan agama.
Karena tanah-tanah partikelir diambil kembali oleh raja dan semua tanah di negeri Jepang dijadiken milik raja, maka tuan-tuan tanah alias daimyo bersama mereka punya tentara yang dinamaken kaum samurai, jadi keilangan sumber pengasilan. Kerugian ini diganti oleh pemerintah Jepang. Pada bekas tuan-tuan tanah dan mereka punya samurai itu dikasih pensiun. Tiap-tiap bekas tuan tanah dapat pensiun sebesar satu per sepuluh dari hasilnya waktu masih mempunyai tanah. Pada tiap-tiap samurai dikasih pensiun sebesar separo dari hasilnya waktu ia jadi hamba dari tuan tanah. Buat bekas tuan tanah ini aturan ada menguntungken. Semasa mereka masih mempunyai tanah, hasil tanahnya, sesudah dipotong ongkos-ongkos urusnya, kebanyakan hasil yang bersih itu ada kurang dari pensiun yang mereka sekarang dapat. Tapi si samurai kena dipotong separo dari pengasilannya yang biasa. Buat tulung tambah hasilnya ini samurai-samurai dan juga buat hapusken golongan samurai, maka pada samurai di-izinken buat berdagang dan lakuken perusahaan kerajinan, hal mana tadinya mereka dilarang lakuken.
Dalam bulan Desember 1873 dikeluarken maklumat raja, yang tawarken pada orang-orang yang dapat pensiun kecil buat jual pensiunnya itu. Orang-orang, yang dapat pensiun turun-menurun, bisa jual pensiunnya seharga yang sama besarnya seperti pensiun dalam enam tahun. Orang-orang, yang dapat pensiun cuma seumur hidup, tidak turun menurun, bisa jual pensiunnya itu buat harga yang sama seperti bilangan pensiunnya dalam empat tahun. Ini bilangan dibayar kontan separo dan separo sama surat utang dari negeri, yang kasih renten 8 persen setahun. Maksudnya tawaran ini yalah supaya orang-orang yang dapat pensiun kecil itu bisa mempunyai modal buat beli sawah atau buat mulai perusahaan. Lain sebab lagi dari tawaran itu rupanya adalah halnya bilangan pensiun itu ternyata terlalu berat buat kas negeri Jepang di masa itu.
Selama dua setengah tahun sesudah dimajuken tawaran itu, kira-kira sepertiga dari bilangan samurai telah jual pensiunnya. Dalam bulan Agustus 1876 dikeluarken firman baru dari raja yang mewajibken semua orang jual pensiunnya. Aturan ini menerbitken banyak kesusahan pada orang-orang yang dapat pensiun kecil. Sebab tidak biasa berdagang dan juga tidak biasa lakuken pekerjaan lain, selainnya dari jadi serdadu, banyak samurai makan habis uang kontan yang mereka terima dan terpaksa hidup seperti pengemis dari pengasilan yang besarnya cuma satu per sepuluh atau paling banyak satu per lima dari pengasilannya tempo jadi serdadunya tuan tanah.
Pada ini kesusahan dalam penghidupan ditambah lagi aturan pemerintah, yang oleh kaum samurai itu diartiken sebagai hinaan pada dirinya. Dalam bulan Januari 1872 dipanggil semua orang, yang oleh aturan baru diwajibken jadi serdadu. Mereka ini dipanggil buat dikasih pendidikan sebagai serdadu untuk angkatan perang model baru, yang diatur secara aturan Barat. Dalam bulan Agustus 1876, berbareng sama pemberian tahu yang mewajibken semua orang jual pensiunnya, dikeluarken firman yang melarang semua orang pakai pedang, kecuali orang-orang yang jadi serdadu dalam tentara yang diatur menurut aturan baru.
Banyak samurai di berbagai-bagai bagian dari negeri Jepang lalu berontak. Kebanyakan pemberontakan itu dilakuken oleh samurai dalam gundukan-gundukan kecil saja, yang bergerak terpisah dari satu sama lain. Maka itu kebanyakan pemberontakan itu dapat ditindes dengan gampang oleh pemerintah. Tapi di bagian selatan dari Kyushu, di mana samurai dari kaum Satsuma berontak dalam bilangan besar dengan dikepalai oleh Saigo, yaitu salah seorang daimyo yang telah mulai gerakan buat bikin baru negeri Jepang, pemberontakan itu merupakan satu pemberontakan besar. Pemberontakan itu mulai pada 29 Januari 1877 dan diterusken sampai 24 September dari itu tahun juga. Akhirnya ternyata, tentara pemerintah, yang dididik dan dipersenjataken model baru, ada lebih kuat dari kaum samurai itu. Pemberontakan itu dapat ditindes dan samurai yang masih hidup, perlahan-perlahan kena lebur dalam golongan rakyat biasa.
Pemasangan jalanan kereta api dan perhubungan kawat, pendirian kantor-kantor post, perubahan perubahan dalam urusan pertanian dan pelajaran, pendirian dari angkatan perang darat dan angkatan perang laut model baru, itu semua meminta ongkos-ongkos luar biasa besar dalam sejarahnya bangsa Jepang. Tentu saja ongkos-ongkos itu menjatuhken beban pajak berat pada rakyat. Supaya bisa memikul beban pajak yang selalu bertambah berat, maka pemerintah Jepang menunjang dan menganjuri sebisanya akan rakyat membesarken penghasilannya. Pada samurai samurai dulu dikasih tanah dengan harga murah, supaya mereka dapat penghasilan cukup untuk hidupnya. Satu komisi dibangunken buat urus pemindahan rakyat ke tanah-tanah yang belum diusahaken di Hokkaido. Mesin mesin dipakai dalam perusahaan, terutama dalam perusahaan kain. Dengan cepat pabrik-pabrik berdiri di negeri Jepang. Perubahan dalam urusan uang dan bank-bank yang baru didiriken memberi jalan yang gampang akan orang mendapat utang yang perlu buat perusahaan pabrik model baru. Pemerintah kasih subsidi pada pembikinan kapal-kapal dagang, yang selalu bertambah banyak, sehingga orang Jepang dapat hasil yang selalu bertambah besar dari perdagangan sama luar negeri.
Dalam tahun 1872 urusan angkatan perang darat dipisahken dari urusan angkatan perang laut. Sedari mulai dibikin itu pemisahan sampai sekarang, kaum Satsuma berkuasa dalam urusan angkatan perang laut dan kaum Choshu berkuasa atas angkatan perang darat. Dalam soal-soal politik yang penting itu dua kaum Satsuma dan Choshu, karena kekuasaannya atas angkatan perang darat dan laut itu, bisa paksa pembesar-pembesar sipil buat turut apa maunya. Karena itu dan juga karena orang-orang dari itu dua kaum jadi adpisur-adpisurnya kaisar, maka kedua kaum itu yang sebenarnya-benarnya memegang kekuasaan memerintah.
Karena dua kaum itu mempunyai kekuasaan begitu besar dalam hal pemerintahan, maka perasaan kurang senang telah dibangunken dan menjalar luas. Ini sudah kejadian pada sebelumnya pemberontakan samurai dari tahun 1876 dan 1877. Orang-orang yang kurang senang itu mulai minta diadaken dewan wakil rakyat, yang anggota-anggotanya dipilih oleh rakyat. Mereka dasarken permintaan itu atas keterangan raja, yang mereka artiken berisi janji buat adaken parlemen, Dalam tahun 1881 gerakan minta diadaken konstitusi dan parlemen mendapat dorongan baru karena diketahuinya keburukan dalam urusan memindah rakyat ke Hokkaido. Di Tokyo terbit perusuhan-perusuhan, yang menyebabken dibakarnya sejumlah kantor-kantor polisi. Keadaan jadi begitu rusuh dalam kota raja, sehingga dijalanken hukum perang. Perusuhan itu dapat dipadamken, tapi kaum yang memegang kekuasaan memerintah insyaf perlunya akan menurut pada kehendaknya rakyat. Tanggal 12 Desember sebuah firman raja berjanji, dalam tahun ke duapuluhtiga dari pemerintahan Meiji (1890) akan dibuka parlemen. Sementara itu satu komisi akan bikin persediaan yang perlu buat itu maksud.
Sedikit waktu sesudah dikeluarken ini firman raja, Ito Hirobumi dikirim ke luar negeri buat pahamken berbagi konstitusi di benua Barat. Ito tinggal setahun lamanya di Eropa dan Amerika, kemudian ia pulang ke Jepang. Tanggal 21 Maret 1883 ia diangkat jadi minister dari rumah tangga raja dan dijadiken kepala dari satu kantor spesial buat karang satu konstitusi.
Tanggal 11 Februari 1889 dimaklumken itu konstitusi, yang telah memakan tempo enam tahun buat mengarangnya.
Siapa mengira, dengan diadakennya konstitusi di Jepang, pemerintahan demokrasi atau pemerintahan oleh rakyat buat gunanya rakyat mulai dijalanken di negeri itu, orang itu mengira keliru sekali. Di negeri-negeri Barat yang diperintah secara demokratis, konstitusi membatesi hak dan kekuasaannya pemerintah, membikin hak dan kekuasaan pemerintah dalam hal memerintah negeri jadi seberapa bisa sedikit dan menentuken kewajiban-kewajibannya pemerintah, sebaliknya meluasken hak dan kekuasaannya rakyat seberapa bisa luas, tentu saja di sebelahnya menentuken juga kewajiban-kewajibannya rakyat. Di mana ada hak, di situ musti ada juga kewajiban sebagai timpalannya. Tidak pantes ada hak saja dan tidak ada kewajiban sebagai timpalannya.
Tapi di negeri Jepang konstitusi yang dimaklumken pada 11 Februari 1889 itu tidak membatesi hak dan kekuasaannya raja atau pemerintah, tidak mengurangken hak dan kekuasaan itu jadi seberapa bisa sedikit dan meluasken hak dan kekuasaannya rakyat jadi seberapa bisa luas dalam urusan memerintah negeri. Sebaliknya dari itu, konstitusi itu memberi pada raja hak dan kekuasaan seluas-luasnya, seperti ada dipunyai oleh raja-raja di zaman dulukala, yang memerintah dengan kekuasaan tidak terbatas.
Dari apa yang sudah diceritaken di lembaran-lembaran di muka ini, orang sudah bisa tahu, sedari mulai ada sejarah Jepang yang ditulis sampai pada pembaruan dari Jepang di tahun 1868, yaitu selama seribu tahun lebih, raja Jepang cuma jadi golek jonggol atau boneka, bermula dari pengurus istananya, yang menjadi wakilnya raja menjalanken pemerintahan, kemudian dari shogun. Selama itu tempo seribu tahun lebih yalah ini orang-orang, yang sebenarnya memegang kekuasaan memerintah, bukan raja. Raja diangkat dan diturunken turut sukanya itu orang-orang.
Profesor Chamberlain, ahli pertama dan paling kesohor dari hal sejarah dan bahasa Jepang, pernah menulis sebagai berikut:
Barangkali tidak ada satu bangsa pernah perlakuken raja rajanya lebih bagus dari-pada orang Jepang perlakuken rajanya sedari mulai ada sejarah Jepang yang ditulis sampai pada zaman sekarang. Raja-raja Jepang telah diturunken dari takhtanya dan dibunuh; beratus-ratus tahun lamanya tiap-tiap penggantian raja baru menjadi tanda buat terbitnya persekutuan persekutuan dan permusuhan permusuhan sengit. Raja raja Jepang telah dibuang, beberapa antaranya dibunuh di tempat buangan . . . . . . . Beratus-ratus tahun lamanya kekuasaan memerintah dipegang oleh pengurus pengurus dari istananya raja, yang ganti raja yang satu, yang masih anak, sama lain raja yang juga masih anak. Umumnya tiap tiap raja itu dipaksa turun dari takhtanya, apabila ia sudah hampir dewasa. Pada suatu masa itu pengurus pengurus istana biarken turunannya Dewi Matahari hidup dalam keadaan demikian melaratnya, sehingga Seri Baginda Raja dan putra putranya terpaksa cari penghidupan dengan jual tulisan sama tangannya sendiri. Tidak ada satu partai besar dalam negeri Jepang yang memprotes ini keadaan. Sekalipun sekarang, di zamannya pemerintahan Meiji, telah kejadian dua pemberontakan. Selama salah satu pemberontakan itu, di satu bagian dari negeri Jepang diangkat seorang raja baru dan di lain bagian dari negeri Jepang dimaklumken pemerintahan republik.
Sementara Profesor Wildes, yang pernah jadi guru besar di Universitas Keio, yaitu universitas Jepang paling tua, menulis seperti berikut:
Pembunuhan dan pembuangan raja-raja di Jepang sering kejadian. Raja-raja dibikin jadi melarat dan tidak punya kekuasaan apa-apa. Di luar pintu-pintunya istana, firman-firman raja tidak diendahken. Perindahan pada raja, yang katanya jadi Tuhan Allah, ada begitu sedikit, sehingga pernah kejadian seorang raja yang sudah mati sampai enam minggu tidak bisa dikubur, sebab pengurus uang negeri tidak mau kasih uang yang perlu buat ongkos penguburan. Sedang hal menobatken seorang raja yang lain telah ditunda sampai dua puluh tahun.
Pemerintahan dijalanken dari belakang kelir. Jikalau hormat dan perindahan di lahir dikasih pada orang yang namanya jadi raja, maka kekuasaan yang sebenarnya dipegang oleh lain tangan selama lebih dari seribu tahun. Apakah ini keadaan sudah berjalan sedari zaman dulukala sekali, itulah tidak bisa dibilang dengan pasti, sebab tidak ada catatan sejarah dari zaman dulukala, tetapi sudah pasti sedari zamannya Fujiwara Kamatari, yaitu di pertengahan abad ketujuh, raja raja Jepang seringkali tidak lebih dari golek jonggol (boneka). Kamatari telah bunuh seorang saingannya di depannya raja. Lebih jauh Kamatari sudah paksa raja turun dari takhtanya dan angkat seorang golek jonggol jadi gantinya. Dua ratus tahun lamanya kaum Fujiwara memerintah di Jepang, meski mereka tidak pernah jadi raja. Limabelas raja cuma jadi pekakasnya kaum Fujiwara. Delapan dari antara limabelas raja itu telah dipaksa turun dari takhta waktu baru dewasa. Anak anak perempuan dari kaum Fujiwara dikawinken sama putra-putra raja, sehingga tali persanakan bikin lebih kuat perhubungan politik antara kaumnya Tuhan Allah dan orang-orang yang sebenar-benarnya memerintah negeri Jepang. Kepercayaan yang raja-raja Jepang musti diperlakuken cara begitu telah berakar begitu dalam, sehingga dalam tempo seribu dua ratus tahun, isterinya raja-raja Jepang dipilih dari satu famili saja dari antara cuma lima famili, dari mana boleh dipilih isteri buat raja. Baru di tahun 1924 seorang raja atau bakal raja Jepang berani kawin sama seorang isteri dari famili lain. Dan kawinan itu baru bisa kejadian, sesudahnya terjadi perselisihan sengit dalam urusan politik, yang bikin dasar-dasarnya kerajaan Jepang tergoyang keras.
Orang-orang yang telah robohken shogun dan kemudian gantiken shogun memegang kekuasaan memerintah, sudah bisa jalanken politiknya itu dengan berhasil dengan pakai semboyan "muliaken raja". Mereka mengerti, mereka bisa tetap pegang kekuasaan memerintah, kalau raja terus dimuliaken. Dengen pakai namanya raja yang dimuliaken, mereka bisa memerintah turut sukanya. Maka itu konstitusi yang dimaklumken dalam tahun 1889 dimaksudken terutama buat bikin kuat kedudukannya raja dan pemujaan pada raja, supaya kekuasaan memerintah dari orang-orang, yang bisa berpengaruh atas raja, jadi kekal juga. Karena itu maka artikel 1 dari itu konstitusi bilang: "kerajaan Jepang akan diperintah oleh sejumlah raja-raja yang sambung menyambung selamanya ada dunia." Maksudnya ini artikel 1 dari konstitusi sudah terang buat mencegah rakyat robohken pemerintahan raja atau ganti raja sama orang dari lain kaum. Artikel 2 dari konstitusi bilang: "Raja diganti oleh raja punya turunan-turunan lelaki, menurut aturan-aturan yang tersebut dalam hukum atau aturan istana raja." Jadinya menurut ini artikel 2 dari konstitusi, selanjutnya tidak boleh lagi orang perempuan memerintah sebagai raja di negeri Jepang. Aturan ini rupanya diadaken sebab mengingat pada keburukan-keburukan yang terjadi dulu waktunya raja-raja perempuan duduk memerintah di Jepang. Dulu, waktu kota raja masih bertempat di Kyoto, dalam sedikit tempo empat raja perempuan berganti-ganti memerintah di Jepang. Selama pemerintahan dari ini empat raja perempuan, kaum hweesio alias pendeta Buddha mempunyai kekuasaan besar dalam pemerintahan. Kaum hweesio itu sengaja pilih hweesio-hweesio muda dan cakap buat dijadiken hweesio dalam istana dan buat jadi dokternya itu raja-raja perempuan. Ini hweesio-hweesio muda dan cakap kemudian jadi kecintaan dari itu raja-raja perempuan. Cara begitu kaum hweesio jadi dapat kekuasaan besar dalam pemerintahan. Salah satu raja perempuan itu, Koken alias Shotoku namanya, dengan berterang piara ia punya kecintaan hweesio dalam istananya, hingga sebenarnya ini hweesio yang jadi raja. Tapi ini hweesio, yang bernama Dokyo, tidak merasa puas sama itu kedudukan. Ia kepingin jadi raja sungguh-sungguh dari negeri Jepang. Ia ceritaken ada ratu Koken, ia mengimpi, tepekong Hachiman Daijin, buat siapa itu ratu dua puluh tahun duluan diriken satu klenteng, telah datang padanya dan kasih tahu, kerajaan Jepang akan selamat dan jaya selama-lamanya, kalau Dokyo jadi raja. Koken tidak berani ambil putusan sendiri, hanya mau suruh tanya dulu pada itu tepekong. Ia suruh seorang nama Wake no Kiyomaro pergi ke klentengnya itu tepekong buat tanya pasal angkat penggantinya jadi raja. Dokyo dengan diam-diam ketemui itu orang suruan dan ceritaken, ratu lagi pikir-pikir buat angkat ia jadi raja. Itu orang suruan dipesan supaya hati-hati, kalau nanti kasih kabar pada ratu tentang apa katanya itu tepekong. Kalau Dokyo jadi raja, Wake no Kiyomaro tentu jadi senang. Ini orang suruan mengerti akalnya itu hweesio. Ia pergi ke klenteng yang diunjuken dan pulang dengan bawa kabar, katanya tepekong bilang, tidak boleh lain orang dari turunan raja duduk di takhta kerajaan dan ratu tidak usah takut buat Dokyo. Begitulah akalnya itu hweesio buat rebut takhta kerajaan Jepang, telah gagal. Tidak lama sesudah itu kejadian, ratu Koken meninggal dan Dokyo dibuang. Ini kejadian sudah cukup membuktiken bahayanya orang perempuan duduk memerintah di Jepang.
Nitobe pernah menulis, riwayatnya istana raja di Kyoto tidak kekurangan Rasputin (pendeta cabul).
Rupanya oleh karena itu maka dalam artikel 2 dari konstitusi ditentuken, melainkan turunan lelaki dari raja musti menggantiken jadi raja. Artikel 2 dari peraturan istana raja bilang, raja akan diganti oleh putranya yang paling tua dan artikel 3 dari peraturan itu bilang, kalau tidak ada putra raja yang paling tua, raja punya cucu laki yang paling tua yang akan menggantiken jadi raja dan kalau tidak ada putra yang paling tua dan tidak ada cucu laki yang paling tua, maka putra raja yang kedua dan begitu seterusnya akan menggantiken jadi raja. Karena adanya itu peraturan istana raja, maka penggantian raja jadi ada ketetapannya.
Seperti sudah diceritaken, konstitusi Jepang dikarang oleh Ito Hirobumi. Maka itu yalah Ito juga yang sudah karang keterangan atas artikel-artikel dalam itu konstitusi. Dalam ia punya keterangan atas artikel 2 dari konstitusi, Ito tulis: "Pasal menggantiken jadi raja ada aturan aturan yang teges sedari raja yang pertama. Menurut aturan-aturan itu, takhta kerajaan diturunken pada putra dan cucu lelaki dari raja. . . . . . ." Professor Murdoch, waktu membaca ini keterangan dari Ito, tidak bisa tahan hatinya buat tidak peringatken pada pembacanya, sejarah Jepang menunjuken keadaan lain sama sekali dari yang dibilang oleh Ito. Sejarah Jepang menunjuken, penggantian raja sedari dulu kala selamanya kalut, penggantian raja dilakuken oleh pengurus-pengurus istana raja turut sukanya, sebagaimana ternyata dari contoh-contoh yang sudah diceritaken. Baru dalam zaman baru ini saja ada aturan-aturan buat istana raja dan baru dalam aturan-aturan ini saja ada itu artikel 2 yang menentuken, bagaimana mustinya penggantian dari raja.
Keterangan dari Ito, yang dibantah oleh Prof. Murdoch dengan bukti-bukti dalam ia punya buku sejarah Jepang, ada satu contoh yang terang dan teges dari berani matinya pengarang-pengarang Jepang dalam hal mendusta, sekalipun dalam perkara-perkara yang tercatet dalam sejarah dan sebab itu maka gampang sekali buat orang unjuken dusta itu. Ito Hirobumi ada seorang ternama, bukan saja karena ia jadi pengarang dari konstitusi Jepang, tetapi juga karena pangkatnya yang tinggi dalam pemerintahan di Jepang di zamannya pembaruan dari itu negeri. Jikalau sampaipun seorang yang mempunyai kedudukan begitu penting masih tidak segan menulis dusta seperti yang barusan diunjuken, sehingga karangannya jadi tidak berharga sama sekali atau setida-tidaknya musti dibaca dengan hati-hati sekali supaya orang tidak kena dijuali dusta, jangan tanya lagi sampai di mana berani matinya pengarang-pengarang Jepang biasa dalam hal menjual dusta. Tiap-tiap buku karangan orang Jepang musti dibaca hati-hati sekali. Orang selalu musti periksa dengan teliti, di mana si pengarang menyeritaken hal-hal sebenarnya dan di mana ia lagi asik bohongi pembacanya, jikalau orang tidak mau melek-melek kena dibohongi.
Artikel 3 dari konstitusi Jepang bilang, raja itu suci dan tidak boleh diserang.
Dalam ia punya keterangan atas ini artikel 3 Ito tulis: "Tachta kerajaan yang suci telah didiriken waktu langit dan bumi berpisah dari satu sama lain. Raja adalah anaknya langit (Tuhan Allah), sebab itu maka raja itu yalah Allah dan suci: ia ada di atas dari sekalian rakyatnya. Ia harus dihormati dan tidak boleh diganggu. Betul ia musti endahken hukum negeri, akan tetapi hukum tidak punya kekuasaan buat tuntut dan hukum padanya. Bukan saja orang tidak boleh berlaku tidak hormat pada raja, akan tetapi ia pun tidak boleh dicela atau dikritik."
Itu nama "Anaknya Allah" buat raja telah dipinjam oleh orang Jepang dari Tiongkok. Nama itu mulai dipakai di Tiongkok kira-kira empat ribu tahun dulu, di zamannya Dinasti Zhou memerintah di Tiongkok. Akan tetapi orang Tionghoa punya artian dari itu nama ada lain sama sekali dari artiannya orang Jepang. Dengan itu nama orang Tionghoa tidak mau bilang, raja itu betul-betul anaknya Tuhan Allah atau Tuhan Allah sendiri, seperti orang Jepang sekarang artiken. Dengan itu nama orang Tionghoa mau bilang, orang yang jadi raja dikasih kuasa oleh Tuhan Allah buat menjadi raja karena orang itu mempunyai kebajikan tinggi. Tuhan Allah angkat orang itu menjadi raja, kasih kuasa pada orang itu buat jadi raja, dengan perantaraannya rakyat. Kalau rakyat sepakat buat angkat seorang menjadi rajanya, itulah namanya Tuhan Allah kasih kuasa pada itu orang buat menjadi raja. Kalau kemudian raja itu alpakan kewajibannya, alpakan kebajikan, memerintah dengan sewenang-wenang dan menindes pada rakyat, Tuhan Allah tarik kembali surat kuasanya, ia diganti sama lain orang. Tuhan Allah cabut surat kuasanya itu dengan perantaraannya rakyat pula. Rakyat berontak dan ganti rajanya sama lain orang. Itulah namanya Tuhan Allah cabut surat kuasanya yang tadi dikasih pada raja. Makanya dalam kitab-kitab Tionghoa kuno dibilang, Tuhan Allah melihat, mendengar dan bicara dengen perantaraannya rakyat. Dalam ini anggapan Tionghoa raja cuma seorang biasa saja, sama saja seperti lain-lain orang, cuma karena kebejikannya yang tinggi ia dipilih oleh rakyat buat mengatur penghidupannya rakyat itu untuk kepentingannya rakyat itu juga. Kalau raja tidak menjalanken kewajibannya itu dengan betul, sehingga rakyat dapat susah dalam penghidupannya, maka rakyat berhak buat berontak dan ganti rajanya sama lain orang. Karena itu maka sejarah Tiongkok penuh sama pemberontakan-pemberontakan dari rakyat buat mengganti raja yang tidak baik.
Orang Jepang cangkok itu nama Anak Allah dari bangsa Tionghoa, tetapi kasih artian lain sama sekali pada itu nama, sebagaimana ternyata dari artikel-artikel konstitusi Jepang yang ditutunken di atas. Orang Jepang artiken yang raja itu betul-betul Tuhan Allah, Raja Jepang tidak boleh diganggu, tidak boleh dicela, tidak boleh dikritik, jangan lagi dipaksa turun dari takhtanya atau dibunuh oleh rakyat buat ganti ia sama orang yang lebih baik, sebagaimana sering kejadian dalam sejarah Tiongkok.
Perbedaan anggapan dari bangsa Tionghoa dan bangsa Jepang tentang rajanya ada sama besarnya seperti perbedaan antara langit dan bumi.
Anggepan Tionghoa mementingken rakyat, menjatuhken kewajiban-kewajiban pada raja buat kepentingannya rakyat dan memberi hak pada rakyat buat ganti rajanya, jikalau ia ini tidak jalanken kewajiban-kewajiban itu sebagaimana mustinya. Anggepan Tionghoa adalah anggapan demokratis tulen.
Anggepan Jepang memuliaken raja, menuhanken raja, mewajibken rakyat menuhanken raja dan melindungken raja tentang segala gangguan, biarpun gangguan yang cuma berupa celaan atau kritik saja. Raja akan memerintah turun-menurun selama ada dunia, jadi selama-lamanya tidak boleh diganti oleh rakyat sama lain orang.
Supaya itu pelajaran menuhanken raja tersiar lebih luas dan meresep lebih dalam, maka dalam rumah-rumah sekolah Jepang, dari yang rendah sampai yang tinggi, dikasih ajar itu anggapan yang raja Jepang itu yalah Tuhan Allah dan suci dan sebab itu tidak boleh diganggu. Pada tiap tiap orang Jepang, sedari anak sampai dewasa, dikompa itu anggapan, yang dijadiken semacam kepercayaan yang musti dianut dengan membuta, tidak boleh disangsi dan tidak boleh ditanya benar tidaknya.
Kelihatannya seperti ini kepercayaan tertanam betul di dalam hatinya tiap-tiap orang Jepang. Tapi toh tidak selamanya itu kepercayaan yang dikompa dalam hatinya tiap-tiap orang Jepang, ada cukup kuat buat melindungken dirinya raja Jepang tentang serangan. Dalam tahun 1911, upamanya, telah ketahuan satu persekutuan buat lempar bom pada kaisar Meiji (Mutsuhito). Sebelas orang lantaran itu telah dihukum mati. Sejak itu waktu kaisar Meiji berhenti pertunjuken rupanya di hadapan orang banyak. Ia diganti oleh ia punya putra, yang memerintah dengan gelaran Taisho. Lantaran badan dan pikirannya tidak sehat betul, maka ini raja pun tidak tahu keluar dari istananya. Pemerintahan diwakilken oleh seorang pangeran, yang dalam tahun 1926 jadi raja dengan gelaran Showa. Semasa masih jadi wakil raja ini pangeran berjanji akan tidak begitu asingken dirinya dari rakyat. Tapi dalam tahun 1923, tiga tahun sebelumnya diangkat jadi raja, telah dilakuken percobaan buat lempar bom padanya. Lantaran itu maka kaisar Showa pun semakin jarang perlihatken rupanya pada orang banyak. Dalam tahun 1924 dan 1932 kembali telah diketemuken persekutuan di Tokyo buat bom raja. Hal-hal ini menunjuken, raja Jepang tidak terlalu selamat buat serangan.
Hampir dua tahun sesudah dimaklumken konstitusi, dibuka persidangan yang pertama dari parlemen di Jepang, yaitu dalam bulan November 1890. Ini parlemen tidak lebih berkuasa dari Volksraad di sini. Dari mulai dibuka sampai sekarang parlemen di Jepang tidak ada mempunyai kekuasaan yang benar dalam urusan pemerintahan. Menteri-menteri di Jepang tidak menanggung jawab pada parlemen. Mereka menanggung jawab pada raja. Raja yang angkat dan lepas menteri-menteri. Konstitusi di Jepang perlunya cuma buat menetapken dengan tulisan kekuasaan yang tidak terbatas dari raja dan adpisur-adpisurnya. Parlemen perlunya cuma buat selimuti itu kekuasaan yang tidak terbatas dari raja dan adpisur adpisurnya. Paling bagus konstitusi dan parlemen itu cuma buat apusi bangsa bangsa Barat, supaya mereka sangka, pemerintahan di Jepang sudah diatur secara pemerintahan di negeri negeri Barat yang demokratis. Tapi sebenarnya Jepang sampai ini hari masih diperintah dengan kekuasaan tidak terbatas oleh raja dan adpisur adpisurnya, seperti biasanya di zaman dulu-dulu. Pembaruan dari Jepang kejadian dalam lapangan ilmu pengetahuan dan perusahaan. Di sini ilmu pengetahuan model baru dari Barat dicangkok dengan giat. Tapi dalam urusan pemerintahan negeri dan ilmu berpikir di Jepang tidak ada kejadian pembaruan. Dalam urusan pemerintahan negeri dan pikiran Jepang sama kolotnya seperti seribu tahun dulu. Di lain lain negeri pemerintahan diatur supaya menyocoki pikirannya rakyat yang semakin maju. Tapi di Jepang pikirannya rakyat yang maju direm, dikasih mundur supaya jadi cocok sama aturan pemerintahan yang kolot. Buat itu maksud, buat rem pikirannya rakyat tentang urusan pemerintahan supaya selamanya cocok sama itu aturan memerintah dari seribu tahun dulu, dipakai pendidikan dalam rumah tangga dan dalam rumah sekolah, yang kompa kepercayaan perihal kesuciannya raja sebagai Tuhan Allah. Seorang Jepang yang terpelajar dalam zaman sekarang ada seorang makhluk yang aneh. Dalam lapangan ilmu pengetahuan dan ekonomi zaman sekarang pikirannya boleh maju seberapa jauh ia bisa. Tapi dalam lapangan pemerintahan negeri dan ilmu berpikir, pikirannya itu musti direm, musti mundur seribu tahun ke belakang.
Di atas ada dibilang, yang memerintah negeri Jepang sekarang dengan kekuasaan tidak terbatas, kendati namanya ada konstitusi dan parlemen, yalah kaisar dan adpisur adpisurnya. Adpisur adpisur raja itu adalah yang dalam bahasa Jepang dinamaken Genro atau dewan dari politikus politikus yang tertua. Mereka ini adalah sisa yang masih hidup dari orang orang, yang telah memasang dasar baru dari pemerintah Jepang, sesudahnya shogun dirobohken. Ini adpisur adpisur mempunyai pengaruh besar atas putusan putusannya raja. Maka itu ada juga yang bilang, yang sebenarnya memerintah Jepang bukannya menteri menteri dan parlemen, juga bukannya raja, tetapi sebenarnya ini Genro atau adpisur adpisurnya raja. Dari ini adpisur adpisur tua sekarang masih ketinggalan cuma satu, yaitu pangeran Saionyi. Yang lainnya semua sudah mati.
Selainnya soal bikin konstitusi dan adaken parlemen, Jepang di masa itu juga hadapi soal hapusken hak ekstrateritorialitas dari bangsa Barat dan soal dapatken kemerdekaan buat tetapken tarif bea turut sukanya sendiri. Terutama sebab di Jepang sudah mulai ada pabrik pabrik, soal tarif bea itu ada penting sekali, perlu sekali Jepang mempunyai kemerdekaan buat tentuken tarif bea turut sukanya sendiri buat melindungken barang barang bikinan pabrik pabriknya terhadap pada saingan dari barang barang luar negeri.
Dari tahun 1872 sampai 1894 berulang-ulang Jepang minta pada negeri negeri Barat buat ubah perjanjian perjanjian yang pincang, supaya hak ekstrateritorialitas dihapusken dan Jepang dapat kemerdekaan buat menentuken tarif bea. Tapi semua permintaan itu ditolak oleh negeri negeri Barat. Akhirnya dapatlah utusan Jepang di Londen bujuk pemerintah Inggris buat bikin perubahan dari perjanjian perjanjian lama. Tanggal 16 Juli 1894 ditandatangani perjanjian, yang dinamaken perjanjian Aoki-Kimberley. Ini perjanjian menentuken, sesudah lewat lima tahun, ekstrateritorialitas akan dihapusken. Ini tempo lima tahun perlu buat bikin selesai perubahan kehakiman di Jepang. Lebih jauh perjanjian itu menentuken bea 5 sampai 15 persen atas sejumlah barang barang yang dikasih masuk di Jepang. Tapi selainnya buat itu barang barang, Jepang merdeka buat kenaken bea sesukanya atas barang barang lain yang dimasuken di negerinya. Sebelumnya tahun 1894 berakhir. Amerika Serikat, yang lihat perjanjian itu ada menguntungken pada Inggris, turut juga bikin perjanjian seperti itu. Lain lain negeri Barat pun segera menurut itu tuladan, hingga dalam bulan Agustus 1899 semua perjanjian pincang, yang Jepang dulu dipaksa menandatangani sudah hapus dan Jepang dapat kembali hak dipertuannya, kecuali dalam beberapa pembatasan atas tarif bea, yang masih terus ada.
Kira-kira sepuluh tahun sebelumnya shogun dirobohken, salah seorang dari partai raja, Yoshida Shoin, telah anjuri buat mulai jalanken politik meluasken daerah Jepang, dengan bikin Korea, Manchuria, Siberia Timur dan semua pulau pulau di sepanjang pesisir Siberia jadi jajahan Jepang, apabila raja sudah dapatken kembali kekuasaan memerintah. Sebelum anjurannya itu dijalanken, Yoshida meninggal. Berbagi-bagi pemimpin di zaman Meiji kemudian memperdengarken suara buat sampaiken itu angan angan dari Yoshida.
Pengluasan yang pertama dari daerah Jepang kejadian di sebelah selatan dari negerinya. Di sebelah selatan itu ada terletak pulau pulau Liuchiu, dalam bahasa Jepang disebut Ryukiu. Sejak tahun 1372 raja Liuchiu bayar upeti pada Tiongkok. Tapi dalam tahun 1600 salah seorang daimyo di Jepang telah takluken itu pulau pulau Liuchiu. Tapi raja Liuchiu masih terus anggap dirinya orang taklukan dari Tiongkok, begitulah Liuchiu jadi mempunyai dua tuan.
Dalam tahun 1871 beberapa orang Liuchiu yang menangkep ikan, dapat kecelakaan sama praunya di pesisir Formosa (Taiwan). Oleh penduduk yang masih biadab dari Formosa itu orang orang Liuchiu dibunuh. Jepang lalu tanya pada Tiongkok, bagaimana Tiongkok mau bikin betul kejahatan yang diperbuat pada itu orang orang Liuchiu. Pertanyaan ini mau bilang, orang orang Liuchiu itu ada rakyat Jepang. Coba Tiongkok menyaut, ia tidak mau bicara tentang itu urusan, sebab baik orang Liuchiu maupun orang Formosa sama-sama rakyat Tiongkok, Jepang niscaya jadi repot. Tiongkok tidak kena dipancing buat mengakui orang Liuchiu betul rakyat Jepang. Tapi sebaliknya dari kasih penyautan begitu, pemerintah di Peking bilang, ia tidak bisa pikul tanggungan buat perbuatannya orang orang biadab. Tidak satu orang bisa melindungken orang orang bodoh yang pergi ke tempat di mana ada tinggal orang orang biadab semacam itu. Ini jawaban dari Tiongkok bisa diartiken yang pemerintah Tiongkok diam-diam akui Jepang jadi tuan, jadi pelindung dari penduduk Liuchiu, karena itu maka Jepang jadi ada hak buat lindungken kepentingannya orang orang Liuchiu itu. Segera Jepang gunaken ini pengakuan yang diam-diam dari pemerintah Manchu. Jepang desak berulang-ulang supaya diberesken itu perbuatan tidak adil yang sudah kejadian sama "rakyatnya". Tapi pemerintah di Peking tolak itu permintaan permintaan.
Partai di Jepang, yang kepingin jalanken angan angennya Yoshida buat luasken daerah Jepang dan pikir sekarang Jepang sudah cukup kuat sebab mempunyai angkatan perang model baru, desak pemerintahnya supaya gunaken ini ketika yang baik. Begitulah dalam tahun 1874 pemerintah Jepang kirim satu ekspedisi dari tiga ribu serdadu ke Formosa. Ini tentara Jepang bikin pembalasan hebat dan kejam pada orang orang Formosa dan duduki sebagian dari itu pulau.
Tiongkok protes itu perbuatan, tapi Jepang tidak mau peduli. Akhirnya dibikin pemberesan yang menuruti permintaan permintaannya Jepang. Tiongkok dapat kembali Formosa, tapi aku sah haknya Jepang atas pulau pulau Liuchiu dan bayar penggantian kerugian 100 ribu tael buat sanak keluarganya orang orang Liuchiu yang dibunuh. Lebih jauh Tiongkok bayar 300 ribu tael buat ganti ongkosnya Jepang kirim itu ekspedisi. Lima tahun belakangan dengan resmi Jepang nyataken pulau pulau Liuchiu jadi kepunyaannya dan bikin itu kepulauan jadi satu provinsi dari Jepang. Kembali Tiongkok protes. Protes itu ditunjang oleh presiden Amerika Grant, yang waktu itu kebetulan bikin perjalanan ke Tiongkok dan Jepang. Tapi protes itu dan turut campurnya presiden Grant tidak berhasil. Liuchiu tetap jadi daerah Jepang. Ini adalah pengluasan yang pertama dari daerah Jepang buat kerugiannya Tiongkok.
Kemudian Jepang tujuken daya upayanya pada Korea. Jepang minta bikin perjanjian sama Korea. Permintaan itu diulangken beberapa kali, tapi Korea keras tolak itu permintaan.
Dalam tahun 1875 satu kapal Jepang datang di Korea dan ditembaki oleh orang Korea. Jepang gunaken taktiknya komodor Perry yang dipakai buat paksa Jepang bukan pintunya. Menurut ini taktik Jepang lalu kirim satu pasukan kapal perang ke Korea dan paksa Korea bikin perjanjian. Dalam tahun 1876 ditandatangani perjanjian dagang antara Korea dan Jepang.
Ini perjanjian melanggar kepentingannya Tiongkok, sebab Korea menakluk pada Tiongkok. Maka itu raja Korea, meski sahken itu perjanjian sama Jepang, toh terus bayar upeti pada Tiongkok.
Di Korea kemudian lahir dua partai. Satu partai pro Jepang dan satu anti Jepang.
Dalam tahun 1884 orang orang Korea yang pro Jepang dan mereka punya sobat sobat Jepang serang dan rampas istana raja Korea dan tangkap raja dan ratu Korea. Yuan Shih Kai, yang ditempatken di kota raja Korea oleh pemerintah Tiongkok sebagai wakilnya buat tilik urusan di Korea, lalu pergi ke istana raja bersama tentaranya buat lindungken keluarga raja. Sesampainya di situ, Yuan Shih Kai dapatken itu istana raja ditempati oleh utusan Jepang dan ia punya barisan penjaga. Barisan Tiongkok di bawah perintahnya Yuan Shih Kai lepas tembakan pada itu barisan Jepang, yang melariken diri ke luar kota dan naik di sebuah kapal dagang Jepang di pelabuhan Chemulpo.
Peperangan dapat dicegah, sebab baik Jepang maupun Tiongkok itu waktu tidak kepingin berperang. Tiongkok masa itu repot sama peperangan melawan orang Prancis di Tongking. Demikianlah perselisihan itu diberesken dengan jalan damai dan pada 18 April 1885 dibikin perjanjian antara Li Hung Chang, sebagai wakilnya pemerintah Manchu dan Ito Hirubumi sebagai wakil Jepang. Perjanjian itu menentuken kedudukannya Korea. Dijanji, kalau di Korea terbit perusuhan yang membikin perlu buat Tiongkok atau Jepang kirim tentara ke Korea, negeri yang hendak kirim tentara itu akan beritahuken hal itu pada negeri yang lain dengan surat. Tentara itu akan lantas ditarik pulang, apabila perusuhan itu sudah beres. Sembilan tahun lamanya perjanjian itu berjalan dengan baik.
Dalam tahun 1894 satu perkumpulan di Korea, yang terkenal dengan nama Tong Hak (pelajaran Timur) terbitken perusuhan besar. Tanggal 2 Juni 1894 raja Korea minta bantuan militer dari pemerintah Manchu buat tindes itu pemberontakan. Pemerintah Manchu kasih tahu pada Jepang maksudnya akan kirim tentara ke Korea dan kemudian kirim satu barisan dari seribu lima ratus orang, belakangan dikirim lagi seribu lima ratus orang. Jepang, meski tidak diminta oleh raja Korea buat kirim tentara, toh turut juga kirim tentara. Di akhirnya bulan Juni sudah ada kira kira delapanbelas ribu serdadu Jepang di Korea.
Perusuhan Tong Hak dapat ditindes dengan berhasil oleh pemerintah Korea, sebelumnya tentara Tionghoa dan Jepang sampai di Korea. Tapi tanggal 17 Juni Jepang mengusul pada Tiongkok akan sama-sama paksa pemerintah Korea bikin perubahan perubahan yang perlu dalam aturan pemerintahannya. Pemerintah Manchu dengan jitu dan pantes sekali menyaut, meski Korea sedari dulukala menakluk pada Tiongkok dan bayar upeti pada Tiongkok, toh Tiongkok tidak mau turut campur dalam urusan dalam negeri dari Korea. Jepang, yang sedari bermula sudah mengakui Korea sebagai negeri merdeka, sama sekali tidak berhak buat turut campur dalam urusan dalam negeri Korea.
Di Jepang partai yang kepingin perang buat jalanken angan angennya Yoshida dan buat uji kekuatannya Jepang punya angkatan perang model baru, telah mempunyai pengaruh besar atas pemerintah. Maka itu tanggal 14 Juli pemerintah Jepang kasih tahu pada pemerintah Tiongkok, Jepang akan jalanken kehendaknya tanpa bantuannya Tiongkok buat bikin perubahan perubahan di Korea seperti yang ditimbang perlu buat cegah terjadinya pula perusuhan perusuhan yang berbahaya buat perdamaian. Rupanya Jepang jadi hati besar, sebab dua hari kemudian ditandatangani perubahan perjanjian sama Inggris. Tanggal 1 Agustus dimaklumken perang. Di darat maupun di laut angkatan perang Manchu dikalahken oleh Jepang. Peperangan ini sebenarnya peperangan antara pemerintah Manchu dan Jepang. Rakyat Tionghoa umumnya tinggal adem dan pandang itu urusan seperti bukan mereka punya urusan, hanya urusan dari pemerintah Manchu melulu. Dalam bulan Maret 1895 Li Hung Chang datang di Shimonoseki buat menandatangani perjanjian berdamai sama Jepang. Tiongkok dipaksa terima permintaan permintaannya Jepang, tapi setelah bunyinya itu perjanjian berdamai diketahui oleh orang banyak, Rusia, Prancis dan Jerman lalu ramai ramai paksa pemerintah Jepang, jangan ambil daerah di daratan Tiongkok. Jepang, yang mengerti tidak mampu melawan ini paksaan, telah menurut, hingga kesudahannya Tiongkok musti aku Korea sebagai negeri merdeka, serahken pulau Formosa dan Pescadores pada Jepang dan bayar penggantian kerugian perang sejumlah 230 juta tael. Ini uang penggantian kerugian, yang Tiongkok bayar pada Jepang, telah menjadi pertulungan besar pada Jepang buat perbaiki urusan uangnya.
Tanggal 4 Agustus 1899 habis temponya perjanjian lama dari Jepang sama Prancis. Pada hari itu, dengan mufakatnya semua negeri Barat, antara Jepang dan negeri negeri Barat berlaku perjanjian baru, yang hapusken hak ekstrateritorialitas dari bangsa asing dan memberi kemerdekaan pada Jepang dalam urusan tarif bea.
Empat puluh enam tahun sesudahnya kapal kapal perang dari komodor Perry berlabuh di Uraga dan kira-kira tiga puluh dua tahun sesudahnya pemerintahan shogun dirobohken, Jepang diaku oleh negeri negeri Barat sebagai pantarannya, karena dalam itu tempo yang pendek Jepang telah berhasil cangkok ilmu pengetahuan dan aturan aturan Barat dalam hal perekonomian dan bisa diriken angkatan perang darat dan laut model baru yang kuat.
Buktinya yang Jepang dianggap sama pantaran oleh negeri negeri Barat bukannya terutama itu penghapusan dari perjanjian perjanjian pincang, tetapi kejadian setahun kemudian. Dalam tahun 1900, tatkala di Tiongkok terbit perusuhan Pakkunthauw [Yihetuan] yang coba bunuh dan usir semua orang asing dari Tiongkok. Di waktu itu Inggris ajak Jepang sama-sama kirim tentara ke Tiongkok buat lawan itu perusuhan. Inilah ada bukti yang pertama, yang Jepang dianggap sejajar oleh negeri negeri Barat.
Bukti kedua dan lebih memuasken pada keinginan Jepang, yang memangnya berdaya sebisa-bisanya buat dianggap sama derajat oleh negeri negeri Barat, kejadian dalam tahun 1902.
Pada 30 Januari 1902 dibikin perserikatan antara Inggris dan Jepang. Maksudnya Inggris bikin ini perserikatan adalah buat bikin Jepang jadi pekakas untuk mencegah Rusia ulurken tangannya ke Manchuria dan Korea.
Karena merasa kuat lantaran adanya ini perserikatan sama Inggris, maka dalam tahun 1904 Jepang perangi Rusia di waktunya Rusia tidak sangka bakal berperang dan tidak siap sama sekali buat berperang. Sedangnya pembesar pembesar di Port Arthur lagi bikin pesta dansa besar, tahu-tahunya waktu tengah malam kapal kapal perang Jepang masuk di pelabuhan Port Arthur dan bikin tenggelam beberapa kapal perang Rus di muaranya itu pelabuhan, sehingga sisa sisanya kapal perang Rus di Port Arthur tidak bisa keluar dari itu pelabuhan. Lantaran itu maka Jepang bisa leluasa kirim tentara ke daratan dekat Port Arthur buat kepung dan serang ini benteng Rus dan lain lain tentara buat perangi orang Rus di Manchuria. Jalannya ini peperangan terus-menerus celaka buat Rusia. Di daratan Manchuria angkatan perang Rus dikepalai oleh Kuropatkin sebagai panglima perang besar, yang repot ketakutan saja, angkatan perang musuh ada banyak lebih besar dari angkatan perangnya sendiri. Lantaran itu maka ia terus-menerus tidak berani lakuken perang betul-betul, hanya selalu main mundurken saja tentaranya. Tempo-tempo di tengahnya peperangan lagi berjalan dengan seru, tanpa ada kepastian pihak mana yang akan menang atau kalah, ia mendadak perintah tentaranya mundur. Kuropatkin menunggu datangnya bala bantuan yang besar dari Rusia, baru ia akan lakuken perang besar yang selesai, yang memberi putusan siapa kalah dan siapa menang.
Sedang di daratan angkatan perang Rus dikepalai oleh seorang panglima perang besar, yang selalu digoda oleh takut yang angkatan perang musuh banyak lebih kuat dari angkatan perangnya sendiri, di lautan armada Rus, yang dikirim dari laut Baltik ke Asia Timur, dikepalai oleh seorang laksamana yang sudah cebanan dan boleh jadi karena kelewat tuanya, sudah tidak bisa pikir betul. Waktu mulai ketemu dengan satu-dua kapal perang Jepang, opsir opsirnya sudah mendesak supaya dimulai bikin serangan pada musuh. Tapi itu admiral Rus tetap tidak mau peduliken desakan dari opsir opsirnya. Sesudah ketemu armada musuh yang besar dan sesudah musuh lebih dulu serang padanya dan bikin tenggelam beberapa kapalnya, barulah itu admiral Rus mau perintah buat lakuken peperangan, tapi sementara itu musuh sudah ada di pihak menang, karena sudah kepung dan serang lebih dulu padanya. Padahal ini ditambah lagi halnya banyak meriam di kapal kapal perang Rus diisi sama pelor pelor yang tidak bisa meledak. Ini ketahuan sesudah perang berhenti banyak tahun dan orang coba tembaken sisa sisa pelor yang dipakai oleh itu kapal kapal perang Rus. Di waktu itu ternyata, pelor pelor itu tidak bisa meledak. Lain dari itu tukang tukang meriam Rus dan opsir opsirnya pun tidak bisa menembak dengan jitu. Mereka main tembak sekenanya saja. Tempo sebelumnya perang, seringkali armada Rus itu main perang-perangan dengan ditonton oleh Tsar. Supaya dapat pujian dari Tsar karena tembakan tembakannya yang jitu, maka opsir opsir dari kapal kapal perang itu bikin akal. Bulan-bulanan, yang musti dituju sama itu tembakan tembakan meriam, sengaja dibikin sehingga kalau ketiup angin sedikit saja, lantas roboh. Asal kena anginnya pelor yang lewat, itu bulan bulanan tentu roboh. Begitulah kelihatannya seperti tiap tembakan itu jitu, sebab itu bulan bulanan tiap kali roboh. Tsar, yang menonton sama keker dari jauh, pikir bukan main pandainya ia punya kapal kapal perang menembak, sebab saben tembakannya jitu. Padahal semua tembakan itu luput. Dan tatkala itu kepandaian menembak diuji dalam peperangan sama Jepang, ternyata kebisaan menembak itu tidak bisa dipakai sama sekali. Dalam peperangan di selat Tsushima, di mana hampir antero angkatan perang laut Rus yang dikirim dari laut Baltik, telah dimusnahken oleh Jepang, di pihak Jepang sendiri hampir tidak ada kerusakan, pertama lantaran kapal kapal perang Rus tidak bisa menembak dan kedua karena banyak meriam meriamnya diisi sama pelor pelor yang tidak bisa meledak.
Tapi kendati berolah itu kemenangan kemenangan di darat dan laut, toh Jepang sudah payah, sedang Rusia masih baru saja siapken kekuatannya buat berperang betul-betul. Kuropatkin sudah diganti sama lain panglima. Satu angkatan perang baru sudah siap. Jepang mengerti, kalau peperangan diterusken lebih lama, ia niscaya jadi bangkrut, sedang Rusia baru siapken tenaganya yang betul. Maka itu Jepang minta-minta tulung sama presiden Roosevelt di Amerika, pamannya presiden Roosevelt yang sekarang, supaya bujuk pemerintah Rus akan suka berdamai.
Pemerintah Rus bermula tidak mau berdamai, hanya mau perang terus. Tapi sementara itu uang Jepang mulai bekerja dalam negeri Rus. Seorang kolonel Jepang, Adachi namanya, sudah sekian lamanya bekerja di Rusia, menyorok berbagai bagai pemimpin revolusioner di Rusia supaya mereka geraken pemberontakan, agar pemerintah Rus terpaksa berhentiken peperangan sama Jepang buat tindes itu pemberontakan di dalam negeri. Sorokan sorokan itu berhasil. Di berbagai-bagai tempat di Rusia mulai terbit perusuhan. Berangkatnya kereta kereta api yang bawa tentara ke Manchuria dihalangi, Minister minister ditembak. Karena ini bahaya yang mengancam di dalam negeri, maka akhirnya pemerintah Rus turut bujukannya presiden Roosevelt dan terima permintaannya Jepang buat berdamai. Begitulah pada 5 September 1905 ditandatangani perjanjian berdamai di Portsmouth (Inggris). Tapi pemerintah Rus tidak mau bayar penggantian kerugian barang satu cent pada Jepang, sebab pemerintah Rus anggap, belum ada yang menang atau kalah dan penggantian kerugian, biarpun cuma satu cent, diartiken oleh pemerintah Rus sebagai tanda mengaku kalah. Pemerintah Rus menyataken lebih suka berhentiken pembicaraan berdamai dan perang lagi, dari pada bayar penggantian kerugian biar cuma satu cent saja. Jepang, yang sudah kelewat payah dan kelewat kepingin berdamai, mufakat buat tidak terima penggantian kerugian barang satu cent dari Rusia.
Begitulah perang Rus-Jepang itu berakhir dengan kemenangan buat Jepang, sedang coba diterusken lagi sedikit lama, niscaya berakhir dengan kemenangannya Rusia dan bangkrutnya Jepang. Tapi dasaran Jepang masih mujur, peperangan yang mustinya berkesudahan dengan ia punya kekalahan dan bangkrut, telah berbalik menjadi kemenangan dan bikin ia dianggap negeri kelas satu, berkat pertulungannya Inggris dan Roosevelt.
Tatkala dalam bulan Juli 1914 pecah perang dunia, Jepang tidak saja jadi negeri kelas satu, tapi jadi jago yang tidak ada tandingannya di Asia, dengan daerah dan rakyatnya sudah jadi banyak lebih besar dari asal.
Perjanjian berdamai antara Rusia dan Jepang di tahun 1905 telah bikin Jepang jadi ahliwarisnya Rusia di Manchuria. Jalanan kereta api Chinese Eastern Railway, mulai dari Changchun ke Utara sampai menyambung sama jalanan kereta api di Siberia, dikembaliken pada Rusia. Tapi bagiannya itu jalanan kereta api Chinese Eastern Railway, yang jalan dari Changchun ke Selatan sampai di Port Arthur dan Dalny, sekarang dinamaken Dairen, dioperkan pada Jepang. Port Arthur dan Dairen letaknya di semenanjung Liaotung, yang dalam tahun 1898 disewaken oleh Tiongkok pada Rusia. Sebab ini semenanjung pun dioperken oleh Rusia pada Jepang, maka itu dua pelabuhan Port Arthur dan Dairen pun turut dioperken juga.
Buat urus itu jalanan kereta api yang diambil oper dari Rusia, Jepang turut contohnya Chinese Eastern Railway Company. Maka itu dengan keputusan raja Jepang tanggal 7 Juni 1906 didiriken satu kongsi dengan nama South Manchuria Railway Company, buat urus itu jalanan kereta api. Keputusan raja itu pun taruh jalanan kereta api itu di bawah penilikan langsung dari pemerintah Jepang di Tokyo. Pemegang sahamnya ini kongsi baru musti terdiri dari orang Jepang dan orang Tionghoa. Orang dari lain bangsa tidak boleh jadi pemegang saham. Kekuasaan buat tilik itu jalanan kereta api ada dalam tangan Jepang, sebab pemerintah Jepang beli separo dari sahamnya dan dari yang sisanya separo, bagiannya paling besar dibeli oleh orang orang Jepang partikelir. Pemerintah Tiongkok tidak mau turut beli itu saham. Cuma ada beberapa orang Tionghoa yang turut beli.
Presiden, wakil-presiden dan direktur direktur dari itu kongsi musti diangkat oleh pemerintah Jepang, menurut putusannya raja Jepang. Itu presiden, wakil-presiden dan direktur direktur semuanya menakluk langsung pada perdana menteri Jepang. Pendeknya South Manchuria Railway jadi satu perusahaan yang ditilik oleh pemerintah Jepang. Tiongkok tidak turut dalam pengurusannya atau dalam lain lain urusan dari itu jalanan kereta api.
Pengurusan dari semenanjung Liaotung, yang dioper dari Rusia dan disewa dari Tiongkok, ditentuken dalam sebuah keputusan dari raja Jepang, yang diumumken pada 1 Agustus 1906. Semenanjung itu dikasih nama Kwantung dan dijadiken satu bilangan yang diperintah oleh seorang gubernur jendral. Selainnya jadi kepala dalam urusan sipil dan militer, gubernur jendral dari Kwantung pun dikasih kekuasaan buat lindungken dan tilik jalanan jalanan kereta api di Manchuria Selatan.
Itu kongsi South Manchuria Railway Company dikasih kuasa oleh pemerintah Jepang buat usahaken berbagai bagai perusahaan kerajinan, tambang tambang, kayu, listrik, toko dan lain lain perusahaan lagi. Maka segera juga itu kongsi kereta api jadi pasal yang paling penting dalam urusan ekonomi dari Manchuria Selatan dan bilangan bilangan yang berdamping dengan Manchuria Selatan. Dengan kekuatannya beberapa perjanjian, yang Jepang kemudian bisa paksa pemerintah Tiongkok bikin, itu kongsi kereta api dapat penilikan atas tambang tambang batu bara di Fushun. Yentai dan Pensihu, atas pabrik pabrik besi di Anshan dan atas perusahaan kayu di sungai Yalu. Tambang batu bara di Yentai dan Fushun mempunyai sama sekali kira kira 1500 juta ton batu bara, sedang wadas besi, yang sedia di sekitarnya Anshan, ditaksir lebih dari 300 juta ton. Buat Jepang, yang di dalam negerinya sendiri tidak ada mempunyai barang barang bahan yang perlu untuk perusahaan kerajinan, hal itu bukan main besar faedahnya, Buat usahaken ini semua konsesi Jepang musti pakai kapital tidak sedikit. Sampai pada tahun 1928 Jepang telah masuken kapital di Manchuria kira kira dua ribu juta yen. Kapitalnya South Manchuria Railway Company saja ada 440 juta yen.
Sesudahnya Jepang bikin perjanjian berdamai sama Rusia, ia bikin perjanjian sama pemerintah Tiongkok di Peking pada tanggal 22 Desember 1905. Ini perjanjian di Peking selainnya aku sah pengoperan dari hak haknya Rusia di Manchuria pada Jepang, juga memberi hak pada Jepang buat bikin baru jalanan kereta api antara Mukden dan Antung yang tempo perang Rus-Jepang dikasih permisi Jepang bikin buat keperluan militer. Dalam bulan November 1911 pembikinan baru dari ini jalanan kereta api sudah selesai. Lebih jauh dalam itu perjanjian pemerintah Jepang menyataken mufakat akan menurut pada aturan aturan asal, dengan mana itu bilangan di Liaotung dan konsesi kereta api dikasih pada Rusia, buat sebegitu jauh keadaan mengizinken akan Jepang menurut pada aturan aturan itu. Ini tambahan dari Jepang, yang sengaja dicitak renggang buat unjuken pentingnya, bikin Jepang jadi berhak lebih banyak lagi dari orang Rus dulu. Tambahan itu mau bilang, kalau Jepang timbang, keadaan ada mengizinken, ia akan turut bunyinya perjanjian antara Rusia dan Tiongkok dulu, tetapi kalau ia timbang keadaan tidak mengizinken, ia akan bawa maunya sendiri dalam urusan persewaan semenanjung Liaotung dan konsesi jalanan kereta api South Manchuria Railway. Pada itu perjanjian di Peking dari 22 Desember 1906 ada disertaken "perjanjian tambahan", yang ditandatangani pada hari itu juga. Ini perjanjian tambahan memberi hak hak lebih banyak lagi pada Jepang. Di Mukden, Yingkow dan Antung akan diadaken bilangan bilangan spesial buat orang orang Jepang tinggal di bawah pemerintahan Jepang. Lebih jauh dijanji, apabila di Manchuria sudah sejahtera kembali dan Tiongkok sanggup kasih perlindungan sepenuhnya pada jiwa dan miliknya orang orang asing, Jepang nanti tarik kembali tentaranya yang jaga jalanan kereta api South Manchuria Railway, berbareng dengan ditarik pulangnya tentara Rus yang jaga Chinese Eastern Railway. Karena adanya ini perjanjian, maka Jepang atur sehingga di Manchuria selamanya tidak bisa sejahtera, dengan kasih uang dan senjata pada bandit bandit di situ, supaya ada alasan buat terus tempatken tentaranya.
Dalam bulan Februari 1906 kantor menteri urusan luar negeri Jepang kasih tahu pada utusan dari berbagai bagai negeri yang mempunyai kepentingan di Asia Timur, antara Tiongkok dan Jepang sudah ditandatangani juga beberapa perjanjian rahasia di Peking dan menjadi satu bagian dari itu perjanjian dari 22 Desember 1906 antara Tiongkok dan Jepang. Menurut katanya pemerintah Jepang, perjanjian perjanjian rahasia itu antara lain lain berisi janji dari Tiongkok, buat lindungken kepentingannya South Manchuria Railway, pemerintah Tiongkok berjanji, sebelumnya pemerintah Tiongkok dapat kembali itu jalanan kereta api, ia tidak akan bikin jalanan kereta api di dekatnya South Manchuria Railway atau yang jalan berendeng sama South Manchuria Railway. Juga Tiongkok tidak akan bikin barang satu cabang jalanan kereta api, yang bisa merugiken kepentingannya South Manchuria Railway.
Selama dua puluh lima tahun sehabis dibikin itu perjanjian di Peking, Jepang berulang-ulang pakai ini perjanjian rahasia buat cegah Tiongkok bikin jalanan kereta api di Manchuria, yang bisa mengurangken hasilnya jalanan jalanan kereta api Jepang di Manchuria. Tiap kali pemerintah Tiongkok hendak bikin jalanan kereta di Manchuria, pemerintah Jepang lantas repot teriak teriak, maksud itu melanggar itu perjanjian rahasia. Upamanya dalam bulan November 1907 pemerintah Tiongkok bikin perjanjian sama satu kongsi Inggris-Tionghoa buat bikin jalanan kereta api yang panjangnya lima puluh mil, yaitu sebagai sambungan dari jalanan kereta api dari pemerintah Tiongkok yang terkenal dengan nama jalanan kereta api Peking-Mukden, Pada waktu itu ujung penghabisan di Manchuria dari ini jalanan kereta api adalah Hsinmintum. Pemerintah Tiongkok mau sambung ini jalanan kereta api dari Hsinmintum sampai di Fakumen, satu kota, yang letaknya kira kira lima puluh mil di sebelah utara-barat dari Mukden. Jepang lantas bilang, penyambungan ini berarti bikin jalanan kereta api yang jalannya berendeng sama jalanan kereta api South Manchuria dan ini tidak boleh, sebab Tiongkok sudah berjanji dalam itu perjanjian dari 1905 akan tidak bikin jalanan kereta api begitu. Dalam ini urusan Jepang ditunjang oleh pemerintah Inggris. Maka perjanjian antara Tiongkok dan itu kongsi Inggris-Tionghoa buat pasang itu jalanan kereta api diurungken.
Tetapi dalam bulan Januari 1908 Tang Shao Yi, salah seorang utusan Tiongkok yang turut dalam pembicaraan waktu bikin itu perjanjian sama Jepang di tahun 1905, kasih keterangan, memang betul orang Jepang telah coba dapatken janji begitu dari pemerintah Tiongkok, perkara itu kemudian dibicaraken dan sebab itu maka ada tersebut dalam catatan dari itu konferensi, akan tetapi tidak sampai dibikin perjanjian yang sah. Commissie Lytton, yang dikirim oleh Volkenbond (perserikatan bangsa bangsa) [Liga Bangsa-Bangsa/LBB] ke Manchuria buat bikin peperiksaan, sesudahnya Manchuria dicaplok Jepang dalam tahun 1931, menyeritaken dalam laporannya, ia sudah periksa semua surat surat di Tokyo, Nanking dan Peiping yang berhubung sama itu urusan jalanan kereta api dan itu komisi dapat kenyataan, tidak benar ada perjanjian yang berisi janjinya Tiongkok akan tidak bikin jalanan jalanan kereta api yang bisa merugiken pada jalanan kereta api Jepang di Manchuria. Cuma dalam catatan dari konferensi di Peking pada tanggal 4 Desember 1905 ada tersebut pasal itu, tapi selainnya itu catatan tidak ada surat perjanjian yang sah yang berisi janji begitu dari Tiongkok.
Ini satu contoh menunjuken, bagaimana pandai Jepang main silat sama perjanjian. Lain dari mencegah Tiongkok bikin jalanan kereta api yang Jepang pikir bisa mengurangken penghasilannya South Manchuria Railway, Jepang juga paksa Tiongkok musti pinjam uang sama Jepang, kalau tidak punya uang sendiri, tidak boleh pinjam sama lain negeri, buat bikin jalanan kereta api di Manchuria.
Tanggal 27 Oktober 1910 wakil wakil dari sekumpulan bank Amerika menandatangani perjanjian buat samentara waktu buat kasih pinjam pada Tiongkok sejumlah 10 juta pond sterling. Dari ini bilangan satu juta pond sterling ditentuken buat majuken dan luasken perusahaan pabrik dalam tiga provinsi dari Manchuria. Bank bank Amerika yang bikin pembicaraan sama pemerintah Tiongkok tentang pinjaman itu, kepingin dapat kesempatan buat jalanken uangnya di seluruh Tiongkok. Dengan maksud itu maka bank bank itu telah bikin perjanjian lebih dulu sama bank bank Inggris, Prancis dan Jerman. Sebab itu maka bank bank Inggris, Prancis dan Jerman itu dikasih turut buat kasih itu pinjaman 10 juta pond pada Tiongkok. Tanggal 15 April 1911 ditandatangani kontrak yang penghabisan antara itu perserikatan bank dari empat negeri dan pemerintah Tiongkok.
Tapi sebelumnya itu, pada tanggal 19 November 1910, Jepang sudah kasih tahu pada pemerintah Rus, ia bikin keberatan sebagian dari itu utang akan dipakai buat buka perusahaan di Manchuria. Tujuh bulan kemudian utusan Jepang di Paris kasih tahu pada kantor menteri urusan luar negeri Prancis. Jepang tidak bisa tidak ambil peduli tindakan tindakan yang dimaksudken buat mengancam "ia punya hak hak dan kepentingan kepentingan spesial" di Manchuria Selatan. Jepang punya keberatan ini ditunjang dengan kuat oleh Rusia, makanya kejadian cuma 400 ribu pond sterling, tidak sampai 1 juta pond sterling, dipakai di Manchuria.
Rusia tunjang ia punya bekas musuh, dari sebab tanggal 30 Juli 1907 dan tanggal 4 Juli 1910 Rusia dan Jepang telah bikin perjanjian, yang bagi Manchuria dan Mongolia antara kalangan kepentingan Jepang dan kalangan kepentingan Rus. Manchuria Selatan terhitung dalam kalangan kepentingan dari Jepang. Lebih jauh itu dua negeri berjanji, kalau itu kepentingan dari negeri yang satu terancam bahaya, negeri yang lain akan mufakat sama tindakan tindakan yang akan diambil buat bergerak sama-sama untuk melindungken kepentingan yang terancam itu. Maka itu tempo Jepang bilang, kepentingannya di Manchuria Selatan terancam oleh itu utang yang dibikin oleh Tiongkok sama perserikatan bank dari empat negeri, Rusia tunjang itu keberatan dari Jepang.
Sementara itu orang orang Jepang selundup senjata masuk di Manchuria buat bandit bandit di situ, supaya di Manchuria terus kalut. Cara demikian jadi ada alasan buat Jepang selamanya tidak tarik kembali tentaranya yang ditaruh di Manchuria dan kapan-kapan alasan itu bisa juga dipakai buat caplok Manchuria. Buat kembaliken kesejahteraan dalam itu bilangan, apa boleh buat Jepang terpaksa caplok itu bilangan, begitulah nanti alasannya.
Dari berbagai-bagai hal yang diceritaken di atas sudah nyata. Jepang lekas atau lambat akan caplok Manchuria. Tapi sementara itu Korea musti ditelan. Seperti sudah diceritaken, ini kejadian dalam tahun 1910. Perkara ini sudah ditentuken oleh Jepang dari beberapa tahun di muka dan dimufakat oleh Inggris. Mufakatnya Inggris bisa dinyataken dari bunyinya perjanjian Inggris-Jepang. Sudah diceritaken yang ini perjanjian mulai dibikin dalam tahun 1902. Karena adanya ini perjanjian sama Inggris, maka Jepang jadi besar hati dan berani perangi Rusia dalam tahun 1904. Dalam ini perjanjian Inggris-Jepang dari tahun 1902 ada ditentuken. Inggris dan Jepang akan indahken kemerdekaan dari Tiongkok dan Korea dan dua-dua negeri itu menyataken tidak niat menyerang Tiongkok atau Korea. Ini perjanjian dibikin baru pada tanggal 12 Agustus 1905. Dalam ini perjanjian Inggris-Jepang yang baru tidak ada disebut sama sekali perihal kemerdekaannya Korea. Mengertinya, waktu itu perjanjian ditandatangani, Inggris sudah mufakat, kemerdekaan dari Korea bakal hilang dan Korea akan dijadiken jajahan Jepang. Perjanjian berdamai sama Rusia memberi kepastian pada Jepang, ia ini boleh berbuat sesukanya di Korea dengan tidak akan dihalangi oleh Rusia. Dan sebelumnya ditandatangani itu perjanjian sama Inggris dan sama Rusia, presiden Roosevelt dari Amerika Serikat, dengan perantaraannya utusan Amerika di Tokyo, kasih tahu pada menteri urusan luar negeri Jepang, Amerika tidak akan bikin keberatan, kalau Jepang bikin penyusunan baru di Korea.
Demikianlah di tahun 1905 Jepang sudah tahu pasti, ia boleh bikin apa sukanya sama Korea dengan tidak akan diprotes oleh negeri negeri Barat yang mempunyai kepentingan di Asia Timur. Jepang lantas bekerja buat bikin Korea jadi setengah jajahannya. Di permulaan November 1905 Ito Hirobumi dikirim ke Seoul, ibu kota Korea, buat bikin perubahan perubahan dalam bunyinya perjanjian antara Korea dan Jepang. Raja Korea belakangan menerangken, dengan dipaksa dan di ujungnya perang raja itu pada 17 November kasih kuasa buat bikin perjanjian baru sama Jepang. Menurut ini perjanjian baru, menteri urusan luar negeri Jepang selanjutnya akan tilik dan pimpin Korea punya sekalian urusan sama luar negeri. Pemerintah Jepang akan tempatken di Seoul seorang wakil, yang dikasih gelaran residen-jenderal. Ini residen-jenderal Jepang ada hak akan ketemui raja Korea di segala waktu. Lebih jauh Jepang akan angkat residen di berbagai bagai pelabuhan Korea dan di lain lain tempat di Korea yang ditimbang perlu oleh Jepang buat jalanken pekerjaan dan kekuasaan dari konsul konsul dulu dan buat jalanken segala kewajiban yang ditimbang perlu buat jalanken sepenuh-penuhnya apa yang tersebut dalam itu perjanjian.
Di musim panas dari tahun 1907 di Den Haag bakal dihimpunken konferensi perdamaian yang kedua, Raja Korea dengan diam-diam kirim utusan ke Eropa buat serahken perkaranya Korea terhadap Jepang pada pertimbangan dan putusannya itu konferensi. Wakil wakil Jepang di Den Haag telah bisa cegah suaranya utusan Korea sampai pada itu konferensi. Dan sebab berani tidak endahken bunyinya itu perjanjian sama Jepang, maka Jepang paksa raja Korea turun dari takhtanya buat diganti sama ia punya putra nama Yi Chuk, yang dianggap pro Jepang. Tanggal 9 Juli, enam hari sebelumnya konferensi di Den Haag bersidang, raja Korea turun dari takhtanya. Limabelas hari kemudian raja yang baru dipaksa kasih permisi buat menandatangani satu perjanjian baru, dengan mana sisa sisa yang penghabisan dari kekuasaannya dalam urusan pemerintahan dari negerinya diserahken pada Jepang punya residen-jenderal dan lain lain pembesar yang diangkat oleh Jepang.
Tapi ini perjanjian baru, seperti juga perjanjian yang duluan, tidak bikin Jepang jadi disuka oleh rakyat Korea. Aturan aturan yang dijalanken oleh pembesar pembesar Jepang menampak perlawanan hebat di seluruh negeri. Kebencian pada Jepang dibikin jadi lebih keras oleh perbuatannya orang Jepang yang banjiri negeri Korea buat cari nafkah. Yang terutama dibenci oleh orang Korea adalah Ito Hirobumi, yang sudah atur perjanjian dari tahun 1905 dan 1907. Dalam bulan November 1909 Ito ditembak mati di Harbin (Manchuria) oleh seorang Korea yang cinta negeri. Tanggal 24 Juli 1910 datang di Seoul Jepang punya residen-jenderal yang baru, yaitu jenderal Terauchi, yang merangkep jadi menteri urusan perang di Tokyo. Esok harinya Terauchi ketemui raja dan ratu Korea. Sehabisnya itu pertemuan, raja Korea majuken permohonan dengan hormat pada raja Jepang supaya suka ambil saja ia punya negeri. Tanggal 22 Agustus 1910 ditandatangani perjanjian, dengan mana Korea dijadiken jajahan Jepang.
IV. Revolusi di Tiongkok dari Tahun 1911
[sunting]Sejarah Tiongkok dari lima puluh tahun sebelumnya revolusi boleh dibilang adalah sejarah dari seorang perempuan Manchu, karena ialah yang memegang kemudi pemerintahan di Tiongkok selama hampir lima puluh tahun itu. Prempuan Manchu itu terkenal dalam sejarah dunia dengan nama Ibu Suri Tsu Hsi (Tju Hi) [Ibu Suri Cixi]. Namanya yang betul adalah Yehonala. Ia ada seorang puteri dari suku Yehonala [Yehenara], salah satu kaum bangsawan Manchu yang paling tua dan paling berkuasa, tetapi bukan turunan raja-raja. Yehonala telah dapat pelajaran Tionghoa kuno. Dalam umur enambelas tahun ia sudah hafal isinya kitab kitab Ngo King [Wu Jing / Kitab Suci yang Lima] dalam bahasa Tionghoa dan Manchu, yaitu kitab kitab yang berisi pelajarannya Khongcu: Ya King [Yi Jing / Kitab Wahyu Perubahan], Si King [Shi Jing / Kitab Dokumen Sejarah], Su King [Shu Jing / Kitab Sanjak Suci], Lee Ki [Li Jing / Kitab Suci Kesusilaan] dan Tjhun Tjhiu [Chunqiu Jing / Kitab Musim Semi Musim Gugur].
Lain dari itu ia sudah pahamken juga sejarahnya dua puluh empat dinasti yang pernah memerintah di Tiongkok. Menurut cerita, dari mudanya Yehonala ada seorang yang pinter sekali, tambahan lagi ia mempunyai nafsu luar biasa buat memburu kehormatan dan suka sekali sama kekuasaan.
Dalam tahun 1850 kaisar Tao Kuang [Daoguang] meninggal dan diganti oleh ia punya putra Hsien Feng [Xianfeng], seorang anak muda umur sembilanbelas tahun. Sedikit lebih dari dua tahun kemudian, setelah habis tempo berkabung dari dua puluh tujuh bulan, Yehonala terhitung di antara beberapa gadis bangsawan Manchu, yang dipanggil buat tuntut penghidupan dalam istana raja Manchu. Seorang gadis Manchu lain, yang ditakdirken di hari kemudian akan bersama-sama Yehonala menjadi Ibu Suri dan menjadi wakilnya raja, adalah Sokota. Tempo kaisar Hsien Feng masih jadi putra makota, ia telah dikawinken sama saudara perempuan yang lebih tua dari Sokota, tapi ini permaisuri telah meninggal. Kaisar Hsien Feng kemudian jatuh cinta pada Sokota, yang kabarnya ada seorang gadis elok dan manis. Begitulah Sokota dijadiken isterinya itu raja. Yehonala selainnya elok, juga pinter sekali. Lain dari itu ia pun telah beruntung melahirken seorang putra dalam tahun 1856.
Dalam tahun 1860, tatkala tentara Inggris dan Prancis maju ke Peking buat paksa disahkennya perjanjian yang dibikin di Tientsin pada dua tahun duluan, kaisar Hsien Feng telah menyingkir dari Peking ke Jehol. Tahun kemudian, di tahun 1861, ia meninggal di Jehol. Beberapa lama sebelumnya ia meninggal sudah diketahui, ia tentu tidak bakal hidup lama lagi. Maka itu semasa ia masih hidup sudah dibikin persekutuan buat singkirken Yehonala, yang sudah membangunken sirik hati dan kekuatiran antara musuh musuh dan saingan saingan dari suku Yehonala. Lebih jauh persekutuan itu bermaksud mengangkat kepala kepalanya persekutuan itu menjadi wakil raja, apabila raja nanti sudah mati.
Persekutuan itu dipimpin oleh kepalanya dua kaum turunan raja Manchu, yaitu pangeran Yi dan pangeran Cheng dan lagi seorang nama Su Shun. Ini Su Shun juga ada seorang Manchu, seorang yang berasal dari satu suku sama raja dan waktu kecilnya telah menyusu sama-sama pangeran Cheng, jadinya saudara tete dari pangeran Cheng. Su Shun cepat sekali bisa ambil hatinya raja dan jadi orang yang dicinta oleh raja. Karena itu maka ia dikasih pangkat yang penting. Selama memangku jabatan negeri, ia telah bisa kumpul kekayaan besar sekali, kabarnya sejumlah berpuluh juta rupiah.
Maksudnya ini tiga orang segera berhasil. Raja Hsin Feng dikasih tahu, Yehonala bikin perhubungan rahasia sama Yung Lu [Ronglu], seorang Manchu juga dari ia punya suku. Pada raja diceritaken, Yung Lu teman memain waktu masih anak dari Yehonala dan kemudian ia ditunangken sama itu Yung Lu. Kaisar percaya ini hasutan. Yehonala dilarang datang di tempatnya kaisar. Lantaran itu ia pun tidak boleh piara ia punya putra, yang ditakdirken jadi penggantinya raja, sebab raja tidak ada punya lain putra. Berbareng dengan itu kebanyakan orang di dalam istana kena disorok buat berpihak sama kaum yang bersekutu. Di dalam istana Yehonala jadi terasing. Melainkan dayang dayangnya saja jadi kawannya. Setelah raja meninggal, dibuka firmannya yang penghabisan. Firman itu angkat itu tiga kepala dari persekutuan tadi menjadi wakil raja buat memerintah negeri selama putra makota masih anak. Haknya raja punya saudara saudara lelaki buat menjadi wakilnya raja, tidak diendahken sama sekali. Satu firman dari pemerintah yang baru angkat Sokota jadi Ibu Suri dan padanya dikasih gelaran Tsu An [Ci An / Ci'an], yang mengertinya Ibu dan Suka Damai. Buat menyukupi aturan, Yehonala pun dikasih gelaran, yaitu Tsu Hi [Ci Xi], yang mengertinya Ibu dan Baik atau Beruntung. Sebab Yehonala jadi ibunya putra makota, maka ia pun dikasih gelaran Ibu Suri. Tsu An, sebagai isteri raja yang tertua, menjadi ratu dari istana di Timur, sedang Tsu Hi jadi ratu dari istana di Barat.
Tsu Hi, sebagaimana ia selanjutnya musti disebut, itu waktu sudah berusia dua puluh lima tahun dan tidak gampang kena didorong. Siang siang ia sudah mengerti pentingnya itu persekutuan, yang ditujuken pada dirinya. Dengan diam-diam ia bikin perhubungan dengan surat sama pangeran Kung [Pangerang Gong], saudara yang paling cakap dan paling berpengaruh dari antara sekalian saudaranya raja yang baru meninggal dan sama Yung Lu, yang jadi opsir dari barisan penjaga raja. Rencana diatur dengan diam diam buat lawan itu persekutuan.
Menurut adat, kalau layonnya raja dibawa ke kota raja, layon itu musti diiringken oleh orang orang yang menjadi wakilnya raja dan di istana raja musti disambut oleh raja yang baru dan ibu suri. Karena itu maka kedua ibu suri dan raja yang masih anak musti berangkat lebih dulu ke Peking. Menurut catetannya pengarang sejarah dari masa itu, di jalanan yang musti dilalui telah dipasang jebakan buat tangkap dan bunuh Tsu Hi. Tapi Yung Lu, sebagai opsir dari barisan penjaga raja, telah bisa lindungken keslametannya Tsu Hi dalam perjalanan itu. Ia sampai dengan selamat di Peking bersama putra makota dan Tsu An, tiga hari lebih dulu dari layonnya raja.
Persekutuan itu kemudian dapat dibubarken. Kepala kepalanya persekutuan itu dihukum mati, antero miliknya dirampas dan gelaran pangeran dari kaum keluarganya dihapusken. Kekayaan sangat besar, yang sudah dikumpul oleh Su Shun, masuk dalam kasnya istana raja.
Orang orang yang menjadi wakil raja telah pilih satu nama buat namaken pemerintahannya raja yang baru. Nama itu yalah T'ung Chih [Tongzhi] atau Kesejahteraan besar. Dalam satu firman panjang, atas namanya raja, diceritaken hal hal yang sudah terjadi dan kedua ibu suri tadi diangkat sama-sama menjadi wakil raja. Perkara begini belum pernah kejadian dalam sejarah Tiongkok. Tambahan lagi perkara itu tidak sah, sebab menurut hukum dari rumah tangganya dinasti Manchu, orang perempuan tidak boleh menjadi raja. Bangsa Manchu asalnya bangsa peperangan. Karena itu maka melainkan orang lelaki yang boleh menjadi raja. Inilah ada satu contoh dari kekerasan hati, keberanian dan kecepatan bekerja dari Tsu Hi buat menjalanken asasnya pemerintahan raja dengan kekuasaan tidak terbatas. Dengan melanggar segala kebiasaan dan undang undang, ia jalanken apa yang ia mau jalanken, dengan dibantu oleh tunjangan yang kuat dari Yung Lu, hingga perbuatan itu tidak mendapat perlawanan keras.
Duabelas tahun lamanya Tsu Hi dan Tsu An menjadi wakil raja memegang kendali pemerintahan. Sebenarnya Tsu An cuma nama saja menjadi wakil raja. Yang sebenarnya-benarnya menjadi wakil raja dan memerintah negeri adalah Tsu Hi. Dua tahun yang penghabisan dari pemberontakan Taiping telah kejadian tempo Tsu Hi sudah pegang kekuasaan memerintah. Tsu Hi ingat, sepuluh tahun dulu, selagi masih jadi gadis yang berumur belum dua puluh tahun, di masanya ia mempelajari aturan aturan memerintah negeri, ia telah baca karangan karangannya Tseng Kuo Fan. Tsu Hi percaya habis pada kepandaiannya ini orang berilmu. Maka itu Tseng Kuo Fan, yang sementara itu sudah mengepalai barisan sukarelawan buat tulung negeri dan tindes pemberontakan Taiping, segera diangkat oleh Tsu Hi jadi panglima perang besar dari antero angkatan perang negeri buat padamken itu pemberontakan.
Dalam istana raja kejadian dua perkara yang musti dicatet, sebab mempunyai kesudahan penting dan luas. Pemerintahan bermula dijalanken dengan rahasia atas namanya raja yang masih anak, dengan pangeran Kung sebagai adpisur. Lama kelamaan pangeran Kung keliatannya seperti hendak banggaken kekuasaannya, hal mana menyinggung keangkuhannya Tsu Hi, yang di masa itu sudah pegang kekuasaan paling tinggi tanpa dapat bantahan keras dari ibu suri Tsu An yang lebih tua. Dalam tahun 1865 pangeran Kung diturunken pangkatnya, tapi sedikit waktu kemudian ia dikembaliken pula dalam pangkatnya yang asal. Meski begitu ini pengujian kekuasaan, yang berkesudahan dengan menangnya Tsu Hi atas itu paman dari raja yang masih anak, telah bikin besar napsunya Tsu Hi buat gunaken kekuasaannya menurut sukanya.
Dalam tahun 1869 kejadian satu perkara lebih penting, yang bikin hatinya Tsu Hi jadi lebih keras. Di masa itu ia berumur tiga puluh empat tahun. Pada waktu itu pengaruhnya orang orang kebiri dalam istana bertambah besar dan mereka semakin suka cari onar. Pangeran Kung telah gunaken satu kesempatan yang baik buat suruh potong kepalanya orang kebiri kepala dan beberapa orang pembantunya yang terutama. Pemotongan kepala ini kejadian menurut firman, yang dikeluarken oleh ibu suri Tsu An dengan kekuasannya sendiri saja.
Itu kepala orang kebiri. An Te Hai namanya, memang betul banyak dosanya. Keburukan dan kesombongan dari itu kepala orang kebiri sudah melahirken banyak kejahatan. Akan tetapi, biarpun bagaimana besar dosanya, dalam tahun 1861 ia jadi hamba yang setia dan bisa dipercaya dari Tsu Hi. Coba tidak ada bantuannya ini kepala orang kebiri, Tsu Hi itu waktu tidak bisa bikin perhubungan surat dengan rahasia sama pangeran Kung dan Yung Lu. Tatkala ia dapat kabar, itu kepala orang kebiri sudah dipotong kepala, Tsu Hi jadi marah besar. Tapi di waktu itu ia tahan marahnya, ia cuma bikin penyesalan pada Tsu An dan pangeran Kung. Tetapi Tsu Hi ada seorang yang tidak bisa lupa dan tidak bisa kasih ampun. Ia terasing pula sendirian, tetapi justru hal ini bikin hatinya jadi lebih tabah, jadi lebih percaya pada dirinya sendiri.
Dalam tahun 1873 kaisar sudah dewasa, umurnya sudah tujuhbelas tahun. Dari antara gadis gadis Manchu yang bisa dipilih jadi permaisurinya raja, telah dipilih seorang nama Alute menjadi permaisuri. Tsu An dan Tsu Hi berhenti menjadi wakil raja. Begitulah dengan firman raja diberitahuken, tidak ada wakil raja lagi.
Buat Tsu Hi, yang sudah biasa memegang kekuasaan tidak terbatas, ilangnya kekuasaan itu sangat tidak menyenangken hatinya. Ia punya rasa menyesal dibikin jadi lebih keras oleh sikapnya raja. Seperti sudah diceritaken, waktu masih anak ia diasingken dari Tsu Hi sebagai hukuman pada Tsu Hi. Kemudian dari kecil sampai besar ia lebih suka ada sama Tsu An dari-pada sama ibunya sendiri. Sesudah naik di takhta kerajaan, ia dan isterinya bawa maunya sendiri, malah ia tidak mau kasih ibunya turut dalam permufakatan permufakatan tentang urusan negeri.
Sakit hati karena anaknya tempo masih belum dewasa lebih suka sama Tsu An dari sama ibunya sendiri dan tidak sabaran meliat kesalahan kesalahannya sesudah dewasa, Tsu Hi jadi musuh besar dari anaknya sendiri. Tung Chih, yang tidak ada mempunyai kepinteran dari ibunya, tidak mengerti yang ia dimusuhi keras oleh ibunya. Coba ia lebih cerdik, niscaya ia mengerti besarnya faedah dari ibunya punya cinta dan tunjangan. Boleh jadi ia akan bisa hidup lebih lama dan menjalanken pemerintahan lebih lama. Sekarang pemerintahannya itu cuma pendek saja. Dalam tahun 1875 raja T'ung Chih meninggal dan membuka pula kesempatan buat Tsu Hi memegang kekuasaan, ini kali buat tempo lebih lama dari pertama kali.
Tatkala T'ung Chih meninggal, permaisuri Alute hamil. Kalau ia hidup terus dan melahirken putra, maka tempat, yang dulu diduduki oleh Tsu Hi sebagai Ibu Suri, akan menjadi ia punya tempat. Kalau Alute tidak melahirken putra, musti diangkat seorang anak laki buat jadi ahliwarisnya raja yang baru meninggal. Ini anak musti setingkat di bawah dari itu raja, yaitu mustinya seorang pernah keponakan, barulah boleh diangkat jadi anak. Ada seorang anak, yang bisa diangkat dalam itu kedudukan, akan tetapi kedudukannya kurang kuat, sebab ia punya engkong (kakek) juga ada seorang anak angkat dari kaisar Tao Kuang. Lain dari itu ada seorang anak, tapi tingkatannya sama seperti kaisar T'ung Chih, yaitu pernah saudara misan. Sebagai saudara misan itu anak tidak bisa dijadiken anak dari kaisar T'ung Chih dan sembahyangi abunya sebagai abu ayahnya. Ia itu adalah seorang putra dari pangeran Kung, putra yang keenam dari kaisar Tao Kuang. Lain dari itu anak itu pun sudah berumur tujuhbelas tahun. Ia dan ayahnya tentulah akan singkirken Tsu Hi, kalau seandainya itu putra dari pangeran Kung diangkat jadi penggantinya raja. Lain anak yang bisa dipilih adalah anak yang masih kecil dari pangeran Ch'un [Pangeran Chun / Yixuan], putra yang ketujuh dari kaisar Tao Kuang.
Ibunya itu anak adalah seorang saudara muda dari Tsu Hi. Ini anak sebetulnya lebih tidak bisa dipilih dari-pada anaknya pangeran Kung, sebab ia jadi anak dari seorang saudara muda dari pangeran Kung. Lain dari itu ia masih anak, hingga harapan akan ia mempunyai seorang putra, yang bisa dijadiken anak pungut dari kaisar yang baru meninggal, musti tunggu lagi beberapa tahun, baru bisa terkabul. Akan tetapi keinginan buat pegang pula kekuasaan memerintah dan keinginan buat bales sakit hatinya pada pangeran Kung, kembali telah bikin Tsu Hi ambil putusan, yang menyimpang dari sekalian adat dan aturan. Dengan ditunjang oleh Yung Lu, siapa punya barisan barisan menjaga pintu pintunya istana, Tsu Hi paksa Dewan Besar pilih itu anak jadi penggantinya raja. Begitulah itu anak dinobatken dengan gelaran Kuang Hsu (Kong Sie Kun) [Guangxu]. Sebab ini raja belum dewasa, maka kembali Tsu An dan Tsu Hi bersama-sama menjadi wakil raja, Tsu An cuma nama saja turut jadi wakil raja, yang sebenarnya mewakilken raja dan jalanken kekuasaan memerintah yalah Tsu Hi lagi.
Tidak berapa minggu kemudian permaisuri Alute meninggal bersama anaknya yang dalam kandungan. Dalam istana raja dibilang, ia telah bunuh diri sebagai protes pada perbuatan tidak adil, yang orang perbuat pada dirinya. Tapi orang luar istana rata-rata percaya ia mati sebab Tsu Hi.
Di Tiongkok masa itu tidak ada surat kabar seperti sekarang ini. Pikiran publik buat cela atau protes pemerintah dinyataken dengan perantaraannya Dewan Censor. Anggota anggotanya Dewan ini terdiri dari orang orang di kota raja, yang diunjuken buat duduk dalam dewan itu dan raja raja muda, yang jadi kepala dari berbagai-bagai provinsi. Dewan ini tilik perbuatan perbuatannya pemerintah, Hampir selamanya musti ada anggota anggota dewan itu, yang berani menyataken pikirannya dengan terus terang, mengeritik dan menyela perbuatan perbuatan raja atau pemerintah dengan terus terang, kalau mereka pikir perbuatan itu keliru, meskipun mereka tahu mereka akan dipotong kepala. Dewan Censor di Tiongkok dari mulai diadaken di zaman dulukala sampai pada hapusnya setelah pemerintahan raja diganti dengan pemerintahan republik, kesohor karena keberanian dari anggota anggotanya melahirken kritik dan celaannya dengan menantang hukuman mati.
Begitulah itu perbuatan yang keliru dari Tsu Hi, yang melanggar sekalian adat dan aturan, telah melahirken kritik keras dari Dewan Censor. Dulu, waktu kaisar Hsien Feng meninggal dan pangeran Yi, pangeran Cheng dan Su Shun rampas kekuasan menjadi wakil raja, dewan itu mufakat ini tiga orang yang tidak berhak diguling oleh Tsu Hi dan kekuasaan memerintah dijalanken oleh ibu suri Tsu An dan ibu suri Tsu Hi bersama-sama. Lebih jauh di masa itu Tsu Hi bergulet untuk membela jiwanya yang terancam bahaya. Tapi sekali ini, sesudahnya kaisar Tung Chih meninggal, bukannya lagi seorang ibu yang masih muda, yang bergulet buat tulung jiwanya, tetapi seorang perempuan tua, yang lebih pentingken ia punya lapar kekuasaan dari-pada keslametannya negeri dengan empat ratus juta rakyatnya dan adat serta peraturan manusia. Simpati di waktu dulu sekarang diganti sama kritik keras dan permusuhan keras. Banjir kritik jadi lebih besar lagi, sesudah ibu suri Alute meninggal dengan bayi dalam kandungannya. Empat tahun kemudian, waktu jinazatnya kaisar Hsin Feng dikubur, protes itu diulangken pula. Seorang censor yang berani, bunuh diri buat unjuken lebih tegas kekeliruan yang diperbuat dalam istana raja. Ini pengorbanan yang suci telah bikin Tsu Hi jadi kaget sekali. Tapi ia tidak bisa ubah lagi apa yang sudah berjalan empat tahun. Ia keluarken sebuah firman, dalam mana lagi sekali ia berjanji, ia nanti atur supaya ada putra angkat buat menjalanken kewajiban di depan meja abu dari kaisar Tung Chih. Tapi hampir tiga puluh tahun lamanya ini janji tidak dipenuhken.
Dalam tahun 1881 ibu suri Tsu An mendadak dapat sakit aneh dan tidak lama kemudian meninggal. Orang duga kematian itu pun bukan kematian sewajarnya. Kedua ibu suri itu hidup tidak akur sama satu dengan lain, meskipun Tsu An boleh dibilang tidak tahu turut memerintah, ia mengalah saja buat Tsu Hi. Tapi Tsu Hi punya keponakan, kaisar Kuang Hsu, seperti juga Tsu Hi punya anak sendiri, almarhum kaisar T'ung Chi, lebih suka ada di istananya ibu suri Tsu An dari-pada di dekatnya Tsu Hi. Boleh jadi hal ini telah membangunken sakit hatinya Tsu Hi pada Tsu An. Dalam tahun 1887 kaisar Kuang Hsu dewasa dan dikasih seorang isteri, yang jadi keponakan dari Tsu Hi. Kedudukannya kaum Yehonala jadi lebih kuat.
Betulnya Tsu Hi musti berhenti jadi wakil raja. Tapi ia memerintah terus buat lamanya dua tahun lagi. Kemudian ia pindah tinggal di istana musim panas, yang dalam tahun 1860 dimusnahken oleh Lord Elgin dan waktu itu lagi dibikin betul dengan ongkos besar. Uangnya diambil dari uang yang disediaken buat bikin angkatan perang laut.
Barangkali Tsu Hi akan tinggal terus di situ buat puasken kesukaannya membaca dan menggambar, dalam ilmu mana ia ada pandai sekali, sambil turut campur sedikit-sedikit dalam urusan pemerintahan, coba tidak kejadian hal hal, yang bikin ia jadi pegang pula kekuasaan memerintah sepenuh-penuhnya. Hal yang terutama terjadi adalah peperangan yang celaka melawan Jepang dalam tahun 1894/1895 [Perang Tiongkok-Jepang Pertama]. Ini peperangan celaka telah membawa buntut buntut celaka, yang bikin Tiongkok dipotong potong sebagai semangka oleh negeri negeri Barat.
Seperti sudah dibilang, rakyat Tionghoa tidak peduliken peperangan itu. Mereka anggap peperangan itu bukan peperangan antara Jepang dan mereka, tetapi peperangan antara Jepang dan Peking, antara Jepang dan pemerintah Manchu. Tapi setelah itu peperangan berhenti dengan membawa kesudahan celaka dan kehinaan buat Tiongkok dan bangsa Tionghoa rata-rata, keangkuhannya bangsa Tionghoa lantas merasa itu pukulan. Pukulan itu dirasa lebih hebat dari segala pukulan, yang pernah dialamken, Dikalahken oleh satu bangsa, yang selama seribu tahun lebih jadi muridnya Tiongkok, yang kesopanannya hampir melulu terdiri dari cangkokan kesopanan Tionghoa, dikalahken oleh satu bangsa begini ada satu kehinaan yang lebih besar dan lebih berat buat dirasaken dari-pada kekalahan melawan bangsa mana pun juga. Pukulan ini telah bikin tergeter kaum terpelajar di seluruh Tiongkok. Lain dari itu, sehabis itu perang celaka, negeri negeri asing lantas berebut bagi bagi Tiongkok. Orang insyaf musti lantas dibikin apa-apa buat perbaiki keadaan di dalam negeri, supaya Tiongkok tidak alamken kerugian dan kehinaan baru. Juga dalam istana raja orang dapat keinsyafan begitu.
Dalam bulan Juni 1898 kaisar Kuang Hsu keluarken dua firman. Firman yang kesatu menitahken raja raja muda buat cari orang orang yang ternama baik dalam penghidupan hari hari dan mempunyai pengetahuan dari hal-hal baru untuk dipakai dalam pekerjaan negeri. Firman yang kedua menegasken perlunya dibikin perubahan.
Kuang Hsu punya keinginan buat bikin perubahan disebabken oleh keadaan sangat berbahaya, dalam mana Tiongkok waktu itu berada karena kesudahan dari peperangan melawan Jepang.
Sebelumnya itu peperangan, negeri negeri Barat masih taruh sungkan buat Tiongkok punya kekuatan militer. Betul peperangan melawan Inggris dan kemudian melawan Inggris-Prancis telah berkesudahan celaka buat Tiongkok, akan tetapi kesudahan itu lebih banyak disebabken oleh pemerintah Manchu punya semangat yang lemah dan hati yang kurang tabah, dari-pada oleh Tiongkok punya kekuatan militer yang sebenarnya. Itu kekuatan militer yang sebenarnya dari Tiongkok ternyata ada lebih besar dari yang diperlihatken dalam itu dua peperangan melawan negeri Barat, yang dilakuken dengan setengah hati. Itu kekuatan militer yang sebenarnya dari Tiongkok telah diperlihatken dalam peperangan melawan orang Prancis di Tongking dan dalam penindesan dari pemberontakan yang dikepalai oleh Yakub Beg. Dua hal ini menyebabken negeri negeri Barat masih tetap menaruh sungkan pada Tiongkok punya kekuatan militer, kendati apa juga yang sudah terjadi. Tapi kekalahan dalam peperangan melawan Jepang telah meruntuhken sekalian perindahan buat tenaga militer dari Tiongkok.
Tatkala Jerman, Prancis dan Rusia turut campur buat paksa Jepang kurangken permintaan permintaannya pada Tiongkok, orang sudah duga, lekas atau lambat tiga negeri itu tentu akan buka rekening buat tagih upahnya mereka punya capai. Dugaan ini ternyata benar, Prancis adalah yang pertama buka rekening. Tanggal 20 Juni 1895 ditandatangani di Peking perjanjian, dengan mana Tiongkok serahken pada Prancis daerah Tiongkok di tepi kiri dari sungai Mekong (Annam). Makanya orang Prancis bilang, perjanjian ini "bikin betul" batas antara Annam dan Tiongkok. Lebih jauh perjanjian itu menentuken, kaisar Manchu akan lantas sahken perjanjian yang sudah dibikin lebih dulu perihal batas antara jajahan Prancis itu dan Tiongkok. Sebelas hari sesudah ditandatangani ini perjanjian, utusan Prancis dan utusan Rus dapatken hak buat bankir bankirnya kasih utang pada Tiongkok empat ratus juta franc, dengan renten 4 persen setahun. Ini uang perlu buat bayar penyicilan pertama dari penggantian kerugian yang Tiongkok musti bayar pada Jepang.
Ini dua perjanjian bikin Inggris jadi sangat menyesal. Bankir bankir Inggris harap mereka yang akan atur itu pinjaman buat Tiongkok bayar penggantian kerugian, sedang pembetulan dari batas Annam melibet juga penyerahan pada Prancis dari bilangan bilangan, yang tadinya dipegang oleh pemerintah Tiongkok menurut perjanjian yang baru dibikin sama Inggris. Bankir bankir Jerman juga kepingin kasih utang pada Tiongkok, makanya orang Jerman juga menyesal sebab dalam urusan kasih utang itu, mereka diasingken oleh kawan kawannya, sedang tadinya mereka bertiga yang paksa Jepang ubah permintaan permintaannya pada Tiongkok. Maka itu utusan Inggris dan utusan Jerman bekerja sama-sama, Kesudahannya pemerintah Manchu kasih hak luar biasa, pada satu sindikat atau perserikatan dari bank Inggris dan Jerman buat kasih dua utang pada Tiongkok, satu dalam bulan Maret 1896 dan satunya dalam bulan Maret 1898, perlunya buat bayar sisanya penyicilan pada Jepang. Tapi keberatannya Inggris terhadap pada urusan batas Annam baru dalam bulan Februari 1897 dapat kepuasan. Pada waktu itu Tiongkok kasih ganti kerugian pada Inggris dengan serahken beberapa daerah di batas Burma dan beberapa konsesi pada kaum saudagar Inggris.
Meski Rusia berserikat sama Prancis dalam urusan kasih pinjaman yang pertama pada pemerintah Tiongkok buat bayar Jepang, akan tetapi hasilnya buat Rusia boleh dibilang tidak ada, sebab Rusia tidak punya banyak uang buat dikasih pinjam. Boleh dibilang antero utang itu telah dikasih oleh bankir-bankir Prancis dan Belgia. Tapi dalam tahun 1896 Li Hung Chang dikirim ke Rusia, atas permintaan spesial dari pemerintah Rus buat mewakilken Tiongkok dalam upacara menobatken kaisar Nicolaas II. Selama Li Hung Chang tinggal di Moskow ia telah bikin sama Rusia punya menteri urusan luar negeri, pangeran Lobanow, satu perjanjian rahasia, dalam mana itu dua negeri berserikat buat bergerak sama-sama, kalau kejadian pula Jepang bikin serangan.
Di masa itu pemerintah Rus lagi repot bikin jalanan kereta api dari Rusia ke Siberia. Graaf Witte, Rusia punya menteri urusan uang, bisa bikin Li Hung Chang jadi percaya, kalau ada satu jalanan kereta api Rus lewat di bagian utara dari Manchuria, maka Rusia di segala waktu bisa kirim bantuan militer buat lawan serangan Jepang. Karena itu maka itu perjanjian berserikat disertaken dengan satu perjanjian, yang kasih permisi pada Rusia buat bikin jalanan kereta api di Manchuria, yang dikasih nama Chinese Eastern Railway, sebagai satu cabang dari jalanan kereta api dari Rusia ke Siberia. Supaya dunia luar jangan curiga, di Moskow ada dibikin apa apa yang penting, maka perjanjian tentang Chinese Eastern Railway sengaja ditandatangani di Berlin tanggal 8 September 1896. Jalanan kereta api itu akan dibikin oleh satu kongsi yang dinamaken Chinese Eastern Railway Company dan dibilang itu ada satu kongsi Rus dan Tionghoa. Di akhirnya tiga puluh enam tahun pemerintah Tiongkok boleh beli itu jalanan kereta api dengan harga poko. Tapi kalau Rusia terus mempunyai itu jalanan kereta api, maka di akhirnya delapan puluh tahun, sesudah jalanan kereta api itu dibuka, jalanan itu akan jadi kepunyaan Tiongkok tanpa bayar barang satu cent.
Menurut artikel 6 dari itu perjanjian Li-Lobanow, tanah tanah yang dipakai oleh itu kongsi kereta api akan dibebasken dari pajak dan itu kongsi, yaitu sebenarnya pemerintah Rus, mempunyai hak seorang diri dan seluas-luasnya buat urus tanah tanah itu. Ini artikel 6 ada terdapat dalam perjanjian yang dibikin dalam bahasa Prancis, tapi tidak ada dalam salinannya dalam bahasa Tionghoa. Tentulah artikel itu sengaja dihilangken dari salinannya dalam bahasa Tionghoa supaya pemerintah Tiongkok tidak tahu adanya itu artikel. Pemerintah Rus kasih artian seluas-luasnya pada itu hak seorang diri dan seluas-luasnya buat "urus" tanah-tanah itu. Itu jalanan kereta api diubah oleh pemerintah Rus jadi satu daerah Rus dengan tentara yang cukup ditempatken di situ, dengan alasan "buat jaga itu jalanan kereta api".
Begitulah dalam tempo dua tahun sesudahnya berhenti perang Tiongkok-Jepang, dua negeri Barat, Prancis dan Rusia, sudah dapatken upahnya yang sembabat buat turut campurnya waktu dibikin perjanjian berdamai, sedang Inggris, meski tidak turut campur dalam itu urusan perjanjian berdamai, juga mendapat upah, berupa tanah di batas Burma, buat timpalannya upah yang Tiongkok kasih pada Prancis. Lain dari itu bank bank Prancis, Rus, Inggris dan Jerman dapat hak luar biasa buat kasih utang pada Tiongkok sejumlah seratus enam puluh juta dollar.
Meski bank bank Jerman dapat bagian bersama bank bank Inggris dalam hal kasih utang dari bulan Maret 1896, toh pemerintah Jerman rasa, ia masih belum dapat upah buat pertulungannya pada Tiongkok. Selama dua setengah tahun sesudah dibikin perdamaian sama Jepang, Jerman terus berdaya, tapi sia sia, buat dapat satu pelabuhan di Tiongkok untuk dijadiken pangkalan armada Jerman di Asia Timur. Pemerintah Jerman bilang, kalau keinginannya itu keturutan, armada Jerman nanti bisa kasih bantuan besar bila Tiongkok terancam bahaya lagi, tapi pemerintah Manchu tetap tidak mau lulusken itu keinginan. Pemerintah Manchu pikir, kalau ini permintaan dari Jerman dilulusken, niscaya Tiongkok akan kebanjiran permintaan permintaan serupa itu dari lain lain negeri. Akhirnya pemerintah Jerman dapat alasan buat paksa dapatken apa yang ia sudah begitu lama kepingin. Tanggal 1 November 1897 dua pendeta Katolik bangsa Jerman dalam provinsi Shantung dibunuh oleh sekawanan bandit. Setelah kabar itu sampai di Berlin, lima hari kemudian pemerintah Jerman kirim perintah dengan kawat pada pasukan kapal perang Jerman di Asia Timur. Tanggal 14 November satu pasukan kapal perang Jerman masuk di teluk Kiaochiao di pesisir Shantung, buat dapatken penggantian kerugian karena itu pembunuhan.
Sesudah bikin pembicaraan tiga bulan setengah, pemerintah Manchu mengalah pada tanggal 6 Maret 1898. Pembunuh pembunuhnya dihukum. Tiongkok bayar penggantian kerugian dengan uang sejumlah besar, gubernur Shantung dilepas, Tiongkok kasih sewa pada Jerman pelabuhan Tsingtao bersama dua ratus mil persegi empat dari daerah di teluk Kiaochiao di kelilingnya Tsingtao, buat lamanya sembilan puluh sembilan tahun. Lebih jauh pada kapitalis kapitalis Jerman dikasih hak lebih dulu dari lain lain negeri buat bikin jalanan kereta api atau usahaken tambang tambang dalam provinsi Shantung.
Persewaan dari Kiaochiao pada Jerman menjadi tanda buat lain-lain negeri minta persewaan begitu juga.
Dalam tempo tiga bulan dan tiga hari sesudah dibikin perjanjian kasih sewa Kiaochiao pada Jerman, lagi empat daerah di pesisir Tiongkok, yang penting buat peperangan, jatuh dalam tangannya negeri negeri Eropa dengan perjanjian serupa itu juga. Tanggal 27 Maret 1898 orang Rus sewa buat lamanya dua puluh lima tahun pelabuhan Port Arthur dan seribu tiga ratus mil persegi empat dari semenanjung Liaotung, di mana pelabuhan itu terletak serta dapat hak buat bikin jalanan kereta api dari Port Arthur ke Chinese Eastern Railway.
Tanggal 2 April pemerintah Inggris paksa pemerintah Manchu berjanji, sebegitu lekas orang Jepang sudah pergi dari pulau Weihaiwei, pulau itu akan disewaken pada Inggris selamanya orang Rus ada di Port Arthur.
Tanggal 9 dan 10 April utusan Prancis di Peking dapat sewa dua ratus mil persegi empat dari daerah di Kwangchowwan, dalam provinsi Kwangtung, buat lamanya sembilan puluh sembilan tahun.
Akhirnya pada 9 Juni 1898 orang Inggris dapat sewa buat lamanya sembilan puluh sembilan tahun tiga ratus tujuh puluh mil persegi buat sambung daerahnya di Kowloon di seberang Hongkong.
Keperluan dari negeri negeri Eropa buat bikin pangkalan armada di pesisir Tiongkok sudah dapat kepuasan. Sekarang utusan utusan Inggris, Prancis, Jerman dan Rus berdaya upaya akan dapatken hak buat masing masing rakyat dari negerinya buat usahaken kekayaannya Tiongkok. Supaya harapan akan jadi bercidra antara satu sama lain dapat dibikin sekecil-kecilnya bisa, maka itu empat negeri bagi-bagi Tiongkok dalam empat "kalangan kepentingan". Dalam tiap tiap kalangan kepentingan itu, negeri negeri yang tidak mempunyai kepentingan di situ tidak boleh menghalangi negeri yang ada mempunyai kepentingan di situ.
Rusia diaku ada mempunyai kepentingan paling besar di Manchuria dan Mongolia. Makanya ini dua bilangan dijadiken Rusia punya "kalangan kepentingan". Lembah sungai Yangtze dijadiken Inggris punya kalangan kepentingan. Jerman punya kalangan kepentingan adalah provinsi Shantung dan daerah di sebelah Barat dari Shantung sepanjang sungai Hoang Ho. Prancis mempunyai kalangan kepentingan dalam provinsi provinsi Tiongkok di selatan, yang berdamping sama Indo-China.
Selainnya itu, Jepang pun mengaku mempunyai kalangan kepentingan dan ini kalangan kepentingan dari Jepang letaknya dalam provinsi Fukien, pesisir Fukien di seberangnya pulau Formosa, yang baru diserahken pada Jepang.
Ini perjanjian buat saling aku satu sama lain punya kalangan kepentingan mengerasken tindesannya permintaan permintaan negeri asing pada Tiongkok. Tiap tiap negeri mau unjuken kemampuannya buat usahaken bilangan, yang dijadiken ia punya kalangan kepentingan. Begitulah tiap-tiap negeri itu minta konsesi baru buat usahaken bilangan itu. Dan tiap tiap konsesi yang dikasih dalam satu kalangan, menjadi alasan buat lain lain negeri minta konsesi begitu juga dalam masing masing kalangannya. Maka itu kalangan kepentingan itu telah dinamaken juga kalangan pengaruh. Mengertinya, negeri yang mempunyai itu kalangan kepentingan, tidak melainken mempunyai kepentingan saja, tetapi dianggap mempunyai pengaruh juga dalam bilangan itu.
Persewaan bilangan di pesisir Tiongkok pada negeri negeri asing buat tempat armadanya dan pembagian dari Tiongkok dalam beberapa kalangan kepentingan atau kalangan pengaruh sebenarnya berarti yang Tiongkok sudah dijadiken semangka dan sudah dipotong-potong dalam beberapa bagian oleh beberapa negeri Eropa dan Jepang.
Sewaktu negeri negeri Eropa bagi-bagi Tiongkok dalam kalangan pengaruh dan berlomba dapatken konsesi konsesi di Tiongkok, Amerika Serikat hadapi peperangan yang bakal terbit melawan Spanyol. Makanya Amerika tidak bisa turut dalam itu pembagian dari Tiongkok. Setelah peperangan itu selesai dan bagi hasilnya kemenangan melawan Spanyol, Filipina jadi jajahan Amerika, negeri ini dapat kenyataan, ia datang telat dalam itu perlombaan di Tiongkok. Dalam tahun 1899, kemudian dalam tahun 1900 sekretaris negara dari Amerika, John Hay, kirim nota pada berbagai-bagai negeri Eropa, dalam mana dibilang, Amerika tidak mau mengakui hak seorang diri dari negeri mana pun juga dalam itu berbagai bagai kalangan kepentingan.
Amerika cuma tahu, ia mempunyai hak sama rata seperti lain lain negeri buat berdagang dan berusaha di Tiongkok, juga dalam bilangan bilangan yang sudah dinyataken jadi kalangan kepentingan dari berbagai-bagai negeri. Amerika mau di seluruh Tiongkok dijalanken politik "pintu terbuka", mengertinya segala orang dan segala negeri mempunyai hak sama rata buat berdagang dan berusaha di segala bagian dari Tiongkok, Amerika tidak mau ada bilangan bilangan di Tiongkok, di mana cuma satu bangsa saja boleh berniaga dan berusaha, lain lain bangsa tidak boleh. Berbagai bagai negeri kasih jawaban atas itu nota dan Amerika artiken dari jawaban jawaban itu, yang semua negeri mufakat dengan itu politik "pintu terbuka". Buat Amerika ini asas pintu terbuka ada faedahnya, tapi buat Tiongkok tidak ada faedahnya, sebab asas itu tidak membikin urung itu pembagian dari daerah Tiongkok dalam kalangan kalangan kepentingan. Ini kalangan kalangan pengaruh tinggal ada di sebelahnya itu asas "pintu terbuka".
Sebagai jawaban atas firman mencari orang orang pandai dalam pengetahuan baru, seorang Kanton nama Kang Yu Wei (Khong Yu Wie) [Kang Youwei] dikenalken pada raja oleh salah seorang gurunya raja. Kang Yu Wei tidak seorang diri saja. Ia ada mempunyai juga seorang murid, yang belakangan kesohor tajam dan bagusnya ia punya karangan karangan dan jadi salah seorang pemikir dan pengarang politik yang paling ternama di Tiongkok dalam ini abad. Orang itu yalah Liang Chi Chao (Nio Khe Tiauw) [Liang Qichao]. Selainnya itu, Kang Yu Wei ada bawa lagi beberapa orang kawannya, terhitung juga ia punya saudara sendiri. Orang orang inilah jadi adpisur baru dari Kuang Hsu. Segera mereka dapat pengaruh besar atas pikirannya raja. Maksud maksud luas dan besar dibicaraken dan begitu diambil putusan, maksud itu ada baik, lantas dikeluarken firman, yang menitahken apa yang terkandung dalam maksud itu musti lantas dijalanken.
Firman firman yang menitahken perubahan menyusul satu sama lain dengan cepat sekali. Seratus hari lamanya ini hujan firman perubahan. Makanya itu hujan firman yang menitahken perubahan dinamaken "perubahan dari seratus hari". Aturan examen kuno musti dihapusken. Di ibu kota dari semua provinsi dan di kota kota dari semua distrik musti didiriken sekolah rendah dan sekolah menengah buat kasih ajar pengetahuan baru. Dewan peperangan diperintah buat periksa dan kasih repotan tentang berbagai bagai usul buat ubah angkatan perang darat. Sekolahan opsir laut musti didiriken buat susun baru angkatan perang laut. Di Shanghai musti dibuka sebuah kantor buat salin buku buku Barat tentang ilmu pengetahuan dan ilmu kesusastraan dan buku buku pelajaran buat sekolah rendah dan sekolah menengah. Pendeknya, perubahan perubahan besar, seperti yang dunia belum pernah menampak, musti dijalanken dalam sedikit tempo. Adpisur adpisurnya raja mengerti, perubahan perubahan itu musti dijalanken dengan lantas, tidak boleh ditunda-tunda, supaya jangan kasih tempo pada kaum kolot buat gunaken pengaruhnya akan bikin urung itu perubahan perubahan. Di satu saat yang celaka kaum perubahan itu dapat pikiran buat tangkap Tsu Hi, sebab ia dikuatir sebagai kekuatan paling besar dari kaum kolot.
Di masa itu Yung Lu jadi raja muda dari Chili (Hopei) dengan tempat kedudukan di Tientsin, cuma delapan puluh mil jauhnya dari Peking. Salah satu orang sebawahannya adalah Yuan Shih Kai, sama siapa ia dulu sudah angkat saudara dengan bersumpah sama minum darah. Hal ini rupanya tidak diketahui atau dipandang enteng oleh orang orang yang bersekutu buat tangkap Tsu Hi, Yuan Shih Kai diajak berembuk dan menyataken mufakat sama itu maksud. Dalam satu pertemuan rahasia ia dititahken buat singkirken Yung Lu. Sesudah itu akan dikasih masuk tentara di Peking dan istana musim panas dikepung. Yuan Shih Kai berangkat ke Tientsin. Apa yang kemudian terjadi, boleh jadi selamanya tidak akan bisa diketahui dengan betul. Menurut katanya Yuan Shih Kai, maksud itu bocor. Sesampainya ia di Tientsin, Yung Lu sudah tahu itu maksud. Tapi kaisar Kuang Hsu sampai pada hari matinya percaya, Yuan Shih Kai sudah berkhianat dan buka itu rahasia pada Yung Lu. Maka itu waktu menutup mata Kuang Hsu tinggalken pesanan, Yuan Shih Kai musti dipotong kepalanya. Yung Lu buru buru datang di Peking dan dalam itu krisis besar yang ketiga selama hidupnya Tsu Hi, ia tulung pula itu ibu suri buat pegang kekuasaan memerintah.
Pada suatu pagi tanggal 22 September, sehabisnya terima pembesar pembesar dan orang orang yang mau ketemu sama raja, hal mana seperti biasa kejadian di waktu subuh, mendadak Kuang Hsu ditangkap dan ditaruh di satu pulau dalam satu telaga dalam kota raja. Lebih dari sepuluh tahun lamanya pulau itu jadi penjaranya Kuang Hsu. Ia meninggal dalam itu penjara.
Segera sesudahnya kaisar ditangkap, keluar sebuah firman, yang dibilang firmannya kaisar, tapi sebenarnya bukan karangannya kaisar. Firman itu menyeritaken kesukaran kesukaran pada itu waktu, memperingatken pahala pahalanya Tsu Hi pada negeri dan memberitahuken yang Tsu Hi akhirnya, sesudah lama dan berulang ulang diminta oleh kaisar, menyataken mufakat sama permintaannya kaisar buat pegang pula kendali pemerintahan.
Kuang Hsu tidak sampai disuruh bunuh oleh Tsu Hi, tentulah sebab ini ibu suri takut buat kritik dan celaan dari censor censor Tionghoa, Tapi terhadap pada adpisur adpisurnya Kuang Hsu, Tsu Hi tidak pakai sungkan-sungkanan lagi. Beberapa antaranya ditangkap dan dihukum mati. Tapi beberapa orang dapat melarikan diri, antaranya adalah Kang Yu Wei dan Liang Chi Chao.
Demikianlah itu perubahan perubahan dari seratus hari berakhir dan Tsu Hi kembali memerintah dengan kekuasaan tidak terbatas.
Tsu Hi jalanken politik baru buat cegah musnahnya Tiongkok. Perubahan perubahan yang diingin oleh Kuang Hsu akan dijalanken juga, tetapi dengan perlahan. Lebih jauh Tsu Hsi mau bikin negeri negeri Barat jadi endahken pada Tiongkok. Maka itu pada berbagai-bagai utusan asing ia kasih tahu, Tiongkok buat sementara waktu tidak akan kasih konsesi lagi, biar konsesi apa saja.
Dalam tahun 1899 pemerintah Italia coba dapatken juga tempat di Tiongkok. Tanggal 28 Februari utusan Italia terimaken surat permohonan buat sewa teluk San Men dalam provinsi Chekiang akan dipakai sebagai stasiun kapal kapal Italia muat batu bara. Lebih jauh Italia minta konsesi buat buka tambang dan jalanan kereta api di bagian selatan dari itu provinsi. Itu rekues dari Italia ditunjang oleh Inggris, tapi meski begitu, toh pemerintah Tiongkok tolak permohonan itu mentah mentah dan kembaliken itu rekues. Tanggal 10 Maret utusan Italia coba dapatken maksudnya dengan kirim ultimatum, tapi itu perbuatan tidak disetujui oleh pemerintah Italia. Itu utusan dipanggil pulang dan permintaan permintaannya diurungken.
Meskipun hal ini keliatannya perkara kecil saja, tetapi dalam kalangan pemerintah Tiongkok dan di antara rakyat Tionghoa hal itu telah menyebabken kegugupan dan gerakan besar. Tentara dari provinsi. Kansu yang jauh dikasih datang di Peking, pembesar pembesar dari provinsi provinsi di sepanjang pesisir dikasih perintah akan awas buat sesuatu serangan dari pihak asing. Kabar kabar angin perihal bangsa asing akan menyerang pula pada Tiongkok, tersiar luas di antara rakyat segala golongan.
Di musim rontok dari tahun 1898, tatkala semua tentara model baru yang ada sedia di Tiongkok Utara sudah dikumpul di Peking, Tsu Hi keluarken firman, yang mewajibken pembesar provinsi, kota dan desa di Tiongkok Utara buat hidupken pula aturan milisi dari dulukala sebagai persediaan, jikalau negeri asing menyerang Tiongkok.
Penyiapan dari ini barisan milisi dibikin gampang oleh adanya banyak orang, yang sudah jadi mata gelap karena kesusahan lantaran ada hawa panas keras yang lama di semua provinsi di Utara, Banyak kawanan bandit pun turut masuk dalam itu barisan milisi. Di musim panas dari tahun 1899 banyak barisan itu dalam provinsi Shantung dan Chili (Hopei) pakai nama I Ho Tuan [Yihetuan] atau "Barisan dari Keakuran yang jujur. Kadang kadang mereka juga disebut I Ho Chuan [Yihequan] atau "Kepelan dari Keakuran yang jujur. Karena ini nama, maka orang Inggris kemudian kasih mereka nama kaum Bokser atau Pakkunthauw.
Sedari mulai didiriken, ini barisan barisan bokser sangat benci orang asing. Barisan barisan itu menjelma paling banyak dan paling cepat justru dalam provinsi provinsi, yang baru-baru ini daerahnya paling banyak jatuh dalam tangan asing. Yang nomer satu dibenci oleh ini barisan barisan bokser adalah orang asing. Yang nomer dua dibenci olehnya adalah orang orang Tionghoa yang masuk agama Kristen, yang dikasih nama "setan asing kelas dua. Kebencian ini disebabken oleh halnya pendeta pendeta Kristen di Tiongkok suka turut campur dalam perkara perkara, dalam mana orang orang Tionghoa Kristen juga ada terlibat.
Dalam bulan November 1899 utusan utusan dari negeri negeri, yang pendeta penditanya ada bekerja dalam provinsi Shantung, mulai desak pada pemerintah di Peking supaya diambil aturan aturan yang sempurna buat tindes gerakan bokser dalam itu provinsi. Gubernur dari itu provinsi, Yu Hsien, yang benci keras pada orang asing, jadi bulan bulanan dari kritiknya utusan utusan asing. Tanggal 6 Desember ia diganti sama Yuan Shih Kai. Tanggal 30 Desember, sebelumnya Yuan Shih Kai sempat jalanken kekuasaannya sebagai gubernur baru, seorang pendeta Inggris dibunuh oleh beberapa anggota dari perserikatan bokser. Yuan Shih Kai lantas tangkap dan hukum pembunuh pembunuhnya. Dua dihukum mati, satu dihukum seumur hidup dan yang sisanya dua orang dihukum buang. Yalah sebagai gubernur dari Shantung di zamannya Pakkunthauw, yang Yuan Shih Kai dapat nama dan pujian dari orang orang asing, sebab di masa itu, dalam keinginannya buat cari muka sama bangsa bangsa asing, ia telah berlaku dengan buas sekali pada itu perkumpulan perkumpulan bokser. Orang boleh tidak mufakat sama cara cara yang dipakai oleh perkumpulan perkumpulan itu, orang boleh namaken itu orang orang desa bodoh, sebab mereka mau perangi meriam dan senapan berulang (repeteergeweer) Barat sama kunthauw dan jimat, akan tetapi harus jangan dilupa mereka punya perbuatan atau kebodohan itu didorong oleh kecintaan pada negerinya yang dipukang pukang oleh bangsa asing, ditambah lagi pendeta pendeta asing bawa tingkah meraja-raja dan turut campur dalam urusan rumah tangga dan dusanya. Maka itu kebuasan dan kekejeman yang telah dipertunjuken oleh Yuan Shih Kai dalam hal menindes itu barisan barisan bokser, ada satu perbuatan yang tidak bisa dimengerti dari seorang pembesar Tionghoa. Yuan Shih Kai adalah contoh bagaimana orang musti timbang harganya pembesar pembesar Tionghoa di Tiongkok. Sejak Yuan Shih Kai berlaku begitu buas pada orang orang bangsanya sendiri, yang dosanya cuma mereka punya kecintaan pada negerinya, sampai ia mati dan sampaipun sekarang Yuan Shih Kai di antara bangsa bangsa asing dipuji sebagai "orang yang kuat" di Tiongkok, yang bisa beresken Tiongkok, yang tentu bisa bikin Tiongkok jadi beres dan kuat, coba ia hidup lebih lama.
Dari contohnya Yuan Shih Kai orang bisa tahu ukuran buat ukur pembesar pembesar Tionghoa di Tiongkok. Pembesar Tionghoa, yang tindes dan gencet bangsanya sendiri buat lindungken orang orang asing dan kepentingan kepentingan asing di Tiogkok, pembesar itu niscaya dapat pujian antara bangsa bangsa asing dan dalam surat surat kabar asing. Maka itu tiap tiap pembesar Tionghoa yang dapat nama baik di antara bangsa bangsa asing, niscaya pembesar itu bangsat. Tiap tiap pembesar yang banyak dimaki-maki oleh bangsa bangsa asing, pembesar itu niscaya orang yang cakap dan berguna buat negeri dan bangsanya. Sebab ia berguna buat negeri dan bangsanya, ia musti jadi bentrokan sama kepentingan kepentingan asing di Tiongkok dan sebab ia berani bentrok kepentingan kepentingan asing di Tiongkok, ia musti dimaki, dicela dan dikutuk habis habisan oleh orang orang asing.
Kendati Yuan Shih Kai sudah mengamuk begitu hebat dalam provinsi Shantung, toh utusan utusan Inggris, Prancis, Jerman, Italia dan Amerika Serikat bersama-sama majuken permintaan pada pemerintah Manchu, supaya pemerintah menyataken perkumpulan bokser itu ada perkumpulan yang dilarang oleh hukum dan supaya pemerintah lantas ambil tindakan tindakan buat tindes gerakan itu dengan sempurna. Ini permintaan bikin pemerintah Manchu jadi serba salah, sebab perserikatan perserikatan bokser itu telah didiriken menurut firmannya kaisar. Kalau permintaannya utusan utusan asing itu diturut, rakyat Tionghoa bisa pikir, orang orang asing sudah berkuasa atas pemerintah di Peking dan rakyat itu bisa berontak melawan dinasti Manchu. Sebaliknya, kalau itu permintaan ditolak, negeri negeri asing bisa pakai penolakan itu sebagai alasan buat maklumken perang pada Tiongkok dan buat bagi-bagi itu semangka Tionghoa yang memangnya sudah dipotong potong dan cuma tunggu waktunya dibagi-bagi saja. Dalam ini keadaan serba susah, pembesar pembesar di Peking coba ambil tindakan tindakan yang bisa memuasken permintaan permintaannya utusan utusan asing dan berbareng dengan itu tidak akan bikin kaum Pakkunthauw jadi memusuhi pada pemerintah.
Lima bulan yang pertama dari tahun 1900 adalah lima bulan yang penuh sama kekuatiran dan curiga. Utusan utusan asing di Peking curiga, pemerintah Manchu bersekutu sama kaum pakkunthauw buat bunuh semua orang asing di Tiongkok. Pemerintah Manchu dan barisan barisan pencinta negeri curiga, negeri negeri asing berniat rampas Tiongkok. Utusan utusan asing majuken permintaan permintaan semakin lama semakin keras pada pemerintah Manchu. Utusan utusan itu suruh berkumpul satu armada yang kuat di teluk Pechihli, sekarang namanya teluk Pohai. Di pihak Tiongkok rasa curiga pada orang asing dinyataken dengan senantiasa bertambah besarnya bilangan barisan pakkunthauw dan dengan cepatnya gerakan itu menjalar dari Shantung dan Chili Selatan ke bilangan di kelilingnya Peking. Kira kira di pertengahan bulan Mei distrik distrik antara Peking dan pesisir penuh sama perserikatan perserikatan bokser, yang memusuhi semua orang asing dan mengancam akan bunuh habis semua orang Tionghoa yang masuk Kristen.
Tanggal 28 Mei stasiun Fengtai di jalanan kereta api dari Peking ke Tientsin, diserang oleh sekumpulan orang banyak, yang binasaken beberapa gedung dan ancam seorang insinyur Prancis yang bekerja sama pemerintah Tiongkok. Utusan utusan asing lalu kasih datang barisan barisan serdadu laut dari kapal kapal perangnya buat jaga gedung gedung utusan itu. Tanggal 1 Juni, kendati diprotes oleh pemerintah Tiongkok, empat ratus lima puluh serdadu jaga dikasih datang di Peking. Sedari itu saat taufan lantas semakin jadi dengan tepat. Pada malam dari tanggal 3 jalan 4 Juni barisan barisan bokser, yang yakin bangsa asing sudah mulai menyerang masuk dalam negerinya, binasaken beberapa bagian dari jalanan kereta api antara Peking dan Tientsin. Pada malam dari tanggal 9 Juni utusan Inggris dan Amerika kirim kawat pada komandan kapal kapal perang asing di Taku, minta lantas dikirim bala bantuan ke Peking. Kalau tidak lantas dikirim, datangnya nanti kasep. Satu tentara dari dua ribu serdądu dari berbagai-bagai bangsa, di bawah perintahnya admiral Inggris Seymour, esok harinya berangkat dari Tientsin menuju ke Peking.
Kaum Manchu di istana raja terpecah jadi dua partai. Satu partai suka perang. Partai ini dikepalai oleh pangeran Tuan Fang (Twan Hong). Partai yang lain tidak suka perang, sebab pikir Tiongkok tidak cukup kuat buat melawan begitu banyak negeri. Partai ini dikepalai oleh Yung Lu.
Tanggal 11 Juni kanselir dari utusan Jepang, yang pergi ke stasiun buat ketemui bala bantuan yang dikirim dari Tientsin, telah diserang dan dibunuh. Tanggal 20 pagi utusan Jerman baron von Ketteler, dalam perjalanan dari gedungnya ke kantor urusan luar negeri Tiongkok, ditembak mati oleh seorang serdadu gila. Sorenya dari itu hari gedung gedung utusan dikepung dan ditembaki oleh barisan bokser. Tapi karena pengaruhnya Yung Lu, pengepungan dan penembakan itu tidak dilakuken dengan sungguh sungguh hati. Yung Lu malahan kirim barang makanan pada utusan utusan asing yang kena kepung dalam gedung gedungnya. Raja raja muda dari berbagai-bagai provinsi di lembah Yangtze dan di pesisir Tiongkok pun menyataken tidak mufakat keras buat bikin keonaran itu jadi peperangan, sebab mereka pun insyaf lemahnya Tiongkok punya kekuatan militer. Karena itu maka permusuhan dan pembunuhan pada orang orang asing tidak sampai menjalar di seluruh Tiongkok dan perusuhan bokser itu tidak sampai jadi perang baru.
Sesampainya tentara serikat dalam kota Peking, istana istana dibinasaken dan isinya dirampok. Tentara serikat masuk di Peking pada tanggal 14 Agustus 1900. Tsu Hi dan orang orang dalam istananya menyingkir ke Sianfu. Di Peking cuma tinggal Li Hung Chang dan pangeran Ch'ing buat beresken itu urusan sama negeri negeri asing. Pembicaraan berjalan hampir tigabelas bulan lamanya. Tanggal 7 September 1901 itu dua wakil Tiongkok dan utusan utusan dari sebelas negeri asing menandatangani protokol atau perjanjian di Peking.
Pemerintah Manchu musti hukum mati sebagai "pemberontak" pemimpin pemimpin yang terutama dari gerakan Pakkunthauw, pemerintah itu musti bayar penggantian kerugian sejumlah 450 juta tael atau kira kira 330 juta dollar Amerika, pemerintah musti mufakat di Peking tetap ditempatken angkatan perang asing sebanyaknya ditimbang perlu oleh berbagai bagai negeri asing buat melindungken gedung gedung utusannya. Buat utusan Jerman yang mati ketembak musti didiriken patung di salah satu jalanan besar dari Peking. Lebih jauh pada negeri negeri asing dikasih hak buat tempatken tentara di sepanjang jalanan kereta api antara Peking dan Shanhaikwan; benteng benteng di Taku dan semua benteng lain di sepanjang jalan dari Peking ke lautan musti dimusnahken dan selamanya tidak boleh didiriken lagi. Satu firman raja dikeluarken, yang menyataken, siapa siapa jadi anggota dari satu perserikatan anti orang asing, akan dihukum mati. Tsung Li Yamen dulu musti diganti dengan kantor menteri urusan luar negeri, wai chiao-pu, buat menanggung keslametannya orang orang asing di hari kemudian. Pemerintah Tiongkok musti mufakat buat bikin perubahan perubahan dalam perjanjian perjanjian dagang yang sudah ada. Perubahan perubahan itu menurut sukanya negeri negeri yang sudah bikin itu perjanjian.
Ini perjanjian atau protokol sehabisnya perusuhan Pakkunthauw dalam bahasa asing disebut Bokser-protokol.
Kesudahan celaka dari ini perusuhan, tidak lama sehabisnya kehinaan yang dibawa oleh peperangan melawan Jepang, akhirnya telah bikin pemerintah Manchu jadi percaya betul akan perlunya dipakai politik baru, jikalau negeri mau dibikin cukup kuat buat bisa pegang teguh kemerdekaannya. Dalam bulan Januari 1902 Tsu Hi kembali di Peking dari Sianfu. Ia lantas jalanken politik buat bikin perubahan perubahan sempurna. Banyak perubahan, buat mana kaisar Kuang Hsu empat tahun dulu keluarken firman dengan terburu-buru, sekarang dimufakat oleh Tsu Hi. Firman firman Kuang Hsu itu diidupken pula. Terutama ditegesken perlunya bikin perubahan dalam urusan militer dan diriken rumah rumah sekolah model baru buat kasih ajar ilmu pengetahuan Barat.
Satu firman dari bulan September 1905 hapusken aturan examen kuno. Selanjutnya jabatan negeri musti dipangku oleh orang orang, yang paham pelajaran politik dan pengetahuan Barat. Berbareng dengan itu didiriken komisi komisi buat ubah hukum dan kehakiman di Tiongkok, supaya jadi cocok sama hukum dan aturan kehakiman di Barat.
Tanggal 1 September 1906 Tsu Hi berjanji akan adaken konstitusi. Setahun duluan satu komisi, yang diangkat oleh pemerintah, sudah bikin perjalanan di luar negeri buat pahamken aturan aturan dan bekerjanya pemerintahan dengan konstitusi dalam berbagai bagai negeri asing. Sebagai jawaban atas laporannya ini komisi, satu firman raja maklumken maksudnya pemerintah buat karang konstitusi, yang kasih bagian pada rakyat buat turut urus urusan negeri. Sehabisnya tempo persediaan lamanya sepuluh tahun, belakangan dipendeken jadi tujuh tahun, selama waktu mana rakyat musti dididik buat turut memikul tanggungan tanggungan baru, pemerintah akan adaken parlemen. Tapi badan badan perwakilan rakyat dalam provinsi, kota dan desa akan dikasih bekerja selekasnya bisa. Ini dimaksudken seperti satu bagian dari itu pendidikan rakyat buat turut memerintah negeri. Dalam tahun 1907 didiriken berbagai-bagai perserikatan untuk pemerintahan sendiri. Perserikatan perserikatan itu didiriken atas anjuran dan di bawah penilikan pejabat-pejabat, Maksudnya buat didik rakyat dalam kewajiban kewajibannya sebagai rakyat. Lain tahunnya dimulai persediaan buat pilih dewan dewan provinsi yang pertama.
Lain pasal lagi dalam itu rencana perubahan adalah serangannya pemerintah pada penjualan dan pengisepan candu. Di tahun 1906 bilangan candu asing yang tiap tahun dikasih masuk di Tiongkok ada lebih dari tiga ribu lima ratus ton. Lain dari itu di Tiongkok sendiri tiap tahun hasilnya tanaman candu lebih dari sepuluh ribu ton, Dalam bulan September 1906 Tsu Hi dan adpisur adpisurnya keluarken firman akan perlahan perlahan hapusken tanaman candu dalam negeri. Tiap tahun, selama sepuluh tahun, satu per sepuluh dari tanah yang dipakai buat tanam candu, akan dipakai buat tanam barang makanan. Di akhirnya tahun kesepuluh jadinya tidak ada tanaman candu lagi di Tiongkok. Dalam itu sepuluh tahun pembesar pembesar di segala bagian dari negeri musti paksa penutupan dari warung warung candu dalam masing masing jumlahnya dan musti kasih bantuan seberapa bisa pada orang orang yang isep candu akan berhentiken kebiasaannya itu.
Dalam sedikit tempo pembesar pembesar Tionghoa buktiken putusannya yang tetap buat merdekaken negerinya dari kejahaten oleh Tiongkok sendiri. Orang Inggris jadi kagum meliat tan candu, buat sebegitu jauh pekerjaan itu bisa dilaku itu kesungguhan hati dari Tiongkok buat basmi candu. Maka itu dalam tahun 1908 pemerintah Inggris bikin perjanjian sama pemerintah Manchu, dengan mana pemasukan candu dari India ke Tiongkok, yang berjumlah lebih dari 95% persen dari semua candu luar negeri yang masuk di Tiongkok, akan dikurangken juga tiap tahun 10 persen, hingga di akhirnya sepuluh tahun pemasukan candu dari India akan berhenti sama sekali.
Tanggal 14 November 1908 Kuang Hsu meninggal, sesudah namanya tiga puluh tahun jadi raja. Selama bagian paling lama dari itu tempo ia cuma jadi golek jonggol dari ia punya bibi Tsu Hi. Setelah Kuang Hsu meninggal, Tsu Hi tentuken siapa musti jadi penggantinya jadi raja, tapi waktu bikin ini penetapan, Tsu Hi sudah hampir menutup mata juga. Esok harinya ia pun meninggal, di tengah tengahnya ia punya pekerjaan yang sudah kasep buat bikin baru Tiongkok. Ia tinggalken sebuah kerajaan yang sudah hampir musnah.
Kematian yang hampir berbareng dari Kuang Hsu dan Tsu Hi menempatken seorang anak atas takhta kerajaan, sehingga kendali pemerintahan musti dipegang pula oleh seorang wakil raja. Anak yang diunjuken oleh Tsu Hi sebagai raja baru adalah Kuang Hsu punya keponakan nama Pu Yi yang baru berumur tiga tahun. Ia naik di takhta kerajaan dengan pakai gelaran Hsuan T'ung (Swan Thong) [Xuantong]. Selama ia masih belum dewasa, pemerintahan diwakilken oleh ia punya ayah, pangeran Ch'un, seorang saudara muda dari Kuang Hsu.
Selama beberapa tahun sebelumnya Tsu Hi meninggal sudah dilahirken banyak protes terhadap pada tempo sepuluh tahun, yang musti lewat sebelumnya dihimpunken persidangan yang pertama dari parlemen buat kasih bagian pada wakil wakil rakyat dalam pemerintahan negeri. Dengan naiknya raja yang masih anak atas takhta kerajaan dan terutama sesudahnya wakil raja dan adpisur adpisurnya kasih kenyataan, pemerintahan akan dijalanken pula secara kuno, permintaan akan lantas himpunken parlemen mendesak semakin keras.
Di musim rontok dari tahun 1909 dewan rakyat dari beberapa provinsi bikin persidangannya yang pertama. Dalam bulan Oktober 1910 dewan nasional, yang bukan parlemen, berhimpun pertama kali di Peking. Ini dewan, yang cuma mengasih adpis saja, terdiri dari seratus anggota yang dipilih oleh raja dan seratus anggota yang dipilih oleh dewan dewan provinsi. Meski separo dari anggota anggotanya itu dewan terdiri dari orang orang yang diangkat oleh pemerintah, toh dewan itu segera menentangi wakil raja dan ulangken permintaan permintaan yang sudah diperdengarken oleh dewan dewan provinsi, yaitu lantas himpunken parlemen dengan kekuasaan bikin hukum dan adaken menteri menteri yang menanggung jawab pada parlemen. Dalam bulan Januari 1911 dewan nasional itu dibubarken, sesudah dapat janji dari raja, parlemen akan dihimpunken dalam tahun 1913, sebaliknya dari di tahun 1916. Tapi sebelumnya sampai itu tempo buat pemerintah Manchu tebus janjinya, pemerintah itu dapat dirobohken oleh revolusi.
Dalam tahun 1873, sesudahnya Tiongkok alamken peperangannya yang celaka melawan negeri negeri Barat dan diikat sama perjanjian perjanjian pincang, sedang pemberontakan Taiping baru baru saja padam dan di Sinkiang pemberontakan orang orang Islam masih berjalan sehebat-hebatnya, seorang anak laki umur tujuh tahun dalam satu desa dekat Makau mulai masuk sekolah. Ayahnya ada seorang tani. Pamannya adalah ia punya guru yang pertama dalam kelas yang tidak besar, yang bertempat dalam klenteng di itu desa. Ia punya buku sekolah yang pertama adalah buku sekolah Tionghoa kuno [San Zi Jing / Kitab Tiga Karakter], yang mulai dengan: jin cie chee, sing pun sian [Rén zhī chū, xìng běnshàn] (orang kalau baru dilahirken, peribudinya baik.)
Pekerjaannya hari hari sebagai anak sekolah yalah apalken isinya kitab kitab Tionghoa kuno. Akan tetapi keadaan di sekelilingnya itu anak, tempo ia masih begitu kecil, bukan keadaan biasa dalam desa desa di Tiongkok. Sebagai seorang muda yang berani, ayahnya telah pergi ke Makau yang jadi jajahan Portugis dan coba peruntungannya di situ sebagai tukang ukir. Beberapa tahun lamanya ia tinggal di Makau. Sementara ia punya paman yang jadi guru itu telah turut berperang dalam barisan Taiping. Sesudah pulang dari medan perang dan menjadi guru, seringkali ia ceritaken cerita cerita yang memuliaken orang jadi serdadu, sedang di masa itu orang Tionghoa sudah turun menurun pandang serdadu paling hina. Cerita ceritanya si paman menggeraken sangat hati dan pikirannya itu anak kecil. Karena pengaruhnya cerita cerita dari si guru, maka anak anak yang jadi muridnya, suka sekali main main jadi serdadu dan main perang perangan. Ayahnya menjadi kaget, tapi pamannya jadi senang hati tatkala itu anak kecil pada suatu hari ceritaken, kalau sudah besar ia mau jadi serdadu dan akan memerangi bangsa Manchu begitu lama sampai ia menjadi raja dari kaum pemberontak.
Enam tahun lamanya itu anak menuntut itu pelajaran Tionghoa kuno dalam keadaan seperti tadi diceritaken. Kemudian, sebab bicara bicaranya yang menghasut dan kesukaannya main perang-perangan ramai menjadi buah ceritanya orang orang dalam itu desa, ia dikirim pada seorang saudaranya yang lebih tua, yang tinggal di Honolulu. Di situ ia belajar lima tahun lamanya dalam sebuah sekolah Amerika.
Di situ ia tidak melainkan berada di luar Tiongkok, tetapi juga di antara orang orang yang, berbeda sekali dari orang orang Tionghoa, suka sekali bicaraken urusan politik. "Pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan buat gunanya rakyat" mendengung-dengung di kupingnya. "Keberuntungan yang paling besar buat bilangan orang yang paling banyak," begitulah ia dengar, baca dan dikasih ajar. Itulah tujuan yang katanya orang musti buru dan jalan yang langsung buat dapatken tujuan itu adalah bekerja di lapangan politik. Orang tidak musti setia pada raja, tetapi pada segundukan orang yang teratur oleh politik menjadi satu, yaitu yang dinamaken bangsa, di mana orang terhitung sebagai salah satu anggotanya. Tiap tiap orang yang baik bekerja guna bangsanya dan jaga hati hati kehormatan bangsanya.
Perdamaian dan keakuran antara manusia musti didapat dengan bekerja sama-sama menurut haluan haluan politik dari ini bangsa bangsa, yang masing masing teratur menjadi satu oleh politik, masing masing mempunyai hak dipertuan dan semuanya sama derajat.
Pikiran pikiran semacam itu menjadi isinya hawa udara yang diendus oleh itu anak di Honolulu di antara tahun 1879 dan 1883. Pikiran pikiran itu mempengaruhi sangat ia punya pikiran yang luar biasa tajam. Ia punya saudara tua jadi takut dan kirim ia pulang ke desanya di Tiongkok, supaya ia jangan jadi orang asing betul-betul. Beberapa minggu lamanya orang orang desa dengarken ocehan ocehannya itu anak, yang sudah jadi orang muda, perihal perlunya dibikin perubahan dalam urusan politik atau pemerintahan negeri. Dalam anggapannya itu orang orang desa, ini omongan ada ocehannya orang gila. Kemudian, buat unjuken ia punya pandangan menghina pada keadaan kuno, ia bikin hancur patung dalam klenteng di desanya itu. Familinya jadi kaget sekali. Buru buru ia dikirim pergi pula.
Ini kali ia dikirim ke sebuah sekolahan Inggris. Queen's College, di Hongkong. Dua tahun ia belajar di situ, kemudian setahun ia belajar di sekolah dokter dari pendeta di Kanton, dari situ lima tahun ia belajar dalam sekolah dokter dari orang Inggris di Hongkong. Dalam tahun 1892, dalam umur dua puluh enam tahun, ia sudah tamat belajar dan boleh menjalanken pekerjaan sebagai dokter. Tapi berbareng dengan itu pun ia terkenal sebagai seorang penghasut revolusioner (berontak).
Itu anak yang sudah jadi dokter bukannya lain orang dari Sun Wen (Sun Bun) alias Sun Yatsen.
Sun Yatsen masuk dalam penghidupan dengan putusan tetap buat tulung Tiongkok.
Di waktunya perang Tiongkok-Jepang di tahun 1894/1895, tatkala robohnya dinasti Manchu sudah kelihatan nyata dan kehinaan, yang disebabken oleh kekalahan dalam itu peperangan dirasa betul oleh bangsa Tionghoa, Sun Yatsen diriken satu partai, yang ia kasih nama Hsing Chung Hui [Xingzhonghui] atau partai buat bikin baru Tiongkok. Dalam bulan September 1895, waktu atur niatan buat serang kantornya raja muda di Kanton, perkumpulan rahasia itu ketahuan oleh polisi dan ditindes dengan bengis. Sun Yatsen keburu melariken diri, tapi beberapa kawannya kena ditangkap dan dihukum mati, Pemerintah Manchu anggap Sun Yatsen seorang berbahaya sekali. Pemerintah itu janjiken upah 200 ribu tael pada siapa yang bisa tangkap atau bunuh Sun Yatsen. Dari Kanton Sun Yatsen pergi ke Hongkong, dari sini ke Jepang, kemudian ke Hawaii, Amerika Serikat dan Eropa, di mana ia bikin propaganda revolusioner dan kumpu! uang buat gerakannya antara siswa-siswa dan saudagar saudagar Tionghoa.
Dalam tahun 1898, sewaktu berada di negeri Inggris, ia ditangkap dan dikurung dalam gedungnya utusan Tiongkok di Londen selagi menunggu kapal buat dikirim ke Tiongkok, di mana ia tentu akan dipotong kepala coba kejadian. Dari tempat tahanannya itu Sun Yatsen telah bisa kirim surat pada bekas gurunya di sekolah dokter di Hongkong, yaitu dr. James Cantlie, yang waktu itu kesohor di Londen sebagai dokter dalam penyakit penyakit di negeri panas. Cantlie gunaken pengaruhnya surat kabar Times, yang memperdengarken suara keras, memprotes itu penangkepan yang tidak sah oleh seorang utusan asing di dalam kerajaan Inggris. Karena tulisannya itu surat kabar, maka pemerintah Inggris turut campur dan minta Sun Yatsen dimerdekaken kembali. Permintaan itu dilulusken oleh utusan Tiongkok, hingga Sun Yatsen urung dipotong kepala dan bisa lanjutken ia punya pekerjaan buat robohken dinasti Manchu. Dari negeri Inggris Sun Yatsen kembali ke Jepang dalam itu tahun 1898 juga. Waktu itulah ia mulai memikir perlunya memberi hak pada rakyat buat turut atur negerinya dan memperbaiki penghidupannya rakyat, Mulai waktu itulah dua pasal ini ia jadiken juga tujuan dari ia punya revolusi.
Dalam tahun 1901 di Tokyo Sun Yatsen diriken Ke Min Tang (Kik Bin Tong) atau partai revolusioner — jangan dikeliruken sama Kuomintang atau Kok Bin Tong (Partai Rakyat) [Guo Min Dang], yang baru didiriken dalam tahun 1912. Dalam tahun 1908, sesudah disusun baru, Ke Min Tang diubah namanya jadi Tung Min Hui (Tong Bin Hwee) [Tongmenghui] atau perserikatan persatuan. Inilah ada perkumpulan politik yang pertama, yang teratur betul dan dipimpin oleh pemimpin pemimpin yang cakap, yang sungguh hati bekerja buat gerakan revolusi.
Salah seorang pemimpinnya itu adalah Wang Ching Wei [Wang Jingwei]. Ia ada seorang kelahiran di Kanton, orang tuanya ada orang orang terpelajar. Ia dididik dalam rumah tangga yang mempunyai kesopanan tinggi. Tapi semasa masih berumur belum limabelas tahun, ia sudah kehilangan ibunya, setahun kemudian ayahnya. Dengan bekerja sebagai guru partikelir ia telah bisa terusken pelajarannya. Dalam umur sembilanbelas tahun, dalam tahun 1902, ia lulus buat examen yang pertama. Setahun kemudian ia dipilih oleh pemerintah dari provinsi Kwangtung sebagai salah satu siswa yang cakap buat menuntut pelajaran di luar negeri. Begitulah ia dikirim ke Jepang. Kira-kira di tahun 1905 ia ketemu Sun Yatsen dan dalam tahun 1908 ia jadi salah seorang pemimpin dari Tung Min Hui. Oleh karena ia turut dalam itu perkumpulan, maka pemerintah Kwangtung berhenti kasih tunjangan uang padanya buat terusken pelajarannya. Wang Ching Wei cari penghidupannya dengan jadi jurnalis. Dalam tahun 1909, dengan berlawanan sama kehendaknya Sun Yatsen, Wang Ching Wei bersama beberapa kawan revolusioner, antara siapa ada juga tiga gadis, dari mana satu ada gadisnya seorang saudagar hartawan di Penang, yang belakangan jadi isterinya, bikin persekutuan buat bom pangeran Ch'un yang jadi wakil raja. Dengan maksud itu mereka pergi ke Peking. Persekutuan itu gagal. Wang Ching Wei dan seorang pemuda lagi kena tangkap. Biasanya mereka tentu dihukum mati, tapi setahu kenapa, pangeran Ch'un unjuken kemurahan hatinya, dengan ubah hukuman mati jadi hukum penjara seumur hidup.
Kabarnya seorang jenderal Wu Lu Chen, yang diam-diam menaruh simpati sama revolusi, telah gunaken pengaruhnya sehingga itu hukuman diubah jadi hukuman penjara. Dua tahun belakangan pecah revolusi, yang memerdekaken Wang Ching Wei dan ia punya kawan, Huang Fu Seng, dari penjara.
Di Tiongkok kekuatannya Sun Yatsen berupa perkumpulan perkumpulan rahasia kuno, yang juga berhaluan revolusioner, tetapi tujuannya Sun Yatsen jauh lebih luas dari-pada tujuannya ini perkumpulan perkumpulan kuno. Sejak zaman purbakala di antara rakyat Tionghoa selamanya ada perkumpulan perkumpuian rahasia semacam itu. Perkumpulan perkumpulan itu adalah jalan, dengan mana rakyat menyataken perlawanannya pada pemerintah. Selama beratus dan beribu tahun pemberontakan pemberontakan di Tiongkok dipengaruhi oleh ini perkumpulan perkumpulan rahasia. Jumlah anggotanya dan gerakannya bertambah besar dalam zamannya ada kekalutan politik dan ekonomi. Kemudian bilangan anggota dan gerakannya menjadi surut pula, apabila kesejahteraan dan kemakmuran sudah kembali dalam negeri. Beberapa perserikatan rahasia itu ada besar dan bermaksud merobohken pemerintah, lain lain pula cuma kecil dan maksudnya melainken buat usir pembesar di tempatnya atau salah seorang tuan tanah yang kejam.
Yalah perkumpulan perkumpulan semacam ini yang telah menyokong Chu Yuan Chang [Zhu Yuanzhang] buat robohken dinasti Mongol dan diriken Dinasti Ming. Perkumpulan perkumpulan semacam itu juga yang telah memberi kekuatan pada pemberontakan Taiping. Kendati ditindes dengan keras oleh pembesar pembesar, toh di akhirnya abad yang dulu perkumpulan perkumpulan rahasia itu masih hidup subur dan menjadi musuh yang tangguh dari bangsa Manchu. Di waktu waktu yang kalut, yang kemudian terjadi, perkumpulan perkumpulan rahasia itu menjalanken peran penting. Lebih kemudian lagi perkumpulan perkumpulan itu menjadi penyakit buat Jepang di Manchuria.
Barang tentu tatkala Sun Yatsen mulai ia punya gerakan revolusioner, ia lantas berdaya buat dapatken tunjangannya ini perkumpulan perkumpulan yang sudah ada dan yang memusuhi pada bangsa Manchu. Sebelumnya Sun diriken ia punya Hsing Chung Hui, salah satu perkumpulan rahasia yang paling besar dan paling kuat, yaitu Ko Lao Hui, sudah menyokong pada Sun Yatsen. Tapi ini perkumpulan perkumpulan rahasia melainkan disurung oleh kebenciannya yang sangat pada bangsa Manchu dan keinginan buat robohken dinasti Manchu. Maksudnya Sun Yatsen buat bikin baru aturan memerintah di Tiongkok, tidak dimengerti oleh itu perkumpulan perkumpulan rahasia. Makanya Sun Yatsen punya gerakan buat mendiriken pemerintahan republik dapat sokongannya itu perkumpulan perkumpulan rahasia melainkan sampai pada waktunya itu gerakan berhasil merobohken kaum Manchu saja. Abis itu maksud maksudnya Sun Yatsen luput dari pahamnya itu perkumpulan perkumpulan rahasia.
Sokongan buat maksud maksudnya ini Sun Yatsen pun tidak bisa dapat dari kaum terpelajar kuno dan kaum saudagar di Tiongkok. Mereka tidak bisa setuju sama Sun Yatsen punya maksud mendiriken pemerintahan republik.
Maka itu buat dapatken sokongan untuk ini bagian dari maksudnya, Sun Yatsen musti cari orang orang Tionghoa yang sudah belajar di Jepang atau di negeri negeri Barat. Mereka ini tentu saja kebanyakan ada orang orang yang masih muda sekali.
Begitulah penyokong yang terutama dari Sun Yatsen punya gerakan revolusioner terdiri dari orang orang tani yang kepingin berontak asal berontak saja dan anak anak muda yang berdarah panas.
Sedang keadaan di dalam negeri sudah bergolak begitu keras, pemerintah Manchu tambah lagi satu perkara baru, yang seupama minyak disiremken di api.
Dalam tahun 1905 di seluruh negeri ada kegembiraan besar buat bikin jalanan jalanan kereta api. Pemerintah Manchu waktu itu anjuri orang orang kaya di berbagai bagai tempat buat bikin jalanan jalanan kereta api yang perlu dalam masing masing provinsinya. Dalam tahun 1909 pemerintah di Peking ubah ini politik dan ambil putusan buat taruh itu semua jalanan kereta api, yang sudah direncanaken, di bawah penilikannya pemerintah sendiri, Jalanan jalanan kereta api itu hendak dijadiken milik negeri. Maka itu di permulaan tahun 1911 didiriken kantor urusan perhubungan, dengan dikepalai oleh Sheng Hsuan Huai. Tanggal 10 Mei 1911 dibikin pinjaman sama satu perserikatan bank Inggris, Prancis, Jerman dan Amerika buat bikin itu jalanan jalanan kereta api.
Politik ini telah melahirken protes baru dan keras dari orang orang yang paling berpengaruh dalam berbagai bagai provinsi, di mana sudah dimulai pembikinan jalanan kereta api. Sebab sebabnya itu protes ada macam macam. Banyak keberatan disebabken oleh kekuatiran yang masih terus ada, yang jalanan jalanan kereta api itu nanti jatuh di bawah kekuasaan asing. Banyak juga keberatan disebabken oleh halnya itu perubahan politik dianggap sebagai perampasan dari hak haknya provinsi oleh pemerintah di Peking. Tapi sebab paling utama dari keberatan itu adalah tidak adanya kepercayaan barang sedikit pada pemerintah Manchu dan pada kepala yang baru diangkat dari kantor urusan perhubungan. Juga orang orang yang mengerti perlunya buat pakai kapital asing dan perlunya jalanan jalanan kereta api di Tiongkok terkumpul menjadi satu, pandang itu perubahan politik dari pemerintah melulu sebagai alasan saja buat luasken kekuasaannya kaum pejabat Manchu yang kolot dan mereka punya pembantu pembantu Tionghoa yang buruk.
Dalam provinsi Szechuan, di mana orang orang partikelir sudah kumpul tiga juta dollar buat bikin jalanan kereta api dalam itu provinsi, keadaan dibikin ruwet oleh halnya sebagian besar dari itu uang sudah ditelan oleh pengurus pengurusnya itu kongsi. para pemegang saham minta, pemerintah tanggung buat kasih kembali mereka punya uang dan tatkala itu tanggungan tidak dikasih, dalam berbagai bagai bagian dari provinsi Szechuan lantas terbit perusuhan perusuhan besar. Di musim rontok dari tahun 1911 seluruh negeri Tiongkok sudah bedidih karena perasaan kurang senang. Di mana mana sudah berdiri perserikatan perserikatan revolusioner buat robohken pemerintah Manchu.
Tanggal 27 April 1911 di Kanton terbit pemberontakan, yang berkesudahan dengan matinya orang orang yang turut dalam pemberontakan itu, yaitu sama sekali tujuh puluh dua orang, kembangnya Tiongkok punya kaum muda dan contoh paling mulia dari semangat pengorbanan dari kaum revolusioner Tionghoa. Mereka terkenal dengan nama chiet cap jie liat su atau tujuh puluh dua pendekar. Harinya mereka korbanken jiwanya dirayaken sebagai hari besar.
Kemudian, dengan menggunaken waktu yang baik, yang dikasih oleh itu perusuhan perusuhan di Szechuan, satu persekutuan revolusioner dibikin buat terbitken pemberontakan di Kanton dalam bulan Mei 1911. Pemimpinnya adalah seorang nama Hwang Hsing. Pemberontakan ini ditindes dengan sehebat-hebatnya, tapi Hwang Hsing dapat melariken diri ke Hongkong.
Tanggal 9 Oktober 1911, waktu lohor, satu bom dengan tidak disengaja meledak dalam konsesi Rus di Hankow. Perledakan itu menyebabken dapat diketahuinya satu partai revolusioner dalam itu kota. Raja muda di itu kota lantas tangkap dan hukum mati tiga orang dari itu persekutuan. Tapi persekutuan ini sudah menjalar sampai dalam barisan yang menjaga kota Wuchang, di seberang sungai dari Hankow. Ini tentara kuatir, pemerintah dapat tahu yang mereka pun turut dalam itu persekutuan. Maka itu pada tanggal 10 Oktober itu tentara di Wuchang berontak. Gedongnya raja muda diserang, raja mudanya sendiri melariken diri. Kekuasaan atas itu kota jatuh dalam tangannya itu tentara yang berontak. Mereka maklumken pemberontakan melawan dinasti Manchu. Kolonel Li Yuan Hung (Lie Gwan Hong) [Li Yuanhong], kepala kedua dari tangsi di Wuchang, dipaksa terima jabatan panglima perang besar dari itu tentara yang berontak. Pemberontakan ini menjalar dengan cepat. Dua puluh empat jam kemudian Hanyang, di seberangnya Wuchang, di tepi sungai Yangtze dengan ia punya pabrik senjata yang besar dan Hankow, kota ketiga di itu bilangan, sudah jatuh dalam tangan kaum revolusioner.
Tidak berapa hari sehabisnya itu pemberontakan di Wuchang, provinsi provinsi di lembah Yangtze dan di Tiongkok Selatan pun berontak. Malah dalam bilangan bilangan di Tiongkok Utara pun, dekat sama kota raja, mulai juga pecah pemberontakan melawan dinasti Manchu. Kaum revolusioner di Wuchang, Hanyang dan Hankow, tiga kota mana biasa disebut jadi satu dengan nama Wu Han, bersama kaum revolusioner dari provinsi provinsi yang berdamping sama jumlahnya itu tiga kota, diriken pemerintah dengan Li Yuan Hung sebagai presiden.
Di Peking orang jadi kaget sekali. Dalam istana raja orang sudah pada jadi bingung tidak karuan. Tentara di kota raja, terhitung juga tentara model baru, lagi bikin perang perangan kira kira seratus atau seratus lima puluh mil di sebelah Timur dari Peking. Keliatannya seperti pemberontakan itu sengaja diterbitken di saat yang sudah dipilih lebih dulu dengan teliti dan jitu.
Tentara yang lagi main perang perangan itu diperintah lantas pergi ke Lanchow, stasiun yang paling dekat di jalanan kereta api Peking-Mukden, yang di dekat Peking berhubung sama jalanan kereta api Peking-Hankow. Lima hari sesudah pecah pemberontakan, satu firman raja angkat Yuan Shih Kai jadi raja muda dari Hukuang. Ia diperintah buat mengepalai tentara buat tindes pemberontakan dan bikin aman negeri.
Yuan Shih Kai mengaku sakit kaki dan menyataken belum bisa datang di Peking.
Di Peking orang pikir macam-macam tentang artinya sikap dari Yuan Shih Kai itu. Pangeran pangeran yang muda'an mau memerangi kaum revolusioner tanpa tunggu Yuan Shih Kai, tapi pangeran pangeran yang tua'an percaya, Yuan Shih Kai masih setia pada dinasti Manchu dan mau tunggu sampai Yuan Shih Kai datang di Peking. Ini pangeran pangeran yang tua'an menang. Tanggal 27 Oktober dikeluarken firman baru, yang angkat Yuan Shih Kai jadi komisaris tinggi dan semua tentara ditaruh di bawah perintahnya, terlepas dari generale staf dan dari menteri urusan perang.
Kira kira di akhirnya Oktober Yuan Shih Kai sampai di tangsi besarnya. Di dekat Wuhan tentara pemerintah sekarang berkuasa atas bilangan di sebelah utara dari sungai, kecuali Hankow dan Hanyang. Beberapa kota di sepanjang Yangtze, seperti Changsha, ibu kota Hunan dan Sianfu, maklumken berontak juga. Tapi coba tentara pemerintah bergerak sungguh sungguh buat memerangi kaum revolusioner, masih ada banyak harapan yang pemerintah dapat kemenangan. Tapi Yuan Shih Kai tidak sungguh hati menjalanken perintah buat tindes itu revolusi. Di permulaan November tentara revolusioner kepukul keluar dari Hankow. Hanyang pun sudah hampir jatuh di tangan tentara pemerintah. Di waktu itu Yuan Shih Kai diangkat jadi perdana menteri dan di pertengahan November ia datang di Peking.
Sementara itu jenderal Chang Chao Tseng, yang tadinya turut bikin perang-perangan dan bersama tentaranya sudah perlihatken tanda tanda tidak senang hati sama pemerintah, ditinggal di Lanchow. Dengan diam-diam ia bekerja sama-sama dengan jenderal Wu Lu Chen, yang dikabarken pada dua tahun dulu telah tulung jiwanya Wang Ching Wei. Jenderal Wu Lu Chen mengepalai tentara di Shihchiachwang, di sebelah selatan dari Peking. Lain dari itu ada lagi jenderal Lan Tien Wei, yang mengepalai tentara di Mukden. Ini tiga jenderal sudah berembuk dengan diam diam buat maju ke Peking dan paksa kaum Manchu serahken takhta kerajaan. Buat cari alasan, itu tiga jenderal kirim surat pada pemerintah Manchu, yang berisi rupa rupa permintaan.
Ini gerakan, yang terpisah dari revolusi di Hankow, merupakan satu pukulan hebat dan mendadak pada pangeran Chun yang menjadi wakil raja dan ia punya adpisur adpisur. Dalam sedikit tempo diambil putusan buat lempar sekalian hak hak luar biasa dari kaum Manchu dan diterima baik sembilan artikel dari pemerintahan dengan konstitusi, yang sudah dikarang oleh dewan nasional, yang dibubarken dalam bulan Januari itu tahun.
Ini sikap mengalah dari pemerintah Manchu bikin menyesalnya itu tiga jenderal, Mereka mau adaken pemerintahan republik. Mereka harap permintaan permintaannya ditolak, supaya mereka dapat alasan buat ambil tindakan keras. Sedang perkara baru berjalan sampai di situ, persekutuannya itu tiga jenderal bocor lantaran satu surat kesalahan diterimaken. Surat itu membuka rahasia yang Wu Lu Chen turut dalam itu persekutuan. Ia lalu dilepas oleh opsir opsir di bawah perintahnya, yang masih setia pada pemerintah Manchu.
Tanggal 14 November Yuan bekerja buat angkat menteri menteri, yang akan dikepalai olehnya sebagai perdana menteri. Kemudian Yuan Shih Kai ikat pemerintah Manchu dengan sumpah, yang janji janjinya pemerintah itu akan dipegang betul. Tanggal 26 November pangeran Ch'un bersama lain lain orang dari kaum pemerintah Manchu. Yuan Shih Kai dan menteri menterinya pergi ke rumah abu dari leluhurnya raja Manchu, di mana wakil raja akan bersumpah yang selanjutnya Tiongkok akan diperintah dengan konstitusi dan parlemen.
Sesudah itu Yuan Shih Kai ketemui kaum revolusioner buat beresken urusan dengan jalan damai. Hanyang sudah jatuh. Nanking masih terus ada dalam tangannya tentara yang setia pada raja. Li Yuan Hung dan ia punya tentara di Wuchang sudah mulai hilang harapan. Maka itu Li Yuan Hung menyataken suka terima tawaran dari Yuan Shih Kai, yaitu bangsa Manchu tetap memerintah, tapi dengan konstitusi. Dengan perantaraannya konsul jenderal Inggris di Hankow dibikin penundaan perang pada 3 Desember. Tapi sementara itu keadaan sudah berubah. Selama bulan November provinsi provinsi di sebelah selatan dari Yangtze sudah berpihak sama kaum revolusioner. Shanghai menyataken jadi tangsi besarnya tentara kaum republik.
Tanggal 2 Desember Nanking jatuh di tangannya kaum revolusioner. Tanggal 3 Desember dimaklumken konstitusi dari pemerintah republik. Ganti pemerintahan raja sama pemerintahan republik sekarang menjadi kekuatan baru, yang mendorong kaum revolusioner. Urusan dipimpin oleh kaum revolusioner di Shanghai. Dalam gedung dewan kota di distrik asing di Shanghai dibikin pertemuan dari wakil wakilnya kedua pihak. Kaum revolusioner berkeras minta didiriken pemerintahan republik. Usul buat tetapken pemerintahan raja, tetapi memerintah dengan konstitusi, ditolak keras. Sedang kedua pihak belum bisa jadi akur, mendadak Sun Yatsen datang di Tiongkok pada harian Kamis. Waktu revolusi pecah, tidak satu orang tahu, di mana Sun Yatsen berada. Beberapa perkumpulan revolusioner di Kanton kirim kawat pada dr. Cantlie di Londen, dalam mana pada Sun Yatsen ditawarken jabatan presiden yang pertama. Tapi dr. Cantlie pun tidak tahu di mana adanya Sun Yatsen. Beberapa waktu lewat, barulah Sun Yatsen datang di rumah bekas gurunya itu dan dikasih lihat itu kawat. Karena baca itu kawat maka ia lantas buru-buru berangkat ke Tiongkok dan datang di Shanghai, di mana lagi dibikin perembukan yang belum bisa beres.
Tanggal 29 Desember Sun Yatsen dipilih jadi presiden buat sementara waktu. Tanggal 1 Januari 1912 ia sampai di Nanking. Sedikit waktu sebelumnya tengah malam dilepas tembakan tembakan meriam yang menandaken ia sudah disumpah buat kembaliken kesejahteraan, buat diriken pemerintahan yang berdasar atas kemauannya rakyat dan turunken kaum Manchu dari takhta kerajaan. Demikianlah permulaannya tahun yang baru. Di Peking, ibu kota utara, ada pemerintahan raja dengan konstitusi. Di Nanking, ibu kota selatan, ada pemerintahan republik.
Dalam keadaan begini datang satu kawat, yang ditandatangani oleh raja muda dari Wuchang dan empat puluh enam jenderal dari tentara model baru. Banyak orang percaya, kawat itu disuruh kirim oleh Yuan Shih Kai, sebab kebanyakan orang yang menandatangani kawat itu tadinya ada di bawah perintahnya Yuan Shih Kai. Kawat itu mendesak pada ibu suri, permaisurinya kaisar Kuang Hsu, sebagai wakil dari raja yang masih anak, sebab pangeran Chun sudah diberhentiken, buat bikin selesai penyerahan dari kaum Manchu dengan turun dari takhta kerajaan. Dengan cepat didapat keakuran. Itu raja yang masih anak akan diizinken tinggal terus dalam istana musim panas dengan dikasih belanja tiap tahun. Bersama sekalian orang di sekitarnya ia akan diperlakuken dengan hormat. Raja dan kaum bangsawan Manchu akan tetap mempunyai gelaran gelarannya. Bangsa Manchu, Mongol, Islam dan Tibet, yang jadi penduduk dan rakyat Tiongkok, akan dianggap sama rata dengan orang Tionghoa dalam negeri Tiongkok yang baru.
Tanggal 12 Februari 1912 ibu suri Lung Yu sebagai wakil raja, keluarken firman yang maklumken pada dunia, pemerintahan bangsa Manchu di Tiongkok sudah tamat.
Menurut bunyinya konstitusi buat sementara waktu, sementara belum dipilih badan wakil wakil yang benar dari rakyat, yang akan dikasih nama National Assembly (persidangan nasional), urusan negeri akan diserahken di tangannya satu National Council (dewan nasional). Ini National Council akan terdiri dari lima wakil dari tiap tiap provinsi dari Tiongkok sejati (sama sekali ada delapanbelas provinsi), dari Mongolia Luar, Mongolia Dalam dan Tibet dan satu wakil dari Kokonor.
Tanggal 14 Februari 1912, dua hari sesudahnya raja maklumken turun dari takhta, Sun Yatsen dan menteri menterinya di Nanking beritahuken pada National Council yang ia-orang minta lepas dari jabatannya. Esok harinya Sun Yatsen pergi ke kuburannya kaisar Ming yang pertama di Nanking, yaitu dinasti Tionghoa sejati yang penghabisan, yang telah merdekaken Tiongkok dari pemerintahan bangsa Mongol dan bermula bertempat di Nanking sebagai kota rajanya. Di kuburannya kaisar Ming itu, yaitu kaisar Chu Yuan Chang. Sun Yatsen sembahyang dan kembaliken pada raja raja yang dulu negerinya yang telah dirampas dari mereka oleh bangsa Manchu.
Sesudah itu, National Council terima baik permintaan berhenti dari Sun Yatsen dan menteri menterinya. Sore dari itu hari National Council bersidang dan pilih Yuan Shih Kai sebagai presiden buat sementara waktu, atas desakannya Sun Yatsen. Tanggal 20 Februari jabatan wakil-presiden buat sementara waktu diserahken pada Li Yuan Hung.
Kemudian dikirim utusan utusan ke Peking buat minta Yuan Shih Kai datang di Nanking akan disumpah sebagai presiden dan bertempat kedudukan di Nanking. Yuan Shih Kai tidak mau datang di Nanking dan tidak mau pindah ke Nanking, maka sumpah itu diambil di Peking. Tanggal 10 Maret kejadian itu penyumpahan.
Tindakan tindakan telah diambil buat himpunken satu National Council, yang lebih surup menjadi wakilnya rakyat. Itu Council yang dengan terburu buru dihimpunken di Nanking, tidak cocok sama aturan memilih yang ditetapken dalam konstitusi.
Tanggal 29 April di Peking berhimpun National Council yang baru.
Yuan Shih Kai punya maksud adalah buat memerintah dengan kekuasaan tidak terbatas, barangkali perlahan perlahan ia kemudian mau adaken badan perwakilan rakyat. Tapi kaum revolusioner mau lantas didiriken republik yang benar, menurut modelnya Prancis. Pertentangan dari ini dua haluan mustilah berkesudahan dengan menangnya salah satu haluan itu.
Pertentangan itu segera juga menjadi hebat, Pekerjaan terutama dari National Council adalah membikin aturan memilih buat nanti dipakai memilih National Assembly. Dalam pekerjaan ini sudah terbit beberapa perselisihan antara anggota anggotanya itu National Council, yang berkesudahan dengan berhentinya beberapa anggota dan sukarnya bisa didapat orang orang buat menempati tempat yang terbuka.
Sementara itu negeri tergeter karena pembunuhan di Peking pada jenderal Chang Cheng Wu, yang tadinya menjalanken peran penting di Wuchang. Setau buat urusan apa, Chang Cheng Wu telah datang di Peking atau kena dibujuk buat datang di situ. Ia didakwa ada turut dalam suatu persekutuan. Sehabisnya perjamuan makan, yang dibikin buat kasih hormat padanya, ia dibawa keluar ruangan makan dan ditembak mati. Perkara begini tidak bisa kejadian di Peking tanpa diketahui oleh Presiden. Dalam National Council perasaan hati anggota anggotanya bedidih keras. Putusan putusan diambil, yang dengan perkataan perkataan keras menyela Presiden, Yuan Shih Kai tidak mungkir dan juga tidak kasih keterangan.
Harapannya kaum yang suka sama pemerintahan republik sekarang ditujuken pada National Assembly yang bakal lahir. Sesudah menampak banyak halangan, akhirnya di permulaan tahun 1913 dibikin pemilihan anggota anggotanya National Assembly. Hasilnya pemilihan itu yalah kebanyakan anggota yang terpilih ada orang orang yang suka sama pemerintahan republik. Mereka ini dikepalai oleh Sung Chiao Jen. Tetapi habis itu, Sung Chiao Jen tidak hidup lama buat bisa mengepalai perkelahian dalam National Assembly buat dapatken parlemen yang sejati. Waktu ia naik dalam kereta api, yang akan bawa ia ke Utara, mendadak ia ditembak mati. Semua orang Tionghoa percaya, pembunuhan itu dilakuken atas suruhannya Yuan Shih Kai.
Tapi halnya National Assembly sudah dekat waktunya lahir, memberi harapan besar pada kaum yang suka sama pemerintahan republik, meskipun kepalanya sudah dibunuh. Bagian paling besar dari anggotanya itu Assembly adalah anggota dari Kuomintang atau Partai Rakyat, yang baru didiriken oleh Sun Yatsen dalam tahun 1912 buat gantinya Tung Min Hui. Partai ini pun berhaluan pemerintahan republik. Keliatannya seperti pemerintahan sewenang-wenang dari satu orang dengan kekuasaan tidak terbatas akhir akhirnya akan tamat.
Tapi segera akan ternyata, ini National Assembly tidak ada mempunyai kekuasaan apa-apa. Yuan Shih Kai telah bikin pembicaraan sama sekumpulan bank Inggris, Prancis, Jerman, Jepang dan Rus buat bikin pinjaman sejumlah besar. Pembicaraan tentang hal ini sudah hampir beres, tatkala National Assembly bersidang di Peking. Menurut konstitusi buat sementara waktu, putusan buat bikin utang guna negeri musti diambil oleh Assembly. Tapi Yuan Shih Kai buru-buru bikin selesai itu urusan bikin utang, dengan alasan, izin buat ia bikin itu utang sudah dikasih oleh National Council yang dulu. Perjanjian utang itu ditandatangani pada 25 April 1913, kendati diprotes keras dan diancam nanti tidak diaku sah oleh Assembly. Utang itu besarnya 25 juta pond sterling, satu bilangan besar buat itu waktu. Dalam sedikit tempo surat utang itu laku habis.
National Assembly jadi menyesal karena ini urusan. Harapan satu-satunya, menurut pikirannya itu Assembly, yalah bikin rampung konstitusi yang tetap. Begitulah itu Assembly bekerja membikin rampung itu konstitusi.
Sementara itu, di sebelah selatan dari Yangtze, keyakinan yang Yuan Shih Kai hendak jadi diktator, hendak memerintah seorang diri saja dengan kekuasaan tidak terbatas dan bikin mati angan angan buat pemerintahan republik, bertambah keras. Dalam bulan Juli 1913 terbit revolusi, yang dinamaken Revolusi Kedua. Tapi revolusi ini jelek diaturnya dan alatnya pun kurang. Dalam sedikit tempo Yuan Shih Kai punya tentara model baru bisa tindes pemberontakan itu.
Yuan Shih Kai sekarang kepingin pemerintahnya diaku sah oleh negeri negeri asing. Buat itu perlu ia punya kedudukan sebagai presiden buat sementara waktu diubah jadi presiden yang tetap. National Assembly, yang dibikin jerih sama caranya Yuan Shih Kai tindes pemberontakan di Yangtze, disuruh bikin rampung itu bagian dari konstitusi, yang menentuken aturan perihal memilih presiden dan bikin bagian itu jadi hukum. Kemudian Yuan Shih Kai dipilih jadi presiden tetap, yang diambil sumpahnya pada 10 Oktober 1913. Li Yuan Hung dipilih jadi wakil-presiden. Sesudah itu barulah Republik Tiongkok diaku sah oleh negeri negeri asing. Sesudah selesai itu semua, mendadak anggota anggotanya Assembly, yang menjadi anggota Kuomintang, didakwa telah membantu pemimpin pemimpin dari pemberontakan di bulan Juli. Tanggal 5 November, belum sebulan sesudah ia dipilih jadi presiden tetap. Yuan Shih Kai keluarken firman yang bubarken partai Kuomintang dan usir dari National Assembly empat ratus tiga puluh delapan anggota Kuomintang, yang jadi anggotanya Assembly. Mereka dikasih tahu, jiwanya bisa berbahaya, kalau mereka tinggal terus di Peking. Mereka lantas pada berangkat dari Peking. Karena itu maka sisanya anggota Assembly yang masih ada di Peking, tidak cukup banyak buat bisa bikin rapat yang sah, menurut penetapan dalam konstitusi buat sementara waktu. Begitulah sejak itu waktu itu Assembly tidak bisa bersidang dan tidak bisa bikin apa-apa lagi alias jadi mati sendirinya dan Yuan Shih Kai mulai itu tempo memerintah seorang diri dengan kekuasaan tidak terbatas, sampai pada harian ia menutup mata, yaitu dua setengah tahun sehabisnya ia punya perbuatan yang diceritaken tadi.
Indeks
[sunting]Indeks nama tempat dan nama orang, ejaan lama, dan ejaan baru [pranala wiki]
- cha-no-yu atau upacara minum teh.
- agama Buddha (Hudkauw) [fójiào]
- Ashikaga Yoshimitsu.
- Asia Timur.
- w:bangsa Mongol, Mongolia.
- bangsa Tartar
- Dinasti Han
- Dinasti Ming
- Dinasti Song Selatan.
- Dinasti Song
- Dinasti Tang
- Horyoji.
- imperialisme Barat
- Kuromaro
- Kyoto.
- Nagaoka
- Nara
- pangeran Shotoku
- porselen.
- pulau Honshu.
- pulau Kyushu.
- Republik Tiongkok
- Richard Wilhelm
- samurai
- senapan berulang (repeteergeweer) Barat
- Shotoku
- Soga Iname
- St. Petersburg
- Taira Kyomori
- Tiongkok dan Jepang
- Tokugawa Ieyasu
- Yangtze
- Yoshimasa
- agama Buddha Ch'an (Sing Hudkauw), dalam bahasa Jepang disebut Zen.
- Asia Timur.
- buku Bingcu.
- buku sekolah Tionghoa kuno [San Zi Jing / Kitab Tiga Karakter]
- Cheng Ho (The Ho alias The Sam Poo) [Zheng He]
- Chengtu [Chengdu].
- Chia Ch'ing (Ke Khing) [Jiaqing]
- Chu Ti (Tju Tik) [Zhu Di] kaisar Yung Lo (Ing Lok) [Kaisar Yongle]
- Chu Yuan Chang (Tju Gwan Tjiang) [Zhu Yuanzhang] alias Hung Wu (Hong Bu) [Kaisar Hongwu]
- Chung Cheng [Chongzhen]
- Chung Hou [Chonghou]
- dinasti Yin [dinasti Qin].
- dua saudara Ch'eng Hao (Thia Hoo) dan Ch’eng I (Thia Ie) [Cheng Yi dan Cheng Hao]
- Fukien (Hokkian) [Fujian]
- Hangchow [Hangzhou&rbrack, ibu kota dari Dinasti Song
- Hsien Feng [Xianfeng]
- Hsing Chung Hui [Xingzhonghui]
- Hsuan T'ung (Swan Thong) [Xuantong].
- Hukuang (provinsi Hupeh dan Hunan)
- Hung Hsiu-Ch'uan (Ang Siu Tjhwan) [Hong Xiuquan].
- Hung Wu (Hong Bu) [Kaisar Hongwu], Chu Yuan Chang
- Hupeh [Hubei] dan Hunan
- hweesio Jepang Eisei
- I Ho Tuan [Yihetuan] atau "Barisan dari Keakuran yang jujur.
- Ibu Suri Tsu Hsi (Tju Hi) [Ibu Suri Cixi].
- ilmu silat Tionghoa, jiujitsu.
- jenderal Jepang Kamio
- kaisar Kwammu
- Kaisar Kublai Khan
- kaisar Ch'ien Lung (Kian Liong) [Qian Long]
- kaisar Kuang Wu Ti (Kong Bu Tee) [Kaisar Guangwu] dari Dinasti Han
- kaisar Tao Kuang [Daoguang]
- kaisar Yung Cheng (Yong Tjing) [Yongzheng]
- Kang Yu Wei (Khong Yu Wie) [Kang Youwei]
- Kanton [Guangzhou]
- kapal layar Arrow
- Ke Min Tang - Tung Min Hui (Tong Bin Hwee) [Tongmenghui] atau perserikatan persatuan.
- Keiki [Yoshinobu], daimyo dari Hitotsubashi
- Khongcu [Konfusius]
- Khongkhauw Baru [Neo Konfusianisme].
- kitab I Ching (Ya King)
- kitab Hauw King (kitab kebaktian) [Xiao Jing / Kitab Bakti].
- Kitab kitab Khongkauw [Konfusianisme]
- Kolonel Li Yuan Hung (Lie Gwan Hong) [Li Yuanhong]
- kota raja Loyang [Luoyang]
- Kota raja Tiang An [Chang An]
- kota Sianfu [Xiangyang]
- kota Yedo [Edo]
- Kuang Hsu (Kong Sie Kun) [Guangxu].
- kunthauw
- Kwangsi [Guangxi]
- Li Hung Chang (Lie Hong Tjhiang) [Li Hongzhang].
- Li Tzu Cheng (Lie Tju Sing) [Li Zicheng]
- Liang Chi Chao (Nio Khe Tiauw) [Liang Qichao].
- Lin Tse Hsu (Liem Tjik Tjhie) [Lin Zexu]
- Loo Tju [Laozi]
- Loyang [Luoyang]
- Lu Hsiang Shan (Liok Tjhiang San) [Lu Xiangshan].
- Naka-no-Oye dan Fujiwara aturan-aturan memerintah negeri di Tiongkok dan filosofi dari Khongcu menjadi penunjuk jalan dan penganjur dari orang-orang Jepang yang mengubah peraturan masyarakatnya.
- Nakatomi-no-Kamatari, Fujiwara.
- Nanking [Nanjing]
- negeri Ito (sekarang namanya Chikuzen), yang letaknya di pulau Kyushu
- Ngo King [Wu Jing / Kitab Suci yang Lima]: Ya King [Yi Jing / Kitab Wahyu Perubahan], Si King [Shi Jing / Kitab Dokumen Sejarah], Su King [Shu Jing / Kitab Sanjak Suci], Lee Ki [Li Jing / Kitab Suci Kesusilaan] dan Tjhun Tjhiu [Chunqiu Jing / Kitab Musim Semi Musim Gugur].
- Pakkunthauw [Yihetuan]
- pangeran Ch'un [Pangeran Chun / Yixuan]
- pangeran Kung [Pangerang Gong]
- pangeran Naka-no-Oye, yang belakangan jadi kaisar Tenchi
- Peking [Beijing], [1928-1949] dinamaken Peiping [Beiping].
- penulis buku "Modern Japan" Inazo Nitobe
- peperangan melawan Jepang dalam tahun 1894/1895 [Perang Tiongkok-Jepang Pertama].
- provinsi Honan [Henan]
- provinsi Shantung dan Chili (Hopei)
- provinsi Shensi [Shaanxi]
- Raja Hsin Feng
- raja muda Yeh Ming Ch’en [Ye Mingchen]
- Sanhaikuan
- seorang profesor Tionghoa, yang dalam bahasa Jepang disebut Wani
- shogun Ashikaga
- shogun Sanetomo
- shogun Tokugawa yang keempatbelas, Iemochi
- sungai Huangho [Huanghe]
- Szechwan [Sichuan]
- T'ung Chih [Tongzhi] atau Kesejahteraan besar.
- Teishu [Cheng–Zhu school].
- Tientsin [Tianjin]
- Tseng Kuo Fan (Tjan Kok Hwan) [Zeng Guofan].
- Tsingtao [Qingdao]
- Tso Tsung T'ang (Tjoo Tjong Tong) [Zuo Zongtang].
- Tsu An [Ci An / Ci'an]
- Tsu Hi [Ci Xi]
- tukang-tukang berkelahi, samurai
- Turkestan Timur (sekarang Sinkiang [Xinjiang])
- utusan dari Korea, Achiki
- Volkenbond (perserikatan bangsa bangsa) [Liga Bangsa-Bangsa/LBB]
- Wang Ching Wei [Wang Jingwei].
- Wang Shou Yen (Ong Siu Jien) [Wang Shouren] alias Wang Yang Ming (Ong Yang Bing) [Wang Yangming]
- Wu San Kuei (Go Sam Kui) [Wu Sangui]
- Yung Lu [Ronglu]